Puisi Wahyu Nurhalim, S.Pd.I, M.Pd


CINTAKU IBARAT NAFAS SAKTAH?


Aku tak pernah mengharapkan hadir dalam setiap nafas saktahmu..

Aku suka dengungan.. dengan nun mati ketemu ba

Jangan pernah menyuruhku diwaqadkan saat isi dan nafasmu terpingal pingal


Setelah itu kau menjadi juara

mengucap kutukan tanpa ragu dan membuktikan kamu menulis dalam hatimu

Menjadikan kan ku dab seluruhku bungkam membisu dalam seribu isyarat dan seribu alasan?

Kemudian berlari pergi mencari 

Dengan nada tinggi? Membentak dan mengutuk ngutuk?

Membunuh hubungan tanpa menjaga sebuah hati yang kosong?

Sikap yang pengecut?

Tetap saja tak membuatku kesal
Karena luapan emosi
 

Mencoba memahami semua arti dalam hidup saat keduanya kita bertemu dan berpisah?

Aku pun tak setia mungkin salah artikanku?

Atau dirimu saja yang memang berubah

 Karena matamu yang liar?

Pergilah...

Apakah kau ingin ke lain hati aku izinkan?

 
Bagaimana dengan laki-laki ini yang begitu pantas?

Yang dulu pernah kau tangisi sembari berucap janji akan menikahimu?

 
Sedang sabarku sudah sampai di penghujung nafas saktah

Berharap kau berbelas kasih untuk mengisinya dengan yang baru?

Demi mengulang kisah kita bersama setelah new normal?

Atau mungkin kau malah menghabisinya
Dengan nafsumu?
 

Jangan, jangan kau jadikan 

hubungan kita seperti tajwid saktah yang berlain makna

Yang dilantunkan pada mimbar tilawah para qori

Setelah dilantunkan harus berhenti di pertengahan bacaan yang sangat izhar

Nafas tertahan lalu kembali dilanjutkan
Demi demi...

Oh ... sayangku

Cara apapun yang kau rasa senang, lakukanlah
Lakukanlah
Tapi jangan kau memaksa,
Untuk.. untuk..
karena tak hatiku menerimanya..

12 Agustus 2020

SHARE THIS

Author:

M. Rasyid Nur Pensiunan Guru PNS (2017) dan Tetap, Mengabdi di Pendidikan

Facebook Comment

0 Comments: