Cara Berpikir dapat Menjadi Sumber Kesalahpahaman Umat

Oleh Mochamad Nasrudin

BAHWA cara berpikir dapat menimbulkan masalah mungkin kita sepakat. Cara berpikir kolot dan tidak mendalam, misalnya dapat menjadi sumber kesalahpahaman umat. Dengan pemikiran singkat tentu saja tidak cukup untuk memutuskan sikap terhadap sesuatu.

Banyaknya pertikaian, klaim mensyirikkan orang lain, klaim klenik, klaim merasa benar dan paling suci, itu banyak disebabkan oleh cara berpikir dangkal bahkan cenderung kolot. Berpikir dengan tidak mendalam dan tidak thowaf dari seseorang sehingga dengan cepatnya menghakimi seseorang tanpa memahami hakikat ilmu secara mendalam. Inilah yang disebuat berpikir singkat dan tidak mendalam.

Coba perhatikan fenomena sebagian masyarakat, ketika melihat seseorang mengkoleksi keris, langsung dibilang syirik dan khurofat. Loh...kok secepat itu menghakimi seseorang dari koleksi senjata tradisional yang dimiliki. Harusnya kalau pemilik keris dibilang syirik secepat itu, harusnya pemilik badik, pemilik mandau, senjata tradisional Kalimantan, pemilik kujang senjata tradisional Sunda, pemilik celurit senjata tradisional Madura, pemilik kerambit senjata tradisional Minang, dll, juga akan dibilang syirik?

Cara berpikir kan harusnya konsisten. Kalau pemegang keris dibilang syirik, harusnya pemegang senjata tradisional suku yang lain pun harusnya dibilang syirik juga. Bener nggak?

Kalau begitu semua bisa syirik, karena di setiap rumah pasti punya senjata baik untuk berkebun, koleksi, bekerja ataupun untuk lainnya. Haruskah sesempit itu kita berpikir?

Pemegang keris juga sering di-bully ataupun dihakimi sebagai pelaku kesyirikan, karena dianggap tergantung selain Allah.  Nah ini juga logika kacau , logika yang tadak konsisten dan berpikir sangat dangkal. 

Dari mana dasarnya, orang mengoleksi keris dibilang pelaku kesyirikan dan dianggap tergantung kepada selain Allah? Bagaimana dengan Anda yang tergantung dengan ATM atau duit, saat Anda nggak bawa duit atau ATM saat bepergian, dan ada perasaan tidak enak, was was, tidak nyaman, kenapa ini tdk dihukumi kesyirikan karena tergantung kepada selain Allah?

Demikian juga ketika, ada perasaan tidak nyaman saat listrik mati, tidak ada sinyal HP, tidak ada kendaraan, semua itu membuat perasaan kita lain, tidak nyaman, tidak enak karena sudah sangat tergantung dengan alat alat hidup di atas, kenapa ini tidak dihukumi syirik juga?

Ayo mulailah berpikir mendalam, filosofi, berpikir thowaf, diulang-ulang secara mendalam, sebelum menghakimi dan menyerang orang lain. Karena hal ini menjadi sumber pertikaian dan kesalahpahaman.

Pertama, kesyirikan itu ada di hati dan pikiran. Kita tidak bisa menghakimi seseorang itu pelaku syirik, kalau kita tidak bisa membuktikan bahwa hati orang tersebut menjadikan selain Allah sebagai Tuhan tandingan.

Kalau dari tampilan dhohir, kita tidak bisa menghakimi seseorang itu pelaku syirik, jika failul mukhtar di dalam hatinya hanyalah Allah. Kalau dalam keseharian dia  tergantung dg uang, dokter, ATM, makanan, koleksi keris maupun senjata tradisional lainnya itu hanyalah addah atau kebiasaan atau tradisi yang statusnya di bawah keyakinan bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa. Selama failul muhtar di dalam hatinya Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa, maka tidak bisa kita hukumi seseorang yang tergantungnya karena kebiasaan dan adat sebagai tindakan kesyirikan.

Makanya fungsi bismillahirrahmanirrahim yang kita ucapkan dalam setiap memulai aktifitas apapun adalah untuk menetralisir tarikan addah, kebiasaan agar kita tetap bergantung kepada Allah Al haq sebagai primary God, atau Tuhan pelaku utama yang Al Haq.

Pemahaman ini meski dimengerti,. Sebab kalau tidak, kita mudah sekali mensyirikkan orang lain yang menurut pandangan kita syirik, padahal dengan logika yang sama, tanpa kita pun menjadi pelaku syirik tanpa kita sadari, karena sering tergantung dengan uang, tergantung dengan air, listrik, hp dll.

Berpikirlah mendalam, dan ilmu yang luas agar kita lebih bijaksana dan tidak mudah menghakimi umat Rosululloh SAW yang ada iman di dalamnya. Biarkan lah penghakiman yang haq dan adil diputuskan Allah karena itu adalah tugas Allah Yang Maha Tahu dan Maha Adil. 

Kita sebagai manusia yang dhoif dan serba kekurangan, sebaiknya tidak mengambil hak Allah untuk menghakimi makhluk Allah yang lain. Karena Allah hanya memberikan ilmu kepada kita sedikit sekali. Melihat punggung kita sendiri saja kita tdk sanggup, bagaimana kita  mencoba menghakimi keimanan dan hati orang lain.  Semoga bermanfaat.

Monas Inspire
Mochamad Nasrudin

SHARE THIS

Author:

M. Rasyid Nur Pensiunan Guru PNS (2017) dan Tetap, Mengabdi di Pendidikan

Facebook Comment

0 Comments: