Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Puisi HARGAI PAHLAWAN

Puisi HARGAI PAHLAWAN


Hargai Pahlawan 

Oleh : Wahyu Nurhalim S.Pd.I M.Pd 

Dulu... 

Setetes darah, dan tanah diperjuangkan 

Demi gemetarnya meriam yang sangat buat nyaman 

Setelah merdeka harusnya muda mudi 

Menghargai para pahlawannya kini 

Bukan hanya baik budi 

Namun belajar dengan matang di setiap lini 

Hargai pahlawanku 

Hargai negeriku 

Hapuskan kesedihan 

Raih gemerlap dan torehkan 

Salam doaku untukmu pahlawanku 

Salam keringat suksesku 

Dan bakti terhadap riauku 

 

Riau, Minggu 14 November 2021

Pantun Pahlawan Revolusi

Pantun Pahlawan Revolusi


MASIH tema pahlawan revolusi bicara kita. Hari ini masih tanggal 2 Oktober. Tanggal hari ini pada tahun 1965 itu masih kacau-balau dan simpang-siur berita kematian tujuh jenderal TNI yang belakangan diketahui dihabisi oleh orang-orang PKI. Ya, orang suruhan PKI jika dia bukan PKI. Maka bicara hari ini kita tidak berlebihan jika masih bicara jasa pahlawan revolusi. Bagi kita, negara ini sudah selesai dan kita wajib mempertahankannya dengan mempertahankan Pancasila. Kita jaga agar kita tetap sedasar dalam bersatu di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Saya gubah beberapa bait pantun dengan tema Pahlawan Revolusi. Silakan kita baca.

Pantun Pahlawan Revolusi

Ingin bersinar mata boneka
Lampu halaman tolong hidupkan
Kalau benar cinta Negara
Jasa pahlawan jangan lupakan

Riak haruwan di Pantai Nongsa
Ikan tenggiri tiga sekawan
Banyak pahlawan pembela Bangsa
Pahlawan Revolusi lupakan jangan

Daun bidara tidak berbau
Dipakai mantra hilangkan rasa
Cinta Negara raihlah ilmu
Itulah cara menanam jasa

Bacalah takbir sambil mengaji
Kalau mengaji dapat pahala
September Oktober bulannya sakti
Yang lebih sakti ya Pancasila

Harum gaharu dekat cendana
Jangan dibuat pembakar api
Rakyat bersatu kuat Negara
Jauhkan sifat hasad dan dengki
Tbk, 02/10/2021

Demikianlah pantun kita di ujung pekan, awal Oktober ini.***
Literasi Pantun untuk Mengangkat Budaya Dunia

Literasi Pantun untuk Mengangkat Budaya Dunia


SUDAH kita ketahui bersama kalau pantun sudah menjadi milik dunia. Tidak lagi sebagai hasil sastra dan budaya dari satu bangsa atau satu bahasa tetentu saja. Dulu, pantun itu identik dengan bahasa Melayu. Pantun lebih dikenal dan berkembang di Negara dengan bahasa Melayu atau bahasa yang berakar Bahasa Melayu seperti Bahasa Indonesia.

Terhitung sejak akhir tahun 2020 pantun sudah menjadi milik dunia. Berarti sekaligus menjadi budaya dunia. UNESCO atau Badan PBB untuk Pendidikan, Sains dan Kebudayaan sejak 17 Desember 2020 telah menetapkan pantun sebagai warisan budaya dunia tak benda. Sejak itu artinya pantun sudah menjadi warisan dunia. Harus dijaga dan dipelihara juga oleh dunia.

Sebagaimana dirilis oleh banyak media bahwa penetapan pantun menjadi warisan dunia tak benda merupakan penetapan ke-11 bagi Indonesia yang diakui UNESCO. Sebelumnya, beberapa tradisi Tanah Air, semisal pencak silat, seni rakit perahu pinisi, tari saman, dan batik sudah ditetapkan badan PBB yang berkantor pusat di Paris, Prancis, itu. (https://mediaindonesia.com) Jadi, pantun sudah menjadi warisan dunia. Tidak lagi warisan negara atau bangsa tertentu saja.

Tentang pantun dengan segala imbasnya memang selalu enak dibicarakan. Enak juga membaca setelah tuntas menggubahnya. Sebagai Warisan Dunia Tak Benda yang berasal dari khazanah Melayu, Indonesia (salah satunya) tentu saja menjadi kebanggaan kita Bangsa Indonesia membicarakan pantun. Sepantasnya pula kita akan senantiasa menggubah dan membacanya.

Kali ini saya menggubah beberapa bait pantun untuk ajang silaturrahim kita. Seperti lazimnya kita akan saling bersilaturrahim di akhir pekan ini dengan tulisan-tulisan ringan. Salah satunya adalah menulis pantun. Dan pantun hari ini saya beri tema ‘ibu’ karena tiba-tiba saja saya mengenang ibu saya yang sudah tiada sejak lama. Selamat menikmatinya.

 

PANTUN IBU

I

Air di laut berwarna biru

Indah dilihat mata memandang

Ayo diikut perintah Ibu

Usah dibuat bak Malinkundang

 II

Pasang teraju si layang-layang

Benang ditambah sampai angkasa

Ibu menyuruh anak sembahyang

Jangan dibantah nanti durhaka

III

Manisnya tebu tumbuh di taman

Pupuk melukut subur daunnya

Ridhonya Ibu ridhonya Tuhan

Bila diikut mendapat syurga

IV

Ditanam kacang tumbuhnya labu

Benihnya dua putik menguncup

Jikalau sayang kepada Ibu

Jauhkan dia sengsara hidup

V

Batang bambu dibelah dua

Mari diikat membuat bangku

Bila Ibu sudah tiada

Doa  dihajat sepanjang waktu

Demikianlah silaturrahim kita untuk literasi kali ini. Semoga ibu kita dan seluruh keluarga kita senantiasa dalam keadaan sehat senantiasa.***

Pantun Silaturrahim di Akhir Pekan

Pantun Silaturrahim di Akhir Pekan


AHAD di akhir pekan (sejatinya di awal pekan) ini saya menyuguhkan beberapa bait pantun. Pantun ditulis semata untuk menjalin silaturrahim di antara kita. Sebagai penyuka literasi, banyak karya tulis yang dapat kita buat. Tapi karya tulis berupa pantun yang notabene adalah budaya bangsa hendaklah kita hasilkan pula.

Lebih dari itu, pantun pun sudah menjadi warisan dunia tak benda yang berasal dari Negara kita. Dengan Bahasa Melayu (Indonesia) yang halus dan indah, pantun akan menyampaikan pesan-pesan yang indah juga. Inilah pantun kita pada hari ini.

Kalau bulan tak bercahaya
Hujan kan turun membasuh bumi
Kalau Tuan sudi membaca
Inilah pantun penyejuk hati

Anyamlah tikar dari pandan
Pandan dipotong tidak bergetah
Kita berpencar tak berdekatan
Silaturahim terjalin di dunia maya 

Memukul pandan pakailah batu
Batu berlapis usah lepaskan
Di akhir pekan banyaklah waktu
Waktu menulis jangan lalaikan

Dipukul sakit bawa tengadah
Cobalah lihat ke matahari
Covid menghimpit membuat gundah
Tetap semangat kuatkan hati

Kuntum merekah harum baunya
Ikatkan kokoh dekat jendela
Berpantun kita cukuplah sudah
Pertemanan kokoh terus dijaga
Tbk, 13062021

Begitu sajalah pantun kita pada hari Ahad ini. Semoga ada manfaatnya.

 
Pantun Silaturrahmi untuk Literasi

Pantun Silaturrahmi untuk Literasi



KALI ini saya menyapa teman-teman, sahabat semua yang berkenan membaca. Untuk terus mengembangkan dan memajukan budaya bangsa, khsusunya pantun yang sudah menjadi 'warisan dunia tak benda' yang diajukan Indonesia dan Malayisa sejatinya kita terus berkarya pantun. Ada banyak karya puisi yang diciptakan manusia, namun pantun telah menjadi karya puisi istimewa.
Izinkan saya menyampaikan 5 (lima) bait pantun berikut,

Petik sekuntum mewangi bunga
Bunga cempaka dalam jambangan
Salam santun untuk semua
Hati berduka sekali jangan

Andai kan bulan tak bercahaya
Mungkin gerimis di tengah hari
Andai kan Tuan merasa duka
Bawa menulis menghibur hati

Menebang tebu tolong tuakan
Gulanya manis masak sendiri
Terbitkan buku jadi harapan
Wajib menulis setiap hari

Tebunya manis tanam sendiri
Dijual tidak tumbuh di halaman
Guru penulis jadi isnpirasi
Teladan anak dicontoh teman

Kain katun berwarna-warni
Membuat baju tolong jahitkan
Berbalas pantun sampai di sini
Di lain waktu kita lanjutkan
Tbk,27032021

Demikianlah, semoga ada manfaatnya.