Lisan Juga Dapat Penyebab Dosa Besar



"MULUTMU adalah harimaumu!" Itu sebuah peribahasa dari nenek-moyang kita agar menjaga dan berhati-hati dengan lisan alias lidah. "Lidah tidak bertulang," juga istilah yang berkonotasi peringatan agar setiap orang memelihara lidah atau perkataannya karena lidah yang begitu mudah mengeluarkan kata-kata. Tidak bertulang diartikan bahwa lidah tidak ada penahan untuk mengucapkan kalimat apa saja. Termasuk yang akan menyakiti orang lain.

Mengutip hajinews.id (22/06/2021) dalam tulisan berjudul Hikmah Siang : 8 Perkara yang Menjerumuskan Lisan ke Dalam Dosa Besar dijelaskan bahwa Rasulullah Saw bahkan sangat menaruh perhatian lebih terhadap ucapan (lisan) umatnya. Kata Nabi karena dengan lisanlah surga dan neraka seseorang ditentukan. Kita ingat salah satu hadits yang maknanya, “Tidaklah benar iman seseorang, hingga hatinya menjadi benar. Dan tidaklah benar hati seseorang, hingga benar lisannya.” (HR. Imam Ahmad dari Anas RA) jelas bagi kita bahwa lisa sangatlah menentukan baik-buruk hasil yang akan kita peroleh.

Pada hadits yang lain Rasullullah pernah menasehati Muadz Bin Jabal,”Maukah aku beritahu kepadamu tentang kunci semua perkara itu?” Muadz menjawab, “Ya, Rasulullah.” Maka beliau memegang lidahnya dan bersabda, “Jagalah ini.” Lalu bertanya “Wahai Rasulullah, apakah kami dituntut disiksa karena apa yang kami katakan?” Maka beliau bersabda, “Celaka engkau. Adakah yang menjadikan orang diseret mukanya atau ada yang meriwayatkan batang hidungnya di dalam neraka selain ucapan lisan mereka.” (HR Tirmidzi).

Untuk itu wajiblah kita menjaga lisa kita karena lisan dapat menjadi penyebab dosa besar akan menimpa kita. Lalu bagaimana cara menjaga lisan agar kita tidak terjerumus dalam dosa? Imam Al Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah, menjelaskan ada 8 perkara yang perlu diperhatikan agar lisan tidak menyeret kita ke dalam dosa.

1. Berdusta;

Jagalah lidah agar tidak berdusta baik dalam keadaan yang serius maupun bercanda. Menurut Imam Al-Ghazali hal demikian akan mendorong untuk berdusta dalam hal yang bersifat serius karena berdusta termasuk induk dosa-dosa besar. Salah satu ciri munafiqun juga karena dusta atau berbicara tidak benar.

2. Mengingkari Janji;.

Sebagaimana sabda Rasulullah, “Ada tiga hal, yang jika ada di antara kalian yang jatuh ke dalamnya maka ia termasuk munafik, walaupun ia puasa dan shalat. Yaitu, jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, dan jika diberi amanat ia berkhianat.” Ciri orang munafiq ini terkadang kita lakukan, entah disengaja atau tidak. Percayalah, konsekuensinya adalah akan kita dapatkan dosa besar dari Allah.

3. Ghibah;

Ghibah atau menggunjing adalah membicarakan seseorang dengan sesuatu yang ia benci jika ia mendengarnya. Maka, hindari juga menggunjing secara halus meskipun kesannya tidak menggunjing. Seperti dijelaskan Imam Al-Ghazali, ingin menyatakan maksud secara tidak Iangsung dengan berkata, “Semoga Allah memperbaiki orang itu. Sungguh tindakannya sangat buruk padaku. Kita meminta kepada Allah agar Dia memperbaiki kita dan dia.”

Kelihatan di sini terkumpul dua hal yang buruk, yaitu ghibah (karena dari pernyataanya kita bisa memahami hal itu) dan merasa bahwa diri sendiri bersih tidak bersalah. Tapi, jika engkau benar-benar bermaksud mendoakannya, maka berdoalah secara rahasia. Dengan demikian, jelaslah bahwa engkau tak ingin membuka rahasia dan aibnya. Kalau engkau menampakkan dukamu karena aibnya, berarti engkau sedang membuka aibnya.

4. Mendebat;
Dengan mendebat, kita telah menyakiti, menganggap bodoh, dan mencela orang yang kita debat. Selain itu, kita menjadi berbangga diri serta merasa lebih pandai dan berilmu dari pada orang itu.

Rasulullah bersabda, “Siapa yang meninggalkan perdebatan sedang ia dalam keadaan salah, maka Allah akan membangun untuknya sebuah rumah di tepi surga. Dan siapa yang meninggalkan perdebatan padahal dia dalam posisi yang benar Allah akan membangun untuknya sebuah rumah di surga yang paling tinggi.”

5. Mengklaim Diri Bersih dari Dosa;

Allah berfirman, “Jangan kalian merasa suci. Dia yang lebih mengetahui siapa yang bertakwa” (Q.S. an-Najm: 32).

Sebagian ahli hikmat ditanya, “Apa itu jujur yang buruk?” Mereka menjawab, “Seseorang yang memuji dirinya sendiri.” Janganlah engkau terbiasa demikian. Ketahuilah bahwa hal itu akan mengurangi kehormatanmu di mata manusia dan mengakibatkan datangnya murka Allah. Jika engkau ingin membuktikan bahwa membanggakan diri tak membuat manusia bertambah hormat padamu, lihatlah pada para kerabatmu manakala mereka membanggakan kemuliaan, kedudukan, dan harta mereka sendiri, bagaimana hatimu membenci mereka dan muak atas tabiat mereka. Lalu engkau mencela mereka di belakang mereka.

6. Mencela;

Jangan sampai mencela ciptaan Allah Ta’ala, baik itu hewan, makanan, ataupun manusia. Janganlah dengan mudah memastikan seseorang yang menghadap kiblat sebagai kafir, atau munafik. Karena, yang mengetahui semua rahasia hanyalah Allah. Oleh karena itu, jangan mencampuri urusan antara hamba dan Allah SWT.

Tentu masih banyak tindakan berkaitan dengan lisan kita yang dapat menyebabkan timbulnya dosa pada kita. Sebutlah misalnya, mengejek dan menghina meskipun kelihatannya bercanda; mendoakan orang untuk keburukan dan lainnya. Apapun itu, jika kita mengatakannya atau menyebut untuk hal-hal seperti itu maka lisan kita secara langsung telah mengundang dosa untuk kita sendiri. Nauzubillah.***

SHARE THIS

Author:

M. Rasyid Nur Pensiunan Guru PNS (2017) dan Tetap, Mengabdi di Pendidikan

Facebook Comment

0 Comments: