Tawakkal Sikap Penghuni Syurga, Menenangkan Hati Bekerja


Oleh M. Rasyid Nur

GODAAN dalam bekerja bisa apa saja dan dari mana saja. Kerja apapun itu. Termasuk ketika menulis, misalnya. Membuat atau menyelesaikan karya tulis yang sebelumnya sudah diencanakan. Berbagai hal bisa menjadi penghambat. Target sudah jadi, boleh jadi tidak jadi atau belum juga jadi. Itulah kendala.

Sebagai orang bergama, kita meyakini juga bahwa penuntasan pekerjaan tidak semata karena kemampuan dan kehebatan diri sendiri. Ada faktor lain yang ikut mempengaruhi. Itu kita yakini. Karena itu ada keyakinan tentang iman. Mempercayai Tuhan sebagai penentu terakhir dalam pekerjaan.

Menagcu firman Allah di Al-Anfal tentang ciri orang beriman –sejati--, misalnya adanya getaran hati dan penambahan kadar iman ketika nama dan ayat-ayat Allah disebutkan, tertumpunya sandaran kepasarahan semata kepada-Nya, adalah tanda-tanda kalau iman itu ada di dada. Untuk ciri terakhir, ini sangatlah penting bagi kita dalam bekerja: tawakkal. Tawakkal adalah obat penenang dalam bekerja.

Begitu pentingnya tawakkal semata kepada Allah, sampai dikatakan Nabi bahwa ganjaran orang-orang bertawakkal semata keapda Allah adalah syurga. Bahkan dikatakan akan masuk syurga tanpa hisab bagi orang-orang yang tawakkal. Seperti bunyi hadits yang diriwayatkan Muslim, “Akan masuk syurga dari umatku 70 ribu orang tanpa hisab.” Para sahabat bertanya: “Siapakah mereka itu, ya Rasulullah?” Rasulullah SAW menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang tidak menggunakan jampi, tidak bersikap pesimis karena sesuatu, tidak melakukan kay (berobat dengan besi yang dipanaskan) dan hanya kepada Allah mereka bertawakal”. (HR.Muslim). Kunci di sini ada pada tawakkal. Apapun yang dilakukan.

Tentu saja kita tidak dalam kapasitas mempertanyakan, apa iya orang-orang tawakkal tidak dihisab masuk syurga? Jika kita percaya alquran dan assunnah sebagai bagian akidah, tentu kita amat-sangat percaya juga dengan makna hadits ini. Bukankah segala sesuatu yang tidak mungkin menurut kita, namun jika Allah sudah berkehendak, itu bisa saja terjadi? Kalimat, Kun fayakun di surah Yasiin, kita yakini sebagai pernyataan Allah tentang kuasa-Nya menjadikan apa saja sesuai kehendak-Nya. Jika Allah memutuskan akan memasukkan ke dalam syurga bagi orang-orang yang bertawakkal, maka pastilah itu akan terjasdi.

Jadi, orang tawakkal itu adalah orang-orang yang tidak mengharapkan, tidak berlindung,tidak memohon bantuan dan mencintai apa-apa kecuali hanya karena Allah semata. Mereka mengetahui bahwa apa yang dikehendaki tidak akan terjadi kecuali Allah menjadikannya. Orang tawakkal hanya mempunyai sandaran penyerahan dirinya semata kepada Allah.  

Kita, sebagai guru sekaligus juga sebagai penulis, meyakini bahwa kepasrahan dalam menyelesaikan pekerjaan kita juga sebaiknya hanya kepada Allah. Dengan itu pula aka nada ketenangan kita dalam bekerja. Tantangan seperti apapun yang tengah dihadapi, akhirnya kepada-Nya jua kita menyerah. Ketika tuntas kita bersyukur. Saat tidak atau belum tuntas pun kita akan bersyukur. Salam Jumat untuk semua.***



SHARE THIS

Author:

M. Rasyid Nur Pensiunan Guru PNS (2017) dan Tetap, Mengabdi di Pendidikan

Facebook Comment

0 Comments: