Masak Bubur Asyura: Tradisi Kebersamaan di Masjid Kami


Oleh Jumadiah 
BULAN Muharram, bulan pertama kalender Islam (Tahun Hijriyah) merupakan salah satu bulan penting di kalangan umat muslim. Selain sebagai permulaan (awal) Tahun Hijriah (1 Muharram) di dalamnya juga ada peristiwa penting, yaitu meninggal dunianya Saiyidina Hussein, cucu Rasulullah, Muhammad SAW. Peristiwa itu diabadikan dengan peringatan yang dikenal dengan Hari Asyura yang jatuh pada 10 Muharram.

Umat Islam lazim memperingati Hari Asyura itu dengan berpuasa. Ada yang berpuasa satu hari pada 10 Muharram, tapi ada yang berpuasa dua hari, pada 9-10 Muharram dan ada pula yang tiga hari berturut-turut pada 9,10 dan 11 Muharram. Dasar hukum berpuasa ini tentu saja atas hadits Nabi yang menerangkan besarnya faedah berpuasa pada hari itu.

Di beberapa daerah peringatan Hari Asyura diperingati masyarakat (muslim) dengan berbagai kegiatan. Selain berpuasa Asyura pada 9 dan 10 Muharram, misalnya menjelang hari Asyura ada pula membuat perayaan-perayaan, keramaian dan tentu saja diisi dengan tausiah atau pencerahan agama. Pun ada juga yang menghelatnya dengan berbagai lomba (musbaqoh) keagamaan seperti lomba berpidato, membaca alquran atau lomba nasyid (lagu-lagu Islami) untuk berbagai kalangan. Dan biasanya lomba ini adalah kaitannya dengan Tahun Baru Hijriyah walaupun harinya berdekatan dengan Hari Asyura.

Pada tahun ini, jamaah dan masyarakat di lingkungan Masjid Nurul Huda, Sungai Raya menyambut dan menyemarakkan Hari Asyura dengan kegiatan memasak Bubur Asyura. Bubur Asyura yang secara turun-temurun sudah kita kenal sejak orang-orang tua kita dahulu, tahun ini kembali disuguhkan oleh dan untuk jamaah Masjid Nurul Huda.

Bubur Asyura adalah bubur nasi yang dicampur dengan berbagai umbi, kacang, daging, ayam dan bumbu lainnya sehingga berjumlah 44 macam. Wow, 44 macam jenis, bahan pokok, bahan pendukung sampai ke bumbu-bumbu ada di dalam nasi lembek yang gurih itu.

Bubur ini dimasak bersama ibu-ibu jama'ah Masjid Nurul Huda sebagai bentuk kebersamaan dan silaturrahim. Secara bersama, sesuai peran masing-masing para Ibu mengerjakan apa saja untuk memasak Bubur Asyura bersama-sama. Ada juga secara bergantian untuk peran yang sama tapi tidak bisa dikerjakan sendiri. Misalnya untuk mengacau atau mengaduk-aduk nasi dan bumbu dalam periuk atau wajan yang lumayan besar, harus dikejakan bergantian sebagai wujud kebersamaan. Bahkan bahan dan bumbu-bumbu yang dipakai juga hasil sumbangan warga secara bersama-sama juga.

Bubur yang telah masak akan dibagikan dan dimakan bersama jama'ah dan warga lainnya setelah selesai sholat maghrib. Pasti tentunya, sebelum menyantap penganan tahunan itu didahului dengan berdo'a bersama juga. Berdoa berama ini adalah bagian dari kebersamaan itu sendiri. Tradisi kebersamaan di masjid ini akan selalu dijaga.

Harapannya, semoga di tahun ini dapat hijrah ke arah yang lebih baik di semua aspek kehidupan. Sikap hijrah itu akan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Dan harapan lainnya, semoga di tahun depan tradisi ini kiranya tetap akan terus dilaksanakan. Jika tak ada alangan setiap tahunnya diadakan. Semoga.***
Penulis: Jumadiah
Editor: M. Rasyid Nur

SHARE THIS

Author:

M. Rasyid Nur Pensiunan Guru PNS (2017) dan Tetap, Mengabdi di Pendidikan

Facebook Comment

0 Comments: