Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

23 Agu 2022

Tiga Pekik Merdeka Sudahkah Terpatri di Dada Kita

Tiga Pekik Merdeka Sudahkah Terpatri di Dada Kita


Catatan M. Rasyid Nur
TERINGAT kembali amanat Inspektur Upacara (dulu di sekolah kita sebut sebagai Pembina Upacara) pada upacara pengibaran bendera dalam rangka memperingati HUT (Hari Ulang Tahun) Kemerdekaan RI ke-77 tahun 2022 di lapangan Kemuning Coastal Area, Rabu (17/08/2022) lalu itu. Upacara pengibaran bendera Merah Putih HUT RI yang dilaksanakan oleh Pemda (Pemerintah Daerah) Kabupaten Karimun diikuti oleh para siswa, pegawai dan dari TNI serta Polri. Ispketur Upacaranya adalah Bupati Karimun, Dr. H. Aunur Rafiq, S Sos M Si.

Selain memberikan amanat yang lumayan cukup panjang, Bupati juga mengajak seluruh peserta upacara untuk memekikkan ucapan 'merdeka' sebanyak tiga kali. "Merdeka...merdeka...merdeka..." katanya sambil meminta diulang oleh seluruh peserta upacra di setiap jeda dia memekikkan kata merdeka. Seingat saya, inilah pertama kali Inspektur Upacara HUT Kemrdekaan RI memekikkan kata merdeka dan mengajak semua peserta untuk mengulangnya. Mungkin tahun ini juga baru pertama kali pembacaan proklamasi tidak pada upcara ini. Lazimnya, setiap tahun dalam upacara HUT Kemerdekaan Tingkat Kabupaten diucapkan pada pukul 10.00 setelah sebelumnya bendera merah putih dikibarkan. Pembacaannya oleh Ketua DPRD, bisanya. Tapi tidak ada pada tahun i ni. 

Upacara bendera tahun ini juga dilaksanakan lebih pagi sehingga sebelum pukul 09.00 acaranya pun selesai. Ternyata, selanjutnya Bupati, Wakil Bupati, Sekda dan semua perangkat daerah, termasuk dari Forkopimda beranjak dari lapangan ini menuju ke Gedung Nasional untuk mengikuti upacara bendera HUT RI di Istana Negara dengan Ispektur Upacaranya Presiden RI, Joko Widodo. Di sinilah adanya bacaan proklamasi pada jam detik-detik proklamasi dibacakan 77 tahun silam itu. Pekik merdeka adalah menjadi catatan sendiri pada peringatan HUT Kemerdekaan tahun ini.

Tiga pekik merdeka yang digaungkan oleh Bupati, katanya memiliki fungsi dan makna penting bagi kita. Bupati menjelaskan pekik merdeka pertama adalah untuk mengenang para pahlawan yang telah berjuang dan berkorban untuk merih kemerdekaan Indonesia. Agar kita terus ingat selamanya perjuangan mererka. Pekik merdeka kedua mengandung makna dan harapan sebagai doa agar Bangsa Indonesia segera meraih cita-cita kemerdekaan, yakni menjadi bangsa sejahtera dan tetap bersatu dalam bingkai NKRI. Kemerdekaan bukanlah tujuan akhir. Itu hanyalah jalan, yakni jalan menuju kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Lalu pekakan merdeka ketiga ditujukan untuk tegaknya hukum dan keadilan bagi semua masyarakat. Hukum dan keadilan adalah hak yang sama bagi semua masyarakat. Itu juga harus diperjuangkan, kata bupati.

Sebagai salah seorang yang berkesempatan mengikuti upacara dan mendengar bagian dari amanat Inspektur Upcara saat menjelaskan makna tiga pekik merdeka itu, rasanya kita ikut bangga dan terketuk hati untuk memperjuangkannya. Iu satu hal penting menurut saya bagi semua kit. Secara tidak langsung diingatkan tiga cita-cita dan doa itu menjadi kewajiban kita sebagai anak bangsa yang telah menerima dan menikmati suasana merdeka yang sudah diperjuangkan oleh para pahlawan bangsa. Adalah kewajiban juga mematri makna itu di dalam dada kita.

Pertanyaannya, sudahkah kita tempelkan dan terptri dengan kuat di dada kita? Jika sudah, syukurlah tinggal menjaga dan mempertahankannya. Itulah salah satu yang akan menjadi motivasi kita dalam usaha mengisi kemerdekaan ini. Tapi jika belum, mari momen kemerdekaan RI ke-77 tahun 2022 ini kita jadikan tonggak untuk mematrikan semangat merdeka dengan minimal tiga harapan tadi kita perjuangkan. Mari ditanamkan di dada masing-masing kita.

Kita sadari betul bahwa pahlawan telah berjuang demi anak cucunya, termasuk kita. Untuk itu sekali lagi mari kita lanjutkan perjuangan dengan menjaga persatuan dan keutuhan bangsa. Mari segera kita pulihkan bersama dengan lebih cepat keadaan bangsa dan negara kita yang dilanda musibah covid-19 itu. Inilah pula momen kita untuk bangkit lebih kuat berbanding keadaan kita sebelum covid melanda. Tepatlah jargon HUT Kemerdekaan Indonesia tahun ini, Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat. Salam merdeka.***

13 Agu 2022

Kisah Inspiratif: Hidayah di Lift,  Maryam Masuk Islam

Kisah Inspiratif: Hidayah di Lift, Maryam Masuk Islam

Foto Hajinews.id

KISAH ini inspiratif sekali. Seorang wanita yang dikatakan sangat cantik. Orang Amerika. kaya. Seorang milliarder. Perusahaannya besar dengan ribuan pekerja. Singkat cerita dikatakan dia penasaran terhadap seorang lelaki di ruang lift yang tidak melihat dia selama di ruang sempit itu. Padahal dia merasa cantik dan kaya itu tadi.

