Gelombang Menggoyang Penumpang (Catatan Perjalanan Tanjungpinang- Karimun)


TIDAK ada orang Kabupaten Karimun, khususnya atau Provinsi Kepulauan Riau umumnya yang tidak suka naik kapal atau kendaraan laut lainnya. Sebagai masyarakat yang bermastautin di kepulauan maka perjalanan antar pulau hanyalah dengan kendaraan laut atau motor laut. Kecuali dengan jembatan hanya sampan, speedboat atau kapal motor lainnya saja yang bisa menghubungkannya.

Siang Selasa (01/09/2020) ini kembali saya dan teman-teman naik kapal. Kemarin dari Karimun ke Tanjungpinang. Hari ini, setelah selesai kegiatan kami kembali ke Karimun. Dengan kapal juga tentunya. Bedanya, kemarin Senin menggunakan kapal Dumai Line 9 dengan ukuran jumbo, hari ini kapal dengan ukuran sedang saja. Jika dumai Line bisa mengangkut penumpang 300-an orang, maka kapal Karuniya Jaya yang kami tumpangi hari ini hanya berpenumpang maksimal 70-an orang. Tentu kecil sekali berbanding Dumai Line yang kami tumpangi kemarinnya. 

Sayangnya memang tidak ada pilihan lain. Satu-satunya kapal penumpang dengan trayek Tanjungpinang - Karimun pada siang hari begini hanya Karuniya Jaya itu saja. Kapal ini adalah kapal yang setiap hari menjalani trayek Karimun- Tanjungpinang dan sebaliknya setiap hari. Pagi, pukul 07.30 kapal ini berangkat dari Tanjungbalai Karimun menyusuri laut dan selat dengan beberapa tempat dia singgahi, seperti Moro, Galang dan lainnya. Sementara Dumai Line atau Dumai Ekspres (satu perusahaan)  adalah kapal berukuran besar dengan trayek berbagai tempat seperti Dumai, Tanjung Butun, Selat Panjang, Karimun, Batam dan Tanjungpinang.

Pengalaman penting yang kami rasakan bersama kapal Karuniya Jaya siang ini adalah ayunan gelombang yang membuat kapal kami serasa diayun-ayun dari atas ke bawah dan dari kanan ke kiri. Kapal dengan lima mesin masing-masing berukuran 125 PK itu tentu saja berjalan sangat kencang menyusuri laut yang bergelombang. Sangat menakutkan, khusus bagi penumpang yang tidak terbiasa diayun gelobang seperti itu.

Pukul 13.05 kapal berangkat dari pelabuhan Sribintan Pura, Tanjungpinang setelah semua penumpang yang memiliki ticket masuk. Mula-mula kapal berjalan tenang. Tidak ada gelombang. Namun setelah setengah perjalanan, kapal terasa mulai bergoyang. Dengan tetap melaju kencang, kapal itu membuat kami di dalamnya serasa diayun ke kiri dan ke kanan. Sekali-sekali terasa ayunan ke atas.dan ke bawah.

Kurang lebih satu perjalanan, kapal berhenti di salah satu pulau, menurunkan penumpang. Kata penunpang di sebelah saya, itu Pelabuhan Galang. Hanya beberapa menit saja, lalu kapal kembali tancap gas. Gelombang seperti tadi kembali menggoyang kami. Saat inilah beberapa orang di antara penumpang tampak mulai seperti kelelahan. Ternyata, walaupun hanya duduk, tetap saja gelombang itu membuat sebagian kami seperti kelelahan. Mungkin lebih tepatnya ketakutan. Dan buaarr, satu dua orang mengeluarkan muntahnya. Sambil menekan perutnya, seorang penumpang yang duduk di sebelah kanan saya mengeluarkan muntah kuning dari mulutnya. Plastik hitam yang sudah disiapkan sebelumnya mungkin sudah penuh oleh muntahnya.

Kapal terus melaju. Sepertinya kejadian seperti itu adalah kejadian biasa dalam perjalanan seperti i9ni. Terbukti tidak ada kesibukan dari krewu kapal, misalnya. Penumpang yang merasakan mual, lalu muntah harus mengurus badannya sendiri. Atau paling-paling dibantu oleh teman atau saudaranya jika ada dalam kapal. Belum menjadi kewajiban orang kapal, sepertinya.

Baru satu hari sebelumnya saya menulis di sini, betapa tenangnya laut ketika kami berangkat dari Karimun menuju Ibu Kota Provinsi ini. Tidak ada terasa gelombang, saat kami menaiki kapal Dumai Line itu. Tapi hari ini, kami diuji Tuhan dengan goyangan kapal yang begitu menakutkan. Jika ini adalah sensasi gelombang di laut, itulah mungkin kalimat yang dapat diucapkan untuk membuat perasaan tetap nyaman dan semangat tetap ada di dada.***

SHARE THIS

Author:

M. Rasyid Nur Pensiunan Guru PNS (2017) dan Tetap, Mengabdi di Pendidikan

Facebook Comment

0 Comments: