Bagaimana Mendidik Anak Mengikuti Pesan Sayidina Ali?


ARTIKEL berjudul “Hikmah Siang : Tahap Mendidik Anak Menurut Islam ala Ali Bin Abi Thalib” yang dimuat portal hijenews.id kemarin Sabtu (22/05/2021) menguraikan bagaimana mendidik anak. Mendidik anak secara Islam. Sebagai ayah-emak dari anak (anak-anak) kita, semoga postingan ini ada gunanya. Jika pun sudah membacanya di media lainnya, tidak masalah untuk diulang baca.

Menurut artikel yang ditulis oleh Sitha, itu mendidik anak bukanlah hal yang mudah. Apalagi zaman terus berkembang dan berubah. Orangtua tentu harus banyak belajar dan mengikuti perkembangan zaman agar sesuai dengan perkembangan anak. Kita setuju pernyataan itu. Saat ini tantangan mendidik anak memang tidaklah ringan.

Merujuk pesan yang pernah disampaikan Ali bin Abi Thalib katanyanya, setiap anak harus diajari sesuai zamannya. Kitapun mengaminkan pesan sahabat Rasulullah itu. Dengan kalimat lain, kita perlu mengajari anak-anak sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zaman kita. Pesan Ali, sesungguhnya mereka (anak-anak kita) diciptakan untuk zamannya, sedangkan kita diciptakan untuk zaman kita.

Ali bin Abi Thalib membagi 3 tahapan dalam mendidik anak, agar metode pengajaran yang digunakan orang tua sesuai dengan perkembangan dan porsinya.

1. Tahap pertama, usia 0-7 tahun, perlakukan anak seperti raja.

Pada tahap ini anak baru bisa belajar dengan melihat sikap orang tuanya. Jika orang tua memberikan kasih sayang dan memperlakukannya dengan lembut maka kelak mereka akan tumbuh menjadi orang yang lembut dan penyayang juga.

Cara terbaik untuk mendidik anak pada tahap ini menurut Ali bin Abi Thalib adalah dengan melayaninya dengan sepenuh hati dan tulus. Karena banyak hal kecil yang kita lakukan setiap hari akan berdampak sangat baik bagi perkembangan perilaku anak.

Oleh karena itu, pada tahap ini orang tua dianjurkan untuk memperlakukan anak seperti raja. Di sisi lain orang tua juga harus bisa tidak memanjakan anak dan tetap tegas pada hal-hal tertentu.

2. Tahap kedua, usia 8-14 tahun, perlakukan anak sebagai tawanan.

Pada tahap ini, anak sudah saatnya untuk memahami hak dan kewajibannya, baik mengenai akidah, hukum, dan sesuatu yang dilarang dan diperbolehkan.

Seperti mengerjakan sholat 5 waktu, menjaga pergaulan dengan lawan jenis dan lain sebagainya. Pada tahap ini, orang tua sudah harus memulai untuk menerapkan sikap disiplin pada anak.

Hal ini dianggap penting karena anak sudah mulai mengerti tanggung jawab dan konsekuensi yang akan mereka dapatkan ketika melakukan sesuatu.

3. Tahap ketiga, usia 15-21 tahun, perlakukan anak sebagai sahabat.

Pada tahap ini anak secara umum sudah memasuki akil baligh. Orang tua harus mampu memposisikan diri sebagai sahabat juga teladan yang baik secara bersamaan.

Selain itu orang tua juga harus membangun kesadaran anak bahwa mereka sudah memasuki usia akil baligh. Pada masa ini, selain mengalami perubahan fisik, anak juga mengalami perubahan mental, spiritual, sosial budaya dan lingkungan yang memungkinkan timbulnya masalah yang harus mereka hadapi.

Orang tua harus mampu memposisikan diri sebagai sahabat agar anak mau terbuka dan bercerita mengenai apa yang sedang mereka hadapi untuk kemudian mencari solusi bersama.

Selain itu, orang tua juga bertugas untuk mengawasi anak tanpa disertai sikap yang otoriter agar anak tidak merasa terkekang.

Dengan begitu anak akan merasa disayangi, dihargai, dicintai dan akan tumbuh rasa percayadiri dan menjadi pribadi yang kuat sehingga mereka senantiasa mampu melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan.

Selanjutnya, orang tua sudah harus mempercayakan tanggung jawab yang lebih berat kepada anak, hal ini penting agar kelak anak akan menjadi pribadi yang cekatan, bertanggung jawab, mandiri dan dapat diandalkan. Hal yang penting lainnya adalah membekali anak dengan keahlian yang akan mereka butuhkan kelak ketika mereka sudah terjun ke masyarakat.

Meskipun cara dan strategi lain juga banyak disarankan oleh para ahlinya, cara ini adalah cara yang sudah teruji dan terbukti mampu mengantarkan anak-anak menuju jalannya yang terbaik sesuai dengan zamannya.***

SHARE THIS

Author:

M. Rasyid Nur Pensiunan Guru PNS (2017) dan Tetap, Mengabdi di Pendidikan

Facebook Comment

0 Comments: