Mengenang Tragedi G30S untuk Kewaspadaan Keutuhan Pancasila



KITA setuju bahwa kita tidak boleh melupakan kekejaman PKI yang puncaknya terjadi pada 30 September 1965. Bahwa kekejaman demi kekejaman PKI yang sudah berulang dilakukan di Tanah Air sejak sebelum kasus G.30 S PKI 1965 membuat rakyat, terutama umat Islam sangat marah; tentu itu menjadi konsekuensi dari kekejaman itu. Dan ikutan balas dendam pasca tragedi G.30 S PKI itu pula yang menimbulkan banyak korban, itu juga menajdi catatan sejarah kelam bangsa kita. 

Seperti diingatkan kembali oleh Asyari Usman melalui tulisannya berjudul Kekejaman PKI Harus Terus Diingat yang diposting oleh Mas Ruhi pada hari Senin (27/09/2021) lalu di laman hajinews.id menjelaskan bahwa banyak pihak saat ini yang berusaha untuk menghapuskan ingatan publik, khususnya umat Islam, tentang kekajaman Partai Komunis Indonesia atau PKI. Katanya, berkali-kali melakukan tindakan biadab dengan membunuh para ulama, kiyai, santri, dan para ustadz itulah bukti kekejaman PKI.

Sebagaimana sudah kita baca dalam sejarah, puncak kekejaman PKI adalah pada tragedi pembunuhan tujuh jenderal TNI pada tengah malam 30 September 1965 yang lalu itu. Pembunuhan ini dilakukan secara sadis. Para jenderal ditembak dan mayat-mayat mereka masih disiksa. Setelah itu mereka lemparkan ke Lubang Buaya. Itulah kekejaman PKI. Kita kenang semata untuk kewaspadaan dan pengamanan Pancasila.

Satu hal yang diingatkan oleh Asyari Usman adalah kalau perubahan zaman telah ikut mengubah gerakan komunis di seluruh dunia dewasa ini. Meskipun di China dikatakan komunis sudah tidak berdaya, tapi perinsip komunis yang 'anti Tuhan' tetap mereka pertahankan. Artinya komunis tetap saja akan memusuhi agama kapanpun dan dimanapun. Indonesia sebagai neagra Ketuhanan yang berarti adalah negara dengan perinsip agama sebagai dasar bernegara tentu saja tetap akan menganggap komunis sebagai satu ideololgi yang wajib diwaspadai. 

Sudah tepat kita berperinsip untuk tidak akan pernah melupakan kekejaman komunis. Asyari Usman juga menegaskan bahwa kemenangan kapitalisme yang merambah sampai ke RRC sebagai salah satu pusat paham komunis terkuat di dunia, memang mengubah cara mereka berekonomi dan berbisnis. Tetapi, tidak mengubah doktrin anti-agama dan anti-Tuhan yang menjadi pilar utama paham komunis itu. Makanya, jika harus mengenang kekejaman komunis itu semata untuk kewaspadaan demi keutuhan dasar negara kita, Pancasila.

Meskipun elit komunis China sejak era Deng Xiao Ping mampu membangun kemakmuran dengan menggunakan aplikasi kapitalisme untuk urusan ekonomi dan bisnis, ternyata mereka tetap memakai ajaran komunis untuk urusan sosial-kebudayaan dan keagamaan. Sudah tepat juga bangsa Indonesia mengingat bahwa PKI adalah blok komunis yang berkiblat ke China. Para aktivis dan simpatisan mereka di negeri ini yang diyakini masih bercita-cita untuk membangkitkan paham komunis, juga melakukan perubahan yang sama dengan panutan mereka di Beijing. Ini pendapat yang dikemukakan Asyari Usman dalam tulisannya. Bagi kita, tanpa disebut oleh siapapun perihal kekejaman komunis, kita dapat membaca sejarah, bagaimana komunis pernah ada di Indonesia. Sungguh akan menimbulkan penyesalan jika komunis diberi kesempatan hidup. Nauzubillah.***

SHARE THIS

Author:

M. Rasyid Nur Pensiunan Guru PNS (2017) dan Tetap, Mengabdi di Pendidikan

Facebook Comment

0 Comments: