Ketika Blogger Ingin Belajar Membuat Berita


SEBAGAI penyuka dan prktisi literasi seumpama blogger belajar menulis berita, itu juga penting. Seperti membuat karya tulis lainnya, berita memang memiliki karakteristik sendiri. Sangat berbeda dengan tulisan seperti opini atau bentuk lain yang dibuat seorang blogger. Apalagi berita untuk media daring atau online, misalnya, sudah pasti dibutuhkan unsur kecepatan. Sebisa mungkin berita bisa diterbitkan bersamaan dengan kejadiannya. Kalau terlambat dimuat akan ketinggalan dan tidak menarik untuk dibaca lagi.

Berbeda lagi dengan berita di media cetak. Berita di sini tentu sedikit lebih lama sampainya kepada pembaca. Proses cetak dan pengiriman medianya ke masyarakat memerlukan waktu. Jadi, selain mencari berita dan membuat beritanya, waktu untuk mengirimkan media (koran) ke masyarakat juga memerlukan waktu yang lebih lama. Maka detail berita media cetak, itu lebih lengkap dari berita online sebagai pengimbang lamanya waktu yang diperlukan.

Sesungguhnya untuk mampu menulis berita dengan cepat wartawan atau pemberita memang harus mampu merekam atau menuliskan peristiwa secara sistematis sehingga kecepatan dalam menghasilkan berita tidak mengurangi mutu beritanya. Cepat, iya. Tapi akurat juga diutamakan. Keterampilan pemberita untuk mengolah berita yang didapat adalah penentu utama tersampaikannya berita dengan cepat dan tepat.

Terkhusus untuk membuat berita online tersebab modelnya yang cepat biasanya pembuat berita tidak memasukkan semua unsur berita secara rinci. Lazimnya berita online lebih ringkas dan hanya hal-hal penting saja yang diberitakan. Jika dia empat pragraf, misalnya maka di pragraf awal ditulislah materi pentingnya dengan tetap berpedoman kepada perinsip 'apa', 'dimana', 'siapa' dan 'bila'. Pada pragraf berikutnya biasanya tambahan informasi dengan paparan tambahan.

Lalu di pragraf berikutnya dimasukkan penguat berita dengan pernyataan narasumber, misalnya. Siapapun narasumbernya haruslah akurat dan tidak dikarang-karang alias fiktif. Dan di bagian keempat biasanya disebut paragraf penutup. Katakanlah semacam kesimpulan dari berita itu.

Membuat berita tentu saja tidak hanya untuk berita online. Kita perlu juga memahami berita yang lebih detail dan dilengkapi analisisnya. Biasanya berita mingguan yang kita kenal dengan atbloid atau bisa juga dalam bentuk majalah. Berita di majalah kaerna sifatnya yang mingguan atau periode lebih dari satu minggu maka beritanya tidak perlu kecepatan sampainya. Tapi analisis peristiwanya yang lebih dipentingkan pembaca.

Bagi kita penyuka literasi yang bergelut di blog atau website bersama, misalnya, baik pemula maupun yang sudah lama malang-melintang di dunia literasi khususnya membuat berita, maka memhamai dan belajar membuat berita, itu tentulah penting. Tidak berlebihan pula jika para blogger juga berkeinginan memahami dan mempraktikkan menulis karya yang mengandung unsur berita. 

Ketika kita menulis blog, misalnya sebenarnya unsur berita juga bisa diselipkan di dalamnya. Satu kejadian kebakaran rumah, misalnya dapat kitan tulis dalam bentuk tulisan deskripsi ala blogger namun memiliki unsur beritanya. Kapan peristiwa kebakaran terjadi, kita jelaskan tanggal, jam dan harinya, misalnya. Lokasinya dimana, kerugiannya berapa dan melibatkan siapa saja, itu semua adalah unsur berita.

Jadi, belajar dan memahami mekanisme penulisan berita sangatlah penting bagi kita yang sehari-hari berkutat dengan baca-tulis. Memajukan literasi bisa dengan banyak cara. Salah satunya adalah dengan memahami dan mempraktikkan menulis berita. Sekurang-kurangnya tulisan yang kita buat tetap mementingkan akurasi data dan jauh dari ketuidakbenaran.***
Juga di www.terbitkanbukugratis.id

SHARE THIS

Author:

M. Rasyid Nur Pensiunan Guru PNS (2017) dan Tetap, Mengabdi di Pendidikan

Facebook Comment

0 Comments: