Kenangan Dikenang, Agar Tak Lekang oleh Waktu Membentang


TEMPAT terjatuh lagi dikenang, apa lagi tempat bersenang-senang. Itu kurang-lebih bunyi kalimat peribahasa dari tetua kita yang menyiratkan betapa kenangan itu tidak boleh hilang. Satu catatan kenangan tidak akan pernah hilang begitu saja dari ingatan, jika itu memang sebuah kenangan penting. Apapun yang terjadi di masa lalu, yang pernah menjadi kesan tertentu bagi kita, pasti akan diingat-ingat lagi di waktu yang akan datang.

Hari ini, maksudnya tanggal --30/10-- seperti hari ini, tiga tahun yang lalu saya teringat kembali saat kami berada tidak di negeri sendiri. Ingatan ini pun terulang karena melihat satu foto secara tidak sengaja. Ini kenangan indah saat bersama-sama teman kelompok haji 2007 di negeri jiran. Saya dan beberapa orang yang kebetulan berangkat haji pada tahun yang sama, 2006/2007 atau 1427 H saat itu pergi berlibur ke negeri orang. Sekadar tahu, kami membuat satu kelompok silaturrahim haji yang kami beri nama ISHAKA 1427 (Ikatan Silaturrahim Haji dan Keluarga 1427) yang anggotanya adalah regu/ rombongan yang sama pada saat menunaikan haji tahun itu.  

Bersama teman-teman inilah, Oktober 2017 lalu, itu kami tengah berada di negeri seberang, Malaysia. Kami ke Malaysia dalam program kunjungan tour biasa sekadar berhibur saja. Dari 27 s.d. 30 Oktober 2017 itu kami melaksanakan kunjungan ke Terenggano, Malaka dan Johor Baru sendiri sebelum kembali ke Karimun kembali. Kenangan itu tiba-tiba teringat hari ini. Jadilah tulisan singkat ini.

Saya masih mengingatnya, berangkat dari Tanjungbalai Karimun menuju Johor Baru melalui Pelabuhan Puteri Harbour, Johor Baru. Inilah Negara Bagian terdekat dan berjiran dengan daerah saya, Tanjungbalai Karimun. Setelah kapal merapat, kami langsung ke darat dan naik bus yang sudah menanti kami. Menggunakan bus pariwisata (bas pesiaran, kata orang Malaysia) kami meneruskan perjalanan ke Negara Bagian Terenggano dan bermalam di sini. Lalu di hari berikutnya kami Melaka dan bermalam juga di sini. Karena sifat kunjungannya adalah untuk menghibur diri pada saat saya baru saja meninggalkan status sebagai PNS maka perjalanan muhibbah kami sepenuhnya untuk sesama kami saja. Bersama teman-teman non PNS pula kami ke Negeri Seberang waktu itu.

Mohon maaf, saya tidak menceritakan kembali detail kejadian tiga tahun lalu itu lagi karena saya sudah menjadikannya sebuah buku yang diterbitkan oleh Media Guru dalam judul BERLIBUR UNTUK BERHIBUR, CATATAN PERJALANAN SEORANG GURU yang terbit April 2020 lalu. Jika para sahabat ingin mengetahui kisah perjalanan 'suka-suka' itu tentu saja lebih enak membacanya melalui buku itu.

Bahwa satu catatan kenangan tidak elok dilupakan seperti dipesankan oleh orang tua-tua kita, itulah sesumgguhnya yang ingin saya ulas di halaman ini. Saya ingin mengatakan bahwa sebuah kenangan memag selayaknyalah kita kenang agar tidak lekang oleh masa yang membentang. Sebagai guru, guru penulis pula, saya sangat percaya bahwa setiap gerak-langkah kita saat kita bepergian kemana saja, pasti kita torehkan menjadi catatan kenangan yang suatu saat akan kembali dikenang. Dengan begitu, catatan kenangan ini akan bertahan dalam waktu yang tidak terbatas. Dia tidak hilang dan lekang oleh waktu yang terbentang panjang. Semoga.***

SHARE THIS

Facebook Comment

0 Comments: