Hikmah Ramadhan: Cinta, Membuat Corona Merana


Oleh : Khairul Amri
GM Pekanbaru Pos

SAAT menuliskan Hikmah Ramadhan ini, memasuki hari ke-20, Ramadhan 1441 H, Rabu (13/5/2020). Di luar rumah masih hujan. Sisa hujan malam tadi, sejak pukul 20.30 WIB mulai hujan, sampai ke pagi ini hujan masih rinyai membasahi bumi Allah SWT ini.

Hari ke 20 Ramadhan. Itu pertanda, kita sudah di akhir babak ke-2 dari penggalan 10 yang kedua, bulan Ramadhan. Besok, 21 Ramadhan, kita memasuki babak ke-3, atau 10 hari terakhir bulan mulia ini. Rasanya, saya tak kuasa menulis panjang. Karena, kalau mengingat perjalanan Ramadhan tahun ini, hati selalu dibuat pilu bercampur sedih. Jari jadi gemetar, dan tanpa sadar air mata pun keluar dengan sendirinya.

Benar. Ada 3 babak Ramadhan yang sudah awam di ingatan kita. Babak itu, yakni 10 hari pertama Ramadhan adalah malam-malam penuh rahmat. Di 10 malam ke-2, adalah malam-malam maghfirah atau penuh keampunan. Sedangkan babak ke-3, yaitu 10 malam terakhir adalah malam-malam itqum minannar atau terbebas dari azab api neraka.

Bukan hanya itu. Di setiap Ramadhan, Allah SWT selalu menjanjikan ada 1 malam yang nilai keagungannya melebih 1.000 bulan (alfi syahri), yakni malam lailatul qadar. Malam ini hanya ada di bulan Ramadhan. Tidak Allah turunkan di malam-malam manapun di antara 12 bulan, dalam setahun. Itulah kenapa Ramadhan selalu dinanti kehadirannya oleh seluruh umat Islam yang beriman, di muka bumi Allah SWT ini.

Sudah 20 hari kita lalui, Ramadhan penuh perbedaan, tahun ini. Jika selama ini malam-malam Ramadhan selalu ramai di masjid-masjid, sekarang justru sepi. Jika biasanya malam-malam Ramadhan selalu terdengar suara tadarus mengaji Alquran dari masjid dan musalla, tahun ini juga tidak begitu semarak. Bahkan, di tanah suci Mekkah dan Madinah sekalipun, Ramadhan tahun ini juga dilalui dengan penuh kesedihan. Karena kakbah yang selalu ramai dan penuh sesak oleh umat Islam dari seluruh penjuru bumi, saat ini, rumah Allah SWT itu, tak luput dari suasana sepi. Itulah kuasa Allah SWT. Dan, kita tak akan sanggup berbuat apa-apa tanpa seizinNya.

Namun demikian, di tengah wabah Covid-19 ini, ada pula terselip rasa syukur dalam hati. Di saat Ramadhan tidak terasa hingar bingar, tetapi justru rasa kebersamaan dan cinta dalam keluarga, begitu penuh kehangatan. Selama Ramadhan ini, kehangatan dan kedekatan dengan keluarga semakin dalam. Karena hari-hari kita lebih banyak dihabiskan di rumah, bersama keluarga tercinta. Sangat berbeda dengan hari-hari biasa atau bahkan Ramadhan sebelumya, dimana kita selalu sibuk dengan aktivitas di luar rumah atau di kantor.

Tempat-tempat yang kita tahu selalu ramai, baik itu tempat positif atau negatif, sejak Corona ini, justru sepi atau bahkan tutup dengan sendirinya. Kebiasaan buruk, misalnya, ramai-ramai berkumpul atau bersama pasangan yang tidak sah, di saat Ramadhan bersama Corona ini, pun sangat jarang bisa dijumpai. Itulah sedikit hikmah dan iktibar dari mewabahnya Covid -19 saat ini.

Lalu, apa yang bisa kita baca dari tanda-tanda yang ada di depan mata kita saat ini? Inilah bukti kalau rasa cinta mendalam di hati kita masing-masing, dapat membuat Corona jadi merana. Kita di rumah saja. Kita lebih banyak di rumah daripada di luar. Kita jadi cinta hidup bersih, agar tubuh tetap sehat. Kita juga rajin menjaga pola makan, minum dan istirahat, termasuk berolahraga agar tetap segar dan tidak sakit. Kita pun jadi makin cinta pada sesama, karena lebih suka memberi dan berbagi.

Itulah rasa dan penerjemahan cinta yang tumbuh di hati kita selama Corona ini. Dan, hanya dengan cara-cara seperti itu pula Corona atau Covid -19 ini akan merana dan tidak berkutik masuk ke dalam tubuh kita. Jika saja semua kita terus memupuk rasa cinta seperti itu, di dalam hati kita masing-masing, alangkah akan senang dan bahagianya hidup kita di dunia ini.

Dengan begitu, apakah masih ada di antara kita yang belum yakin atau tak mau bersyukur di tengah Corona ini? Mari kita perbanyak bersyukur kepada-Nya. Mari merenung: apa yang sudah kita perbuat selama ini. Jika itu salah, mari kita perbaiki dan kembalilah ke pangkal jalan untuk bertaubat sebenar-benarnya taubat kepadaNya.

Hanya dengan cinta, Corona jadi merana. Pupuk dan tingkatkan keimanan serta ketakwaan kita kepadaNya. Mumpung masih ada hari-hari baik di bulan baik ini. Ramadhan masih ada 10 hari. Jangan kita sia-siakan. Belum ada jaminan bahwa kita akan sampai dan bertemu dengan Ramadhan tahun depan. Kita hanya bisa berusaha dan berdoa: ya Allah, panjangkan dan berkahi umur kami untuk sampai di Ramadhan tahun depan.

Karena itu, saatnya pergunakan waktu sebaik mungkin. Mudah-mudahan rahmat dan maghfirah yang sudah kita jalani di Ramadhan 1441H ini, akan kita tutup dengan kebaikan Allah SWT kepada kita. Sehingga kita semua terbebas dari siska api neraka dan meraih predikat takwa dariNya. Amin ya Allah, ya rabbal'alamin. **

SHARE THIS

Author:

M. Rasyid Nur Pensiunan Guru PNS (2017) dan Tetap, Mengabdi di Pendidikan

Facebook Comment

0 Comments: