Setuju, Mengatasi Corona Hendaklah Secara Lahir dan Batin


Oleh M. Rasyid Nur

SAYA setuju pendapat ahli dan tokoh agama bahwa mengatasi covid-19 (corona) tidak cukup secara lahir --kasat mata-- saja. Mengatasi virus corona, ini haruslah luar-dalam, atas-bawah (konpreshensip). Tegasnya secara lahir dan secara batin juga.

Sebuah tulisan di halaman ini beberapa waktu lalu mengatakan begini,”Melawan corona (covid-19), ini tidak cukup dengan upaya dhohir saja. Tapi juga mesti dengan upaya secara bathin juga. Baik secara dhohir (lahir) maupun secara bathin (batin) sesungguhnya sama pentingnya. Tidak cukup salah satunya, namun hendaklah secara sejalan keduanya.” Begitu dikatakan oleh penulis, Mochammad Nasrudin. Saya setuju, itu.

Secara kasat mata kita melihat sepertinya sebagian orang hanya mengandalkan upaya lahir saja dalam mengatasi masalah covid-19. Dengan melaksanakan protokoler kesehatan, misalnya orang menganggap itu sudah selesai. Orang patuh dengan arahan, misalnya, 1) jangan keluar rumah dan berdekatan dengan orang lainnya tanpa masker; 2) jangan lupa mencuci tangan selalu dengan air bersih dan mengalir serta pakai sabun; 3) jangan bersalaman langsung; 4) jangan ikut berkerumun; dll. Semua itu dipatuhi dengan baik. Tapi ii kesannya hanya solusi secara lahir saja.

Arahan lain yang juga dipatuhi, misalnya jika ada gejala sakit covid-19 segera bawa ke rumah sakit. Jika pernah kontak dengan pasien covid dan atau pernah berkunjung ke daerah pandemic covid-19 segeralah mengisolasi diri, serta beberapa petunjuk Pemerintah atau Tim Gugus Covid-19 dalam rangka mencegah penyebaran covid-19. Semua itu dilaksanakan lebih kepada yang bersifat lahir. 

Tentu saja itu tidak salah. Tapi melawan penyakit corona sejatinya memang tidak cukup hanya melalui ikhtiar dengan melaksanakan protokol kesehatan itu saja. Kata teman saya, Nasrudin yang selalu mengingatkan bahwa corona adalah atas kuasa Allah, “Karena bagaimanapun juga, usaha kita pasti ada titik kelemahannya jika sekadar lahir saja.” Tentu saja kita tidak membantah pernyataan itu.

Mengaitkan corona dengan agama, sebagai orang beragama kita yakin bahwa sehebat apapun kita menjaga diri dengan memakai masker yang tebal, hand sanitizer yang banyak, disiplin secara ketat, namun ini tidak menjamin kita selamat dari terpapar virus corona. Jika Allah berkehendak, kelemahan kita pasti ada, dan Allah bisa memasukkan virus ke tubuh kita, tanpa kita sadari di saat kita lengah dan lemah. Lengah dan lemah itu adalah penyebab saja yang membuat kita lalai terhadap ketentuan. Maka penyerahan diri kepada  Allah menjadi penting.

Adalah kebenaran yang tidak kita bantah bahwa Allah itu bukan zat secara lahir. Allah adalah zat secara batin yang dalam segala hal tetap kita kaitkan pula secara batin.. Maka penjagaan dan ikhtiar bathiniah perlu pula kita lakukan dalam mengatasi masalah corona. Langkah ini sekaligus sebagai pertanda kita tidak angkuh dan sombong. Kita yakin bahwa Yang Maha Kuasa adalah penentu segala-galanya. Jadi, selain secara lahir, pengobatan corona hendaklah dihubungkan juga dengan restu dan izin Allah. Berusaha dan berikhtiar kita, sejatinya dilengkapi juga dengan berdoa.

Untuk hal ini, perlunya kita memperbanyak zikir dan berdoa kepada-Nya adalah penting. Sayang memang, kebanyakan ( atau beberapa gelintir) masyarakat kalau diajak dan diingatkan bahwa mengingatkan Allah dengan berdzikir, misalnya seolah begitu berat dan bahkan memandang tidak penting dikaitkan dengan corona. Sikap begini tentu tidak sesuai dengan semangat dan keyakinan keberamagamaan itu sendiri.

Berobat ke dokter dengan dilengkapi keyakinan bahwa kesembuhan itu tidak semata karena obat atau semata-mata karena dokter akan menjadikan kita tidak meninggalkan doa dan zikir kepada Allah dalam usaha mengatasi corona. Dan itu adalah bukti kita meyakini kekuasaan kita tidak mencukupi tanpa kekuasaan-Nya. Jadi, sebagai bangsa dengan keyakinan kepada Tuhan sebagai dasar Negara, hendaklah kita membuktikan dalam usaha ini. Jangalah pernah ada anggapan bahwa corona cukup diatasi dengan protokoler kesehatan secara lahir saja. Bukankah  dalam protokoler itu juga ada imbauan agar mendekatkan diri dengan berdoa kepada Tuhan?

Ayo, kita buktikan bahwa kita memang hamba yang percaya kepada Yang Maha Kuasa dan dalam mengatasi corona kita buktikan keyakinan itu. Selain berusaha mengobati, mengikuti protokoler kesehatan dan bentuk lahir lainnya, yang juga tidak kalah penting adalah berdoa dan menyerahkan segalanya kepada Yang Maha Kuasa.*** 


SHARE THIS

Author:

M. Rasyid Nur Pensiunan Guru PNS (2017) dan Tetap, Mengabdi di Pendidikan

Facebook Comment

0 Comments: