Membiarkan Kesalahan Kecil akan Memancing Kesalahan Besar: Pesan Kepada Siswa

Oleh: M. Rasyid Nur
ADA kebiasaan buruk yang terkadang tidak kita sadari kita lakukan atau kita biarkan berlaku. Dengan alasan itu hanya kesalahan kecil dan tidak berbahaya, keburukan itu dibiarkan begitu saja. Ketika terjadi pelanggaran peraturan lalu lintas seumpama menerobos lampu merah, melawan arus jalan satu arah, kita membiarkan. Menyaksikan anak muda-mudi berboncengan berpelukan di atas kenderaan roda dua kita membiarkan. Menyaksikan anak berkelahi, mencuri atau berjudi, terkadang kita juga tidak ambil peduli. Alasannya sederhana, itu kesalahan kecil dan dilakukan orang yang belum dewasa.

Sebagai guru, pasti juga kita selalu melihat siswa/ wi kita melakukan pelanggran disiplin di sekolah, tempat kita bertugas. Dan tidak mustahil, kita juga membiarkannya saja, terutama jika misalnya kita tidak piket. Tidak aneh, banyak warga sekolah terlihat kurang peduli dari pada yang berpartisipasi mengatasi bermacam pelanggaran yang terjadi. Semisal ada siswa yang terlambat datang, sebagian guru sepertinya tidak mempermasalahkannya. Siswa mencontek (curang) dalam ujian terkadang juga dibiarkan oleh guru pengawas. Bahkan siswa yang ketahuan merokok, ternyata ada guru yang pura-pura tidak tahu. Belum lagi yang melakukan perbuatan asusila, misalnya.

Di tengah masyarakat sendiri juga banyak ditemukan berbagai kelakuan dan perbuatan keliru yang terjadi yang juga seolah mendapat pembiaran dari masyarakat lainnya. Melihat tetangga sebelah rumah berbuat mesum, misalnya, orang tak hendak menegurnya. Alasannya sederhana saja: itu bukan urusannya. Jika di sebelah rumah ada yang berbuat tidak sesuai dengan tatakrama, ah biar saja, itupun bukan hal kita. Itulah sikap yang tidak kurang kita saksikan di sekeliling kjita.
Apakah pembiaran ini sebagai sebuah toleransi? Toleransi, sesungguhnya tidaklah keliru. Memaafkan tindak-tanduk siapapun yang secara aturan memang tidak salah, memang baik. Tapi jika toleransi menyangkut pelanggaran dan kekeliruan yang sengaja dilakukan tentulah tidak baik. Harusnya tidak semua pembiaran adalah toleransi yang bernilai baik. Yang pasti, toleransi terhadap pelanggaran itu nyata-nyata tidak baik. Itu tidak boleh dibiarkan.

Memiliki dan menyimpan toleransi terhadap berbagai pelanggaran yang terjadi di depan kita, sekecil apapun pelanggaran itu dilakukan, itu adalah sikap tidak terpuji. Pesan orang tua-tua alim-ulama bahwa yang benar itu haruslah dikatakan benar, jangan campurkan yang benar dengan yang salah, seyogyanya dipegang erat-erat. Walaupun untuk mengatakan yang benar itu terkadang juga pahit, dia tetap harus dikatakan sebagaimana adanya kebenaran itu.

Intinya, tidak boleh ada pembiaran pelanggaran dan kesakahan walau itu dinilai kecil. Membiarkan pelanggaran kecil sudah pasti akan mendatangkan pelanggaran besar. Dan itu harus diatasi. Katakan yang benar itu adalah benar. Bahkan tidak cukup hanya sebatas dikatakan. Harus pula dilaksanakan. Memantapkan di hati bahwa kebenaran pasti akan mengalahkan kebatilan (kekeliruan) adalah sikap yang dapat mendorong seseorang untuk tidak membiarkan terjadinya pelanggaran.

Risiko keberanian mengatakan dan melaksanakan kebenaran dalam rangka tiada pembiaran pelanggaran pastilah ada memang. Pelaku pelanggaran, sebutlah misalnya koruptor, manipulator dan siapa saja yang suka melawan hukum tentu akan menentang. Itu adalah konsekuensi mempertahankan kebenaran itu sendiri. Dan itu adalah perjuangan. Sementara setiap perjuangan memanglah harus ada pengorbanan. Risiko-risiko itulah pengerobanan yang mutlak dipertahankan. Selama toleransi pelanggaran tetap dipelihara maka akan terus terjadi pelanggaran di antara kita.

Tidak berlebihan timbul dugaan bahwa berbagai pelanggaran dalam skala besar dan menasional yang selalu menghiasi media massa, itu pasti bermula dari berbagai pelanggaran kecil dalam skala lokal yang terus-menerus dibiarkan dengan berbagai alasan. Korupsi dan manipulasi yang telah menghancur negeri ini boleh jadi karena masyarakat selalu tidak mau peduli ketika menemukan pelanggaran hukum walau kecil di sekitarnya.

Kebiasaan membiarkan pelanggaran itulah yang dalam waktu lama akhirnya akan dianggap tidak lagi sebagai sebuah pelanggaran. Dan ketika pelanggaran itu sudah masuk ke ranah gangguan kemasyarakatan, barulah timbul penyesalan. Ketika keadaan sudah sampai pada bagaikan ‘nasi sudah menjadi bubur’ barulah ramai-ramai menyesal. Tapi apa lagi yang dapat dilakukan? Paling juga masing-masing kita akan saling menyalahkan. Masyarakat menyalahkan aparat hukum sementara aparat hukum akan menyalahkan masyarakat. Lingkaran benang kusut itu semakin mengusutkan otak kita untuk mencari penyelesaiannya.

Sebelum ‘bubur’ itu benar-benar tidak lagi bisa berguna maka kebiasaan membiarkan pelanggaran terjadi di tengah-tengah kita kiranya mesti direnungkan untuk diubah. Tidak boleh semestinya bertoleransi terhadap pelanggaran, siapapun yang melakukan pelanggarannya. Perinsip ‘kena di mata dipicingkan, kena di perut dikempeskan’ tidak boleh terjadi. Dalam penerapan hukum dan ketentuan tidak boleh ada istilah ‘pandang-bulu’. Tidak boleh juga ‘pilih-kasih’ hanya karena mengenai diri dan orang-orang di sekeling sendiri. Intinya, jangan membiarkan kesalahan-kesalahan kecil dengan alasan apapun. Itu akan dapat mendatangkan kesalahan-kesalahan besar yang akan menjadi malapetaka bagi kita dan bangsa kita.

Pesan ini layak dan harus kita saling sampaikan, terutama kepada peserta didik kita. Sebagai calon generasi pengganti, mereka perlu dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Mereka tidak boleh dibiarkan melakukan kesalahan atau berbuat pelanggaran walaupun itu pelanggaran kecil. Jika dibiarkan, otomatis akan menjadi kebiasaan. Dan kebiasaan itu akan terus terlakukan hingga datanglah kesalahan-kesalahan besar itu. Semoga kita mampu mewaspadainya.***


SHARE THIS

Author:

M. Rasyid Nur Pensiunan Guru PNS (2017) dan Tetap, Mengabdi di Pendidikan

Facebook Comment

0 Comments: