Tanjungbatu, Saya Rindu: Sepenggal Kisah di Masa Lalu (ke-18)


Oleh: Khairul Amri
Bermastautin di Pekanbaru

Tidur saya ternyata pulas juga. Ya, kalau mata sudah mengantuk, mau diapakan lagi. Nyaman tak nyaman tetap saja tidur pulas. 

Paman membangunkan saya. Samar2 saya dengar suaranya.

"Rul. Jago (bangun, red). Subuh," kata dia.

Antara sadar dan tidak, saya duduk. Kucek2 mata. Lihat kiri dan kanan. Nampak penumpang, ada yang sudah bangun, banyak juga yang masih tidur.

Karena sudah dibangunkan Paman, saya tidak tidur lagi. 

Kain sarung yang dijadikan selimut, saya lipat. Paman pun menyuruh saya ke kamar kecil, sebelum penumpang lain bangun. Kata dia, nanti antre lama, kalau penumpang sudah bangun semua. 

Saya bergegas ke kamar kecil. Cuci muka, gosok gigi, buang air kecil dan berwudhu. 

Grrrr... Udara subuh itu dingin sekali. Sama juga air di kamar kecil. Tapi selesai dari kamar kecil badan terasa lebih fresh, segar kembali.

Di kampung, waktu bersama nenek. Kebiasaan bangun subuh sudah biasa buat saya. Bedanya, kalau di kampung saya suka manja2 sama nenek. Kadang tak jarang nenek menjangki saya (menggendong di punggung, red) sampai ke sungai. Apalagi kalau saya agak susah dibangunkan. Nenek biasanya selalu mengalah. Agar tetap bangun dan sama2 sholat Subuh, saya dijangki-nya sampai ke sungai. Kadang di punggungnya, saya pun masih tertidur.

Kampung saya pun waktu itu belum diterangi listrik seperti sekarang. Nenek biasanya sudah menyiapkan suluo: daun kelapa yang sudah kering, diikat dan disatukan lalu ujungnya dibakar. Suluo itulah sebagai penerang kami berjalan sampai ke sungai.

Hampir setiap hari seperti itu. Makanya, bangun subuh sebenarnya sudah jadi kebiasaan saya di kampung bersama nenek.

Paman jadi tidak terlalu sulit membangunkan saya, subuh itu. Cukup sekali panggil, sambil digoyang sedikit badan saya, langsung terbangun. 

Dari kamar kecil, saya kembali ke kamar. Gantian pula Paman yang ke kamar kecil. Saya ambil sajadah, lalu sholat Subuh.

Di kapal besar ini agak sulit sholat berjamaah. Ruang yang agak lapang tidak banyak. Makanya saya sholat duluan. Setelah itu baru Paman sholat.

Subuh itu, kapal merapat ke pelabuhan.

Awalnya saya mengira sudah sampai ke Tanjungbatu. Tapi Paman bilang: Tanjungbatu masih jauh. Kapal baru sampai di pelabuhan Selatpanjang (sekarang jadi Kabupaten Kepulauan Meranti).

Saya cuma bisa mengangguk-angguk. 

Banyak penumpang yang turun di pelabuhan ini. Barang pun banyak pula yang dibongkar/diturunkan.

Paman bilang ke saya, penumpang yang turun itu rata2 pedagang. Ada juga penumpang biasa, penduduk tempatan atau juga merantau. Tapi lebih banyak yang berdagang. Mereka berjualan dari satu daerah ke daerah lain. Mereka ini selalu disebut pedagang lintas pulau.

Makanya setiap kali kapal besar itu berangkat, dari Pekanbaru, selalu saja penuh sesak oleh barang dagangan dan pedagang.

Aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Selatpanjang cukup lama juga. Saya dan Paman tetap memilih di kapal.

Pagi itu, ABK (Anak Buah Kapal) membagikan minuman hangat ke seluruh penumpang. Itulah sarapan pagi di kapal. Ada kopi dan juga teh panas. Lumayan sarapan pagi, bisa disedu denga roti atau cemilan lainnya. 

Sambil menikmati sarapan, saya tanya2 ke Paman. "Berapa lama lagi sampai ke Tanjungbatu?".

Kata Paman, inshaaAllah kita sampai besok subuh atau pagi. Itu artinya, saya masih akan bermalam 1 malam lagi di kapal besar itu. 

Pikiran saya melayang kemana-mana. Merenung lagi. Ternyata Tanjungbatu memang tempat yang jauh.

Terbayang juga wajah Mak dan Nenek di kampung. Baru satu malam saya tidak tidur bersama nenek, wajah sendu yang baik hati dan tak pernah marah itu muncul di pikiran. 

Tapi perasaan itu tak saya ceritakan ke Paman. Saya berusaha menunjukkan wajah senang ke Paman. Usakan tetap tegar dan semangat untuk pergi merantau ke Tanjungbatu.

Seperti apa Tanjungbatu, belum terbayang sedikitpun di pikiran saya. Sementara kampung halaman, makin lama semakin jauh saya tinggalkan. Berangkat ke negeri orang, satu tujuan untuk belajar dan melanjutkan sekolah.

Tanjungbatu, Kundur, Kepulauan Riau. Negeri yang tak pernah ada dalam gambaran pikiran saya. Negeri ini pula yang sempat saya singgahi tiga tahun lamanya. 

Tanjungbatu... Sekarang baru saya merasa rindu ingin ke sana lagi.

Awalnya terasa biasa saja. Eh, setelah lama tidak ke sana, justru rindu pula ke sana. Kenangan di Tanjungbatu, kenangan cerita hidup yang tak akan pernah saya lupakan. **

Pekanbaru, 15092020
Usai sarpan bersama keluarga @meja makan 🥰

SHARE THIS

Author:

M. Rasyid Nur Pensiunan Guru PNS (2017) dan Tetap, Mengabdi di Pendidikan

Facebook Comment

0 Comments: