Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

19 Nov 2022

Bekerja Membawa Cinta

Bekerja Membawa Cinta


TENTANG kalimat yang menggunakan kata cinta, inilah salah satunya. "Apapun yang kamu kerjakan dan dimanapun kamu berada, jatuh cintalah." Kata-kata itu adalah salah satu kalimat indah yang pernah dikatakan oleh Rumi, penyair hebat itu. Bicara cinta memang tidak akan pernah habisnya. Ada banyak kalimat dengan menggunakan kata bertuah ini.

Pesan Rumi melalui pernyataan itu adalah agar kita, siapa saja, dalam bekerja dan dimanapun bekerjanya lengakpilah dengan perasaan cinta. Jangan pernah mengerjakan sesuatu tanpa rasa cinta. Itu akan menjadi masalah.

Sudah dibuktikan oleh orang-orang yang sebelum kita. Tidak semata kemampuan dan keterampilan yang membuat pekerjaan berjalan dengan aman, nyaman dan sukses. Tapi rasa cinta yang menyertainya. Kemampuan bisa saja dilatih. Tapi rasa cinta ada di hati.

Ada banyak pengalaman orang-orang di sekeliling kita yang pada awalnya tidak terlalu mengerti dalam tugas. Disebabkan kemampuan dan keterampilannya masih rendah, sering pekerjaannya tidak selesai pada waktunya. Tapi karena adanya rasa cinta dalam bekerja, maka kemampuan dan keterampilan itu akhirnya didapatkan juga.

Jadi, rasa cinta itulah yang menjadi kunci keberhasilan itu. Sudahkah kita mencintai pekejeraan kita? Tepuklah dada dan tanyalah selera. Jawabannya ada di sana.***

16 Nov 2022

Momen Menyebut 'Sah' Saat Ijab Qobul (Mendebarkan)

Momen Menyebut 'Sah' Saat Ijab Qobul (Mendebarkan)

INILAH momen paling menarik dan sakral dalam prosesi pernikahan. Pun mendebarkan. Bayangkan, saat ketika diucapkan ijab-qobul oleh calon mertua atau oleh Pak Ka-KUA yang mewakili orang tua, lalu dijawab oleh calon suami atau lelaki yang akan menajdi suami, jawaban itu akan menjadi kunci munculnya kata 'sah' dari dua orang saksi. Keduanya, biasanya duduk di sisi kanan dan kiri raja sehari. Itulah saksi. Ya, saksi pernikahan yang keberadaannya menjadi syarat prosesi pernikahan akan sah atau tidak.

Siang tadi, Rabu (16/11/2022) pagi, dua orang anak manusia, Opy dan Gita (begitu masing-masing dipanggil sehari-hari) melangsungkan prosesi pernikahan. Opy, lelaki itu, dinikahkan langsung oleh ayah kandungnya, Pak Ikman setelah dipandu sejak awal oleh Ka-KUA Kecamatan Karimun, Pak Suhaimi. Prosesi pernikahan yang ditandai dengan lancar atau tidaknya ijab-qobul itu sesungguhnya menciptakan rasa khawatir dari orang-orang yang menyaksikannya. Apakah dua saksi akan langsung mengucapkan kata sah atau minta diulang, itulah yang mendebarkan.

Ketika Pak Ka-KUA memulai prosesi pernikahan, ada pertanyaan tentunya di hari setiap yang menyaksikan. Akankah Opy lancar dan benar dalam menyambut ijab-qobul yang diucapkan calon mertuanya itu, tidak ada yang berani memastikan sebelum proses itu berjalan. Meskipun teks jawaban ijab-qobul itu sudah dibaca berkali-kali agar bisa hafal, tetap saja tidak ada jaminan jawaban ijab-qobul itu akan lancar oleh Opy ketika harus menjawabnya di hadapan orang yang begitu ramai. Keraguan itu pasti terbersit di setiap orang yang menyaksikannya. Padahal lancar tanpa terputus-putus menjawab ucapan ijab-qobul dari calon mertua adalah syarat mutlak sah-tidaknya pernikahan itu sendiri.

Terbukti, pagi tadi, Rabu, 16 November 2022 sekitar pukul 08.30 WIB, itu Opy tidak serta-merta lancar mengucapkan jawaban ijab-qobulnya. Harus diulang sekali lagi. Tapi setelah diulang justeru calon mertua pula yang terputus mengucapkan kalimat ijab-qobul itu. Harus diulang lagi sekali lagi, kata Pak Suhaimi. Pengulangan ini ternyata memengaruhi mempelai laki-laki dalam menjawab.

Pengulangan untuk kedua kali oleh Opy, alhamdulillah jawabannya lancar dan benar. Debaran para penyaksi, terutama pihak keluarga dari kedua calon suami-isteri begitu kentara dari pandangan dan juga dari suara berbisik dari mereka. Syukurnya, ketika saksi menyatakan sah, maka sahlah pernikahan itu dan sah pula keduanya menajdi pasangan suami-isteri. 

Debaran dan kekhawatiran setiap orang dalam menyambut ijab-qobul dalam prosesi pernikahan adalah hal yang wajar. Tersebab itulah salah satu momen sakral dalam perjalanan rumah tangga maka dapat dipastikan bahwa mpmen menyambut dan menantikan kata sah dari saksi itu adalah satu hal yang sangat mendebarkan. Untuk pernikahan pagi tadi, alhamdulillah telah berjalan dengan baik dan lanacar.***


17 Okt 2022

Ketika Belasan Ribu Peserta Fun Walk Berharap Doorprize

Ketika Belasan Ribu Peserta Fun Walk Berharap Doorprize


AHAD (16/10/2022) pagi itu ribuan orang memenuhi jalan di depan panggung Kemuning, Coastal Area. Ada acara Fun Walk, jalan bersama dalam rangka memeriahkan HUT (Hari Ulang Tahun) Kabupaten Karimun ke-23 tahun 2022 ini. Membludaknya peserta Fun Walk adalah karena adanya iming-iming hadiah cabutan undi alias doorprize. Sejak hampir satu bulan yang lalu berbagai acara dalam rangka memperingati dan memeriahkan HUT Kabupaten Karimun sudah diuumkan. Termasuk acara Fun Walk ini.

Tingginya minat masyarakat untuk ikut jalan bersama adalah karena hadiah yang begitu banyak. Sudah begitu banyak juga dengan nilai atau harga yang lumayan tinggi. Ada strika listrik sebanyak 30 buah. Ada kipas angin bealsan buah dan rice cooker yang juga lumayan banyak. Selain itu ada pula kulkas sebanyak tiga unit selain hadiah-hadiah yang kecil-kecil. Salah satu hadiah yang sangat menarik adalah karena adanya sepeda motor sebanyak 5 unit. Nah, begitu banyak hadiahnya. Khusus yang terakhir ini banyak sekali yang berharap.

Untuk mendapatkan doorprize harus ada kupon. Dan kupon baru didapat jika peserta ikut berjalan dalam jarak yang sidah ditentukan. Tidak jauh sebenarnya. Tidak lebih dari tiga km. Mungkin lebih pendek. Start dari depan Panggung Kemuning dan nanti berbelok di simpang tugu MTQ. Di sinilah ada panitia yang membagikan kupon doorprize.

Tidak kurang setngah bahkan hampir satu jam menunggu di sini karena jumlah panitia yang membagikan kupon hanya beberapa orang saja. Berbanding jumlah peserta berjalan bersama yang ribuan orang, tidak heran antrinya sangat lama. Dan yang membuat kecewa sekaligus menyakitkan hati masyarakat adalah karena ramainya yang akhirnya tidak mendapatkan kupon. Kata panitia, kuponnya habis.
Jika dalam suasana rintik hujan masyarakat berdiri antri hampir satu jam, tapi akhirnya tidak mendapatkan kupon, tidakkah itu membuat rasa sakit hati peserta? Apakah benar kuponnya habis yang kabarnya dicetak sebanyak 15 ribu lembar, nyatanya tidak cukup. Apakah jumlah peserta Fun Walk benar-benar melebihi jumlah kupon? Sepertinya tidak. Tidak lebih banyak jumlah peserta dari pada jumlah kupon jika memang sebanyak 15.000 ribu lembar itu dicetak.

Ternyata, ada banyak orang-orang tertentu yang mendapatkan kupon lebih dari satu lembar. Ketika pembacaan nomor-nomor kupon untuk mendapatkan hadiah berlangsung, barulah diketahui salah satu sebab mengapa tidak semua peserta mendapatkan kupon. Terbukti dan diketahui sangat ramai peserta yang berdiri di sekitar panggung yang tengah membuka kupon dalam jumlah yang banyak. Ada yang memegang 5 lembar, 7 lembar bahkan ada yang belasan lembar. Apakah penitia sengaja memberikan kepada orang tertentu? Tanyalah rumputy yang menggoyang.***

10 Okt 2022

Ketika Memahami Wawasan Kebangsaan adalah Kewajiban

Ketika Memahami Wawasan Kebangsaan adalah Kewajiban


SEJATINYA pemahaman wawasan kebangsaan dimulai sedari dini. Sejak anak-anak. Bagi setiap orang di Negara Republik Indonesia sudah seharusnya mengerti dan dapat melaksanakan konsep wawasan kebangsan. Dengan fakta masyarakat berbilang kaum, dengan suku-suku yang begitu banyak dan agama yang juga berbeda-beda, harus ada satu nilai sebagai sebuah pandangan untuk menyatukan. Itulah wawasan kebangsaan.

Kewajiban untuk memberikan pencerahan atau penjelasan tentang wawasan kebangsaan tentu saja menjadi kewajiban semua orang. Siapa saja. Ketika seseorang sudah memahami perihal wawasan kebangsaan maka baginya tertanam kewajiban untuk memberikan pencerahan kepada orang lain yang mungkin saja belum memahami atau masih kurang memahami.

Baru-baru ini, tepatnya Senin (03/10/2022) pagi, bertempat di halaman SMPIT (Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu) Darul Mukmin Karimun ada upacara bendera Senin Pagi. Upacara bendera Senin Pagi kali ini menjadi penting dan istimewa karena dihadiri oleh Asisten II Bidang Perekonomian, Dr. Abdullah yang sekaligus bertindak menjadi Pembina Upacara. Utama dan pentingnya acara itu adalah karena misi yang dibawa oleh rombongan.

Hadir pada upacara itu, selain para guru dan siswa sebagai peserta dan pelaksana juga pejabat dari Kesbangpol Kabupaten Karimun dan dari Polres Karimun serta Asisten atas nama Bupati tersebut. Setelah upcara bendera selesai, kegiatan berlanjut ke ruang Graha Azam, Yayasan Darul Mukmin untuk penyampaian materi wawasan kebangsaan. Inilah misi utama itu.

Dalam Apel Bendera Senin Pagi, itu Pak Abdullah menyampaikan beberapa pesan kepada peserta upacara, khususnya kepada para siswa sebagai amanat upacara. Dalam amanatnya, dia memberikan nasihat untuk seluruh siswa dan siswi mengenai pentingnya merealisasikan isi dari Janji Pelajar Islam yang dalam prosesi upacara memang dibacakan oleh siswa. 

Asisten memberikan penekanan kepada salah satu poin, poin ke-3 yang di dalamnya terdapat pesan agar berbakti kepada kedua orang tua dan guru. Dengan komunikasi yang baik antara siswa dan guru atau antara anak dengan orang tua, artinya komunikasi dalam satu keluarga, baik keluarga di sekolah maupun kelaurga di rumah tangga sendiri, berjalan dengan baik dan benar. Hal ini tentu saja akan menajdikan hubungan akan terjalin baik. Hubungan baik itulah cikal-bakal kebersamaan akan terbangun. 

Setelah upacara, rombongan bersama para siswa menuju ke ruang Graha Azam untuk kegiatan penyampaian materi wawasan kebangsaan. Tampak di depan aula itu sebuah spanduk berbunyi, Operasi Bina Kusuma Seligi 2022 Sat Binmas Polres Karimun Tahun 2022. Itu artinya kegiatan yang dilaksanakan ini merupakan program dari Polres Karimun dan Pemkab Karimun melalui Badan Kesbangpol dalam usaha memberikan pemahaman wawasan kebangsaan. 

Sesungguhnya pemahaman wawasan kebangsaan itu adalah kewajiban pokok bagi setiap warga negara. Kewajiban itu pula yang dijalankan oleh Pemda Kabupaten Karimun bersama Polres Karimun. Dalam setiap kunjungan ke sekolah, penyampaian materi wawasan kebangsaan itu adalah inti pokoknya. Kita sepakat menjadi penting pemberian wawasan kebangsaan itu sejak awal. Sebagai anak-anak calon pengganti generasi para siswa perlu mendapatkan pemahaman wawasan kebangsaan.***

29 Sep 2022

Jangan Percaya, Capres Non Jawa 'Mustahil Tampil'

Jangan Percaya, Capres Non Jawa 'Mustahil Tampil'

Sumber Foto: Google

ISU Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres) menjelang akan digelarnya Pilpres tahun 2024 nanti semakin kencang hembusannya. Partai-partai politik beraneka cara bereaksi menyambut akan datangnya Pilpres yang akan disejalankan dengan pemilihan anggota DPR, DPD dan DPRD nantinya. Di media kita baca 'pemilihan serentak' itu akan dilaksanakan KPU pada 14 Februari 2024. Masih satu setengah tahun lebih dari sekarang.

Walaupun menurut kita (masyarakat) masih lama namun tidaklah lama bagi Partai Politik (Parpol). Waktu satu tahun setengah akan datangnya Pilpres itu bukanlah waktu yang lama bagi para politisi.  Kasak-kusuk siapa nama Capres dan atau Cawapres yang akan mereka usung itulah isu yang saat ini memenuhi media. Banyak orang berkomentar banyak juga partai yang sibuk bersiap diri untuk membicarakan dan mengatur strateginya. Kelompok-kelompok yang arahnya akan berkoalisi juga sudah kelihatan  melalui media.

Satu isu yang hangat dibicarakan para elit politik dan partainya adalah tentang siapa yang akan dimajukan nantinya sebagai Capres. Karena sudah tidak ada incumbant alias patahana Capres maka otomatis Capresnya adalah sosok baru. Isu-isu Jokowi akan diusung lagi oleh Parpol dengan segala cara sudah tidak akan ada lagi. Jokowi sudah menyatakan itu. Parpol-parpol yang awal-awal kemarin masih membuat isu, kini sudah senyap.

Tentang isu Capres pendatang baru inilah yang kini semakin santer didengungkan berbagai pihak. Nama-nama seperti Anies Baswedan, Prabowo atau Ginanjar hampir setiap hari memenuhi halaman berita sebagai tiga sosok yang katanya memiliki elektabilitas moncer hingga hari ini. Nama-nama lain sesungguhnya masih banyak yang disebut. Tapi tiga nama ini selalu dikatakan memiliki peluang paling besar berbanding sosok selainnya. Tiga teratas ektabilitas, ya mereka bertiga, kata pengamat.

Lalu kini timbul pula isu bahwa tokoh yang bukan bersuku Jawa tidak akan pernah bisa menjadi presiden di Indonesia. Setidak-tidaknya saat ini. Ramailah komentar, pro-kontra terhadap pernyataan ini. Meskipun itu berbau sukuisme, nyatanya diucapkan oleh seorang tokoh yang terkenal. Dia sebegitu yakin kalau Capres Non Jawa itu mustahil akan terpilih. Banyak yang pro tapi banyak pula yang kontra.
Salah satu tulisan yang menyangkal pernyataan itu dimuat di laman hajinews.id pada hari Sabtu (24/09/2022) lalu dalam judul berita, Soal Capres Jawa-Non Jawa, Buta Sejarah Mengakibatkan Rasisme! Sepertinya penulis catatan ini adalah orang yang tidak sependapat dengan pernyataan bahwa orang bukan suku Jawa tidak akan bisa menjadi presiden. 

Tulisan itu dibuka dengan sebuah pertanyaan, kenapa organisasi kaum terpelajar Jawa, Budi Utomo, yang didirikan 20 Mei 1908, hanya bertahan 10 tahun, dan vakum sekitar 17 tahun? Dengan menyitir  penjelasan Sejarawan Akira Nagazumi di dalam buku “Bangkitnya Nasionalisme Indonesia, Budi Utomo 1908-1918” yang menyimpulkan bahwa penyebab Budi Utomo mandek adalah karena kaum muda intelek yang menjadi penggerak organisasi itu tidak menginginkan Budi Utomo terjebak di dalam etno-nasionalisme sempit, yang bersifat kesukuan. Itulah kesimpulannya.

Secara jelas artikel itu mengingatkan bahwa jika mendefinisikan “Bangsa” dan kriteria kepemimpinan berdasarkan etnis atau kesukuan belaka yang dapat membahayakan persatuan maka organisasi atau sebuah lembaga akan goyah dan tidak akan bertahan lama. Kata Akira Nagazumi, para pelajar itu tidak ingin cara pandang sempit begitu ada dalam organisasi. 

Seajarah mencatat, setelah vakum sejak 1918 organisasi ini akhirnya melebur menjadi Parindra (Partai Indonesia Raya) pada 1935. Sebelum melebur pada 1928 Budi Utomo memperluas azas perjuangannya dengan  melaksanakan cita-cita persatuan Indonesia yang tidak sekadar kesukuan.

Sejarah menjelaskan kepada kita, Parindra yang antara lain digagas dr. Sutomo merupakan hasil fusi organisasi kedaerahan, yang terdiri dari Budi Utomo, Paguyuban Pasundan, Serikat Betawi, Serikat Ambon, Serikat Minahasa, Sumateranen Bond, dan banyak kelompok atau suku lainnya.

Mengutip artikel itu, dikatakan karena itu para tokoh Parindra yang berasal dari berbagai suku dan agama, termasuk pula para tokoh pergerakan kemerdekaan pada umumnya, mengambil peran sebagai public educator dengan membuang jauh sikap rasis, dan memberikan human moral obligation kepada rakyat. Intinya, kebangsaan itu hanya akan lahir dan abadi tanpa membedakan suku dan asal-usul orang. Dengan sikap kebangsaan itu pula akhirnya disepakati dan lahir Sumpah Pemuda, sumpah untuk bersatu dengan menjauhkan pertentangan kesukuan dan kriteria kepemimpinan Jawa-Non Jawa itu. Mustahil, jika saat itu ada sikap Jawa Non Jawa dalam kriteria kepemimpinan mereka akan lahir tekad bersatu yang bernama Sumpah Pemuda.

Jika kini ada lagi yang memunculkan isu Presiden Jawa Non Jawa di tahap masih Capres maka itu berarti cara berpikir kita kembali ke sebelum Sumpah Pemuda 1928 itu. Atau isu ini hanya sekadar untuk memunculkan Capres yang sesuai dengan selera orang tertentu, bukan semata Jawa Non Jawa, boleh jadi ada yang menyimpulkan begitu. Dari sisi politik boleh saja berharap Cepres sesuai selera. Tapi tetap tidak bijak jika masih menyebut kelayakan itu dari sisi suku atau etnis. Oleh karena itu harus dikatakan bahwa Capres Non Jawa tidaklah mustahil untuk tampil. ***