Empat Hijrah di Masjid Nurul-Huda (Catatan dari Tausiah Raja Sufyan)


Ditulis Oleh Jumadiah

PERINGATAN Tahun Baru Islam (Hijriyah) adalah satu tonggak sejarah penting dalam Islam. Untuk itu, setiap tahun di bulan Muharram sebagai awal Tahun Baru Hijriah selalu diadakan peringatan-peringatan dengan berbagai acara untuk mengenang sejarah penting itu. Memperingati Tahun Baru 1441 (2019) jamaah Masjid Nurul-Huda Sei Raya bersama masyarakat pun melaksanakan peringatan Tahun Baru Islam yang dihelat pada Ahad  (08/09/2019) lalu.

Acaranya diisi dengan berbagai kegiatan di antaranya Khatamul Qur'an  yang diikuti oleh 19 orang santri TPQ Nurul-Huda. Ada juga MTQ yang diikuti siswa TPQ Al-Huda. Sebagai acara puncak diisi dengan tausiah agama yang disampaikan oleh Al-Ustaz Drs. H. Raja Sufyan, dai dari Ibu Kota Provinsi, Tanjungpinang. Menurut Endang SW selaku Ketua Pengurus Masjid, kegiatan yang melibatkan siswa TPQ selalu dilakukan setiap tahunnya bersempena peringatan Muharram, dengan tujuan agar siswa tahu bahwa selain kalender Masehi yang umum digunakan, khusus Islam juga punya kalender tersendiri yaitu Kalender Hijriyah.
Ust. H. Raja Sufyan

Ustaz Raja Sufyan dalam ceramahnya menguraikan perihal moment tahun baru hijriah sebagai moment terbaik untuk manusia melakukan hijrah ke arah yang lebih baik. Hijrah yang bermakna berpindah, maka semua manusia terutama kita umat Islam hendaklah berpindah dari satu keadaan yang belum baik ke keadaan yang lebih baik.

Berkaitan dengan itu Raja Sufyan menguraikan Empat Hijrah yang dialami manusia. Kita wajib melakukannya, ingat Raja Sufyan. Keempat hijrah yang dimaksud Raja Sufyan adalah Hijrah Anak-anak; Hijrah Pemuda; Hijrah Suami dan Hijrah Isteri. Berikut, uraian singkat seperti disampaikan Raja Sufyan malam itu.
Peserta Khatml Quran

1) Hijrah Anak-anak;
Mengapa anak-anak harus hijrah? Karena ketika sahabat bertanya kepada nabi tentang siapa yang harus kita hormati dan berbakti? Nabi menjawab, Ibumu! Jawaban ini sampai 3 kali nabi mengulang karena sahabat masih bertanya, siapa lagi. Mengapa sampai demikian nabi menekankan kewajiban menghormati ibu? Hal ini disebabkan ada 3 kesusahan ibu yang disebabkan anaknya. Pertama ketika mengandung, lalu ketika melahirkan dan ketiga ketika membesarkan anaknya. Makanya anak perlu hijrah ini.

2) Hijrah Pemuda-Pemudi;
Para pemuda penting untuk berhijrah karena di saat usia remaja biasanya begitu kekeliruan yang dilakukan. Pemuda dengan masa pancarobanya pasti cenderung untuk melanggar norma-norma agama. Maka perlu Pemuda-Pemudi untuk hijrah ke arah yang lebih baik. Jika biasanya pacara sampai menimbulkan dosa, maka hijrahlah.

3) Hijrah Suami;
Hhijrah suami maksudnya terutama memastikan bahwa rezeki yang diberikan pada keluarga, anak-isteri adalah rezeki yang halal. Jangan karena sekadar untuk mendapatkan rezeki tapi dengan segala cara, termasuk cara-cara haram. Hijrahlah. Suami sholeh adalah harapan keluarga. Jadilah ganti ayah bagi istrinya (sebagai pembela) , jadilah ganti ibu (menjadi pendengar yang baik), pengganti teman bagi istrinya (bergurau senda, panggilan sayang). Intinya, jika harapan-harapan ini sebelumnya belum mau melaksanakannya, inilah saatnya untuk berubah.

4) Hijrah Istri; Maksudnya adalah hijrah untuk menjadi isteri yang lebih baik. Ingat, dalam memberikan pelayanan kepada suami yang ala kadarnya saja, itu harus diubah. Kepada suami itu juga tempat isteri berbakti sebagaimana berbakti kepada orang tua juga. Isteri yang sudah berhijrah akan mempunyai 4 syarat yang nanti bisa memilih masuk surga dari pintu mana saja. Apa keempat syarat yang akan membawa para isteri ke syurga itu?
Drs. H. Raja Sufyan menjelaskan dengan gamblang. Pertama, menjaga shalat. Kedua, melaksanakan puasa Ramadhan dengan benar. Ketiga, .menutup aurat dan Keempat memberi pelayanan yang baik kepada suami. Tapi suaminya mestilah ridha, katanya. Jadi, isteri yang berhijrah itu akan membuktikan semua itu.***

SHARE THIS

Author:

M. Rasyid Nur Pensiunan Guru PNS (2017) dan Tetap, Mengabdi di Pendidikan

Facebook Comment

2 Comments:

Amrisungkar mengatakan...

Mantap

M. Rasyid Nur mengatakan...

Terima kasih, Amri Sungkar