Apa Persiapan Kita Menghadapi Tahun Baru?


TIDAK terasa kita sudah berada di ujung tahun. Kata orang kampung, 'pejam-celek, pejam-celek, tahu-tahu sudah tahun baru. Besok, ya besok sudah tahun baru. Kita tahu, Tahun Baru sering kita katakan sebagai pintu gerbang pergantian waktu yang akan selalu dilalui kita alami setiap periode tertentu. Begitulah sebagai manusia selama masa hidup kita.

Melihat kenyataan selama ini, sepertinya ada dua kemungkinan kita dalam menyikapi pergantian demi pergantian waktu. Pilihan pertama kita akan terseret hanyut oleh derasnya arus jaman tanpa pegangan. Kedua, kemungkinan bisa menjadi pribadi yang tangguh dengan memiliki pegangan prinsip yang kuat. Ini yang sejatinya dikejar.

Agar pengejaran pilihan terakhir itu dapat kita raih, bagaimana dan apa persiapan kita menghadapinya? Jawabannya bisa saja berbeda-beda setiap kita. Tapi ada beberapa rumusan umum yang selalu diingatkan kepada kita. Dan kelaziman ini menjadi pakem hampir setiap orang dalam mempersiapkan tahun baru.

Pertama, membuat perencanaan dan atau resolusi tetentu; artinya, kita harus memiliki rencana tertentu dan jelas, apa yang harus diperbuat jika ingin tetap eksis di tengah kerasnya arus jaman seperti saat ini. Ketatnya kompetisi hidup yang semakin tinggi memang akan memaksa kita harus membuat suatu perencanaan yang baik dan mudah dilaksanakan. Untuk ini, selain rencana utama atau rencana pokok bagus juga kita memiliki rencana cadangan atau rencana yang disiapkan jika rencana pertamanya tidak bisa dilaksanakan. Jika kita bagian dari sebuah rumah tangga, maka anggota dalam rumah tangga tentu perlu dilibatkan dalam menyusun rencananya.

Kedua harus melakukan evalusasi dan atau muhasabah terhadap apa yang sudah kita lalui di tahun ini. Ini juga merupakan bagian dari introspeksi diri untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan dan kegalan kita di tahun yang sudah ditinggalkan. Baik kelebihan maupun kekurangan yang telah kita jalani di tahun sebelumnya kedua-duanya menjadi acuan dalam instrospeksi diri ini. Melalui introspeksi diri ini, kita dapat belajar dari kesalahan atau kegagalan yang telah kita alami.

Ketiga, mengadakan penyesuaian dan atau perubahan seperlunya; artinya kita harus melakukan suatu penyesuaian dengan kenyataan diri, keluarga atau pendukung lainnya yang kita miliki. Perubahan itu bisa pula berupa sikap dan strategi selain perubahan dari sisi pisik atay material. Umpamanya, dari sebelumnya bersikap kurang baik, malas-malasan dan sifat buruk lainnya kepada sifat-sifat yang lebih mendukung. Kita harus berubah menjadi pribadi yang rajin jika sebelumnya masih malas-malasan. Intinya kita harus berani melakukan perubahan ke arah yang lebih baik dengan meninggalkan kebiasan buruk yang selama ini kita lakukan.

Keempat, menjaga dan merawat semangat dan atau motivasi; maksudnya sebagai seorang pejuang kita tidak boleh lemah dalam menghadapi penjajah dalam diri sendiri. Apa saja penajajh itu, ya seperti sifat malas, tidak bergairah itu. Dalam menghadapi tantangan hidup sehari-hari diperlukan semangat juang pantang menyerah.. Tidak boleh mudah putus asa meskipun sering mengalami kegagalan.

Kelima, mau bekerja kjeras; ini penting. Ternyata mau bekerja saja tidak cukup. Bekerja dengan sikap tidak bergairah, jelas tidak akan menguntungkan persiapan kita menghadapi masa ke depan, termasuk tahun baru yang sudah di hadapan langsung. Kerja keras dan semangat ditambah hemat dan efektif waktu adalah kunci keberhasilan dalam era maju saat ini.

Mungkin masih banyak penjelasan lain yang dapat kita pedomani dalam usaha bersiap dan mempersiapkan tantangan tahun depan. Mari, selamat meninggalkan tahun ini untuk bersiap-sedia menghadapi tahun depan.***
*Dari bebagai sumber.

SHARE THIS

Author:

M. Rasyid Nur Pensiunan Guru PNS (2017) dan Tetap, Mengabdi di Pendidikan

Facebook Comment

0 Comments: