Solat Teratur akan Membuat Hidup Teratur


ADAKAH hubungan pengamalan agama –sholat, misalnya dalam agama Islam-- oleh para siswa (peserta didik) dalam kehidupan sehari-hari di sekolah? Seabagai penganut agama, apakah ada pengaruh langsung ataupun tidak langsung terhadap anak-didik di sekolah, khususnya dalam kehidupan seharinya di sekolah? Penting untuk memahami ini, khususnya bagi para guru di sekolah.


Dalam banyak literatur, sesungguhnya banyak sudah terbaca dan kita ketahui bagaimana korelasi antara tindak-tanduk sehari-harinya dengan pengamalan keagamaannya secara umum. Orang-orang yang melaksanakan ajaran agama dengan baik dan benar akan menjalankan kehidupan sehari-harinya dengan baik juga. Selalunya orang yang mampu menjalankan agamanya dengan baik dan benar akan juga tampilan kehidupan sehari-harinya berjalan dengan baik dan benar. 

Logika sederhananya adalah karena menjalankan agama artinya menjalan aturan Tuhan, penguasa alam, penentu kehidupan dan kematian maka orang yang mengamalkan aturan agama artinya orang yang hidupnya dalam keteraturan. Mengamlkan aturan Tuhan dengan sadar tentu saja akan memengaruhi kesehariannya dalam tataran peraturan yang berlaku juga.

Di sekolah, dalam tataran yang kecil ada tata aturan yang wajib diikuti dan dilaksanakan oleh keluarga sekolah: siswa, guru, pegawai TU serta komponen lainnya. Sekolah yang teratur alias berdisiplin adalah sekolah yang komponen pendukungnya tadi bersikap dan bertindak sesuai ketentuan aturan sekolah.

Tegasnya, bagi seorang siswa yang dalam kesehariannya baik di sekolah maupun di luar sekolah (di rumah, di masyarakat, di pasar, dll) sudah berkategori taat aturan sepenuh sadar dan sepenuh hati dapat dipastikan bahwa di sekolah dia akan berkategori siswa patuh dan disiplin aturan juga. Bagaimana mungkin dia melanggar aturan sekolah yang sanksinya bisa dirasakan langsung saat itu sementara aturan Tuhan yang sanksinya baru dijanjikan di akhirat saja dia tidak hendak melanggarnya. 

Lalau bagaimana dengan masih tingginya pelanggaran tata tertib sekolah oleh para siswa? Bagaimana dengan cukup banyaknya siswa terlambat, misalnya? Inilah yang yang ingin dicoba ditelisik: adakah hubungan ketaatan beragama (baca: sholat) dengan kedisiplinan siswa di sekolah? Iseng-iseng, penulis --saat masih berdinas-- pernah bertanya kepada para siswa di kelas ketika kebetulan berkesempatan masuk karena guru tidak masuk atau terlambat masuk untuk melaksanakan pembelajaran. Ketika topik pembicaraan mengenai agama, saya coba bertanya kepada seluruh siswa, “Ada berapa orang siswa yang secara rutin (teratur secara sadar) melaksanakan sholat lima waktu”. Tentu pertanyaan ini hanya untuk yang muslim.

Kita tahu bagi seorang muslim baligh (sampai umur atau pikiran) kewajiban sholat tidak dapat dihindarkan. Tidak ada alasan untuk tidak menegakkannya. Menurut ketentuan agama, jika tidak mampu melaksanakan solat dengan berdiri (normal) tetap diwajibkan melaksanakannya dengan cara duduk saja. Bahkan jika dengan duduk juga tidak mampu, dengan berbaring atau menelentang saja pun wajib hukumnya. 

Kalau tidak dilaksanakan? Masyaallah, itu namanya ingkar. Dan neraka telah disediakan untuknya. Siswa --yang saya tanya-- ini saya pastikan mengerti ketentuan agama ini. Tapi inilah yang mengagetkan. Dari beberapa kelas (kebetulan kelas XI dan XII) ternyata jumlah yang secara sadar dan jujur sholat tidak mencapai 10 % di setiap kelasnya. Bahkan ada satu kelas saya temukan tidak seorang pun siswanya yang melaksanakan sholat secara rutin atas kesadaran karena Allah. 

Bayangkan, dalam satu kelas yang usia siswanya tentu tidak ada lagi yang di bawah 15 (lima belas) tahun, tidak satu pun yang telah melaksanakan sholat sebagai kewajiban muslimnya. Hitunglah ada berapa banyak siswa sekolah ini yang ternyata tidak atau belum sholat dengan benar dan sadar jika diasumsikan hanya 10% yang sholat dari hampir 800 orang siswa. Tidakkah itu berarti hampir semua siswa belum melaksanakan ajaran agamanya dengan baik? 

Nah, tidaklah berlebihan jika timbul dugaan, jangan-jangan tingginya pelanggaran disiplin sekolah oleh para siswa dikarenakan memang oleh kesadaran beragama yang juga masih sangat rendah. Kebiasaan-kebiasaan melalaikan aturan agama, acuh tak acuh akan pelaksanaa sholat, tidak rutin membaca atau mempelajari kitab suci (al-quran), dll adalah beberapa contoh betapa rendahnya kesadaran beragama itu.

Khusus untuk pelaksanaan sholat, sekolah sebenarnya telah menyediakan musholla. Tempat berwudhu’ meski belum cukup namun jika sabar antri tetap bisa berwudhu’ dengan baik. Bahkan untuk pelaksanaan sholat zuhur dan asar yang kebetulan dilaksanakan dalam waktu Sekolah malah disediakan waktu lebih berbanding istirahat biasa. Tapi jumlah siswa yang melaksanakan sangat jauh sedikit berbanding jumlah siswa yang ada. Untuk sholat jumat yang juga dilaksanakan bersama di sekolah, rasanya jumlah pesertanya juga sangat sedikit.

Itu berarti memang sangat banyak para siswa yang sampai saat ini belum melaksanakan kewajiban beragamanya dengan baik. Dan jika kewajiban yang ditentukan Tuhan saja tidak atau belum bisa dilaksanakan dengan penuh kesadaran bagaimana pula dengan peraturan yang hanya ditentukan oleh manusia seperti tata tertib di sekolah itu?

Lalu? Perlu semua kita, terutama para guru dan siswa pioneer yang amalan agamanya sudah baik untuk menjadi pelopor tidak saja dalam mengamalkan agama, juga tentunya dalam mengamalkan tata tertib sekolah. Bukankah memberi contoh itu lebih besar pengaruhnya dari pada sekedar menyuruh, mengajak atau menghimbau? ***


SHARE THIS

Author:

M. Rasyid Nur Pensiunan Guru PNS (2017) dan Tetap, Mengabdi di Pendidikan

Facebook Comment

0 Comments: