Masjid Ditutup (lagi) Karena Covid-19, Tapi Guru Harus Tetap Aktif


Oleh M. Rasyid Nur
SEBUAH berita dengan judul Masjid di Tanjungpinang Ditutup Sementara Terkait Covid-19 ditulis oleh Republika.co.id Ahad, 12 Juli 2020 pukul 15.19. Media lainnya, Kepri.Antaranews.com menulis pada hari yang sama dan jam yang kurang lebih sama dengan judul Masjid Al-Hikmah Tanjungpinang Ditutup Karena Jamaah Terpapar Covid-19 dengan informasi yang sama, berita ditutupnya Masjid Al-Hikmah, Tanjungpinang disebabkan ditemukannya seorang jamaah (aktif berjamaah) positif covid-19. Kita percaya beberapa media lainnya juga menurunkan berita yang isinya sama.

Tentang penutupan masjid sebagai rumah ibadah karena menjaga tidak merebaknya corona menimpa masyarakat (jamaah) di Tanah Air kita sempat menimbulkan pro kontra beberapa waktu lalu. Sejak Maret hingga Juni banyak daerah yang terpaksa menutup masjid sementara dengan tujuan memutus mata rantai penularan virus covid-19. Di Kepri hampir di semua daerah (Kabupaten/ Kota) oleh Pemerintahnya dianjurkan untuk tidak ke masjid atau musolla selama pandemi covid-19 mewabah. Hanya Kabupaten Natuna dan Kepulauan Anambas yang diizinkan membuka rumah ibadah tapi dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi. Kebijakan yang belum pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya, ini kontan menjadi polemik.

Sejak akhir Juli ini, setelah jumlah PDP, ODP atau OTG kian berkurang, beberapa daerah sudah mulai membuka masjid kembali, termasuk Tanjungpinang yang peringkat daerahnya sempat menjadi daerah dengan zona merah bersama Kota Batam. Namun, dengan temuan pasien terbaru, pasien ke-29 kembali kita baca berita yang mengatakan bahwa masjid kembali ditutup. Tentu saja kita tidak berharap semua masjid yang ditutup kembali.

Bagi guru yang sejak tiga hari lalu sudah kembali harus ke sekolah, memulai Tahun Pelajaran (TP) baru, 2020/ 2021 berita itu ikut mengejutkan kita. Pasti berita itu tidak akan dianggap sepi begitu saja. Pro kontra peraturan pemerintah yang mengharuskan anak-didik sebagiannya tetap di rumah walaupun guru harus ke sekolah akan menjadi pemikiran tersendiri terkait dengan temuan kasus orang positif ini.

Pihak-pihak yang belakangan juga berharap anak-anak ke sekolah saja agar PBM berjalan dengan normal, akan berpikir ulang untuk harapan ini. Kemungkinan anak-anak terpapar (entah dari mana) lalu dinyatakan positif sementara mereka sudah bersama-sama di sekolah, tidak mustahil orang tua akan menyalahkan sekolah juga akhirnya. Padahal belum tentu juga nantinya diketahui terpapar dari mana.

Satu hal yang pasti akan kita pegang kuat adalah bahwa pembelajaran di TP baru ini tetap akan dilaksanakan dengan segala kekuatan, kesempatan dan fasilitas yang ada. Akankah menggunakan cara daring atau luring, semuanya adalah tanggung jawab. Dalam kerisauan masih adanya covid-19 para guru akan terus berusaha memberikan yang terbaik untuk pendidikan anak bangsa. Semoga!***
Diposting juga di www.mrasyidnur.gurusiana.id




SHARE THIS

Author:

M. Rasyid Nur Pensiunan Guru PNS (2017) dan Tetap, Mengabdi di Pendidikan

Facebook Comment

0 Comments: