Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan

25 Jul 2022

Berlibur ke Anambas Ternyata Mudah

Berlibur ke Anambas Ternyata Mudah


MOMEN mengikuti kegiatan MTQ (Musabaqah Tilawatil Quran) ke-9 Provinsi Kepri 2022 (14-20/ 07/ 2022) di Kabupaten Kepulauan Anambas ternyata membuka mata tamu dan peserta MTQ, menyaksikan langsung betapa Kepulauan Anambas, ini adalah destinasi wisata yang cukup baik di Provinsi Kepri. Dan ternyata juga info bahwa Kepulauan Anambas adalah Pulau Tropis terbaik di Asia benar-benar dapat disaksikan dan dilihat langsung. Setidak-tidaknya bagi kafilah di luar Kepualauan Anambas, kesempatan selama MTQ ini adalah waktu terbaik membuktikan informasi yang didengar selama ini.

Harus ditegaskan di sini bahwa pandangan tentang Kepulauan Anambas selama ini adalah daerah yang sangat jauh, terisolir dan tidak mudah untuk didatangi. Benar kalau info-info tentang Anambas dan Tarempa itu adalah daerah yang indah. Lautnya jernih dan karangnya juga indah. Ikan-ikannya juga menghiasi lautnya. Tapi pandangan sebagai daerah yang amat jauh itu membuat orang yang ingin datang berpikir panjang. 

Namun, setelah mengikuti dan membersamai pelaksanaan MTQ Provinsi di Anambas 2022 tahulah kita bahwa untuk pergi ke Anambas tidaklah susah. Baik dari Batam atau dariTanjungpinang dan atau dari kota-kota kabupaten lainnya ke Anambas sudah ada transport, khususnya taransport laut. Sementara untuk transport udara juga sudah ada dari Batam atau dari Tanjungpinang, meskipun tidak langsung mendarat di Kabupaten Kepulauan Anambas.

Sesungguhnya sudah banyak juga ditulis oleh media bagaimana kita mau ke Anambas. Media online atau media cetak, termasuk media televisi sudah sering ternyata menulis perihal Anambas. Kafilah Kabupaten Karimun pada even MTQ Provinsi kemarin menggunakan transport laut. Begitu juga Dewan Hakim (DH) dari Karimun, Tanjungpinang dan Batam pun menggunakan armada laut. Saya sendiri bersama DH lainnya, dari Karimun menggunakan kapal Ocianna via harbour Bay. Sementara kafilah Karimun menggunakan KM Karunia Jaya. 

Baik Kafilah maupun para DH untuk ke Anambas melewati Pelabuhan Punggur, Batam. DH, misalnya berangkat dari Punggur pada pagi hari, sekitar pukul 08.30 WIB. Menggunakan KM Seven Star Island rombongan sampai di Pelabuhan Tarempa pukul 16.55. Hampir 9 jam di atas kapal itu. Saya membaca pengumuman di dalam kapal itu tentang trayek kapal dari dan ke Anambas untuk kapal yang sama. 1) Tanjungpinang-Letung-Tarempa (Senin, Rabu, Sabtu) pukul 07.00 sedangkan  2) Tarempa-Letung-Batam-Tanjungpinang (Selasa, Jumat, Ahad) pukul 07.00. Artinya ada tiga kali bolak-balik dari dan ke Anambas. Mudah, kalau begitu.

Harga ticket adalah Rp 400.000 jika melihat tulisan yang tertera di ticket yang kami miliki. Para DH tidak membayar ticket masing-masing karena sudah dibelikan oleh Biro Kesra Pemprov Kepri. Jadi untuk menuju Kabupaten Kepulauan Anambas mempunyai luas lautan 98,73 persen dan daratan hanya 1,27 persen sudah sangat mudah. Membaca data di beberapa media di kabupaten ini terdapat 255 pulau  besar dan kecil yang lima pulau diantaranya merupakan pulau terdepan dan berbatasan dengan perairan negara tetangga. Menurut catatan hanya 26 pulau yang berpenghuni, sedangkan sisanya 229 buah tidak atau belum berpenghuni.

Ingin ke Anambas? Sementara inni dari luar Kepri tidak ada penerbangan langsung ke Anambas. Harus terbang dulu ke Kepri via Batam atau Kota Tanjungpinang. Jika dari Jakarta, ada penerbangan setiap hari ke Batam dan Tanjungpinang. Tapi dari luar Jakarta sepertinya harus melalui Batam saja. Belum ada yang ke Tanjungpinang. Karena kapalnya berangkat dari Tanjungpinang, berarti penumpang dari manapun mesti ke Tanjungpinang untuk menyeberang ke Anambas. Ingin mencoba, ayo. Mari.***

8 Jul 2022

Berburu Wisata ke Pulau Buru

Berburu Wisata ke Pulau Buru


BAGI penyuka treveling sebaiknya memasukkan Pulau Buru sebagai salah satu destinasi trevelingnya. Tentu saja untuk pergi berwisata ke Pulau Buru. Ini Pulau Buru di Kabupaten Karimun, Provinsi Kepri. Jika Pulau Buru di Kepulauan Maluku lebih kita kenal sebagai pulau tempat 'pembuangan' para penjahat atau napi tertentu maka Pulau Buru ini adalah pulau yang adem ayem di Kabupaten Berazam, Karimun.

Jika kita adalah penyuka treveling tapi mungkin tidak cukup 'doku' untuk tempat-tempat yang jauh maka mari ke Pulau Buru. Biayanya murah-meriah saja. Kebetulan saya, Rabu (05/07/2022) lalu berkesempatan pergi ke Buru walaupun hanya satu malam saja. Ternyata ada beberapa lokasi wisata yang dapat dikunjungi di sana. Saya sendiri dan rombongan yang ikut memang tidak sempat mengunjungi semuanya.

Kita tahu, jika dari Pulau Karimun akan ke Pulau Buru kita bisa naik KM (Kapal Motor) Buru Indah yang trayeknya Tanjungbalai Karimun- Moro. Kapal ini singgah di Pulau Buru dan kita bisa turun di sana. Sekitaran 50 menit sudah sampai di Pelabuhan Buru. Terserah mau turun di Pelabuhan Buru atau pelabuhan satunya lagi, Pelabuhan Kandis. Dengan biaya Rp 25 ribu kita sudah sampai di sana. Selanjutnya bisa menyewa sepeda motor (ojek) atau minta diantar menggunakan ojek. 

Dari masyarakat saya sempat ngobrol dan bertanya ini-itu. Pertanyaan utama saya tentu saja tentang objek wisata yang ada di Buru. Katanya, objek wisata peninggalan sejarah menjadi salah satu yang biasa paling awal dikunjungi karena dekat dengan pelabuhan. Itulah Makam Moyang Seraga dan Makam Badang Perkasa. Untuk kedua loaksi ini memang perlu ekstra hati-hati mengingat jalan ke sana belum terlalu bagus. Bahkan untuk ke Makam Badang Perkasa ada 200-an meter kami harus turun dari kendaraan untuk berjalan kaki.

Destinasi ketiga yang layak membuat nyaman adalah Pantai Tanjung Ambat. Kami kebetulan menginap di sini karena memang ada rumah-rumah singgah (home stay) yang dapat disewa. Kamar kecil dapat disewa dengan uang Rp 200 ribu sementara rumah dengan ukuran besar seharga Rp 500 ribu. Ruangannya serasa hotel biasa. Bersih. Pantai Tanjung Ambat menghadap ke arah Pulau Moro. Artinya kita dapat menyaksikan Pulau Moro nun jauh di depan sana.

Ternyata masih ada destinasi yang kami tidak sempat mengunjunginya, yakni Sumur Tua Batu Perigi Hj R Patimah, Klenteng Cetiya Dewa Bumi dan Masjid Tertua di Kabupaten Karimun, Masjid Abdul Ghani. Yang terakhir ini saya isteri sempat melewatinya dan berfoto. Tapi tidak sempat masuk karena waktu yang singkat siang itu. Tidak akan menyesal jika kita menjadikan Pulau Buru sebagai salah satu destiansi wisata kita, khususnya bagi kita yang berada di Kabupaten Karimun.***

7 Jul 2022

Satu Malam di Pulau Buru

Satu Malam di Pulau Buru


TEPAT pukul 09.00 KM (Kapal Motor) Buru Indah trayek Tanjungbalai karimun- Moro meninggalkan Pelabuhan Domestik Tanjungbalai Karimun. Kapal ini akan singgah di beberapa pulau sebelum sampai di Moro, termasuk singgah di Pulau Buru. Saya dan isteri serta beberapa orang lainnya ikut naik kapal ini bersama sekian puluh penumpang lainnya. Kelihatannya penumpang tidak terlalu ramai. Dengan begitu empat orang anak-anak yang masuk rombongan kami tidak harus berdiri walaupun tidak membeli ticket. Anak-anak di bawah 12 tahun masih diperbolehkan naik tanpa ticket.

Bergerak pelan dan berangsur kencang KM Buru Indah mengharungi laut Karimun arah Buru. Buru adalah nama kota dai Kecamatan Buru yang kebetulan juga berada di Pulau Buru, Kabupaten Karimun. Ini bukan Buru yang ada di Kepulauan Maluku yang lebih dikenal sebagai pulau tempat 'pembuangan' itu. Pulau Buru di Karimun adalah pulau dengan banyak catatan sejarah. Termasuk salah satu masjid tertua di Indonesia yang sudah menajdi cagar budaya.

Tepat pukul 09.55 kapal kami sampai dan merapat di Pelabuhan Buru. Pelabuhan yang sederhana untuk ukuran kecamatan yang lalu-lintas orangnya cukup tinggi antar pulau yang menggunakan pelabuhan ini. Kami melanjutkan perjalanan dengan naikk ojek, sepeda motor yang oleh pemiliknya dipergunakan untuk mengangkut orang ke tujuan yang diinginkan. Kami meneruskan ke Tanjung Ambat, tempat yang memang sudah kami rencanakan dari rumah. Kami ingin berlibur di Kota Buru di Pulau Buru. Sering juga nama Buru ini diplesetkan menjadi Burunai, negara yang kaya-raya itu. Dengan ongkos ojek 10 ribu rupiah setia motornya kami menggunakan lima motor untuk delapan orang rombongan kami.
 
Di Tanjung Ambat ada home stay untuk menginap. Kami menyewa salah satu rumah dengan dua kamar. Di dalamnya ada dua tempat tidur kapasitas dua orang. Saya bersama isteri di salah satunya sementara Ibu mertua dengan Yanti, isteri Emi, adik dari isteri saya. Kami mendapat informasi bahwa di sini ada sebanyak 15 kamar ukuran kecil (satu tempat tidur, bisa berdua) 2 kamar besar yang masing-masing bisa dengan dua kamar tidur dan ada ruang tamu. Kami memilih kamar besar karena kami berjunlah 8 orang, empat dewasa 4 anak-anak. 

Sebagai informasi, sewa kamar kecil adalah Rp 200 ribu tanpa ekstra bed. Kalau dengan ekstra harus menambah Rp 50 ribu lagi. Sedangkan untuk kamar besar sewanya Rp 500 ribu per malamnya. Dengan tambahan 2 ekstra bed kami hanya mengeluarkan sewa kamar sebesar Rp 600 ribu. Dan kami menyewa hanya untuk satu malam. Ya, hanya satu malam. Saya teringat lagu 'satu malam di Malaysia' tapi kami menikmati liburan ini dengan 'satu malam di Buru'.

Sejak sampai di lokasi Tanjung Ambat siang Rabu (06/07/2022) itu kami hanya menikmati suasana pantai dengan airnya belum pasang. Kata masyarakat di situ, air akan naik pada sekitar pukul 15.00 (sore). Anak dan cucu yang ikut rombongan kami sebenarnya sudah ingin mandi-mandi di pantai dengan pasir putih itu. Mereka harus sabar menunggu air pasang, sebentar lagu. Hingga sore kami tidak kemana-mana. Setelah makan siang di Kafe Daniel Tanjung Ambat kami istirahat dan anak-anak justeru turun ke bibir pantai. Mereka akhirnya mandi.

Acara malam kami juga hanya menikmati suasana malam dengan aneka cahaya lampu yang dipasang di sekitaran TRanjung Ambat. Di halaman dan di sekitar rumah-rumah (home stay) dipenuhi cahaya lampu. Makan malam kami juga di kafe ini. Sebagian mengisi waktu menyaksikan televisi di kamar sementara saya ikut nimbrung nonton bareng, pertandingan sepakbola antara Indonesia melawan Thailand. 

Pagi Kamis (07/07/2022) kami mengisi waktu dengan berkeliling Pulau Buru. Secara khusus kami mengunjungi beberapa lokasi bersejarah yang ada di Pulau Buru seperti Makam Moyang Seraga dan Badang Perkasa. Kedua cagar budaya ini kami kunjungi dengan naik tossa (semacam ojek roda tiga) yang bisa mengangkut kami semua sekaligus. Kurang lebih satu jam diperlukan untuk menempuh jalan ke kedua situs itu. Sepertinya jalan-jalan ke arah situ belum menjadi perhatian Pemerintah untuk dibangun. Namun kami tetap bisa sampai ke lokasi itu. Itulah kenangan terbaik yang kami dapatkan berlibur satu malam di Buru.***

8 Feb 2022

Diajak Suami Jalan-jalan ke Bali (9)

Diajak Suami Jalan-jalan ke Bali (9)


Bag 9 Ke Pantai (Kuta, Tanah Lot, Batu Bolong)  

Oleh Dra. Hj. Yulita Muaz

Setelah seharian kami menjelajahi daerah pegunungan, kami pun kembali ke hotel. Di hotel istirahat saja. Anakku sambil baring-baring nonton tv, suamiku baca majalah, dan aku asyik dengan HP sambil buka google.
"Pi, kapan kita ke Jakarta?" tanya anakku.
"Maunya kapan, . Oh ... ya.., Papi belum bawa Mami ke Pantai Kuta."
"Oh ... Ya, Pi, kita belum jalan jalan ke wisata pantai. Hoooreeee," kataku.

Aku langsung lihat di google, aku buka maps, lihat peta pulau Bali. Pulau Bali terletak di sebelah timur Jawa Timur dengan luas 5.700 km persegi. Bagian tengah dari barat ke timur berupa daerah pegunungan, antara lain Gunung Batur dan Gunung Agung merupakan gunung tertinggi di Bali. Di Pulau Bali juga banyak terdapat sungai, salah satunya sungai Ayung yang panjangnya 62,5 km bermuara di selat Badung.

Peta terus kuamati, di sepanjang pantai selatan yang berhubungan langsung dengan samudera Indonesia. Berjejer objek-objek wisata pantai antara lain, Uluwatu, Pantai Jibaran, Pantai Kuta, Tanah Lot, Pantai Batu Bolong dan masih banyak yang lain.

Setelah sarapan pagi, kami langsung menuju objek wisata pantai. Bli membawa mobil tidak lambat dan tidak pula terlalu laju. Aku teringat, dan aku tanya, bli itu daerah yang di bom itu dimana? "Oh ya Bu, nanti kita lewat situ, itu namanya kampung Legian yang terletak di kelurahan Legian, kecamatan Kuta, kabupaten Badung Bali."

Disepanjang pinggir jalan Legian berjajar toko toko yang menjual souvenir, banyak kafe, hotel.  Banyak bule di sini ada yang joging,  berjalan dan banyak juga yang duduk duduk di kafe. Mereka santai, terlihat  kampung ini kampung bule, tak terlihat orang kita di sini. Suasananya natural tidak terlihat hiruk-pikuk.

Perjalanan dilanjutkan menuju pantai Kuta. Mobil diparkir, kamipun memasuki area pantai Kuta.
Kami mencari payung santai untuk duduk. 

"Mau minum apa?" tanya suamiku. 

"Mau minum air kelapa muda," kataku.
"Mau minum apa, Bli," tanya suami ku. 

"Minum kopi aja pak," kata bli. Dan setelah semua minuman datang, langsung dibayar oleh suamiku. Eeeehhh, ternyata kelapa muda satu harganya 50 ribu rupiah, kopi 1 gelas 5 ribu rupiah.
Pantas bli minta kopi, ternyata harga kelapa muda lebih mahal dari pada harga secangkir kopi. Sambil minum kelapa muda kami menikmati keindahan pantai.

Pantai Kuta mempunyai hamparan pantai yang sangat landai, dan bibir pantai sangat luas, dengan pasir putihnya. Di bibir pantai ini tempat berenang, diujung bibir pantai dipasang bendera, sebagai area batas berenang.

Pantai Kuta berhadapan langsung dengan samudera Indonesia, di ujung bibir pantai terdapat deburan ombak yang cukup tinggi. Di siitulah orang terutama bule bule bersilancar, mereka sangat lincah sekali, mendaki ombak, turun dan muncul lagi, aku dan anakku asyik memperhatikan orang bersilancar.

Banyak juga tourist baring baring di kursi santai, mereka berjemur  menghangatkan badan, sambil memandang ke tengah laut. Aku dan anakku berjalan menyusuri pantai, pasirnya lembut putih, kami berjalan dilaut dangkal, hanya ada riak riak ombak.

 Haiii aku melihat touris perempuan berjalan, santai saja tak pake bra, mereka tidak risih, yang tua yang muda berjalan di pasir putih. Apakah ini yang selalu disebut sumur. ya terjawablah sekarang, itulah sumur. Aku terus mengamati, dalam pandanganku mereka seperti anak anak" yg tidak ada menimbulkan gelora.

Kuarahkan pandangan sepanjang pantai, setiap jarak kira kira 5 meter berjejer payung payung, payung itu dipenuhi para touris, kebanyakan mereka berpasangan, mereka bercengkrama sambil menikmati air kelapa muda.

Sedang asyiknya kami memperhatikan suasana pantai Kuta, datang seorang ibu" , bu mau pijat, nanti badan ibu enak, saya pijat pakai minyak, saya berfikir, bagaimana pula pijat disini, saya pakai baju muslim, dengan halus saya tolak, maaf ya bu, saya tidak pijat, kataku.

Setelah puas kamipun meninggalkan pantai Kuta, dan kami menuju pantai lain yaitu pantai Tanah Lot.

 

Pantai Batu Bolong

PANTAI TANAH LOT

Pantai tanah Lot berhadapan langsung dengan samudera Indonesia, daerahnya berbatu batu.

Saya tanya bli, Tanah Lot itu apa artinya, bli menjelaskan. Tanah Lot itu daratan yang ada ditengah laut bu.

Artinya ketika air laut serut telihatlah bongkahan bongkahan batu, di ujungnya terdapat bongkahan batu seperti bukit, bukitnya kecil,
Ketika air surut orang bisa menuju kebukit tengah laut. dan ketika air pasang bongkahan bomgkahan batu tertutup air laut.

Sebelum memasuki area Tanah lot, terdapat pintu gerbang yang penuh ukiran ukiran Bali, banyak tourist befoto di gapura.

Aku perhatikan, yang banyak kesini tourist dari Taiwan dan Cina, tak terlihat bule, semua kebanyakan touris dari Asia timur. mereka ramai sekali datang untuk menikmati deburan ombak Tanah Lot.

Sambil duduk duduk di batu, kami memandang deburan ombak yang menghempas ke bukit. Ombaknya menggila, tinggi, besar dan berbuih.ombak seolah olah mengejar ke tanah lot, menghempas dan surut kembali.
Setelah puas menikmati hempasan ombak, kami meninggalkan tanah lot.

Di jalan pintu keluar berderet toko toko souvenir, macam macam yang dijual, ada batik bali, kaos bali, ada piring bali, ukiran dari kayu, anyaman rotan, lukisan dll.aku memilih piring bali yang unik, anakku kain bali, mii mau beli ini kata anakku. Ya ambil saja kataku.

Kami memborong barang barang yang tak ada di daerahku
Suamiku asyik melihat ukiran kayu yang unik,
Eeeh kataku, itu untuk apa ?. adalah kata jawab suamiku.

 Suamiku mengambil yang hitam dan yang coklat, yang hitam Afrika, yang coklat Indonesia, aku tertawa terpingkal pingkal.

Bli mau ini dua, utuk apa itu kataku, setelah dibungkus dan dibayar, baru suamiku cerita, itu pesanan dari kawan yang bekerja di dinas kesehatan, dia minta tolong belikan si Afrika dan Indonesia. Ini digunakan sebagai alat peraga ketika sosialisal keluarga berencana.

PANTAI BATU BOLONG.

Aku perhatikan kenampakan-kanampakan alam yang ada di Pulau Bali unik, awannya terlihat seperti lukisan hewan di langit, pantainya, terdiri dari pantai yang terjal dan bukit bukit batu yang menjorok ketengah laut. Jarak pantai Batu Bolong dengan Tanah Lot, tidak begitu jauh. Struktur alamnya hampir sama, terdapat bongkahan  batu memanjang ketengah laut, ujungnya terlihat seperti bukit. dibawah bukit terlihat lobang, yang tembus kesebelahnya, fenomena alam ini disebut batu bolong. 

Alamnya sangat menarik, batu itu merupakan hamparan dari karang hitam yang menyatu dengan tebing. Pasirnya halus kehitam hitaman.gerakan air laut tidak begitu besar, hanya buih buih yang terlihat. Di sini banyak juga tourist yang datang, mereka mengambil kamera dan berfoto dengan latar batu bolong.  

MENUJU PULANG.

Setelah menikmati laut Batu Bolong, perut pun sudah terasa lapar.

"Pi, kita makan dimana?" kataku. Oh ... Aku ingat anakku yang perempuan satu lagi dia sudah pernah ke Bali, ia selalu cerita, di Bali ada makanan Daerah Bali, Ayam Batutu.

"Gimana, Pi, kita makan ayam batutu saja?" kataku, "Gimana Yit , bolehlah pi." Mobilpun dibelokkan ke tempat makan-makan yang khusus menyediakan ayam batutu.

"Mau ayam apa, Buk?" Aku bingung, yang aku tau ayam batutu. "Oh ibu mau yang digoreng atau yang direbus?" Kami semua milih yang digoreng. Di situ aku melihat ibu makan di sini, mereka pakai jilbab, bearti tempat ini untuk semua orang. Lega hatiku, alhamdulillah.

Selanjutnya kami siap siap untuk  kembali. Sebelum menuju hotel, suamiku minta pada bli, untuk mengantarkan ke jembatan, yang dikenal dengan tol laut. Jembatan ini bernama Tol Bali-Mandara. Tol ini menghubungkan tiga daerah, Bandara Ngurah Rai, Benoa dan Nusadua. Jembatan ini ketika air laut pasang posisinya berada ditengah laut. Tapi saya kurang menikmati jembatan ini, keadaan air laut surut, jembatan terlihat berdiri di daratan lumpur. Badan sudah capek, matapun ngantuk.

"Beli oleh-oleh, Mi." 

"Gimana, Yid, mau oleh oleh?" 

"Iyalah, Mi," kata anakku. Teman Iyid banyak yang pesan pay susu, bli mengarahkan mobilnya ke pusat penjualan oleh-oleh. Di situ tertulis PUSAT OLEH OLEH BALI " KRISNA ". Setelah selesai kami pun siap kembali besoknya ke Jakarta. 

Itulah parjalanan wisata Tiga Hari Lima Malam di Bali. Ini adalah perjalanan wisata ke Pulau Bali, bulan April tahun 2017 yang kami nikmati bersama sekeluarga. Alhamdulillah, sungguh besar anugerah-Nya.***






7 Feb 2022

Diajak Suami Jalan-jalan ke Bali (8)

Diajak Suami Jalan-jalan ke Bali (8)



Bag 8 Ke Istana Tampaksiring

Oleh Dra. Hj. Yulita Muaz 

Ketika berwisata di daerah Tampaksiring, teringat olehku  pelajaran Sejarah waktu Sekolah Dasar. Ingat saya di sini terdapat Istana Presiden Tampaksiring. Istana ini merupakan tempat peristirahatan presiden. Istana ini berada di daerah perbukitan ketinggian lebih 700 m dari permukaan laut.

Aku mantan  guru Geografi di SMA (sekarang sudah pensiun ) memahami pembagian iklim atau klasifikasi iklim menrut Junghuhn. Dia membagi iklim berdasarkan ketinggian tempat, suhu dan jenis tumbuhan . Areal Tampaksiring terletak di zone sedang beriklim sedang dengan udara sejuk.

Tampaksiring adalah suatu desa yang berada di kecamatan Tampaksiring Kabupaten Gianjar. Daerahnya berbukit bukit. Dari tempat parkir mobil kami berjalan menaiki bukit, di atas bukit. Di situlah terletak Istana Presiden. Di lereng bawahnya terdapat pura Tirta Empul. Pura ini merupakan situs sejarah di bawah pengawasan pemerintah.yang selalu ramai dikunjungi wisatawan.



Dihalaman pura bagian tengah terdapat mata air yang sangat jernih dan sejuk ditampung dalam kolam, dialirkan kekolam berada dibawahnya, melalui pencuran pencuran ke bak pemandian, airnya dianggap suci oleh orang hindu

.Di sini banyak orang mandi mandi, semuanya boleh mandi, tidak ada batasan, banyak touris torist yang mandi menggunakan pakaian yang dipakai, laki laki perempuan bersatu mandi di kolam pemandian. 

Sebelum memasuki area Tampaksiring, pengunjung terlebih dulu beli tiket, antrian orang sangat panjang sekali, baik touris yang bersal dari manca negara, mau pun turis lokal yang datang dari berbagai daerah  Indonesia. ramai sekali kataku, setelah antri sekian lama kamipun dapat masuk.

Sebelum mengelilingi areal, semua pengunjungi dipakaikan kain khas Bali, berupa kain sarong diikat dengan kain berrwarna kuning. Karena kami tak memahami cara makaiannya, kamipun diajarkan oleh bli cara memakai kain sarong.

Kami menelusuri jalan dipinggir bak pemandian. Banyak touris touris yang mandi, kelihatan air sangat sejuk. petugas yang ada dekat situ mengajak kami mandi, terimakasih bli jawabku. kamipun menglilingi area ini.

Ketika memasuki satu area ada bule yang dikasi karet oleh petugas, ternyata   memasuki area itu rambut harus diikat dan tidak boleh terurai. Memang masyarakat bali sangat kental dengan adat istiadat.

Akupun istirahat sejenak sambil melihat ke istana presiden, posisiku berada dibawah pohon, pohonnya tidak begitu tinggi, buahnya lebat, buah apa ini kataku dalam hati, buahnya sebesar jeruk bali, permukaan kulitnya licin dan mengkilat, aku raba buahnya. Aku belum pernah melihat buah ini, kataku sambil meraba,  aku ingin tau,  buah apa ini ? .aku penasaran, kebetulan dekat situ ada petugas yang membersihkan area ini. "Bli, ini buah apa? Aku belum pernah lihat buah ini"

Dengan panjang lebar bli menceritakan buah ini adalah buah maja. Buah maja, aku pernah mengenal namanya, dalam belajar sejarah disekolah dasar. Itu tentang asal usul nama kerajaan Majapahit dimana di tengah hutan ditemukan buah maja yang rasanya pahit. 

"Apakah dari buah ini asal kata Kerajaan Majapahit?" tanyaku. 

"Iya," jawab Bli. Ternyata di derah ini buah maja sengaja dilestarikan. Kata Bli, buah ini hampir punah.  Di Tampaksiring banyak ditanam pohon pohon maja.dmana mana objek yang aku kunjungi. Di Tampaksiringlah pertama kali aku melihat buah maja yang katanya rasanya pahit sekali. Akupun memoto buah maja sebagai kenang kenangan, sayang aku tidak  berfoto dibawah oohon maja.

6 Feb 2022

Cerita Tol Cipularang Jawa Barat

Cerita Tol Cipularang Jawa Barat

Tol Cipularang

Catatan Hariyanto, SIP

Saya memiliki pengalaman unik berupa mistis saat saya mau ke Bandung melewati tol Cipularang (Cikampek-Purwakarta-Padalarang). Tol Cipularang adalah satu jalan tol penghubung Kabupaten Purwakarta dan Bandung. Menurut data di Wikipedia, jalan tol ini selesai dibangun pada akhir April dan memiliki panjang 54 km.

Saya memiliki pengalaman mistis ketika melintas tol --Cipularang-- ini. Seingat saya pada saat bulan puasa tahun 2015, saat saya masih di SMK waktu itu saya beserta keluarga mau mengantar sepupu saya mau sekolah pesantren di Purwakarta. Dari Subang menuju ke pesantren itu tentu terlebih dahulu melewati tol Cipali dan Palimanan. Seiring berjalan ruas jalan menuju tol Cipati tiba-tiba mobil yang saya naiki langsung terhenti secara mendadak dan rem pun begitu mendadak. Lalu mesin itu mati dengan sendiriannya.

Saya lupa itu ruas jalan ke km berapa. Yang saya ingat, setelah berhenti di situ sang sopir pun mengecek mesin mesin hingga ban selama beberapa menit. Setelah dicek dengan rinci tidak ada kerusakan. Bahkan sebelum berangkat pergi mobil yang saya tumpangi sudah diperbaiki mesinnya. Maklum karena akan berpergian jauh, biasanya memang terlebih dahulu diperbaiki.

Ternyata memang setelah saya buka google tentang tol Cipularang ini ternyata memang agak begitu mistis bahkan sering terjadi kecelakaan maut. Berdasarkan informasi yang saya dapat bahwa sebelum melintasi tol ini tentu harus membaca doa dan berdzikir agar insyaallah selamat hingga ke tujuan dan dijauhkan dari hal-hal tidak diinginkan.***


5 Feb 2022

Diajak Suami Jalan-jalan ke Bali (7)

Diajak Suami Jalan-jalan ke Bali (7)


Bag 7 Oh Ramai  Sekali

Oleh Dra. Hj. Yulitas Muaz

Perjalanan wisata dilanjutkan, mobil  kembali melaju, arah selatan, menyusuri jalan di pinggang  gunung Batur, menuju  gunung Agung. Jalannya berliku-liku mendaki dan menurun. Arealnya merupakan hutan, ditumbuhi bermacam pohon, ada hutan bambu, tampak juga pohon rotan, pohon pinus, dan jenis pohon lainnya. Bli menunjukkan pohon cendana yang banyak terdapat di Bali.

Hutan yang terdapat di Pulau Bali, tidak selebat hutan yang terdapat di Pulau Sumatera, menghijau lebat dan gelap sejenis hutan hujan tropis, tapi tetap indah dilihat mata.  

Suamiku asyik bercerita dengan bli, aku juga ikut berkomentar tentang kondisi geografis pulau Sumatera, tempat daerah asalku. sepanjang jalan suasana sepi. Rasa gembira sambil bercerita membuat suasana gembira di hati kami masing-masing.

 Setelah menelusuri areal hutan di sepanjang jalan, bli membawa kami ke objek wisata budaya.
Orang sangat ramai sekali, turis-turis tumpah ruah di sini, mereka datang berombongan, terutama orang Eropa dan Amerika. "Ini Pura Basakih," kata bli kepada kami. Pura ini terletak di lereng Gunung Agung,  merupakan gunung tertinggi di Bali, dengan ketinggian 3.142 m dml (dari muka laut). Terletak di Kecamatan Rendang Kabupaten Karang Asem Bali.


Suasana sangat ramai sekali, banyak masyarakat Bali menuju ke sini, semuanya memakai baju putih, perempuan memakai kebaya putih dengan kain batiknya, sedangkan yang laki-laki memakai putih putih. Ada yang datang pakai bus , ada mobil pribadi , ada pakai motor dan ada juga berjalan kaki. Bagi pejalan kaki tempat tinggalnya dekat dengan areal ini semua perempuan menjunjung sejenis talam.

"Kenapa ramai betul di sini bli," tanyaku kepada bli.
"Masih suasana hari raya Galungan, Buk," kata bli. Oooohhh.

Perjalanan dilanjutkan, dari pinggang Gunung Agung terus menyusuri jalan yang mulai menurun.
Kami melihat perkampungan, di sepanjang jalan dipenuhi Pure sebagian besar sudah berlumut, tidak ada dibersihkan, dicat atau diperindah, semua dibiarkan begitu saja sepertinya. Kami tak melihat penduduk lalu lalang di jalan raya, dimana penduduknya? kataku.

Bli menceritakan, kenapa banyak Pura di sini, yah setiap ada orang yang baru membina rumah tangga terlebih dahulu membangun pura. Pura dibangun di bagian depan , rumah tempat tinggal dibangun di belakang Pura.  Aturan adat sangat dijunjung masayarakat Bali.

"Penduduk tinggal di mana, Bli?" tanyaku lagi. 
"Penduduk tinggal di bagian belakang, di ditulah semua aktivitas penduduk." 
"Oh, pantas," kataku. Kita tidak menemukan apa apa di sepanjang jalan raya selain pura di areal pedesaan.

Pura pura yang terlihat disepanjang jalan, dibiarkan ditumbuhi lumut, tidak dicat, terlihat seperti bangunan tua. suasana terlihat suasana yang kental dengan budaya Bali. yang berada di daerah pedesaan. (bersambung)


3 Feb 2022

Diajak Suami Jalan-jalan ke Bali (6)

Diajak Suami Jalan-jalan ke Bali (6)


Bag 6 Menikmati GWK
Oleh Dra. Hj. Yulita Muaz

Setelah puas berwisata di "Sacred Monkey Fores Ubud, Bali," kami melanjutkan perjalanan menuju GWK (Garuda Wisnu Kencana).  GWK Bali adalah sebuah taman budaya yang terletak di desa Ungaran, Kuta Selatan Kabupaten Badung. Tepatnya di Jalan Raya Uluwatu, Ungaran , Kuta Selatan, Badung, Bali.

Sebelum melanjutkan perjalanan ke GWK, aku minta bli mengantarkan kami ke Masjid mengingat jarum jam sudah menunjukan pukul 12.00 ditandai masuknya waktu sholat zuhur. Lalu bli membelokkan taxinya ke dalam gang. Di situ terdapat masjid yang sayapun lupa apa namanya dan di daerah mana berada. Setelah siap kami pun melanjutkan perjalanan. Karena perut udah terasa lapar, saya minta bli mengantarkan kami ke Rumah Makan Padang, dan terus melanjutkan perjalanan.

Jam menunjukan pukul 13.00 WIB, kami sampai di GWK. Cuaca sangat panas. Kami berjalan menuju tempat penjualan tiket masuk. "Mau membeli tiket 4, Mbak," kata bu Jusmin . "Empat ratus ribu, Bu," kata si penjual tiket. Mahal juga, ya, kataku dalam hati.

Terik matahari sangat kuat. Kami harus  berjalan menuju lokasi GWK. Degan nafas terengah-engah kami sampai juga. Di situ hanya ada patung, ya patung Garuda Wisnu Kencana. Objek ini tersohor kemana-mana.
 
Hanya ada tiga patung yang ada di situ, satu dewa Wisnu (menurut kepercayaan orang Bali) sedang menunggangi burung garuda, yang satu lagi patung kepala burung garuda yang cukup besar dan patung kepala Wisnu kencana. Di situ sedang dibangun GWK yang katanya tingginya lebih 100 meter, menjadi ikon daerah Bali. Di sebelah kiri kanan terdapat dinding-dinding batu cadas bewarna putih. Di hamparannya terbentang rumput-rumput hijau, dan di tengah rumput itu terdapat jalan aspal.

Untuk melepaskan lelah, kami duduk di hamparan rumput yang hijau, tanpa terasa jam pun sudah menunjukan pukul 15 WIB. DN kami bersiap-siap untuk meninggalkan GWK.

2 Feb 2022

Diajak Suami Jalan-jalan ke Bali (5)

Diajak Suami Jalan-jalan ke Bali (5)


Bag 5 Indahnya Kintamani

Oleh Dra. Hj. Yulita Muaz

Setelah menikmati keindahan Tegalalang, kami melanjutkan wisata ke tempat lain. Mobil meluncur menuju utara, jalan semakin mendaki, langit cerah , udara semakin dingin, karena sudah memasuki daerah pegunungan.

Wilayah Indonesia dilalui dua jalur pegunungan dunia yaitu Sirkum Meditrania dan Sirkum Pasifik.
Wilayah bagian barat Indonesia dilalui Sirkum Medtrania, mulai dari pulau Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores, Alor, Solor , Wetar, yang berakhir di Saparua, Kepulauan Aru. Daerah ini ditandai banyaknya gunung, baik yang aktif maupun tidak aktif. Salah satunya gunung Batur  dan Agung yang terdapat di Bali.

Gunung Batur dan gunung Agung letaknya berjauhan merupakan gunung berapi aktif berlokasi di desa Batur  Kecamatan Kintamani Kabupaten Bangli, Bali. Sedangkan gunung Agung terletak di kecamatan Rendang kabupaten Karang Asem Bali. Dari Kintamani kita melihat gunung Batur dan gunung Agung bergandengan seolah olah tidak mau terpisahkan, dikakinya terhampar danau Batur.

Secara umum orang menyebutnya daerah Kintamani. Setelah memasuki daerah Kintamani , kami turun dari mobil, suasana disini sepi, dibagian kiri jalan terhampar pohon pohon. Kintamani berada pada ketinggian  lebih 900 m dml dari muka laut, menjadikan udara sejuk pada siang hari dan dingin pada malam hari.

Dari jalan kami memandang, hamparan danau yang didindingi gunung Batur dan gunung Agung. Saat itu gunung Batur terlihat seperti memuntahkan awan dari perutnya. Dari kejauhan danau dan gunung Batur yang bergandengan dengan gunung Agung terlihat bak lukisan, yang terhampar di langit luas, Kalau kita lihat dari jalan, kaki gunung dan danau Batur jauh berada di bawah jalan. 

Menurut keterangan bli,gunung Agung merupakan arah tidur, posisi kepala mengarah ke gunung Agung, kedua  gunung ini berada sebelah utara arah timur.

Mobil menelusuri ke danau Batur, jalan terjal dan menurun. Saat kami berwisata ke sini, suasana sepi, hanya beberapa touris yang kelihatan. Kami tidak melihat adanya hiruk pikuk, dan kesibukan manusia. Nuansanya tenang, setenang air danau Batur yang berwarna kehijau-hijauan.


Kami melihat ada tiga orang ibu-ibu paroh baya menjanjakan jualannya.Aku lihat-lihat jualannya, ternyata dia menjual aksesoris. "Yid, coba pilih gelangnya, cari yang bagus ya,"  kataku. Harganya cukup murah. Kemudian datang lagi seorang ibu menawarkan aksesoris dari kayu cendana. Karena aku kasihan aku beli juga. Suamiku juga membeli kacang rebus dengan ibu ibu yang lain. Sambil menikmati kacang rebus kami menikmati keindahan danau Batur, gunung Batur dan gunung Agung.

Kami melanjutkan perjalanan. Mobil menelusuri jalan pinggir danau. "Oh, ada perkampungan," kataku.
Aku tanya bli, "Ini desa apa, bli?" 
"Ini desa Kedisan, Bu," jawabnya.
Di sepanjang jalan desa Kedisan itu terpasang umbul umbul seperti janur, suasana sepi sekali, tidak terlihat satu orang warga yang berjalan di jalan. Kemana warganya ya, kataku dalam hati. Kami turun mlihat suasana desa Kedisan yang saat itu sepi.

Dalam pikiranku yang masih bertanya tanya, bli menawarkan pada kami wisata ke desa Trunyan.
Bli terus bercerita, Desa Trunyan ini banyak dikunjungi bule, karena di sini suatu tempat  pemakaman yang mayat tidak dikuburkan. Diletakan begitu saja. 
"Tidak bau, bli?" Suamiku bertanya. 
"Tidak," jawab bli. "Di situ banyak pohon taru menyan," kata bli menambahkan.
"Di mana lokasinya?" kata suamiku. 
"Kita harus naik perahu, Pak," kata bli.
"Gimana Mi?" tanya suamiku. 
"Tak usahlah Pi," kataku. Anakku juga tak mau. Kamipun berbalik arah meninggalkan Desa Kedisan, kembali menelusuri jalan tepi danau, terus mendaki menuju dataran tinggi Kintamani. Selamat tinggal Kintamani, kataku dalam hati. Mengagumkan sekali keindahan alam di sini.

1 Feb 2022

Diajak Suami Jalan-jalan ke Bali (4)

Diajak Suami Jalan-jalan ke Bali (4)



Bagian 4 Melanjutkan Perjalanan Wisata Bersama Suami.

Oleh Dra. Hj. Yulita Muaz

Tegalalang Rice Terrace.

Selepas magrib kami sampai di hotel dan aku lihat suami pun baru sampai setelah mengikuti rapat kerja. Kami sama-sama sampai meskipun tanpa ada janjian. Pak Jusmin ngasih tau suamiku. "Pak, kami besok mau kembali ke Jakarta." 

"Kok. cepat sekali, kan besok kita bisa jalan jalan? Jalan sama-sama," kata suamiku.

"Yah, tak apa apa, Pak. Lain waktu kita bisa jalan sama-sama," kata Pak Jusmin. Setelah istirahat sebentar di lobi hotel, kami menuju kamar masing masing. 

Besoknya Pak Jusmin beserta isteri dan anaknya pamit. Kami hanya bisa mengantar sampai ke lobi. Saya peluk Bu Jusmin, "Sampai jumpa lagi, ya," kataku.

Sejenak, "Kita mau kemana?" tanyaku. 

"Kita pesan taksi," jawab suamiku. Lalu kami naik texi. Taxi mulai bergerak meninggalkan hotel dan aku bertanya, "Mmau kemana, Pak?"  kata sopir taxi. Kemudian sopir taxi mengeluarkan semua brosur brosur objek wisata. Aku diskusi dengan anakku, "Kemana kita  ya?" kataku.

Aku ingat ketika aku belajar di sekolah dasar, ada pembelajaran ilmu bumi. Aku sangat suka dengan pelajaran ini, selalu ada pelajaran membuat peta, peta Pulau Sumatera, Jawa dan Bali. Sampai sekarang aku ingat pelajarannya,  gunung gunung, sungai sungai dan danau danau, ibu kota propinsi, bandara bandara. Itulah materi pelajaran waktu di sekolah dasar dulu. Aku ingat danau yang terkenal di Bali.

"Ke Danau Batur, bli," kataku ke sopir taxi. Mobil mulai berjalan agak laju, saya menikmati suasana sepanjang jalan, kami meninggalkan Kabupaten Badung menuju arah utara, yang suasananya mulai nuansa perkampungan.

"Ini daerah apa, bli?" katakuku. 

'Kita sudah memasuki Kabupaten Gianjar, Bu," kata bli. Kabupaten Gianjar berada di sebelah utara Kabupaten Badung. Jalan sudah mulai mendaki karena memasuki daerah pegunungan, cuaca mulai sejuk, mobil terus meluncur menuju arah utara.

Di depan, aku melihat banyak mobil parkir sepanjang jalan, "Itu ada apa, bli?" tanyaku. 

"Oh, itu objek wisata, Buk. Nanti kita berhenti di situ," kata bli menjelaskan. Kami pun turun. Kulihat banyak sekali tourist di sini. Di pinggir jalan banyak dijual beraneka souvenir. Anakku tertarik dengan tas anyaman dari rotan, "Mau, Mi," kata anakku. Dan aku menyuruhnya mengambil tas yang dia suka.

Lalu aku, suami serta anakku menyeberangi jalan melihat keindahan alam. Woouuu indah sekali, kataku dalam hati. "Ini daerah apa?"

"Tegalalang Rice Terrace." Terletak di dusun Ceking Kecamatan Tegalalang Kabupaten Gianjar Bali.
Mata pencarian penduduknya kebanyakan di sektor pertanian. Saat itu cuaca tidak begitu panas, angin sepoi sepoi, pohon pohon melambai lambai, udara sejuk nyaman dan adem.

Kami pandang hamparan sawah di lereng bukit, sawahnya bertingkat-tingkat, berkelok kelok menghijau, tak terlihat daunnya yang menguning. Padinya sama tinggi, sawah ini terletak di dua lereng bukit. Di sini terhampar tanaman padi mulai dari lereng menurun ke lembah dan naik lagi ke lereng bukit. Sawah di sini berundak atau bertingkat tingkat, undakan lahan pertanian ini dikenal dengan terasering.  

Terasering adalah mengolah lahan pertanian di lereng bukit, tujuannya ketika hujan lebat airnya mengalir dari satu petak sawah kepetak sawah yang dibawahnya sehingga tidak terjadi erosi atau pengikisan tanah oleh air.        

Banyak turis menuruni lereng, menikmati keindahan Tegalalang. Mereka turun menelusuri pematang sawah. Ada yang berombongan, ada juga berdua, mereka asyik berlari-lari kecil di pematang sawah.    

Kami tidak turun menelusuri pematang hanya memandang keindahan Tegalalang dari lereng bukit. "Bagus ya ,Pi. Alamnya indah," kataku. Anakku juga merasa puas melihat sistem pertanian di Bali. Saya buka gougle, digambarnya dilihat dari hasil foto  udara, tergambarlah sawah itu seperti lingkaran berlapis lapis, inilah daerah "Tegalalang Rce " ucap saya kagum. (bersambung)

29 Jan 2022

Diajak Suami Jalan-jalan ke Bali (3)

Diajak Suami Jalan-jalan ke Bali (3)


Bagian 3 Jalan Jalan Bersama Bu Jusmin

Oleh Dra. Hj. Yulita Muaz

Pagi pagi kami udah bangun. Langsung mandi. Setelah semuanya siap kami menuju restoran hotel. Di restoran ternyata sudah ramai para tamu yang makan. Kami pun mengambil makanan sesuai selera dan menu yang tersedia. Buat kami, satu hal yang melegakan adalah karena di situ ada ditulis halal. Bali dengan mayoritas non muslim tentu saja mesti menjadi perhatian untuk menentukan makanan. Sebagai seorang muslim ini penting.

Kuperhatikan orang yang ada banyak bule. Rombongan tourist dari China, Jepang , Korea dan Hongkong, ada juga rombongan dari Singapura. Suamiku  nampaknya asyik berbicara dengan turis wanita asal Singapura. Ehem. 

Ketika mengambil makanan, aku melihat seorang yang memakai cadar berdiri di sampingku. Kuperhatikan wajahnya, rupanya orang Indonesia. Dia berdua dengan suaminya ke Bali. Sepertinya hanya aku dan dialah yang memakai baju muslim di situ. Aku kebetulan tengah memakai jilbab panjang dan dia pakai cadar. 

Sehabis sarapan, suami siap siap  berangkat untuk mengikuti rapat dengan temannya pada tempat yang berbeda. Sebelum berangkat ke Bali suamiku dan temannya sudah janjian duluan, untuk membawa isteri dan anak jalan-jalan ke Bali. Aku diperkenalkan oleh suamiku dengan istri teman suamiku. Ternyata namanya Bu Jusmin. Orangnya cantik. Mirip Erni Johan, penyanyi tempo dulu itu, kataku dalam hati.

Setelah beres semua aku  telp bli, "Hallo, bli," kataku. "Bisa ngantar kami jalan-jalan?"
"Maaf ya, Bu, saya tak bisa ngantar Ibu, kami masih dalam suasana hari raya Galungan," katanya. "Tapi Ibu tak usah khawatir , nanti teman saya jemput Ibu ke hotel, ibu tunggu aja di situ," kata bli.

Setelah menunggu berapa saat taxi pun datang. Aku bersama Bu Jusmi dan anak anak langsung naik taxi. Objek yang kami tuju adalah "Sacred Monkey Fores Ubud Bali." Objek wisata ini adalah sebuah kawasan hutan lindung yang sangat asri dan luas. Di dalamnya terdapat pura tempat yang sakral bagi masyarakat Bali. 


Daya tarik utama dari objek ini adalah terdapatnya ratusan kera abu-abu berekor panjang. Menyaksikannya berlompat dari satu dahan ke dahan lainnya adalah satu pemandangan yang menyenangkan. Kami menelusuri jalan yang ada di kawasan hutan lindung.  Di sepanjang jalan banyak terdapat pohon-pohon besar dan usianya sudah ratusan tahun. Pohon-pohon itu banyak ditumbuhi lumut. 

Jalan-jalan yang terbuat dari semen juga ditumbuhi lumut. Di sini juga terdapat patung patung kera, patung ular besar-besar sehingga membuat suasana agak menyeramkan. Kera-kera bergerombolan bermain dengan anak anaknya, melompat berlari bergantung di pohon pohon, bermain di jalan jalan semen. Tapi kera ini tidak mengganggu pengunjung. Petugas selalu mengingat kan kepada orang " yang ada disitu, jangan ditatap mata kera. 

Turis-turis bule banyak ke sini. Aku melihat serombongan turis asal Inggris, mereka bermain dengan kera. Ada yang dipangku, ada yang ditarok di bahu dan ada juga di atas kepala. Aku berpikir kenapa kera ini begitu jinak? Kami dekati turis itu. Oh, ternyata terlebih dahulu kera itu dibacakan mantera mantera oleh si pawang kera. Kami pun foto bersama dengan si bule.

Kami melanjutkan  perjalanan mengelilingi kawasan hutan lindung. Aku dan anakku bisa berfoto dengan kera dengan jarak agak jauh. Bu Jusmin dan anaknya juga berfoto dengan kera. Kami foto bersama sebagai kenang-kenanga berjalan-jalan ke Bali. Itulah. perjalananku di kawasan hutan lindung, "Sacred Monkey Fores Ubud Bali" yang cukup terkenal itu. (bersambung)

28 Jan 2022

Diajak Suami Jalan-jalan ke Bali (2)

Diajak Suami Jalan-jalan ke Bali (2)


Bagian 2  Menuju Hotel

Oleh Dra. Hj. Yulita Muaz

Setelah puas berfoto dan menikmati keindahan bandara, suamiku langsung memesan taxi bandara. Kami menuju hotel Ramada Bali Sunsed Road, hotel bintang empat bertaraf international. Lokasinya di jalan Sunset Road Kabupaten Badung, Bali. Di Bali memang banyak terdapat hotel bertaraf internasional. Banyak turis-turis manca negara berkunjung ke daerah ini. Di Bali, hotel hotelnya tidak terlalu tinggi seperti yang terdapat di Jakarta dan kota Batam. Kebanyakan hotelnya tingkat empat atau tingkat tujuh. 

Tiba-tiba teringat kampung halamanku, kota Padang. Di sini hotelnya tidak begitu tinggi. Oh, ya baru aku tahu, Bali dan kota Padang langsung berhadapan dengan samudera Indonesia. Di sini terdapat pertemuan dua lempeng yaitu lempeng Indo Australia dan lempeng Ero Asia. Pada pertemuan lempeng ini sering terjadi tabrakan lempeng yang menimbulkan gempa bumi. Daerahnya dikenal dengan daerah rawan bencana (gempa). 

Disepanjang jalan,  banyak berjejer  jualan makanan-makanan. Aku hanya bisa memandang jualan yang dijajakan itu. "Oh, ada bule jualan pakai gerobak," kataku heran. Dari atas mobil kulihat bule itu sangat cekatan menjajakan jualannya. Suasana tampak ramai dan banyak orang yang lagi menyantap makanan yang ada di situ.

Kuperhatikan mobil-mobil yang melintasi jalan. Mobil itu dihiasi dengan bunga. Kuberanikan bertanya kepada Blii --pengganti panggilan abang-- si sopir taxi. "Bli, kenapa  mobil-mobil di sini dihiasi dengan bunga?" tanyaku. 

"Oh, itu Buk? Sekarang lagi merayakan hari raya Galungan katanya. Hari raya Galungan dirayakan oleh umat Hindu Bali setiap 210 hari menurut perhitunga kelender Bali." Pembicaraan terus belanjut. "Bli, besok bisa tak ngantar kami jalan-jalan? Kami mau melihat keindahan alam daerah Bali," tanyaku menambahkan.

Kemudian bli mengasih no hendponnya. "Besok kalau ibu mau pergi hubungi saya," kata bli. Mobil terus meluncur menuju hotel. Sepanjang jalan banyak masyarakat Bali memakai baju putih putih. Tak terasa kamipun sudah sampai di hotel. Kami pun lansung melangkahkan kaki naik tangga menuju lobi. Di kiri-kanan pintu lobi terletak payung warna merah dan patung.  Ciri khas Bali. 
 
Walaupun hotel itu kepunyaan (milik) orang asing, penataannya tidak meninggalkan nuansa Bali. Cepat kami menuju kamar untuk beristirahat. Dan karena satu harian menempuh perjalanan cukup jauh, perutpun terasa lapar. Kami harus mencari nasi Padang. Di sini sangat sulit mencari rumah makan nasi Padang.

Suamiku pun keluar mencari nasi Padang. Setelah menunggu cukup lama baru suamiku kembali. "Percaya, tak?" kata suamiku, "Nasi ini satu bungkus harganya tiga ratus ribu." 
 
"Masa iya?" kataku heran. Lalu suamiku menjelaskan lebih jelas. Karena hari sudah larut malam, nasi Padang hanya ada jual di bandara. Ongkos taxi ke sana sebesar Rp 250.000 dan pulang juga segitu, sedangkan nasinya harganya Rp 50.000 per bungkus. Kamipun makan dengan lahap. "Waahh mahalnya nasi Padang di Bali," gumamku. Akhirnya kami istirahat menunggu pagi. (bersambung)

26 Jan 2022

Diajak Suami Jalan - jalan  ke Bali (1)

Diajak Suami Jalan - jalan ke Bali (1)




Bagian 1. Keberangkatan Diundur

Oleh Dra. Hj. Yulita Muaz

Suamiku seorang Pegawai Negri Sipil (PNS) yang bekerja di salah satu instansi pemerintahan di Provinsi Riau. Sering mengikuti rapat kerja di kota-kota besar seperti di Jakarta, Surabaya, Medan, Bali Makasar, Menado dan kota-kota besar lainnya.
 
Di bulan April tahun 2017, suamiku mengikuti rapat di Bali. Beliau mengajakku ke sana. Kebetulan sekali, kataku. Aku yang mengajar di SMAN 1 Kundur ada libur  empat hari pada saat itu. "Siapa saja yang pergi," tanyaku. 
 
"Kita ajak Yid," kata suamiku. Waktu itu anakku Ryed berada di Jakarta. Ditelepon oleh suamiku, Ryed mau ikut mami-papi ke Bali, spontan dijawab anak ku, "Mau, Pi." katanya."Nanti Iyit nunggu saja di terminal bandara," kata anakku.
 
Tike tpun langsung dipesan suamiku, dua tiket,  Batam-Jakarta,  untukku dan suami. Lalu tiga tiket Jakarta-Bali untuk kami berdua dan anakku. Bokingan tiket ke Bali di-WA-kan suamiku ke Ryed. agar besok dia bisa cek in di Bandara Soekarno Hatta. 

Besoknya, pagi-pagi kami berangkat dari Tanjungbatu ke Batam menggunakan spead boat. Sampai di pelabuhan Sekupang langsung ambil taxi menuju bandara Hang Nadim. Jadwal keberangkatan pesawat Batam Jakarta pukul 12 WIB, sedangkan jadwal keberangkatan Jakarta-Bali pukul 14.30.  
 
Sampai di Hang Nadim kami langsung ke ruang tunggu. Setelah beberapa lama menunggu datang informasi, "Diberitahukan kepada para penumpang pesawat garuda tujuan Batam-Jakarta keberangkatan pesawat diundur." 
 
Ooohh dicansel, kataku. Suamiku langsung menelpon anakku bahwa keberangkatan pesawat diundur,  "Yid pesawat dikencel keberangkatannya." Karna anakku sudah chek in, mau tak mau dia berangkat ke Bali sendirian. Anakku ngasih tau, "biar Iyit tunggu di Bali aja Pi."Aku terdiam seribu bahasa. Anakku berangkat sendirian ke Bali. Hanya doa' yang kupanjatkan semoga anakku baik-baik saja di Bali.
 
Disaat aku melamun ada informasi lagi, "Kepada para penumpang pesawat garuda tujuan Batam-Jakarta dipersilakan naik pesawat, sebentar lagi pesawat akan berangkat." Hatiku lega mendengar pengumuman ini. Kamipun langsung menuju ke pesawat. Pukul 15.00 pesawat garuda mendarat di bandara Soekarno Hatta Jakarta. sedangkan anakku berangkat ke Bali pukul 14.30. 
 
Ketika mau keluar dari pesawat di pintu keluar berdiri dua orang pramugari cantik dan seorang pilot. Aku  kasi tau sama pilot, "Kami mau ke Bali. Ditinggalkan pesawat," kataku. 

"Coba Ibu nanti ke kantor garuda dan lapor nanti di sana," kata pilot . Yaa legaa kami sudah sampai di Jakarta. Aku telepon anakku kembali tidak ada sahutan. Au ulangi sekali lagi juga tak ada sahutan. Yaaaahhh anakku masih dalam perjalanan Jakarta-Bali, kataku dalam hati.

Untuk ke Bali kami ganti pesawat garuda yang lain yang akan berangkat pukul 16.00 WIB. Kamipun menunggu keberangkatan pesawat di ruang tunggu. Tak lama, "Kepada para penumpang pesawat garuda tujuan Jakarta-Bali dipersilakan untuk naik pesawat." Kami pun menaiki pesawat. Di dalam pesawat penumpangnya banyak orang bule. Sedikit sekali penumpangnya orang kita. Oooh, ini tourist, kataku dalam hati. Aku akui memang banyak orang berwisata ke Bali. Kemudian aku buka tv yang ada di sandaran kursi penumpang di depanku.  Di situ ada informasi, Jarak Jakarta-Bali 1200 km. Dengan kecepatan terbang 903 km per jam, dan ketinggian terbang 10.700 meter diatas permukaan laut.

Oooo masih di lapisan troposfir, kataku. Kulayangkan pandanganku ke jendela pesawat, di kejauhan terlihat juga pesawat Lion, terbangnya lebih rendah dari pesawat garuda. Pesawat Lion hilang-hilang timbul di awan. Kemudian aku tidak melihat lagi pesawat Lion, mungkin sudah mendarat di bandara kataku dalam hati.

Ketika mendekati Bandara Ngurah Rai, Bali pesawat berputar putar. Ada apa, ya, kataku, hampir setengah jam pesawat berputar putar di udara.  Akhirnya pesawat mendarat di bandara Ngurah Rai, Bali, kamipun turun, dan baru ku ketahui, ternyata pesawat lambat mendarat karena waktu itu rombongan wakil presiden baru saja mendarat. Suamiku sibuk nelpon anakku. Tapi Iyit tunggu di ruangan dekat roti O kata anakku. Hatiku lega. 

Bandara International Ngurah Rai, bagus sekali. Banyak ornamen-ornamen bernuangsa Bali. Banyak terdapat taman taman anggrek dengan beraneka warna. Kami pun tidak melupakan momen berfoto di sini. Kami terus melangkah menuju keluar. "Oooo di sini bagus sekali berfoto kataku," aku dan suami berfoto pada tulisan " Welcome To Bali. (bersambung)

19 Jan 2022

Oh, Indahnya Silaturahmi dan Kebersamaan

Oh, Indahnya Silaturahmi dan Kebersamaan


Catatan Dra. Hj. Yulita Muaz

PAGI itu, 8 Januari 2022, jam sudah menunjukkan pukul 11.16 WIB. Saat membuka WA, di situ berdering tanda panggilan. "Assalamua'laikum, Ibu. Saya, Untung. Kami dari angkatan 1987 / 1990 akan mengadakan reuni. Ibu kami undang. Datang ya, Bu?" 

Saya jawab, "Insyaallah." 

"Ini, kami kirimkan jadwal kegiatannya, Ibu."

Itulah dialog saya dan Untung yang saya ingat dia adalah siswa SMA Negeri 1 Kundur yang dulunya bernama SMA Negeri Tanjungbatu. Saya baca jadwal yang dikirimkan via WA itu kata demi kata. Oh, luar biasa sekali kegiatannya, kata saya dalam hati.

Hari Jum'at (14/01/2022) sekitar pukul 07.45 kami rombongan guru yang mengajar angkatan ini berangkat dari Tanjungbatu Kundur menuju kota Batam. Sampai di Batam kami disambut dengan sambutan yang penuh kerinduan. Semua senang, bahagia dan penuh dengan canda. Rindu yang begitu lama karena tidak berjumpa kini terobati. Terasa begitu indahnya kebersamaan ini.

Malamnya langsung diadakan Malam Silaturahmi dan Pengukuhan atas terpilihnya pengurus baru IKA (Ikatan Alumni) Gerbang 1987 / 1989 yang kembali dipimpin oleh Untung. Saya merasakan inilah malam yang penuh keakraban antara semua alumi dengan guru-gurunya. 


Besoknya, pagi Sabtu jadwal kegiatannya adalah wisata di Kota Batam. Dengan menggunakan dua bus Pemprov kami menuju Well Come to Batam yang terkenal kemana-mana itu. Apa yang tersirat dalam hati, rasanya sudah sering ke Batam tapi belum pernah mampir ke sini. Inilah pertama saya ke sini.

Perjalanan dilanjutkan ke Jembatan Barelang. Pemandangan yang sangat mempesona yang dapat mengusir rasa lelah di perjalanan. Puasnya hati. Dan setelah puas menikmati alam wisata perjalanan dilanjutkan ke Pantai Glory Melur Beach Barelang. Nuansanya seperti pantai di Bali. Pandangan dilayangkan ke tengah laut terlihat kapal tengker sedang sandar di tengah laut. Di Pantai Melur ini banyak orang mengadakan reuni, ternyata. Suasana hiruk-pikuk dalam kegembiraan mendominasi suasana di sini.

Sekadar informasi di sini ada pondok-pondok bernuansa daerah NTT sana. Sesungguhnya kita dapat bebas duduk di pondok itu, asal mau merogoh kocek. Harganya, mau pondok yang Rp 1.200.000 , atau yang Rp 500.000 , atau cukup duduk di payung santai dengan tarif Rp 300.000 per hari, itu terserah kita. Anda mau pilih yang mana, sepenuhnya kita yang memutuskan sesuai dengan isi kantong. Kalau tiket masuk per orang cukup murah. Hanya dengan Rp 15.000 saja kita sudah bisa masuk ke kawasan ini.

Ika Gerbang Alumi 87/90, sangat pintar membuat sekedul perjalanan sehingga kegiatan tidak membosankan. Di sini acara diisi dengan senam , pertandingan permainan tradisional, joget bersama dan makan bersama. Setelah puas menikmati pantai Melur kami melanjutkan perjalanan menuju Mesjid Sultan Mahmud di Batuaji. Sekali lagi, kebersamaan ini membuat ikatan silaturrahmi kami semakin kuat.

Itulah perjalanan wisata yang dipandu oleh IKA GERBANG 87/90, para siswa SMA Negeri Tanjungbatu yang tamat pada tahun 1990 lalu. Kini mereka sudah pada sukses di bidangnya masing-masing. Sebagai guru, betapa bangganya kami terutama dengan acara reuni dan silaturrahmi ini. Terima kasih kepada Ananda semua yang telah memperkenalkan daerah wisata kota Batam. Lebih dari itu, acara ini membuat salut kita semua khususnya atas keberhasilan IKA GERBANG 87/90 mempersatukan siswa dari jurusan IPS, Biologi dan Fisika.  Salam manis untuk kalian semua.***
 
Tanjungbatu 11 Januari 2022

Dra. Hj Yulita Muaz.

21 Okt 2021

Gara-Gara Google Map

Gara-Gara Google Map

TB Gramedia Bandung

Tepatnya tanggal 16 desember 2019 ketika itu saya berada di Subang Jawa Barat sedang menikmati masa liburan semester kuliah. Pada hari itu pula saya bersama saudara mau melakukan perjalanan ke kota Bandung, Jawa Barat untuk berlibur dan saya pribadi hanya ingin mencari sebuah buku refrensi untuk penelitian skripsi kelak. 

Dalam perjalanan dari Subang menuju Bandung ditempuh dalam waktu 1 jam lebih melalui jalan Tol Cipali-Palimanan juga melewati Tol Cipularang yang mana tol Cipularang ini tol paling angker tak lupa pla sebelum melakukan perjalanan tentu harus berdoa agar selamat diperjalanan. Ketika melintasi tol cipularang saya jadi teringat waktu itu tepatnya tahun 2015 tidak salah mobil saya pernah mogok ketika mau ke purwakarta mungkin nanti ada saya ceritakan pada tulisan berikutnya. Ketika melintasi Tol Cipularang ini dengan niat dan berdoa perjalanan pun lancar dan tiba di pintu masuk Tol Pasteur (bandung).

Ketika tiba di Bandung kurang lebih 1 jam ini saya langsung ke Pasar Baru pusat pembelajaan ada pakaian batik, jas, juga bahan pakaian utk acara pernikahan dll bahkan lengkap disitu saya sama mama saya itu masih mencari bahan jacket utk bapak saya yang berwarna krim saya keliling mencarinya bahkan sampe susah mencari tokonya dulu waktu SD sekitar 2008 ada bahannya tapi mungkin baru sekarang (2019) ke Bandung lagi jadi suasana agak berbeda. Sambil keliling mencari bahan jaket ternyata sudah tidak ada bahan itu hanya ada bahan itam juga putih karna warna cream sudah habis. Setelah selesai dari pasar baru bandung tentu saya ingin ke toko buku gramedia yang ada dibandung sebelum kesana kami tidak tau kemana arah jalannya beruntung lah saya punya handphone genggam bisa aplikasi google map sebagai pertunjuk arah. Dengan menggunakan google map ini kita tahu kemana pertunjuk arah ke toko buku google map sampe 2 kali keliling tapi alhamdulilah akhirnya sudah sampe juga.

Setibanya di toko buku itu saya mulai mencari buku refrensi yang terkait dengan penelitian skripsi saya juga saya melihat banyak kali buku buku yang sesuai dengan bidang-bidangnya. Setelah beberapa menit akhirnya saya menemukan buku itu dan alhamdulilah akhirnya dapat juga buku ini dan lengkap. Setelah selesai membeli buku itu saya lanjut perjalanan pulang tapi sebelum melakukan perjalanan tentu kami pengen sekali makan tepat di Lembang Jawa Barat untuk istirahat santai sebelum pulang ke Subang terakhir kali ke tempat makan di Lembang tahun 2010 saat saya masih SD kelas 5. Juga sebelum perjalan tentu mengaktifkan ponsel saya membuka google map karena sudah lama tidak melewati perjalanan Lembang ini.


RM Ampera Lembang

Dalam perjalanan menuju lembang dengan google map saya langsung mengklik perjalanan dari Bandung ke Lembang tinggal sopirnya saja mengikuti arah tersebut juga saya ingin tidur sejenak melepas rasa capek. Setiba-tiba saya bangun saya langsung terkejut saya ini dimana bahkan kata sepupu saya bilang **ini jalan alternatif lembang atau melewati gunung** jadi saya agak ngeh juga padahal saya mengetik ke Lembang tapi malah salah jalan. Ketika di jalan pengunungan itu saya lupa nama apa disitu jalan pun berbatuan dan begitu ngeri bahkan ada juga melawati jalan itu saya juga tak menyangka bisa nyasar ke jalan gunung ini sehingga tidak jadi makan siang di Lembang padahal saya kepengen sekali.

Didalam perjalanan itu kami sambil menanyakan ke masyarakat jalan menuju jalan dimana jadi mereka memberikan pertunjukan arah sampai ketemu masyarakat lagi kami memutuskan utk tak ke Lembang jalan raya jadi fokuskan ke Subang Kota saja karena sudah terlanjur. Ternyata jalan menuju gunung memakan waktu 2 jam lebih dengan perjalanan melewati jalan berbatuan goyang goyang bahkan melwati gunung kami tak lupa berdoa agar perjalanan ini bisa selamat juga setelah itu sempat sempat kami bercanda. Setelah memakan waktu 2 jam lebih akhirnya menemukan jalan raya tidak salah Jalan Cagak Subang jadi sudah kelewatan lembangnya mungkin belum kesampaian untuk makan di Lembang. Setelah sampai di Subang Kota kami langsung makan disebelah Terminal Bus rasanya tidak jauh beda dengan masakan rumah makan lembang. Juga kami melepas capek setelah perjalanan itu. Sekian***

26 Sep 2021

Celosia, Taman Wisata Karimun: Kini Tinggal Sejarah

Celosia, Taman Wisata Karimun: Kini Tinggal Sejarah


TANAIKARIMUN.COM - INILAH salah satu tempat hiburan Wisata Taman atau Wisata Tanaman yang tadinya ada di Tanjungbalai Karimun. Tempat ini tergolong baru sebenarnya yang ada di Kabupaten Karimun. Mungkin dalam satu-dua tahunan keberadaannya. Persisnya, mulai dikelola dan dikunjungi masyarakat pada tahun 2019 yang lalu. Sayangnya, kini taman ini sudah tinggal nama saja lagi. Covid-19 telah menjadi salah satu alasan kehilangannya.  

Tadinya, masyarakat tertarik dan berdatangan untuk melihatnya secara langsung setelah adanya postingan pengunjung di Medsos, FB, IG dan lainnya. Setiap sore begitu ramai masyarakat Pulau Karimun, terutama anak-anak muda remaja. Hanya untuk melihat dari dekat dan berselfi-ria di sana. Dengan latar belakang bunga-bunga yang mekar dan indah, masyarakat ingin berfoto. Berfoto sendiri, dengan teman atau dengan keluarga.

Ketika Taman Celosia masih ada hari-hari sore bahkan sedari siangnya, sejak dibuka untuk umum kebun bunga ini memang menjadi salah satu pusat wisata lokal oleh penduduk Kabupaten Karimun, khususnya yang bertempat tinggal di Pulau Karimun. Setiap hari ratusan pengunjung mendatanginya. Dari orang tua (atok-atok dan nenek-nenek) hingga anak-anak yang masih dalam gendongan ikut datang dan atau dibawa ke sini. Apalagi anak muda remaja, hampir tidak luput untuk datang ke sini.Tentu saja tidak akan dilewatkan berswafoto alias selfi. Tentu saja itu tidak terus-menerus, karena ketika bunga-bunga sudah mulai menua dan harus diganti, maka saat itu pengunjung juga berkurang. Begitulah kelazimannya waktu itu. 

Walaupun hanya ratusan orang, bahkan pada hari tertentu hanya puluhan orang saja yang datang untuk sekadar berselfi-ria, namun jumlah itu cukup banyak untuk ukuran kunjungan orang ke kebun bunga atau hanya sekadar melihat tanaman begitu. Dan itu hanya masyarakat di Pulau Karimun saja. Lagi pula, menghibur diri dengan objek taman atau kebun bunga seperti ini, belum ada di tempat lain di Kabupaten Karimun ini. Selain wisata pantai, wisata taman barulah ada di sini. Maka tidak heran lumayan juga pengunjungnya.  Sekali lagi, itu dulu.

Kebun bunga yang berlokasi tidak jauh dari kompleks perkantoran dan Kantor Bupati Karimun, itu dimiliki dan dikelola secara pribadi oleh Alek Bersaudara. Lelaki bersaudara itu mengelola kebun bunga yang ditanam di atas tanah warisan orang tuanya. Salah satu diantara keduanya adalah PNS yang bertugas di Pemerintah Kabupaten Karimun. Sementara yang satunya, itulah yang mengurus taman bunga secara rutin. Kebetulan dia memang sepenuhnya hanya bekerja di kebun bunga itu.  

Menurut Alek, bunga-bunga di tamannya terdiri dari berbagai bunga yang warnanya memang begitu kelihatan indah. Kombinasi warna-warni antara merah, kuning, putih dan oranye. Sungguh kelihatan indah karena ditanam dengan susunan demikian rupa. Alek menjelaskan bahwa di taman bunga itu ada beberapa jenis bunga yang hidup subur. Benihnya didatngkan dari Jawa, katanya.

Apa yang kita rasakan ketika berkunjung ke taman bunga Celosia ini? Rasa 'lain', dari pada yang lain. Itulah dia, bunga dan tamannya yang serasa melihat taman di negeri jauh sana. Serasa Negeri Belanda padahal kita berada di Karimun. Tetap berada di Karimun tapi pemandangan dan perasaannya serasa berada di Negeri Belanda. Itulah makna lain yang ditimbulkan oleh keberadaan taman ini. Tapi, itu dulu. Sebelum taman ini seolah musnah begitu saja. Kini yang ada hanya tanah kosong saja. Jika kita datang ke lokasi yang dulu penuh bunga, hari ini sudah tinggal sejarah saja lagi. 

Setelah kebun bunga ala Negeri Kincir angin ini tiada, hilang pula hiburan wisata tanaman yang tadinya menjadi idola anak-anak muda. Akankah suatu hari nanti akan ditanam kembali oleh Alek Bersaudara atau oleh orang-orang lain yang menajdikan hiburan taman bunga sebagai alternatif wisata kita? Entahlah. Yang saat ini ada, adalah sejarah Taman Celosia yang dulu pernah ada.***

14 Feb 2021

Sejenak ke Pantai Pelawan

Sejenak ke Pantai Pelawan


Catatan M. Rasyid Nur
PUKUL 14.30 kami baru sampai di pantai berpasir putih itu, Pantai Pelawan. Libur Ahad (14/02/2021) ini sebenarnya tidak ada rencana berlibur. Tidak ada rencana mau ke pantai seperti sering kami lakukan setiap akhir pekan membawa cucu. Tapi cucu pula yang akhirnya mengubah keputusan dari tidak ada rencana ke pantai, akhirnya ke pantai juga. Akiif, cucu tertua dari tiga bersaudara, itu merengek terus ke neneknya. “Nek, ayolah. Ajak Atok ke pantai.”  Berkali-kali dia menyampaikan ke neneknya. Saya mendengar sejak menjelang siang itu.

Akhirnya setelah zuhur, Nenek-Atok sepakat juga dengan rengekan cucu. Demi cucu, kita pergi. Itulah sebabnya sore baru sampai di Pantai Pelawan. Tidak seperti biasanya. Kalau ada rencana ke pantai, mau mandi-mandi atau apapun, pasti kami bergerak di pagi hari. Setengah hari di pantai, menjelang zuhur sudah bisa bersurai. Biasanya solat zuhur terlebih dahulu di surau yang ada di pantai, baru kembali ke rumah. Tapi kali ini kami datang sore.

Pantai ini selalu dipenuhi pengunjung di hari Sabtu dan Ahad atau di hari-hari libur lainnya. Bersaing dengan Pantai Pongkar yang berada di Kecamatan Tebing, pantai ini memang menjadi alternatif tempat berlibur di hari-hari libur. Mencari tempat wisata yang paling dekat bagi masyarakat di Pulau Karimun, ya pantai Pelawan dan Pongkar. Hari ini kami laihat pengunjung memang tidak terlalu membludak. 

Ahad inipun sesungguhnya masih suasana Imlek, Tahun Baru China yang jatuh pada hari Jumat (12/02/2021) lalu. Jadi, masih suasana libur sebenarnya. Biasanya di hari libur, apalagi berbarengan dengan liburan hari besar seperti Idul Fitri, Natal atau Imlek, pengunjung pasti sangat ramai. Namun, mungkin karena masih dihantui covid-19, pengunjung pantai hari sedang-sedang saja. Meskipun masih suasana Imlek dan hari libur (Ahad) tapi pantai yang berada di Kecamatan Meral, ini ternyata tidak terlalu padat. Ramai, ya. Bahkan juga ada acara hiburan dengan penampilan band dan beberapa penyanyi. Tapi tidak terlalu padat. 

Para pengunjung pantai, sambil duduk-duduk di pendopo-pendopo sepanjang tepi pantai para pengunjung ini menikmati hiburan. Bagi yang ingin menjamu selera, ada aneka makanan yang dijual di kedai-kedai itu. Kami juga memesan minuman, air kelapa. Atok tidak lupa memesan kopi susu yang kata orang sini kopi goni. Walaupun tidak ketagihan, saya memang suka meminum air kopi susu panas.

Saya dan isteri hanya duduk di pendopo yang kebetulan masih ada yang kosong. Tapi si cucu tidak tinggal diam. Baru saja kami melunjurkan kaki di lantai pendopo yang berkeramik,  Akiif langsung berganti pakaian. Sedari rumah dia sudah menyatakan akan mandi. Ya, sudah biarkan saja. Kebetulan suasana pantai juga tidak terlalu dalam airnya karena kebetulan airnya lagi surut. “Hati-hati, ya.” Hanya itu pesan nenek kepada cucunya.

Pantai Pelawan dengan bibir pantai yang berpasir putih, sesungguhnya sangat menyenangkan untuk bermain-main di situ. Bermain bola pantai bisa, lempar-lempar bola voly juga bisa. Untuk anak-anak sekadar bermain pasir sambil duduk menanti limburan ombak kecil, juga menyenangkan. Jika ingin mandi tinggal menceburkan badan. Enaknya memang saat air pasang.

Berbanding dua-tiga tahun yang lalu, keadaan Pantai Pelawan memang sudah jauh berubah. Pendopo-pendopo tempat istirahat oengunjung semakin banyak. Kedai-kedai kuliner juga banyak. Juga sudah semakin bersih. Fasilitas umum seperti musolla dan tempat mandi air tawar (setelah mandi di laut) juga sudah lumayan banyak. Buat penggemar mandi di laut, masyarakat tempatan tidak perlu mencari tempat wisata jauh-jauh. Cukup di Pantai Pelawan atau ke Pantai Pongkar. Keduanya tidak terlalu berjauhan. Mari kita berlibur di kampung kita saja.***

15 Jun 2020

Setelah 3 Bulan, Akhirnya Lolos ke Sumbar saat New Normal

Setelah 3 Bulan, Akhirnya Lolos ke Sumbar saat New Normal

Diperiksa di Satu Check Point, Penumpang Mobil tak Boleh Berlebih


Tiga bulan, sejak tengah Maret lalu, efektif hanya 'mengurung' diri saja di Pekanbaru. Jangankan ke luar kota, buat ke luar rumah saja terasa masih was-was. New Normal, saat pandemi Covid 19, jadi awal baru dan membawa kebahagiaan tersendiri.
Laporan
Khairul Amri, Pekanbaru


SEJAK akan berangkat dari rumah, Sabtu (13/6), sebenarnya sudah merasa ragu. Banyak info yang berseliweran: ke Sumatera Barat belum bisa masuk, karena tertahan di perbatasan Riau-Sumbar. Info lain, sudah aman dan bisa saja masuk, asalkan mematuhi protokol Covid 19.

"Jadi kita ke Sumbar," tanya saya ke istri dan anak.

Istri nampak ragu. Karena banyak grup WA-nya yang menginformasikan kalau ke Sumbar belum bisa. "Kemarin pas ke kedai, pun Bapak di kedai kasi informasi, belum bisa dan masih ditahan di perbatasan Riau-Sumbar," kata istri, yang intinya dia tak berkenan ke Sumbar.

Lain lagi anak saya. Karena sudah berencana sejak tengah pekan lalu, dan persiapan seperti pakaian dan lainnya sudah dilakukannya, justru lebih berani. "Kita coba aja lah, yah. Udah siap-siap juga tu. Kalau nanti tak bisa masuk, kita putar balik aja lagi," kata Alifia, penuh semangat.

Karena sambil bermuka sedih, Alifia memberi saran ke saya, akhirnya kami pun sepakat untuk tetap berangkat. Dengan catatan, jika nanti tertahan di perbatasan tentu harus kembali lagi ke Pekanbaru.

Persiapan keberangkatan ke Sumbar pun dimulai. Semua kelengkapan, sesuai protokol Covid 19, saat jalankan New Normal saat ini, kami sediakan. Masker masing-masing, hand sanitizer buat bersama-sama, termasuk hasil rapid rest saya pribadi, sudah ready. Begitu pun dengan batasan jumlah penumpang mobil, tak boleh lebih dari 50 persen. Kebetulan mobil saya jenis SUV dengan tiga baris kursi, berarti bisa diisi maksimal 4 orang penumpang.

Semua siap berangkat. Jam di tangan menunjukkan pukul 09.00 WIB. Saya duduk jadi supir. Istri duduk disamping. Anak dan ponakan duduk berdua di kursi tengah. Kursi belakang dilipat, karena banyak barang bawaan yang turut dimuat. Bermodal persiapan sesuai protokol penanganan Covid 19, walau tetap was-was, mobil pun meluncur ke arah Sumatera Barat. 

Hampir dua jam perjalanan, mobil tiba di XII Koto Kampar. Nampak ada tenda berdiri, tak jauh dari gerbang masuk arah ke Candi Muara Takus.  Di jalan juga nampak beberapa pembatas jalan dipasang. Ada pula spanduk bertuliskan "setiap kendaraan yang melintas dilakukan pemeriksaan". 

Mobil saya berjalan pelan. Hati mulai was-was. Tapi, karena masih pagi, para petugas di bawah tenda nampak masih sibuk. Tak kelihatan ada petugas yang menyetop kendaraan di badan jalan. Sambil tetap berjalan pelan, klakson saya bunyikan. Petugas di pos nampak hanya mengangguk, dan mobil kami pun lewat dari pos pemeriksaan.

"Alhamdulillah," kata anak saya. Satu pos pemeriksaan di batas Riau-Sumbar berhasil lolos. Tinggal satu kekhawairan lagi, pos masuk ke perbatasan Sumbar. Apakah bisa lolos atau justru harus balik kanan lagi.

Tanpa berlama-lama, mobil saya gas terus menuju perbatasan, masuk ke daerah Pangkalan, Sumbar. Jalan lurus. Penurunan dan Pendakian, sampai ke SPBU pertama sebelah kiri dari Pekanbaru, nampak suasana masih aman-aman saja. Tak ada tanda-tanda bakal ada pemeriksaan disitu.

Namun, selang 30 menit, kondisi yang dikhawatirkan tadi pun muncul di depan mata. Persis di kawasan jembatan timbang Tanjung Balik, sesudah Pangkalan, berdiri pos penjagaan. Check point pertama masuk ke Sumbar. Semua yang ada di mobil pun mulai deg-degan. Masker semua dipasang, hand sanitizer juga dipasang dan jarak duduk di mobil pun diatur.

Terlihat banyak petugas berjaga. Mobil yang berada persis di depan kami, mulai disetop petugas. Ada petugas dari TNI, polisi, BPBD dan kesehatan di tempat itu. Semua mereka berpakaian lengkap. Kondisi ini mulai membuat ciut nyali. "Kalau tak lolos, kita balik kanan lagi," kata saya, dan di iya kan oleh semuanya.

Mobil bergerak pelan. Sampai mendekati petugas, diminta membuka kaca mobil.

"Ada berapa orang penumpangnya, Pak?," tanya petugas berseragam loreng.

"Kami cuma berempat, Pak. Karena tidak boleh ramai-ramai," jawab saya.

Petugas itu tak puas begitu saja. Dia melongok ke dalam mobil. "Oh, ya pas berempat ya. Masker semua terus dipakai ya. Hati-hati dan tetap waspada Covid 19," kata dia.

Kami semua cuma bisa diam dan angguk-angguk kepala. Sebenarnya sambil berdoa: semoga bisa lolos dan tidak disuruh kembali pulang atau putar arah.

 Dan, benar saja. Juga sambil berucap, "Alhamdulillah," kata saya dalam hati. Akhirnya mobil kami disuruh menepi oleh petugas dari kepoisian.

"Baiklah. Mobil diparkir ke tepi saja dulu, Pak. Lalu turun dan periksakan suhu tubuh di tenda sana," kata dia mengarahkan. Di tenda itu nampak ada 3 orang petugas kesehatan. Mereka sudah siap dengan pakaian lengkap astronot, dan masing-masing memegang alat ukur suhu tubuh.

"Bapak suhunya 36,4 derajat, ya," kata petugas perempuan yang memeriksa saya. Tiga keluarga lagi, istri, anak dan ponakan pun diperiksa. Alhamdulillah, hasilnya relatif sama. Tidak ada yang bersuhu tubuh sampai 37,5 derajat atau 38 derajat. Kami pun bisa lega, dan menarik nafas panjang.

Karena sudah sesuai protokol Covid 19 dan New Normal, kami berempat diizinkan untuk kembali naik ke mobil. "Pemeriksaan sudah selesai, dan Bapak serta keluarga boleh lanjut jalan," kata petugas kesehatan itu. Saya lihat, wajah semuanya nampak senang.

Mobil kami akhirnya lolos.  Begitupun dengan dua mobil yang ada di depan. Karena saya lihat, mereka juga patuh dengan protokol Covid. Penumpang yang ada di mobil pun tak lebih dari 4 orang. Semua senang bisa masuk ke Sumbar untuk menikmati suasana kota wisata ini.

*Jam Gadang Sangat Ramai, Selalu Diingatkan Bermasker*

Beberapa hotel dan wisma di Bukittinggi nampak masih lengah dari pengunjung. Parkir mobil di tempat parkir, masih satu atau dua saja. Namun begitu, jelang malam, pas berkeliling seputar kota Bukittinggi, suasana ramai pun mulai terasa. Apalagi ini Sabtu malam Minggu.

Sejumlah nampak sangat ramai. Bahkan kami tidak jadi minum di sebuah cafe, tak jauh dari jam gadang/panorama, karena pengunjungnya terlalu ramai. Kebanyakan anak muda. Pihak cafe sudah mengikuti protokol Covid, misalnya kursi berjarak, dan juga meja diatur sedemikian rupa, tapi tetap saja muda mudi ini sulit diatur. Mereka kumpul ramai-ramai, akan tetapi tetap bermasker.

Kami coba ke jam gadang, landmark nya Bukittinngi. Tak ada bedanya. Malah di kawasan ini lebih ramai. Akan tetapi, hampir setiap 30 detik, dari pengeras suara terdengar pengumuman: seluruh pengunjung wajib mengenakan masker. Bahkan beberapa petugas pun nampak berjaga, agar seluruh pengunjung taat aturan sesuai protokol Covid 19. Meski ramai, suasana di jam gadang malam itu tetap nampak tertib dan aman.

Bahkan, salah satu tempat makan dan nongkrong, tak jauh dari jam gadang pun lebih ketat menetapkan protokol Covid. Kami akhirnya memilih duduk minum dan makan disitu. Saat akan masuk, diperiksa suhu tubuh. Lalu ditanya, berapa orang dan disesuaikan dengan kondisi di dalam. Bahkan setiap kursi sudah ditandai dengan lakban, agar tidak duduk, dan semua pengunjung mengatur jarak duduk dan jarak antre di kasir. Bagi yang tidak bisa masuk, juga disedikan konter buat take away atau pesanan untuk dibawa pulang.

Suasana seputar jam gadang terus ramai sampai tengah malam. Dari suara-suara yang terdengar saat bercakap-cakap, memang rata-rata masih warga sekitar Bukittinggi. Dari beberapa mobil yang parkir pun dapat dilihat, belum banyak yang berasal dari luar Provinsi Sumatera Barat. Sepertinya, warga Sumbar pun baru pekan ini bisa melepaskan kerinduan untuk bersantai di luar rumah.

Sejumlah kawasan wisata pun nampak sudah dibuka. Termasuk kawasan keramaian, seperti terlihat pada Ahad (14/6) pagi. Salah satu lokasi tempat olahraga di tengah kota Bukittinggi pun sudah nampak ramai dipenuhi warga yang berolahraga. Roda ekonomi di Bukittinggi mulai bergerak lagi. Masyarakat pun mulai beraktivitas normal. Jangan sampai ada lagi yang terkena Corona Virus atau Covid 19. Sehingga New Normal benar-benar jadi awal baru untuk memulai hidup yang benar-benar baru dan sehat. **