Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

28 Juni, 2022

Mengenal Siti Nurbaya AZ, Penulis Buku 'Menjadi Guru Bukan (Tak) Mudah'

Mengenal Siti Nurbaya AZ, Penulis Buku 'Menjadi Guru Bukan (Tak) Mudah'




DIPANGGIL Nyak Baye. Terkadang, Ibu Nur atau Ibu Siti. Begitulah sapaan oleh murid-murdinya atau oleh teman-temannya sesama guru. Nama lengkapnya Hj. Siti Nurbaya AZ, SE. Seorang (PNS) guru SMA di Kabupaten Karimun. Persisnya di SMA Negeri 2 Karimun. Bertitel Sarjana Ekonomi (SE) tapi berkarier sebagai guru atau pendidik yang lazimnya dari keguruan atau sarjana pendidikan. Sarjana Ekonomi jebolan STIE Kerjasama, Jogyakarta (1997), ini ternyata lebih menyukai guru dari pada pekerjaan lainnya yang berkait langsung dengan kesarjanaannya.  

Sejak menjadi tenaga honorer (1998) hingga menjadi seorang PNS (Pegawai Negeri Sipil) dia berada dan mengabdi di SMA Negeri 2 Karimun yang beralamat di Jalan Raja Usman, Tanjungbalai Karimun. "Sudah banyak Kepala Sekolah yang saya alami selama di sini," katanya suatu hari mengingat awal-awal menjadi guru, 24 tahun yang lalu. Katanya, dia juga menghonor sebagai tenaga guru pembimbing di Bimbel (Bimbingan Belajar) Primagama, waktu itu. Untuk resmi menjadi guru dia juga menyempatkan belajar tambahan untuk mendapatkan akta karena akta mengajar adalah syarat untuk mendapatkan predikat guru resmi dari Pemerintah. Berbekal sertifikat itulah dia diangkat menjadi PNS sebagai tenaga guru (pendidik).

Belakangan, setelah cukup lama menjadi guru dan menikah (2011) dengan seorang guru yang suka menulis, Nyak Baye pun terbawa suka menulis. Salah satu tulisannya yang dibukukannya ternyata berawal dari hobinya mengintip suaminya menulis. Buku yang dia beri judul Menanam di Blog Menuai di Buku yang diterbitkan Media Guru (2019), itu adalah bukti dia suka menulis dan itu berawal dari kesukaannya melihat suaminya menulis. Begitu pengakuannya kepada teman-temannya yang bertanya perihal hobi menulisnya saat ini.

Kurang lebih empat-lima tahun menyukai dan menggeluti literasi Nyak Baye pun sudah menghasilkan beberapa buku ber-ISBN. Ada empat judul buku solo, yaitu,
1. Menjadi Guru Bukan (Tak) Mudah, Memori dalam Cita-cita; Penerbit Cipta Media Guru (2018);
2. Menanam di Blog, Memetik di Buku, Dari Kegiatan Hobi Mengintip; Penerbit Pustaka Media Guru (2019);
3. Aku adalah Pohon, Mengenang Hari Guru; Penerbit Pustaka Media Guru (2020);
4. Mengenal Bank Indonesia dan Belajar Akuntansi dengan Pantun; Penerbit Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (2021).
 
Keempat judul buku itu adalah buku solo atau buku yang ditulis sendiri. Sementara ada juga ternyata dia menulis dan menerbitkan buku dalam bentuk antologi (buku bersama). Sampai hari ini sudah ada lima judul buku yang dihasilkannya bersama para penulis lainnya. Buku-buku itu adalah,
1. Semangat Menulis Bersama Bu Kanjeng (42 penulis); Penerbit Oase Pustaka (2020);
2. Bom Corona (44 penulis); Penerbit Milas Grafika (2021;
3. Guru Indonesia Merdeka Berkarya (150 penulis); Penerbit Pustaka Media Guru (2021);
4. Suara-suara Kami, Antologi Pentigraf (210 penulis); Penerbit Cipta Media Edukasi (2021).
5. Doa untuk Bangsa, Antologi Puisi Asean (564 penulis); Penerbit Perkumpulan Rumah Seni Asnur (2021).

Buku MENJADI GURU BUKAN (TAK) MUDAH buku pembuka jalan literasi Nyak Baye



Buku berjudul Menjadi Guru Bukan (Tak) Mudah, Memori dalam Cita-cita, ini adalah buku pertamanya setelah mengikuti pelatihan menulis buku bersama Media Guru pada tahun 2018. Itu pengakuan Nyak Baye. Konon, dia tidak menyangka akan bisa membuat buku ber-ISBN seperti itu jika mengingat pengalaman kepenulisannya di masa-masa sebelum buku itu. Tidak terbayangkan sebelum-sebelumnya, ternyata akhirnya bisa juga membuat buku. Pelatihan menulis buku, Sagu Sabu (Satu Guru Satu Buku) yang ditaja oleh Media Guru, itu telah membuka langkahnya untuk memiliki buku pribadi. Dan langkah itu pun ia teruskan hingga kini. 

Sebenarnya Nyak Baye tidak yakin akan bisa membuat buku sendiri. Jika memikirkan menulis dan menerbitkan buku, yang terbayang adalah kesulitan. Katanya, "Yang saya tahu membuat buku yang diterbitkan resmi itu hanya bisa dilakukan oleh penulis. Saya bukanlah penulis," katanya saat itu. Tapi kini, secara tidak langsung dia sebenanrnya sudah menjadi penulis. Ada namanya di judul buku yang dia tulis. Dia sudah punya mahkota penulis, yaitu buku yang diterbitkan oleh sebuah penerbit resmi.

Buku berwarna hijau kebiruan dengan ilustrasi gambar Nyak Baye bersama siswa-siswinya, itu berisi pengalaman hidupnya, khususnya bagaimana akhirnya dia menjadi guru. Dengan ijazah S1 konsentrasi di bidang ekonomi (dasar) tentu saja tidak mungkin menjadi guru. Itu pandangan umum waktu itu. Namun inilah keistimewaan jalan hidupnya. Dari seorang sarjana ekonomi yang pada awalnya juga bekerja di luar guru, kini dia mantap menjadi guru. Dia menikmati profesi sebagai pendidik itu. Karena itu pula dia menulis memori yang bertema suka-duka sebagai guru.

Buku setebal 94+ vi halaman, itu terdiri dari 5 (lima) bagian. Bagian I dengan judul 'Bercita-citalah Kita akan Berusaha' berisi kisah penulisnya saat awal memiliki cita-cita. Dengan tiga sub judul di bagian ini dia menjelaskan detail awal dia sekolah dan memiliki harapan-harapan. Bagian II dengan judul 'Suka Duka Bersama Jogya' penulisnya mengisahkan masa-masa dia berada di perantauan untuk menimba ilmu pengetahuan. Dengan tiga sub judul juga di bagian ini pembaca dapat memahami bagaimana dia di Kota Pelajar itu. Tidak lupa penulisnya mengisahkan memori cintanya. Hingga bagian kelima, semuanya memiliki masing-masing tiga sub judul. 

Sebagai sebuah kisah hidup (memori) buku ini menggambarkan kehidupan pribadi penulisnya sejak awal. Tentu saja lebih banyak berkaitan dengan statusnya sebagai seorang guru dengan latar belakang pendidikan yang bukan guru. Di satu sisi mungkin dikatakan menjadi guru itu sulit, namun di sisi lain harapan dan keadaan ternyata bisa mengantarkan seseorang menjadi guru. Tidak mustahil pula perasaan sulit menjelma menjadi mudah atau paling tidak menyenangkan. Itulah inti kisah memori seorang guru yang terekam dalam buku ini.

Jika pembaca catatan ini berminat dan ingin memiliki buku karya Nyak Baye ini, katanya bisa langsung menghubungi penulisnya di nomor HP/ WA 081364749085. Katanya, untuk saling berbagi pengalaman, dia menjual bukunya ini untuk sekadar biaya cetak dan ongkos kirim. Saat ini harga buku Menjadi Guru Bukan (Tak) Mudah, itu hanya Rp 65.000 (enam puluh lima ribu rupiah) belum termasuk ongkos kirimnya.***

23 Juni, 2022

Bertahan dalam Kesulitan

Bertahan dalam Kesulitan


MENGATAKANNYA mungkin mudah. Ya, semudah mengucapkan kalimat-kalimat lainnya juga. 'Bertahan dalam kesulitan,' misalnya. Kalimatnya singkat tapi pesannya bisa panjang dan luas. Intinya, bagaimana kita bisa bertahan, tidak putus asa pada saat 'kesulitan' menimpa hidup kita. Kalimat sesingkat itu tentu saja mudah mengucapkannya.
 
Mudahnya mengucapkan ternyata tidak selalu linier dengan merasakan dan melaksanakannya. Artinya saat merasakan dan melaksanakan kesulitan, itu tidak selalu mampu oleh kita. Setidak-tidaknya tidak selalu mudah untuk membuktikannya. 

Kesulitan pada hakikatnya adalah salah satu ujian dari banyak ujian dalam kehidupan. Seperti juga kesenangan, pada hakikatnya keduanya adalah ujian. Jika pada kesenangan dengan mudah bisa menerima, mudah merasakan dan melaksanakannya, tapi tidak dengan ujian kesulitan. Kesulitan hidup, misalnya selalu terasa berat. Terkadang bisa gagal menjalankannya dengan wajar.
 
Tidak jarang seseorang gelap pandang bermula dan tersebab oleh mendapatkan ujian kesulitan. Pada saat kehilangan pekerjaan yang menyebabkan ekonomi keluarga atau ekonomi pribadi terganggu tidak selalu mudah menerima itu. Ada diantara kita yang salah langkah dan salah tindakan dalam menerimanya. Ini terjadi dan ada banyak faktanya.
 
Contoh-contoh berikut, misalnya, mencuri, merampok, bunuh diri atau sekadar mengasingkan diri adalah beberapa kejadian yang bermula dari perasaan kesulitan yang tidak mampu terkendali. Inilah sesungguhnya inti hidup yang diamanahkan. Artinya, setiap kita yang Tuhan berikan kehidupan sebagai sebuah kepercayaan (amanah) sejatinya tetap mampu mengendalikan sesuai aturan. Baik dalam posisi sulit atau posisi senang.
 
Kita bisa kekurangan biaya untuk berbagai kebutuhan; bisa juga kekurangan tenaga untuk banyak keperluan; intinya membuat banyak kesulitan. Di sinilah perlu keteguhan pendirian. Tidak ada masalah yang tidak akan terselesaikan. Tidak ada kesulitan yang akan menimpa kita di luar kemampuan kita untuk menyelesaikannya. Pasti ada penyelesaiannya. Inilah yang perlu dikuatkan. Komitmen untuk tidak menyalahkan pihak lain, pun akan membantu kita dalam menyelesaikan persoalan. Mari kita yakini, hidup itu tidak sendiri. Tidak pula sepenuhnya atas kemauan sendiri.***

20 Juni, 2022

Kombes the Best, Mengenang 70 Tahun Pak TeDe

Kombes the Best, Mengenang 70 Tahun Pak TeDe


Catatan M. Rasyid Nur
SEPULUH tahunan lalu. Itu, awal saya ikut menulis di blog keroyokan kompasiana.com yang dikelola dan dikembangkan Kompas Cyber Media. Dari sekian puluh bahkan sekian ratus member (baca: kompasianer), saya mengenal satu nama, Thamrin Dahlan. Foto akunnya yang saya hafal waktu itu adalah foto seorang lelaki tengah tersenyum dengan jacket hitam berlatar belakang beberapa orang lainnya sama-sama duduk di ruang yang sama.

Awalnya nama itu tidak ada yang istimewa bagi saya. Sama seperti nama-nama teman lainnya sesama penulis di blog kompasiana. Saling mengenal nama karena saling membaca tulisan dan memberikan komentar di setiap tulisan. Hanya sampai di situ. Jika ada yang memberi kesan, itulah karena tulisan orang yang bernama Thamrin Dahlan yang selalu saya baca waktu itu. Goresan tangannya enak dibaca. Renyah. Saya menduga dia seorang wartawan. Itu saja. Ternyata bukan. Dia, rupanya seorang purnawirawan polisi dengan pangkat terakhir Komisaris Besar (Kombes).

Belakangan nama itu serasa bertambah akrab karena ternyata tulisan dia dan tulisan saya sama-sama terpilih untuk terbit menjadi buku berjudul Jokowi Bukan untuk Presiden, Kata Warga Net tentang DKI-1 yang diterbitkan oleh PT. Elex Media Komputindo (2013). Antologi itu berisi berbagai tulisan dengan tema tentang Gubernur DKI dengan 42 orang kompasianer terpilih. Kami berada diantara 42 orang itu. Itu kebanggaan tersendiri bagi saya. Setidak-tidaknya pertama kali saya merasakan memiliki buku ber-ISBN tanpa harus mengeluarkan biaya sendiri seperti beberapa buku saya sebelumnya. 
 
Lika-liku pertemanan tanpa pertemuan (bersemuka), itu berjalan sebagaimana adanya. Saya dan Pak Thamrin Dahlan tidak pernah berhubungan secara khusus meskipun kami terus bersama di komunitas kompasiana. Sampai suatu waktu, tiga tahun lalu, saat Pak Thamrin Dahlan yang kini semakin populer dengan panggilan Pak TeDe mendirikan sebuah yayasan. Itulah Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (YPTD) dengan misi menerbitkan buku dengan mudah. 

Meskipun tujuan awalnya lebih kepada tujuan untuk menerbitkan buku sendiri secara mandiri, kini YPTD menjadi salah satu penerbit umum yang produktif menerbitkan buku. Dalam usia singkatnya yang baru dua tahunan YPTD sudah akan melangkah ke angka 400-an judul buku yang diterbitkan. Salah satu buku saya, Semangat Literasi untuk Berbagi Inspirasi (2021) juga terbit di Penerbit YPTD ini. Kini, YPTD juga sudah resmi menajdi anggota IKAPI, Ikatan Penerbit Indonesia bersama sekian puluh penerbit lainnya. Dia sudah sejajar dengan penerbit-penerbit mayor yang sudah lama hidupnya. 
 
Pak TeDe yang bernama lengkap H. Thamrin Dahlan, SKM MSi dengan pangkat Kombes (Purnawirawan Polisi) saya rasakan sudah menjadi bagian dari keberadaan saya sebagai seorang yang suka literasi. Belyau lahir di Tempino, 7 Juli 1952 dan sudah mengabdi sebagai seorang polisi selama 30 tahun (1980-2010) sebelum malang-melintang di dunia literasi. Jabatan terakhirnya di institusi Polri adalah Direktur Pasca Rehabilitasi BNN. 
 
Pak Haji TeDe yang menikah dengan Ibu Enida Busri pada tahun 1983 dikaruniai empat orang anak, tiga putra dan satu orang putri. Dari anak-anaknya itu dia sudah dikaruniai pula tiga orang cucu. Sangat berbahagianya dia dengan putra-putri dan cucu-cucu yang menemani kesibukannya dalam menggeluti literasi. Karya-karya literasinya berupa buku-buku yang sudah terbit dan beredar di tengah-tengah masyarakat sudah begitu banyak. Pak TeDe sudah menerbitkan buku sebanyak 50 judul dengan 21 judul buku sudah dia hasilkan sebelum lahirnya YPTD. Satu jumlah yang tidak akan mudah dicapai oleh orang tanpa komitmen dan kerja keras di ranah literasi. Layak kita berdecak kagum atas capaian produktivitas ini.

Pak TeDe semakin berkibar namanya setelah mendirikan YPTD dan membuktikan dirinya adalah penggiat literasi nasional yang tidak saja memajukan diri dan keluarga sebagai penggiat literasi, tapi juga sudah menajdi inspirasi bagi siapa saja yang menyukai literasi. Pak TeDe dengan pangkat tiga melati, itu memang pantas diberi predikat The Best untuk aktivitas dan prestasinya di ranah literasi selain pengabdiannya selama hampir sepertiga abad di kepolisian RI. Dengan sudah menulis 50 judul buku dalam usia sepuh seperti itu, sangatlah layak Pak TeDe mendapat tempat terbaik di hati kita sebagai penyuka dan praktisi literasi. 
 
Catatan singkat ini sepenuhnya saya dedikasikan untuk Pak TeDe, sahabat akrab yang justeru sampai tulisan ini dibuat kami belum pernah bersemuka. Tentu saya sangat berharap, dengan usia yang sudah sama-sama tidak muda, ini suatu saat nanti Allah akan pertemukan kami secara langsung. Keakraban yang terjalin melalui media sosial dan pertemuan langsung dalam video call atau zoom tentu saja belum memuaskan hati jika pertemuan yang sesungguhnya belum terjadi. Bahwa kami merasa sudah sering berbicara langsung, tapi itu baru sebatas melalui tulisan dan vedio melalui zoom ketika mengikuti seminar-seminar yang dilaksanakan oleh YPTD, itu benar adanya. Sekali lagi, hasrat ingin bertemu langsung tetaplah ada di hati.

Hal penting lainnya yang harus saya gaungkan di sini adalah bahwa motivasi dan inspirasi yang diberikan oleh Pak TeDe akan terus pula memupuk dan memperkuat motivasi dan inspirasi literasi yang sesungguhnya sudah kita miliki pada diri kita masing-masing. Motivasi, komitmen dan kerja keras yang ditunjukkan oleh Pak TeDe semoga menjadikan motivasi, komitmen dan kerja keras kita juga ikut bertmbah dan eksis. Pak TeDe memang seorang Kombes yang The Best. Selamat memasuki usia ke-70 tahun, Pak TeDe. Teruslah menjadi inspirasi dan motivasi bagi kami, bagi kita semua.***
 
Tanjungbalai Karimun, 20 Juni 2022
M. Rasyid Nur, penyuka, praktisi dan penggiat literasi

08 Mei, 2022

Rumah Berjauhan, Rasa dan Jiwa Tetap Berdekatan

Rumah Berjauhan, Rasa dan Jiwa Tetap Berdekatan



Catatan M. Rasyid Nur              

UNTUK melaksanakan silaturrahim lazimnya orang mesti saling bertemu. Dengan pertemuan itu terjalin silaturrahim. Sayangnya tidak selalu mudah untuk bertemu. Jarak rumah dan tempat tinggal yang berjauhan akan menjadi salah satu kendala untuk itu. Haruskah silaturrahim menjadi korban? Tentu tidak harus begitu.

Melalui komunikasi jarak jauh segala sesuatunya dapat ditempuh. Melalui tulisan, misalnya orang juga bisa serasa bersalaman. Itulah  beda orang-orang yang menggunakan talenta berkarya (tulis) dengan orang-orang yang tidak menggunakannya. Boleh jadi semua orang memiliki talenta yang sama, tapi mungkin tidak semua orang menggunakannya. Bagi yang menggunakannya, sekurang-kurangnya dia akan terhubung dengan pembaca tulisannya. Maka terjalinlah hubungan jiwa dan rasa. Hubungan pertemanan dan keakraban diantara keduanya.

Hubungan pertemanan dan keakraban, kini tidak selalu harus dikarenakan secara pisik orang berdekatan. Tidak juga karena harus bersemuka setiap kesempatan. Tapi dapat dihubungkan oleh tulisan. Saling menyampaikan pesan, harapan dan keluhan. Apapun bisa tersampaikan lewat tulisan. Alat-alat penghubung (IT) telah membuka kesempatan untuk berhubungan diantara orang yang tidak berdekatan.

Dengan sebuah HP pintar (android) yang dimiliki, misalnya hubungan melalui dunia maya yang tersedia telah menyebabkan jarak sangat jauh tidak terasa jauhnya. Semua orang yang terhubung oleh jaringan internet melalui alat canggih seperti HP atau laptop, itu serasa tetap berada di tempat yang sama pada saat terhubung. Tulisan, gambar dan suara juga ada pada layar yang ada di hadapan kita.

Ketika Idul Fitri seperti saat ini kita memang ingin tetap bersilaturrahim meskipun jarak diantara satu dengan lainnya berjauhan. Dan harapan itu terbukti tidak sulit dilakukan. Dengan tulisan bahkan gambar yang terkirim kita sudah merasa sudah bersama, berbicara bersama, tersenyum bersama dan seterusnya bersama. Maka silaturrahim itu terus ada bersama kita.

Jadi, rumah dengan alamat yang nun jauhnya entah di mana di antara satu dengan lainnya, alhamdulillah tidak menjadi masalah. Kita tetap bisa menyatu dalam rasa dan jiwa kita. Penentu utamanya adalah harapan dan kemauan untuk tetap menjaga komunikasi di antara kita.***

Juga di mrasyidnur.gurusiana.id

12 Januari, 2022

Kehidupan itu Apa Adanya (Jauhi Sombong)

Kehidupan itu Apa Adanya (Jauhi Sombong)


BEBERAPA pernyataan Bob Sadino sering menjadi rujukan orang dalam memotivasi diri dalam menjalani hidup dan kehidupan. Sebagai seorang pengusaha sukses, yang perjalanan hidupnya penuh kesederhanaan, Bob Sadino memang layak dicontoh. Dengan itu pula pernyataan-pernyataannya selalu didengar atau dibaca.

Di salah satu media, pernyataan Bob Sadino dikutip menyatakan begini, "Jika Anda bilang Anda susah, banyak orang yang lebih susah dari pada Anda. Jika Anda bilang Anda kaya, banyak orang yang lebih kaya dari pada Anda."Dia ingin menegaskan bahwa kesusahan atau kesulitan yang dihadapi tidak perlu disesali karena ternyata masih ada orang lain yang lebih sulit dari pada diri kita sendiri.

Sebaliknya jika kita merasa kaya tidak perlu itu menjadi kebanggaan yang menajdikan kita sombong atau angkuh. Mengapa? Karena masih ada orang yang lebih kaya dari pada diri kita. Lalu untuk apa menyombongkan diri atas kekayaan yang dimiliki? Begitulah kira-kira yang ingin ditegaskannya. Kekayaan yang pada hakikatnya juga bersifat relatif tidak dapat dibandingkan antara satu orang dengan orang lainnya.

Pernyataan itu kurang-lebih satu semangat dengan pernyataan Bob Sadino lainnya yang berbunyi begini, "Di atas langit, masih ada langit. Suami, isteri, anak, jabatan, harta hanyalah titipan sementara.” Begitu dia menegaskan pada pernyataan lainnya. Dan kalimat terakhir ini juga banyak dikutip oleh media. Saya sendiri mengutip kalimat-kalimat Bob ini dari kiriman teman di media sosial juga. Dan setelah dibaca-baca di media online lainnya juga ditemukan sama. Maka muncullah pada jalaman ini sebagai pemotivasi diri dan siapa saja yang berkenan membaca dan memahami.

Satu hal penting sebagai penguat, sesungguhnya dalam agama (Islam) yang kita pahami juga ditegaskan begitu adanya. Di kitab suci (alquran) atau pada buku-buku hadits kita akan mudah menemukan pernyataan berkaitan dengan larangan sombong atau lalai disebabkan oleh kekayaan atau harta. Anak-isteri dan keluarga juga diingatkan agama, jangan sampai membuat lalai mengingat Tuhan. Itu akan sangat merugikan.

Semoga catatan singkat ini sedikit-banyak mengingatkan kembali, baik kepada diri sendiri (penulisnya) mamupun kepada orang lain atau pembaca catatan ini. Jika ada manfaatnya, kiranya manfaat itu adalah untuk kemanfaatan bersama. Semoga!***