Bersih, Bersih dan Bersihkanlah di Tahun Bersih

WALAUPUN Kabupaten Karimun sudah meraih Piala Adipura sebagai Daerah/ Kota Sedang Terbersih sebanyak dua kali berturut-turut (2016 dan 2017) namun kabupaten yang terkenal dengan sebutan 'kabupaten berazam' ini belumlah dapat menjaga kebersihannya secara baik. Raihan piala kebersihan itu lebih karena 'nyinyir' dan sibuknya bupati dan wakil bupati setiap waktu untuk mengingatkan warga dan aparatnya dalam menjaga dan mengelola sampah. 

Bupati Karimun H. Aunur Rafiq dan Wakilnya, H. Anwar Hasyim memang sangat perhatian pada tempat-tempat tertentu supaya kelihatan indah. Pasar, lembaga pendidikan, rumah-rumah sakit dan tempat-tempat yang selalu menjadi pantauan Tim Adipura selalu diingatkan K1 dan K2 agar senantiasa dalam keadaan bersih. Pengelolaan lingkungan pada tempat-tempat ini menjadi perhatian bupati dan wakilnya secara khusus. Lahirnya jargon 'Sabtu Bersih' adalah bagian dari perhatian bupati terhadap pentingnya pengelolaan kebersihan dengan baik dan terus-menerus.

Masalahnya adalah kesadaran masyarakat secara umum dalam mengelola sampah dan lingkungan belumlah sebagaimana harapan. Lihatlah beberapa fasilitas umum yang sudah disediakan Pemerintah. Masih begitu banyak sampah berserakan, misalnya pada waktu-waktu yang seharusnya tidak boleh ada sampah berserakan.

Mengambil contoh pasar sebagai fasilitas umum. Apa yang sering terlihat? Datanglah ke Pasar Maimun (Kecamatan Karimum) misalnya, kita akan menemukan banyak sampah atau sesuatu yang membuat kelihatan koto. Jika kita rajin berbelanja ke pasar berlantai tiga ini, waduh sangat memalukan. Sebagai daerah yang sudah meraih dua kali adipura, sejatinya semua kita (tentu saja pengguna pasarnya) tidak membiarkan sampah berserakan. Bayangkan, lantai berkeramik tapi terkadang dipenuhi sampah sementara orang tetap saja lalu-lalang di situ.

Lihat juga di tempat-tempat umum lainnya. Pasar Meral, Pasar Tebing, kurang-lebih sama pengelolaan sampah oleh penggunanya. Bahkan, suatu hari saya pernah melihat tumpukan sampah di sekitar pot bunga penghias jalan raya di tengah kota Tanjungbalai Karimun. Apakah itu tidak disengaja? Tentu saja yang meletakkan sampah di situ mengerti bahwa di situ bukanlah tempat pembuangan sampah. Namun tetap saja sampah-sampah itu diletakkan di situ.

Kesadaran. Ya, kesadaran itulah yang saat ini diperlukan. Jika kesadaran setiap pribadi kita (masyarakat) sudah muncul dalam mengelola sampah, maka sampah-sampah berserakan itu tidak akan pernah ada lagi. Tanpa kesadaran meskipun ada Perda Sampah bahkan ada sanksi hukumnya, tetap saja tidak akan berguna. 

Sejatinya setiap ada sampah, pengguna atau pemilik sampahnya tidak serta-merta membuang begitu saja pada tempat yang tidak semestinya. Sampah itu bisa dimasukkan ke kantong plastik terlebih dahulu, misalnya. Kantong-kantong berisi sampah itu sementara diletakkan di sekitar kita berjualan sebelum diantarkan ke dalam tong sampahnya. Ini jika di pasar. Tapi jika di rumah atau di tempat lainnya, kita menyesuaikan bagaimana sampah tidak lagi berserakan. Ayo, mari kita kelola sampah dengan baik dan benar. Kesadaran pribadi adalah kuncinya.***

Momen tahun baru 2018 ini, hendaknyalah kita pakai sebagai tonggak untuk mematok kesadaran akan kebersihan itu. Salah satu tekad semacam resolusi 2018 adalah masalah kesadaran pribadi tentang kebersihan. Bersih, bersih, dan bersih itulah yang harus diperioritaskan. Mari jadikan tahun baru ini sebagai tahun untuk Tahun Bersih bagi rumah kita, lingkungan kita dan daerah kita.

Dengan kesadaran kolektif pribadi-pribadi itu, insyaallah penghargaan yang lebih tinggi dari pada Piala Adipura itu akan mampu diraih. Dan raihan itu sendiri kelak tidak lagi karena tekanan dari bupati atau wakil bupati. Tapi tekanan dari diri sendiri. Sekali lagi, bersih, bersih dan bersih adalah tekad kita pada tahun baru ini. Jadilah dia tahun bersih untuk kesadaran pribadi.***

SHARE THIS

Author:

M. Rasyid Nur Pensiunan Guru PNS (2017) dan Tetap, Mengabdi di Pendidikan

Facebook Comment

0 Comments: