Covid Meluas Jika Sunnatullah Dilanggar

Oleh Mochammad Nasrudin

SAAT ini wabah covid terus mengancam. Sepertinya akan meluas . Salah satu penyebabnya adalah karena sunnatulloh dilanggar dan parade dosa dan kemaksiatan terus dilakukan. Apapun kesulitan dan bala yang menimpa selalu berkaitan dengan pelanggaran sunnatullah.

Menurut saya, di tengah situasi covid yang terus meluas, ini sebaiknya kampanye Pilkada ditunda untuk sementara. Potensi penularan dan kemungkinan terpapar oleh covid-19 akan lebih luas jika kegiatan kampanye yang melibatkan keramaian tetap dilaksanakan.

Mengatasi wabah covid yang terus meluas,  sunnah nabi mengharuskan kita untuk berdiam diri di rumah masing-masing, tidak keluar daerah dan tidak masuk daerah yang sedang mengalami wabah.

Yang kedua, Rosululloh mensunnahkan untuk perbanyak instrospeksi diri, istighfar dan berdzikir agar Allah melindungi kita dari penyakit wabah yang merupakan bala' dan ujian dari-Nya.

Sedangkan jika kita terus terlena dengan euforia pilkada, saya takut, kita telah terang-terangan melawan sunnah Nabi. Kita terus melanggar sunnah Nabi dengan terus berinteraksi antar daerah tanpa bisa dikontrol satu sama lain dalam berhubungan.

Potensi pelanggaran kedua yang kita lakukan terhadap sunnatulloh wa rosulihi adalah jika pelaksanaan Pilkada kita tetap dipaksakan untuk dilakukan di tengah situasi wabah adalah, kita tidak mampu mengontrol terjadinya pesta dosa besar besaran di tengah masyarakat oleh kedua belah pihak, baik berupa pesta dosa saling menjatuhkan,. saling fitnah, saling berbohong, saling mengeksplotasi,saling umbar janji yang tidak bisa ditepati, saling mengumbar aib, saling tajassus mencari-cari kelemahan lawan, transaksi suap, dll. Dimana perilaku seperti tersebut di atas sudah lazim terjadi di tengah situasi Pilkada atau Pemilu di negara kita.  Sementara semua perilaku tersebut sudah pasti tidak diperbolehkan dalam Islam. 

Saya takut di tengah situasi covid yang harusnya masyarakat kita giring untuk fokus mengatasi wabah covid dengan mengikuti sunnah Allah dan rosul-Nya agar mengisolasi diri guna instrospeksi diri,  istighfar, banyak berdzikir, dan mengurangi potensi dosa, justru kita gunakan untuk melawan sunnatulloh dan rosulNya, dengan memperbanyak interaksi di tengah wabah, menambah potensi dosa akibat tuntutan PILKADA yang sulit kita hindari baik oleh antar calon maupun antar pendukung di tengah masyarakat.

Semua tergantung kewenangan pemimpin di atas yang mengatur kran kebijakan publik, apakah masyarakat diarahkan untuk fokus mengatasi wabah covid dengan mengikuti Sunnah Allah dan rosulNya dengan membatasi interaksi antar daerah dan menutup kran potensi terjadinya dosa besar besaran di tengah masyarakat akibat dampak Pilkada yang tidak bisa dihindari. Atau Pemerintah membiarkan potensi pelanggaran terhadap hukum Allah ini terus berlanjut di tengah masyarakat. Dan pembiaran terhadap pelanggaran sunnatulloh ini konsekuensinya sangat serius yang harus siap kita tanggung, yakni kemurkaan Allah yang bisa berupa wabah yang terus meluas atau bencana bencana lainnya yg mungkin akan terjadi di tengah masyarakat.

Semoga maksud baik ini bisa dipahami pihak-pihak penguasa yang berwenang. Karena dibutuhkan logika iman untuk memahami terjadinya wabah di tengah masyarakat. bukan semata mata logika ilmiah yang dipahami medis dan akal indra kita.

Fafirru ilallah. Larilah kembali kepada Allah.
Wallahu a'lamu bisshowab.

Monas Inspire.
Mochamad Nasrudin

SHARE THIS

Author:

M. Rasyid Nur Pensiunan Guru PNS (2017) dan Tetap, Mengabdi di Pendidikan

Facebook Comment

0 Comments: