Islam di Indonesia: Dakwah Tanpa Darah

H. Zubad Akhadi Muttaqien
INDONESIA adalah negara yang memiliki populasi muslim terbesar di seluruh dunia. Pada saat ini diperkirakan bahwa jumlah umat muslim Indonesia mencapai -+209 juta orang, sebagian besar menganut Islam aliran Suni.

Jumlah yang besar ini mengimplikasikan bahwa sekitar 13% dari umat Muslim di seluruh dunia tinggal di Indonesia dan juga mengimplikasikan bahwa mayoritas populasi penduduk di Indonesia memeluk agama Islam (hampir 90%). Namun, kendati mayoritas penduduk beragama Islam, Indonesia bukanlah Negara Islam yang berdasarkan pada hukum-hukum Islam. Justru, Indonesia adalah sebuah negara sekuler demokratik tetapi dengan pengaruh Islam yang kuat.

Semua itu tidak lepas dari bagaimana asal muasal Islam itu sendiri masuk dan menyebar di bumi Nusantara ini. Syeikh Jumadil Kubra dan Walisongo adalah dai yang luar biasa. Dengan strategi dakwah yang lentur dan rahmatan lil 'alamiin mampu membalikkan agama, tradisi dan budaya dengan tanpa kekerasan apalagi peperangan. Dari sebelumnya mayoritas beragama Kapitayan, Hindu dan Budha menjadi Islam yang hampir 100% tanpa gejolak yang berarti.

Strategi dakwah ini berbeda dengan model yang diterapkan di Timur Tengah yang memakai strategi "penaklukan". Sering digambarkan dakwah di sana, Alquran di tangan kanan dan pedang di tangan kiri, namun dakwah di Nusantara, Alquran di tangan kanan dan budaya di tangan kiri.

Metode dakwah model penaklukan dan di lain pihak dengan pendekatan budaya, mempunyai konsekuensi logis ke depannya, jika penaklukan akan menyebabkan "dendam" bagi bangsa yang ditaklukkan sehingga akan membalas ketika sudah mempunyai kekuatan nantinya. Fakta ini terjadi pada dakwah di Spanyol (Andalusia), yang mana awalnya Spanyol itu Kristen, karena adanya ekspansi dakwah Islam ke Eropa maka Spanyol ditaklukkan dan menjadi Islam, namun pihak yang kalah terus menyusun kekuatan untuk melawan sang penakluk, sehingga saat ini Spanyol jadi Kristen lagi.

Hal seperti ini tidak terjadi pada dakwah di Nusantara yang menggunakan pendekatan budaya, bukan penaklukan apalagi angkat senjata, tidak ada dendam kesumat dari agama sebelumnya (Kapitayan, Hindu dan Budha) walau dulunya mereka mayoritas dan kini minoritas, dan Islam justru mayoritas.

Dalam penyebaran agama Islam strategi kebudayaan, Walisongo mengklasifikasi menjadi 3 ranah, yaitu:

1) Jika budaya sebelumnya berkesesuian dengan syariat Islam, maka tinggal mentransformasi menjadi budaya Islam.
2) Jika ternyata budaya bertentangan dengan syariat Islam, maka dimodifikasi dan diislamisasi.
3) Jika budaya sebelum Islam datang bertentangan dengan syariat Islam dan tidak bisa diislamisasi maka dengan tegas budaya tersebut dibuang.

Dakwah Islam para dai Nusantara (Syeikh Jumadil Kubra, Walisongo, dsb) bercorak sufistik.l, sehingga lebih mudah diterima masyarakat Nusantara pra Islam, karena corak sufistik menggunakan jalan tasawuf yang menitik beratkan olah hati dan ternyata sentuhan hati lebih efektif dalam mengajak seseorang dibanding pendekatan politik maupun kekerasan. 

Orang, jika disentuh hatinya maka akan mendekat, namun sebaliknya jika disinggung hatinya justru menjauh dan antipati, apalagi jika menggunakan kekerasan maka justru akan melawan dengan kekerasan juga dan ingat, masyarakat Nusantara (cq. Jawa) saat itu sarat dengan ilmu linuwih, ilmu kanuragan dan ilmu kesaktian yang luar biasa.

Namun Walisongo mampu mengimbangi bahkan mengalahkan kesaktian mereka, sehingga mereka takluk dan bersedia masuk Islam dan memang benar bahwa jika melawan api maka harus pakai air, jika melawan kekerasan maka harus pakai kelembutan.

Tidak bisa dibayangkan jika model dakwah ketika itu pakai cara kekerasan, seperti model dakwahnya kelompok Islam radikal, bisa jadi kelompok radikal tersebut dibantai oleh orang-orang Nusantara, karena ketika itu kesaktian masyarakat Nusantara sangat hebat bahkan mempunyai kekuatan militer terbesar sedunia setelah Mongolia. 

Sejarah menceritakan, kekuatan Kerajaan Singosari sungguh luar biasa yang mampu mengalahkan tentara Mongol, padahal kekuatan tentara Mongol paling ditakuti oleh tentara-tentara sedunia, ketika itu, konon kekuasaan Kerajaan Majapahit berhasil menguasai dua pertiga dunia.

Dengan model dakwah yang bercorak sufistik, dengan pendekatan budaya menghasilkan karakter orang Nusantara (Indonesia) berbeda dengan orang muslim di Timur Tengah, Eropa, Afrika dan belahan dunia lainnya, karakter orang Nusantara itu lembut, sopan santun, lentur, namun tegas, suka menghormati dan menghargai.

Prinsip dakwah Walisongo (hakikatnya dari Rasulullah SAW) yang saat ini diteruskan NU adalah ▪️"Al muhafadhah alal qadimis shalih wal akhdu bil jadidil ashlah", memelihara yang lama, yang baik dan mengambil yang baru, yang lebih baik. Dan yang terpenting tentu saja, sebaiknya berdakwa tanpa kekerasan. Berdakwah tanpa berdarah-daerah, itu yang lama kesannya.***

SHARE THIS

Author:

M. Rasyid Nur Pensiunan Guru PNS (2017) dan Tetap, Mengabdi di Pendidikan

Facebook Comment

0 Comments: