Puisi Wahyu Nurhalim S.Pd.I M.Pd


RENGAT HAMPIR MATI


dan di kursi Sunyi
sajakku terlihat layu
seperti bunga di samping kursi
dalam foto. Tempat tubuhmu diabadikan bingkai, tahun yang ajaib menurut gombalan mimpiku yang panjang

dan di kursi Sunyi
kau cukup dibisikki rahasia perasaan lalu kekuatan muncul dari bilik 3 × 4 penyimpan sembilan doa yang lahir dari catatan kecil Tuhan di sajakku dan bait bait panjang

di kursi Sunyi
cahaya kemudian terlihat setahun lepas, ia menyimpan kata-kata di Cepu berukuran 1 mt ke arah barat: tubuhku.
ajaib memang; Tuhan maha baik dan adil

di kursi Sunyi
ia bertamu mengucapkan, assalamualaikum sebelum senja tempat berpisah, Maret 2011, Pertanda mahabah di seluruh pikiran berembun lalu gerbong kereta membawa putus asa ke rengat

di kursi sunyi dan dianyaman terbaik
kabar burung
dua kota mampus di pikiran kita dan terus berjalan

selepasnya jalan kereta api membeku di bilik  sebuah puisi dan bait tak pernah putus

kursi sunyi dan bergoyang
wajah Sunyi yang berparas tampan
figura berdebu menempel di bingakai fotonya
turun di telaga rindu saat ku duduk mengenangnya yang sudah mati?

Indragiri Hulu, Riau 26 Agustus 2020

SHARE THIS

Author:

M. Rasyid Nur Pensiunan Guru PNS (2017) dan Tetap, Mengabdi di Pendidikan

Facebook Comment

0 Comments: