Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

17 Feb 2024

Rumput Dibabat, Saat Badan Terasa Kurang Sehat

Rumput Dibabat, Saat Badan Terasa Kurang Sehat


TIDAK selalu dan selamanya sehat. Terkadang ada waktu badan kita terasa kurang sehat. Tidak fit alias sakit. Tanda-tandanya bisa karena kepala terasa pusing. Bisa juga karena merasa berdahak saat batuk dan fileks, misalnya. Jika lebih dari itu, bisa juga demam karena suhu badan meningkat.

Dalam keadaan sakit tingkat awal, boleh jadi kita masih bisa beraktifitas seperti biasa. Boleh jadi karena terlalu lelah. Bekerja lebih dari porsinya. Biasanya, di tingkat awal ini kita masih bisa ke kantor, ke kebun atau kemana sesuai aktifitas sehari-hari kita. Selera makan juga masih ok ok saja saat seperti itu.

Seperti yang saya rasakan beberapa hari ini. Saya tidak merasa fit seperti biasa. Awalnya tenggorokan terasa perit. Boleh jadi karena berlebih mengeluarkan suara? Entahlah. Lalu diikuti batuk sedikit-sedikit dan berdahak pula. Karena capei? Entahlah. Maka saat seperti ini selain tetap olahraga kecil-kecil --seumpama berjalan kaki sekian menit-- juga melaksanakan aktifitas lain.

Sabtu (17/02/2024) ini, misalnya saya menyabit rumput di halaman rumah yang kebetulan sudah agak panjang. Batuk masih ada sekali-sekali. Hidung juga belum lepas sempurna dari cairan. Artinya fisik saya belum sebugar seperti biasa. Hari ini sesungguhnya ada kegiatan lain, menghadiri kegiatan pembukaan MTQ Tingkat Kecamatan di Ungar. Dan hari ini sebenarnya bersama beberapa teman, diajak mendampingi bupati ke Ungar. Ada acara MTQ Tingkat Kecamatan. Tapi saya izin untuk tidak ikut karena keadaan badan yang belum fit betul.

Lalu saya ajak cucu untuk membersihkan halaman yang rumputnya sudah meninggi dan sampahnya juga sudah lumayan banyak. Akiif, cucu itu menyapu sampah sementara saya membabat rumputnya. Semoga, dengan keringat dari membabat (menyabit) rumput ini mengantarkan badan saya kembali sehat total seperti biasa.*** (Catatan M. Rsyid Nur)

16 Feb 2024

Transaksi Suara Perlu Rupiah

Transaksi Suara Perlu Rupiah


SEORANG Caleg (Calon Legislatif), teman saya,  sebutlah namanya Mr X begitu yakin suaranya akan mencukupi untuk satu kursi di Dapil (Daerah Pilihan) yang dia ikuti. Kalaupun kurang-kurang sedikit, dia juga yakin kalau suaranya akan lebih tinggi dari pada teman-temannya satu partai dalam satu Dapil. Artinya jatah kursinya pasti untuk dia. Setidak-tidaknya begitulah obrolannya bersemangat dengan saya. Sebagai orang yang pernah ikut sebagai Caleg pada Pemilu 2019 lalu, saya jadi tahu seluk-beluk dan suka-duka 'berharap' menjadi anggota dewan itu.

Untuk pernyataan teman saya, ini alasannya sederhana. Sebagai seorang tokoh di daerahnya, dia merasa cukup terkenal di kecamatan tempat tinggalnya. Apalagi di kelurahan. Dia sangat yakin. Pernah dan selalu dekat dengan RT juga RW di kelurahannya. Tokoh agama aktif di masjid. Ditambah beberapa orang yang tinggal di kelurahan atau kecamatan sebelah yang juga mengenalnya, dia sangat yakin suara orang itu akan diberikan kepadanya. Bahkan dia yakin dalam satu kabupaten dia sudah dikenal.

Selama kampanye, dia rajin berkumpul-kumpul dengan banyak orang di Dapilnya. Dari awal mendaftar, dia sudah menyatakan tidak akan menggunakan uang untuk membeli suara. Sebagai seorang yang memahami agama, dia selalu menjelaskan kepada masyarakatnya bahwa memberi uang untuk mendapat suara itu artinya raswah. Sogokan. Pasti berdosa. Untuk sikap ini saya setuju meskipun justeru di situ masalahnya masyarakat kita.

Tidak jarang teman saya ini membawa-bawa makna satu hadits, orang yang menyogok dan yang menerima sogok, itu tempatnya di neraka. Maka dia sepakat dengan timnya untuk tidak memberi uang sepersen pun kepada calon pemilihnya. Menurut para pemilihnya, kabarnya ok ok saja. Mereka akan memilih Mr X karena tokoh di daerahnya. Yang penting dan berjanji, kalau sudah jadi anggota dewan nantinya, maka uang gaji dan lainnya akan diberikan sebagian sebagai kompensasi selama menjadi tim pemenangan. Intinya, jangan lupa pemberi suara setelah duduk di Gedung Dewan nantinya.

Pencoblosan pun tiba, 14 Februari 2024 lalu. Sesungguhnya, beberapa pekan selama masa kampanye, teman ini sangat yakin suaranya akan meledak di beberapa TPS di kecamatannya dan kecamatan sebelah yang masih satu Dapil. Ternyata oh ternyata, setelah Pemilu usai, penghitungan suara pun selesai, suaranya tidak mencerminkan apa yang selama ini dia bayangkan. Justeru suara di TPS dekat rumahnya serta beberapa TPS yang dia bayangkan akan memilihnya, ternyata justeru suara orang lain. Suara partai lain yang dia kenal juga orangnya.

Kini, teman ini tahu kalau orang yang menang di TPS-nya itu adalah orang yang sama lima tahun lalu yang terkenal royal membeli suara. Setiap satu suara konon dia sanggup memberi 'ampelop' sebesar 300-500 ribu. Itu lima tahun lalu. Tahun ini menurut informasi yang simpang-siur besarannya malah lebih lagi karena kabarnya disatupaketkan dengan anggota dewan kabupaten, provinsi dan pusa dalam satu partai. 

Teman saya ini pasti bertanya di hatinya, apakah suara masyarakat saya juga dibeli pada Pemilu ini? Saya hanya menduga karena saya pernah tahu itu lima tahun lalu. Sahabat saya ini tentu tidak mampu menjawab pertanyaan itu. Kenyataannya beberapa orang masyarakat memang mengakui kalau suaranya diberikan ke orang tertentu yang memberinya uang. Maka yakinlah kita bahwa transaksi dengan calon pemberi suara tidak bisa dengan janji-janji saja. Harus dengan rupiah. Masyarakat yang menerima uang 'ampelop' itu pasti tidak merasa bersalah memilih siapa saja asal ada balas jasanya. Sungguh memilukan demokrasi kita.***

13 Feb 2024

Pesan (lawak) Untuk ke TPS Besok

Pesan (lawak) Untuk ke TPS Besok


SAYA tidak tahu siapa yang mengarang (menulis) pesan-pesan ini. Menjelang satu-dua hari pencoblosan, 14 Februari 2024 besok, pesan-pesan lucu (lawak) ini sudah bersiliweran di medsos. Saya membaca beberapa kali dalam beberapa grup yang kebetulan saya ada di dalamnya. Lalu apa bunyi pesan-pesannya itu? Inilah (izin dan maaf saya posting di halaman ini).

ATENTION......
Tata cara mencoblos asyik 14 februari 2024,
1. Mandi dulu, dandan yang rapih, wangi... siapa tau ketemu jodoh;
2. Harus datang ke TPS... karena ini Pilpres, bukan indonesian idol yang bisa vote lewat sms;
3. Ingat, TPS buka jam 07.00-13.00, yang buka 24 jam itu mini market, RS, ATM;
4. Jangan memilih TPS yang jauh, karena yang dekat aja belum tentu jadian;
5. Di TPS antri yang tertib, jangan mengharap dikasih snack atau makanan, karena ini bukan hajatan;
6. Di dalam bilik suara seperlunya saja, tidak usah selfie atau malah tidur, kasian yang ngantri;
7. Buka surat suara... tidak perlu di video, ini bukan unboxing seperti di YouTube;
8. Surat suara bukan surat cinta, tidak usah dibaca bolak balik, apalagi baca sambil senyum sendiri, ntar dikira gak waras;
9. Jangan pilih yang kebanyakan janji manis, pilih saja yang apa adanya, contohnya aku dan kamu;
10. Coblos sepenuh hati, jangan sepenuh jiwa, karena jika pilihanmu kalah, paling kamu sakit hati, tidak sakit jiwa;
11. Setelah dicoblos, lipat kartu suara secara rapih, meskipun hatimu sedang berantakan;
12. Cari kotak suara, masukkan surat suara... jangan masukkan amplop isi duit, karena bukan di tempat kondangan... lagian KPU juga udah kaya;
13. Sebelum jarimu dicelup tinta, gak perlu diputer-puter apalagi dijilat, emangnya oreo;
14. Pulang gak perlu dadah-dadah apalagi cium tangan petugas TPS, ntar ketahuan jomblonya.
15. Pulang lewat jalan yang benar, masa lalumu yang tidak benar, tidak usah diulang lagi
16. Jangan ngupil habis dicelup.

Pesan-pesan itu lebih kepada mengingatkan agar jangan lupa ke TPS besok. Makanya ditambah-tambah macam-macam yang rada lucu alias lawak. Malam ini saya, memuatnya kembali untuk kita baca ulang.***

10 Feb 2024

Bupati Memberi Sambutan (Saja) pada Peringatan Israk-Mikraj Nurul Ikhwan

Bupati Memberi Sambutan (Saja) pada Peringatan Israk-Mikraj Nurul Ikhwan


PERINGATAN Israk-Mikraj Nabi Besar Muhammad Saw 1445 (2024) Masjid Nurul Ikhwan dilaksanakan di lapangan bola volly Ivora Club, Gg Ivora, Sungai Raya, Meral, Jumat (09/02/2024) malam. Dihadiri oleh Bupati Karimun, Dr. H. Aunur Rafiq bersama beberapa orang tokoh masyarakat dan Kabag Kesra sebagai rombongannya kegiatan diikuti masyarakat Sungai Raya dengan antusias. Menjadi penceramah pada kegiatan ini Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karimun, Drs. H. Jamzuri.

Bupati datang lebih awal ke lokasi acara malam ini. Untuk keperluan ini bahkan rombongan bupati melaksanakan salat Isya di Masjid Jamiatul Khair, Sungai Raya yang berjarak tidak jauh dari lokasi acara. "Kita Isya di sekitar acara untuk dapat datang agak awal," kata bupati saat berangkat dari rumah kediaman bersama rombongan. Anggota rombongan sendiri melaksanakan salat magrib berjamaah di Musolla Al-Busyro, rumah dinas.

Tentang mengapa bupati datang lebih cepat karena malam ini kebetulan bupati mempunyai dua agenda kegiatan dalam waktu bersamaan. Salah satunya adalah memenuhi undangan panitia peringatan Israk-Mikraj Masjid Nurul Ikhwan ini. Dia sudah menyanggupi akan hadir meskipun sorenya baru saja dia kembali dari Batam untuk tugas lain. Bupati hanya minta memberikan sambutan lebih awal karena harus mengikuti kegiatan lainnya lagi di Baran Dua.

Jadi, pada peringatan Israk-Mikraj ini bupati tidak sempat mengikuti rangkaian acara lainnya. Tidak dapat juga mendengar dan menyimak tausiah agama yang akan disampaikan Pak Kankemenag itu. "Saya mohon meninggalkan lokasi acara ini setelah sambutan saya ini," pintanya kepada panitia dan hadirin saat memberikan sambutan. Para hadirin dapat memaklumi keadaan itu. Bahwa bupati hanya bisa memberikan sambutan saja. Sebagai Kepala Pemerintahan Daerah (Karimun) dia tentu saja mempunyai kesibukan yang cukup padat. 

Kegiatan peringatan diteruskan dan berjalan dengan baik dan lancar. Sebelum bupati memberikan sambutan sudah diawali dengan beberapa acara seperti membawakan Solawat Busyro oleh Ibu-Ibu Gg. Ivora, pembacaan ayat-ayat alquran serta pidato laporan oleh Ketua Panitia. Setelah rangkaian acara itu baru sambutan dan pengarahan bupati. Dan setelah sambutan bupati dengan beberapa orang rombongan ikut meninggalkan loaksi kegiatan.***

3 Jan 2024

Tertinggal Kapal Tersebab Lalai, Bukan Tersebab Macet

Tertinggal Kapal Tersebab Lalai, Bukan Tersebab Macet


Catatan M. Rasyid Nur
HARUSNYA Senin (01/01/2024) itu kami sudah sampai di Karimun kembali. Berangkat pada Rabu (27/12/2023) sepekan sebelumnya sesuai jadwal perjalanan Tour Tiga Negara, ini harusnya rombongan kembali pada hari libur awal Januari. Ternyata rencana itu tidak terjadi. Di luar yang kami harapkan, kami baru bisa sampai di Karimun keesokan harinya, 2 Januari. Artinya kantor atau sekolah sudah dibuka.

Ada beberapa orang pegawai negeri dan honorer dalam rombongan kami. Mereka harus sudah kembali sebelum hari kerja. Dulu, sebelum berangkat sudah diwanti-wanti oleh peserta kalau penanggung jawab perjalanan ini memastikan akan kembali sebelum hari kerja. Dia menjamim kalau rombongan akan sampai di Karimun sebelum hari kerja dimulai. Maksudnya, rombongan akan kembali pada tanggal satu itu. "Kan masih libur, kita akan sampai sebelum masuk kerja," katanya waktu akan berangkat itu.

Nah ini disebabkan oleh kesombongan persiapannya atau tersebab lain, hanya Yang Maha Tahu yang tahu. Nyatanya rombongan terlambat satu hari. Secara fakta, penyebab kami tidak sampai ke Karimun pada awal bulan baru di tahun baru, itu adalah karena kami tertinggal kapal. Kapal sudah berangkat meninggalkan Pelabuhan Putri Harbour sementara bus yang membawa kami belum juga sampai ke pelabuhan pada saat seharusnya sudah di pelabuhan.

Keterlambatan itu bisa saja beralasan, tersebab jalan macet dari Kuala Lumpur dan dari Nilai Tiga, titik kami berangkat menuju Johor Baru untuk ke Pelabuhan Putri Harbour pada hari itu. Dan tersebab macet di jalan menyebabkan bus yang kami tumpangi terlambat sampainya. Namun pertanyaannya, mengapa harus berangkat terlalu lambat dari Kuala Lumpur atau dari Nilai Tiga? Pertanyaan lainnya, mengapa jadwal kapal paling akhir yang diambil? Bukankah ada jadwal Johor Baru-Karimun sebelum jadwal terakhir itu?

Inilah kunci masalahnya. Artinya dapat dikategorikan sebagai satu kelalaian. Terlalu percaya dengan kebiasaan sebelum-sebelumnya. Penanggung jawab perjalanan tidak berpikir jelimet dalam perancanaan kepulangan dari Negeri Seberang ini. Maka terkurunglah rombongan satu malam di Johor Baru. Terpaksalah peserta merogoh saku lagi untuk bayar hotel dan makan malamnya. Berharap ditanggulangi oleh penanggung jawab sebagai orang yang membawa rombongan, nyatanya tidak. Peserta harus membayar sendiri kebutuhan yang disebabkan oleh keterlambatan ke pelabuhan ini. Sesungguhnya bukanlah macet yang menjadi sebab, tapi lalailah yang penyebab utamanya.

Terlepas dari itu semua, pada hakikatnya ada hikmah juga di dalamnya. Keterlambatan yang tidak diinginkan ini tidak juga semata kesalahan dan kelalaian manusia. Pasti zat Maha Kuasa menjadi penentu segala-galanya. Jika merasa ada kelalaian kita, tetap harus itu diterima dan kembalikan ke Yang Maha Kuasa.***