Tanjungbatu, Saya Rindu: Sepenggal Kisah di Masa Lalu (ke-15)


Oleh: Khairul Amri
Bermastautin di Pekanbaru

Pengumuman kelulusan pun akhirnya keluar.

Alhamdulillah, saya lulus Sekolah Dasar (SD) dan juga Madrasah Ibtidaiyah (MI). Keduanya itu ada ijazahnya. Saya tamatkan dua sekolah dasar sekaligus, umum dan agama.

Itulah keistimewaan di kampung saya, dulu. Anak-anak seumur saya, waktu itu, banyak waktunya bisa dimanfaatkan untuk menimba ilmu. Belum ada pengaruh kemajuan seperti sekarang. Saya merasa bersyukur, lahir di era itu. Karena waktu bermain tetap tak hilang, tapi banyak pula waktu untuk belajar ilmu umum, ilmu agama dan mengaji di surau.

Mak saya bangga sekali, dengan kelulusan itu. Apalagi Nenek saya. Begitu juga tentunya Paman, yang siap-siap akan membawa saya untuk tinggal bersama di Tanjungbatu, Kundur, Kepulauan Riau. 

Sambil menunggu ijazah keluar, saya banyak berpikir ulang: apakah tawaran Paman ke Tanjungbatu saya terima atau tidak. Sementara Mak dan Nenek saya, serta keluarga lainnya pun sudah mendukung. 

Pertimbangan saya waktu itu, karena memang masih anak-anak, tidak lain dan tidak bukan adalah masa-masa bermain. Termasuk kasih sayang, yang selama ini diberikan Nenek sudah tentu tak akan saya dapatkan lagi. Pasti akan berbeda, sayang Nenek ke saya dengan sayang Paman.

Sedangkan Mak, karena sudah terbiasa saya tidak tinggal bersama dia, dirasakan itu tidak terlalu memberatkan hati. Namun demikan, jujur, Mak sampaikan ke saya: dia pun sebenarnya berat melepas saya pergi ke Tanjungbatu. Namun, hal itu lagi-lagi dia sembunyikan. Sebab, kalau tidak bersama Paman maka jenjang pendidikan formal saya belum tentu akan bisa dilanjutkan.

Mak pun akhirnya merelakan saya pergi bersama Paman. Dia berpesan, jaga diri di rantau. Baik-baik perangai dan laku, walau tinggal di rumah Paman sendiri. Rajin belajar dan mengaji. Rajin bekerja, jangan malas. Sholat jangan sampai tinggal2 lagi, supaya bisa jadi 'orang', mengikut jejak Paman.

Nilai ujian dan ijazah saya, sudah keluar. 

Ijazah SD dan MI, keduanya bisa saya bawa ke Tanjungbatu. Tapi dokumen itu disimpan oleh Paman, agar tidak hilang atau tercecer oleh saya. 

Rencana berangkat ke Tanjungbatu pun dirancang. Paman yang sudah terbiasa hidup di rantau, sudah menyiapkan segala sesuatu untuk berangkat.

Tiket kapal, dan keperluan lain sudah lengkap. Saya pun dibekali tas dan ransel, untuk tempat pakaian. 

Pikiran saya masih berkecamuk. Kawan2 di kampung akan ditinggalkan. Kebiasaan mandi di sungai Kampar, setiap hari, tak akan bisa lagi. Waktu bermain, entah bisa seperti di kampung entah tidak. Dan, semua janji dan bujukan Paman, apakah akan seperti itu adanya atau tidak.

Semua itu bermain2 di kepala saya. Hati saya sebenarnya tak tenang. Tapi mau bagaimana lagi, Mak dan Nenek sudah ikhlas melepas. Saya pun harus tegar dan semangat untuk pergi merantau.

Tujuan merantau: Tanjungbatu, Kundur, Kepulauan Riau. Negeri yang asing bagi saya.

Dulu negeri ini asing. Tapi setelah di rantau, Tajungbatu malah banyak menyimpan kenangan dan pelajaran. Tanjungbatu justru membuat saya selalu rindu ke sana. 

Tanjungbatu... Saya rindu ke sana lagi. Semoga selalu ada kesempatan, dan disempatkanNya saya ke sana. Amin. **

SHARE THIS

Author:

M. Rasyid Nur Pensiunan Guru PNS (2017) dan Tetap, Mengabdi di Pendidikan

Facebook Comment

0 Comments: