Habibi Pergi, Gatotkaca Janganlah Pergi: Bapak adalah Guru Kami

DARI begitu banyak prestasi dalam hidup Habibie yang telah pergi pada hari (Rabu, 11/09/2019) ini untuk selamanya dalam usia 83 tahun, salah satunya adalah ketika Habibie berhasil membuat pesawat terbang yang kita kenal sebagai Gatotkaca N250. Pesawat yang dibawanya 'berkeliling' Eropa bahkan dunia (baca: promosi) itu membuat nama Indonesia melambung di mata dunia sejak awal terbang pertama kali itu.

Jika disebut Gatotkaca, nama tokoh pewayangan itu maka bagi orang Indonesia bahkan dunia yang akan terbayang selanjutnya adalah Habibie, sang pencipta pesawat itu. Terbang pertama pada 1995, saat itu N250 digadang-gadang akan menjadi pembuka kejayaan Indonesia di dunia dirgantara.

Dan walaupun si Gatotkaca N250 tidak jadi seberjaya sebagaimana harapan awalnya, terbukti sampai hari ini Gatotkaca tetap menjadi salah satu legenda prestasi Habibie di dunia dirgantara. Apakah kepergian Habibie, sang guru kita, sang guru kami akan membuka mata bangsa ini untuk membuat si Gatotkaca tidak akan pernah pergi? Sejarah nanti akan mencatat. Yang pasti, sesungguhnya pencipta Gatotkaca Besi itu adalah guru bangsa ini. Dia adalah guru kita, guru kami dan guru bangsa Indonesia bahkan dunia.

Mari kita ikhlaskan Presiden ke-3 Republik Indonesia itu pergi menghadap Ilahi sembari kita tetap melanjutkan semangat juang, semangat nasionalis dan semangat demokratis Pak Habibie sebagaimana sudah ditunjukkannya selama hidupnya. Selamat jalan, Pak Habibie. Bapak adalah guru yang mengajarkan bagaimana jiwa Nasionalis itu ada di dada. Bagaimana semangat juang itu diterapkan dan dilaksanakan. Bagaimana semangat demokratis itu selalu ada dibuktikan dalam kehidupan.

Kami, rakyat yang ditinggal akan tetap mengenang Bapak. Bahkan nama lengkap Bapak, Bacharuddin Jusuf Habibie yang hanya kami kenal dengan nama BJ Habibie itu lebih lengkapnya adalah Prof. Dr. Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie. Kami juga akan mengenang tempat dan tanggal lahir Bapak. Di banyak catatan kami baca, Bapak  lahir di Parepare, Sulawesi Selatan pada 25 Juni 1936 Sebagai Guru Besar di Luar Negeri sana, tentu saja pendidikan Bapak begitu mengagumkan kami, rakyat Indonesia.

Dan catatan penting Bapak sebagai Presiden yang menggantikan presiden terlama,  di republik ini dan Bapak menjadi presiden yang tidak terlalu lama tapi akan bercatatan  terlama, adalah catatan yang juga akan kami kenang selamnya. Catatan prestasi, catatan kehebatan Bapak seperti yang curahkan hampir semua umur di industri dirganta tidak akan bisa kami catat di sini. Ya, sekali lagi, selamat jalan Bapak Teknologi Bangsa. Bapak Guru Bangsa, guru kami semua.***

SHARE THIS

Author:

M. Rasyid Nur Pensiunan Guru PNS (2017) dan Tetap, Mengabdi di Pendidikan

Facebook Comment

0 Comments: