Very Recent Posts

12 Agustus, 2022

Berdoa Setelah Salat, Insyaallah Membuat Sehat

Berdoa Setelah Salat, Insyaallah Membuat Sehat


BAHWA setiap selesai salat kita (muslim) berdoa. Itu sudah diketahui. Sudah juga kita pahami bahwa dengan berdoa kita tidak lagi dianggap bersikap angkuh kepada Allah. Kita merendahkan diri di hadapan-Nya. Dengan berdoa artinya kita mengakui, Dialah Maha Penguasa, berkuasa atas segala-galanya. Dialah tempat makhluk minta ijabah doa.

Apakah kita memahami juga bahwa dengan berdoa kita --yang kebetulan sedang diuji sakit-- akan disembuhkan dari sakit yang kita alami? Mengutip catatan Mas Ruhi di laman hajinews.id hari Selasa (09/08/2022) kemarin dalam judul tulisan Doa Setelah Salat Wajib Agar Cepat Sembuh dari Penyakit dijelaskan ada doa-doa yang diharapkan agar kita disembuhkan dari segala macam penyakit.

Meskipun berdoa itu dapat dilakukan kapan dan dimana saja, namun berdoa di waktu khusus yakni setelah salat wajib, itu dianggap sebagai salah satu waktu yang mustajab untuk berdoa meminta perlindungan kepada-Nya, termasuk perlindungan dari berbagai macam penyakit.

Berikut doa yang sebaiknya dibaca untuk harapan sembuhnya kita dari sakit yang dialami. Doa itu adalah, Bismillaah (Dengan Nama Allah) dibaca tiga kali; A‘udzu billahi wa qudratihi min syarri ma ajidu wa uhadziru (Aku berlindung kepada Allah dan kuasa-Nya dari keburukan apa yang kurasakan dan kukhawatirkan) dibaca 7 kali.
 
Mengutip tulisan yang sama dikatakan bahwa doa ini dijelaskan oleh Imam An Nawawi dalam Kitab Al-Adzkar An-Nawawiyah, begini, “Diriwayatkan kepada kami dalam Shahih Muslim rahimahullah, dari Utsman bin Abil ‘Ash RA bahwa ia mengadu kepada Rasulullah SAW perihal penyakit yang ia rasakan pada tubuhnya.

Rasulullah Saw lalu mengatakan kepadanya, ‘Letakkan tanganmu pada bagian tubuhmu yang dirasa sakit. Bacalah tiga kali Bismillāh. Lalu bacalah tujuh kali, ‘A‘udzu billahi wa qudratihi min syarri ma ajidu wa uhadziru.’” (HR. Imam Muslim). Insyaallah doa ini bisa menjadi alternatif sebagai terapi untuk diri sendiri saat merasakan nyeri di bagian tertentu.

Dalam riwayat Imam Tirdmidzi itu dikatakan, sahabat Abu Said al-Khudri dan Abu Hurairah mendengar pesan Rasulullah bahwa bacaan zikir atau doa yang apabila dibaca saat sakit, kemudian orang yang sakit itu meninggal, maka ia tidak akan terkena api neraka.

Meskipun semua orang akan mengalami sakit dan meninggal dunia, namun Allah dan Rasulullah memerintahkan kita, umatnya untuk selalu berusaha agar sembuh dan sehat. Dengan keadaan kita yang sehat kita bisa terus beraktifitas, beribadah dan mensyukuri nikmat Allah secara nyata.


Mas Ruhi juga menyitir dan menjelaskan keterangan Ustadz Adi Hidayat (UAH) tentang doa dan zikir lain yang bagus juga dibaca sebagai iktiar menyembuhkan penyakit. Kata UAH, lakukan dzikir Nabi Ayub As. Katanya, dengan mengamalkan dzikir Nabi Ayub, ada beberapa manfaat yang akan diperoleh orang yang sakit, yakni ketengan jiwa dan sembuh dari sakit.

Adapun doa dan zikir Nabi Ayub As itu adalah, Allahumma anni massani yadhdhurru wa anta arhamurrohimin. (Ya Allah penyakit ini sudah menggangguk, melukaiku sedangkan Engkau yang paling sayang kepadaku. Kalu yang paling sayang saja tidak memnyembuhkan Aku, kepada siapa lagi mesti meminta.) Bagaimanapun, tentu saja semua sangat ditentukan oleh Allah Swt dan keikhlasan kita dalam berdoa. Harapan kita, semoga setiap doa yang kita sampaikan, diijabah oleh Allah Swt.***
*Postingan yang sama juga di mrasyidnur.gurusiana.id

11 Agustus, 2022

Penting untuk Tetap Membaca agar Merugi Tidak Menimpa

Penting untuk Tetap Membaca agar Merugi Tidak Menimpa


KECENDERUNGAN orang, khususnya anak-didik kita di sekolah untuk lebih suka mendengar berbanding membaca sudah diketahui bersama. Orang lebih suka mendengar saja dari pada membaca untuk mengetahui sesuatu, misalnya.  begitulah adanya. Hasil penelitian para pakar juga menyimpulkan begitu. Secara umum bangsa kita adalah bangsa yang lebih suka mendengar atau menyimak dari pada membaca atau meneliti untuk mendapatkan informasi.

Seperti dilansir beberapa media, dikatakan kalau bangsa kita memang lebih suka mendengar dari pada membaca. Mari coba kita ambil beberapa diantara informasi itu. Simak, misalnya tulisan berjudul 'Orang Indonesia Lebih Suka Mendengar dan Ngobrol daripada Membaca' (republika.id, 2015) atau tulisan lainnya, 'Masyarakat Lebih Suka Nonton daripada Baca Buku, Apa Sebabnya' (jurnalkampus.ulm.ac.id, 2021), menunjukkan kepada kecenderuangan orang kita untuk lebih suka mendengar dari pada membaca.

Jika pernyataan itu ingin dibuktikan sendiri, coba saja ditanya kelompok kita. Katakanlah kita mempunyai kelompok atau grup, misalnya. Jika disuruh memilih, lebih suka yang mana, 1) sebuah informasi dibacakan; atau 2) sebuah informasi dibaca sendiri-sendiri. Jawabannya sudah dapat diduga, orang ramai yang kita tanya akan menjawab, bacakan saja. Apapun alasannya. Kalau ada yang ingin membaca sendiri, dpaat juga diduga jumlahnya tidak akan lebih banyak dari pada yang ingin dibacakan saja.

Kalau begitu masihkah perlu membaca? Masihkah perlu diajarkan membaca? Justeru perlu. Kita harus tetap membaca. Harus tetap belajar membaca. Harus tetap diajarkan membaca. Apapun caranya. Jika kita bukan guru yang bisa mengajarkan membaca, maka kita akan meminta bantu kepada guru untuk anak-anak kita yang belum bisa membaca. Jika kita adalah guru, boleh jadi kita akan mengajarkan membaca kepada anak-anak kita selain mengajar anak-anak orang lain yang menjadi siswa kita.

Memang tidak ringan menjadi guru. Tidak mudah menjadi guru. Apalagi jika dikaitkan dengan tanggung jawab guru untuk membudayakan kebiasaan membaca. Ini sangatlah berat. Mengapa? Karena membudayakan membaca kepada orang lain otomatis akan berimplikasi kepada kebiasaan guru itu sendiri terkait membaca. Apakah kita sebagai guru sudah memiliki budaya baca yang mumpuni?  Atau masih belum? Inilah masalahnya.

Kita tahu betul bahwa membina minta baca itu memang tidak ringan. Memahaminya saja tidak mudah. Dalam buku Pedoman Pembinaan Minat Baca Perpustakaan Nasional RI tahun 2002, misalnya dijelaskan, bahwa pembinaan minat baca itu adalah usaha yang dilakukan untuk meningkatkan minat dan kebiasaan membaca masyarakat dengan cara memperbanyak dan menyebarluaskan secara merata jenis-jenis koleksi yang dipandang dapat meningkatkan minat baca. Cukup rumit. Memahaminya saja lumayan berkedut kening. Untuk melaksanakannya perlu kerja keras dan strategi, tentunya.

Kebiasaan kita yang selalu kita praktikkan di sekolah, antara lain, di satu sisi, di sekolah dibiasakan membaca setiap pagi (sebelum mulai pelajaran) atau dalam pelajaran tertentu di luar pelajaran Bahasa dan Sastra. Dalam kegiatan Pembinaan Akhlak, misalnya yang dilaksanakan 5-10 menit setiap pagi, bisa diisi dengan pembinaan membaca sekaligus. Bisa juga dalam kegiatan lainnya. Dan sisi lain perpusatakaan hendaklah selalu pula memperbaharui koleksi buku-buku yang ada di perpusatakaan. Apapun caranya. Apakah dengan menganggarkannya dalam RKAS sekolah untuk membeli buku-buku baru, atau bisa juga dengan membuka kesempatan guru atau siswa menyumbangkan buku-buku baru. Apa saja bisa.

Kesepakatan kita adalah bahwa membaca itu memang penting. Tidak boleh ada alasan untuk membuat kita tidak mau membaca. Seribu-satu cara dapat dilakukan dalam ikhtiar agar kita membaca. Satu pesan guru-guru kita adalah, jangan sampai waktu berjalan percuma karena itu dapat merugikan kita. Jangan sampai merugi menimpa kita kaena akan membuat diri celaka. Nauzubillah.***

10 Agustus, 2022

Menolak Syiah untuk Mengajak Kembali Bersama

Menolak Syiah untuk Mengajak Kembali Bersama


SENIN (08/08/2022) malam itu dilaksanakan satu acara penting. Tapi mungkin tidak penting bagi semua orang. Apa lagi bagi saudara-saudara kita di sebelah 'sana'. Justeru dianggapnya acara ini buruk. Buruk bagi mereka. Acaranya dibuat di rumah suci, masjid megah kabupaten. Masjid Agung, simbol Islam kabupaten Karimun.

Baik atau tidak baik, bagi muslim Kabupaten Karimun secara umum yang akidah keislamannya adalah menganut faham Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja) maka faham yang tidak sesuai ini tidak bisa diterima oleh semua muslim Aswaja. Sangat bertentangan dengan keyakinan yang ada.

Lalu pada sepertiga Muharram setiap tahun, penganut faham di sana itu selalu mengadakan acara. Dengan mendompleng penanggalan Hijriyah, tanggal Asyura mereka melakukan kegiatan. Terkadang tidak hanya melakukan secara intern, tapi mengajak (menginformasikan juga) orang-orang di luar negeri. Inilah yang tidak dapat diterima oleh penentang faham itu.

Maka dihelatlah satu acara pada malam Selasa lalu itu. Dengan titel acara Pernyataan Sikap Menolak Syiah Karimun para pemegang teguh Aswaja melaksanakan magrib bersama di Masjid Agung. Lalu, setelah salat magrib diadakan acara yang sengaja dibuat singkat itu. Hanya menjelang Isya.

Setelah pencerahan oleh beberapa orang tokoh agama tentang bahaya faham Syiah, lalu disampaikan beberapa pernyataan. Diwakili oleh salah seorang ustaz, dibacakanlah beberapa pernyataan sikap yang isinya menentang keberadaan faham Syiah di Bumi Berazam. Pernyataan lainnya adalah pernyataan ucapan terima kasih kepada Pemerintah yang dapat mengendalikan kegiatan Syiah untuk terciptanya rasa aman di Kabupaten Karimun.

Tentu saja, pokok utama dari penentangan ini adalah bagaimana saudara-saudara kita yang dinilai menyimpang itu kembali ke jalan yang sama dengan masyarakat muslim pada umumnya di Kabupaten Karimun. Jika faham itu tetap menjadi potensi akan terjadinya keributan di sini, sebaiknya mereka kembali saja ke akidah awal mereka sebelum mereka menganut faham yang sekarang. Jika tidak, toh mereka boleh mendirikan agama sendiri tanpa menyebut dirinya muslim. Jika masih menyebut dirinya muslim, kembali saja kepada muslim sebenarnya.***
*Juga di mrasyidnur.gurusiana.id

09 Agustus, 2022

Berita Sedih Menambah Sedih

Berita Sedih Menambah Sedih


Catatan M. Rasyid Nur

KEPALA Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Karimun, H. Sugianto menyatakan rasa kecewanya sekaligus mengecam perbuatan tak 'senonoh' seorang guru (SD) di Pulau Kundur. Sedih, guru yang sejatinya untuk digugu dan ditiru malah melakukan perbuatan 'tak elok' kepada siswanya. Mirisnya, tidak cukup satu siswa, tapi ada belasan siswa yang menjadi korbannya. Itulah berita dari beberapa media di Kabupaten Berazam, Karimun beberapa hari yang lalu.

Mengutip pernyataan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Karimun, seperti disiarkan oleh laman web radioazam.id dia mengatakan, “Kami, Dinas Pendidikan Kabupaten Karimun sangat kecewa, dan mengecam perbuatan pelaku yang merupakan seorang guru namun melakukan tindakan asusila, bahkan tega mencabuli muridnya sendiri.”  Sedih kita membaca pernyataan seperti itu. Bagi kita sebagai guru, perbuatan guru, itu tentu saja tidak mencerminkan prilaku seorang guru. Guru itu pastinya memiliki moral yang layak ditiru siswa dan masyarakat secara umum.

Sebagai pengayom dan penanggung jawab pendidikan di Kabupaten Karimun, Pak Sugianto mengarahkan agar sebelum ditangani kepolisian, terlebih dulu dilakukan mediasi dengan orang tua korban, bersama pelaku dan sekolah, agar tidak terulang kembali kasus serupa. Itu harapan orang nomor satu di bidang pendidikan kabupaten. Sudah pasti perbuatan ini akan mencoreng dunia pendidikan di daerah ini, khususnya dan di Indonesia umumnya. Harapan semua orang, kiranya guru menjadi sosok teladan yang memberikan pelajaran, bimbingan, arahan demi masa depan anak-anak akan jauh panggang dari api dengan kasus ini.

Terlepas dari sifat khilaf dan teledor dari guru itu, kini kasusnya sudah terjadi. Nama sekolah, nama guru dan nama daerah sudah ternoda oleh perbuatan itu. Sedih, pasti sedih kita sebagai guru membaca beritanya. Tidak berlebih kita sebut, ini berita sedih yang membuat dan menambah sedih. Benar akan diselesaikan sesuai ketentuan. Tetap saja membuat sedih.
 
Selain peneylesaian seara hukum seperti yang sudah diberitakan oleh media, penyelesaian utama dari kejadian ini adalah bagaimana guru tersebut mampu melepaskan dirinya dari 'keinginan' melakukannya kembali. Jika tidak mampu sendiri mengatasinya, akan bijak juga para pihak memberikan bantuan untuk mengatasinya. Termasuk kita sesama guru, layak untuk berkontribusi memberikan saran atau apapun untuk kebaikan ke depan. Perbuatan seperti itu memang sudah sering terjadi dan sering kita baca ifnormasinya. Tentu saja kita tidak ingin terus ada.***

*Juga di mrasyidnur.gurusiana.id 
M. Rasyid Nur, Guru di Karimun

08 Agustus, 2022

Timbal Balik Kebaikan karena Kesadaran

Timbal Balik Kebaikan karena Kesadaran


"APABILA kepadamu diberi kebaikan, maka balaslah kebaikan itu lebih baik dari pada yang diberikan; atau setidak-tidaknya sama dengan kebaikan yang diterima itu." Pernyataan itu dikutip dari makna ayat yang ada dalam alquran. Seumpama seseorang mengucapkan salam, misalnya, balaslah salam itu lebih baik (banyak) dari pada salam yang diterima. Itulah intinya. Insyaallah pemahaman ayat itu sudah selalu diterapkan. Tidak hanya saat menerima salam. Bahkan menerima dalam bentuk materi pun sering orang membalasnya dengan lebih baik atau sekurang-kurangnya sama dengan pemberian yang dia terima.

Tidak berlaku anjuran itu untuk sebaliknya. Jika yang diterima adalah keburukan atau sesuatu yang menyakitkan, tidak dianjurkan untuk dibalas sama atau lebih banyak dari pada yang diterima. Untuk keadaan seperti ini, ada pula satu pernyataan yang pantas diikuti. Kalimat yang sudah menjadi kata indah atau kata mutiara, itu berbunyi, "Ketika kamu merasa sangat terluka atas sikap orang lain, maka berdoalah kepada Allah agar kamu tidak berbuat seperti apa yang telah dilakukannya." Jadi, tidak dianjurkan untuk membalasnya lebih kuat atau bahkan dengan ukuran yang sama sekalipun.

Tentu tidak mudah menerapkan kedua pernyatraan itu. Bisa saja mudah menyebutnya, tapi belum tentu mudah menerapkannya. Fakta dalam hidup kita masih ada diantara kita yang mendapatkan kebaikan tapi tidak membalasnya dengan kebaikan juga. Kenyataan ini tidak hanya dalam hubungan antara kita sesama kita, lebih-lebih dalam hubungan dengan Sang Pencipta.

Mari kita lihat kebaikan Allah kepada kita sebagai hamba-Nya. Semua kebutuhan kita dipenuhi meskipun tidak semua harapan kita diberi. Kita butuh oksigen untuk bernafas agar hidup dengan baik, kita sudah menerimanya selamanya. Tidak pernah kita beli seperti membeli oksigen di Rumah Sakit, misalnya. Kita menanam tanaman untuk mendapatkan hasil (buah) misalnya, kitapun mendapatkannya. Dan banyak lagi, lainnya. Apakah kita sudah membalas pemberian itu dengan melaksanakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya? Dapat dipastikan, masih ada yang tidak membalasnya dalam bentuk seperti itu. 

Dalam hubungan sesama manusia juga dapat ditemukan fakta bahwa pemberian yang diterima terkadang lupa kita membalasnya lagi sebagaimana apa yang diterima. Sekurang-kurangnya melakukan tindakan yang dapat berarti memberikan balasan terhadap apa yang kita terima, misalnya. Pertolongan yang sering kita terima dari orang lain, sudahkah kita membalas pertolongan itu? Boleh jadi masih ada atau memang ada diantara kita yang seolah melupakan pertolongan itu.

Tentu saja bagi kita yang menolong, tidak pada tempatnya berharap ditolong kembali. Sesungguhnya anjuran yang diinginkan adalah kesadaran dari kita sebagai penerima pertolongan atau kebaikan itu sendiri untuk membalasnya. Bukan dari sisi pemberi. Allah memberi kita segalanya, tapi Dia tidak akan pernah berharap kita membalasnya. Kita melakukan kebaikan semata atas kesadran kita. Bukan karena permintaan Allah itu. Begitu juga ketika kita menerima dalam hubungan sesama kita, bukanlah karena diminta oleh pemberi baru memberi. Tapi karena kesadaran kita yang menerima bahwa kita sebaiknya memberi juga kebaikan itu sebagaimana kita menerimanya kepada si pemberi. Saya kira begitu.***
(Catatan M. Rasyid Nur)