Tulisan berjudul Merasa Cantik, Milyader Amerika Masuk Islam Karena Tidak Dipandang Orang Islam Di Lift dan dimuat di laman hajinews.id pada Jumat (12/08/2022) oleh Sitha membuat saya ingin mengulang tulis untuk diposting kembali. Sebelumnya saya ikut penasaran karena nama pemuda itu saya belum terbaca dan nama asli wanita itu juga tidak disebut. Hanya disebut dengan sebutan "Maryam' begitu. Lalu saya coba brousing mencari di artikel lain. Ternyata sama. Tulisan dengan judul yang sama dimuat di banyak laman.

Kita sepakat kalau Allah Swt sudah berkehendak maka tidak ada satupun yang bisa menghentikannya, karena Allah Maha Kuasa atas segalanya. Termasuk dalam hal datangnya hidayah kepada seseorang. Disebutalah yang dialami miliarder cantik Amerika ini, dia menjadi mualaf seusai betemu pemuda Muslim asal Maroko yang sangat menjaga pandangannya. Dikatakan, pemuda itu tidak ingin menatap si cantik yang kaya-raya.

Si wanita yang disebut saja namanya Maryam, itu merasa heran, ada pria yang tidak ingin melihatnya. Apalagi, mereka bertemu di lift, ruangan yang cukup sempit kala itu. Dikisahkan, miliarder cantik Amerika ini memasuki lift di kantor pusat perdagangan dunia. Mulanya ada banyak orang yang berdiri di dalamnya. Namun satu per satu keluar, meninggalkan dirinya dengan seorang pemuda asal Maroko.

Menurut wanita itu, aneh saja, meski tinggal berdua, pemuda Maroko itu tetap menundukkan kepala dan enggan menatapnya. Dan karena merasa penasaran, wanita cantik ini pun menanyakan alasannya secara langsung. “Kenapa kau tidak melihatku? Bukankah aku ini cantik? Lihatlah aku! Aku ini gadis yang cantik.” Kutipan ini persis seperti diposting tulisan di laman hajinews.id dan beberapa laman lainnya.

Pemuda Maroko itu akhirnya menjelaskan bahwa agamanya mengajarkan untuk tidak melihat lawan jenis, karena ditakutkan timbul syahwat. Sang wanita pun penasaran dengan agama pria itu, lalu bertanya kembali mengenai ajaran Islam.

Dikatakan, Maryam merasa takjub dengan kesopanan dan kesantunan sang pemuda. Ia pun meminta pria tersebut menikahinya dan berjanji akan memberikan seluruh harta warisan yang berupa perusahaan besar dengan ribuan pekerja. Tapi tidak disangka, pemuda Maroko itu justru menolak permintaan dan tawaran kekayaannya. Rupanya itu semua demi agama yang dianutnya.

“Tidak, aku tidak menerimanya. Karena kamu bukan orang Islam dan agamaku melarangnya,” ujar pria tersebut.

Tidak gentar, wanita itu menjawab dirinya akan masuk Islam agar pria tersebut menikahinya. Ia pun meminta penjelasan terkait langkah yang harus dilakukan agar bisa masuk Islam. Lalu pemuda Maroko itu meminta si wanita membersihkan diri dan pergi menuju Islamic Center yang berada di Brooklyn, New York, untuk mengucap dua kalimat syahadat. Tanpa pikir panjang, Maryam langsung mengikuti instruksi pemuda tersebut.

Setibanya di sana, gadis tersebut mengucapkan dua kalimat syahadat. Setelah itu juga imam masjid melangsungkan akad nikah si gadis dengan pemuda Maroko yang ditemuinya di lift. Menepati janjinya, seluruh harta sang wanita pun kini diberikan kepada pemuda yang telah menjadi suaminya itu. 

Jika kita penasaran siapa sebenarnya wanita dan pria itu? Sampai tulisan ini saya posting, saya masih mencoba mencari profile keduanya. Kalau kita menemukan, datanya lebih lengkap, maka kisah ini akan semakin menginspirasi hidup kita.***

12 Agu 2022

Berdoa Setelah Salat, Insyaallah Membuat Sehat

Berdoa Setelah Salat, Insyaallah Membuat Sehat


BAHWA setiap selesai salat kita (muslim) berdoa. Itu sudah diketahui. Sudah juga kita pahami bahwa dengan berdoa kita tidak lagi dianggap bersikap angkuh kepada Allah. Kita merendahkan diri di hadapan-Nya. Dengan berdoa artinya kita mengakui, Dialah Maha Penguasa, berkuasa atas segala-galanya. Dialah tempat makhluk minta ijabah doa.

Apakah kita memahami juga bahwa dengan berdoa kita --yang kebetulan sedang diuji sakit-- akan disembuhkan dari sakit yang kita alami? Mengutip catatan Mas Ruhi di laman hajinews.id hari Selasa (09/08/2022) kemarin dalam judul tulisan Doa Setelah Salat Wajib Agar Cepat Sembuh dari Penyakit dijelaskan ada doa-doa yang diharapkan agar kita disembuhkan dari segala macam penyakit.

Meskipun berdoa itu dapat dilakukan kapan dan dimana saja, namun berdoa di waktu khusus yakni setelah salat wajib, itu dianggap sebagai salah satu waktu yang mustajab untuk berdoa meminta perlindungan kepada-Nya, termasuk perlindungan dari berbagai macam penyakit.

Berikut doa yang sebaiknya dibaca untuk harapan sembuhnya kita dari sakit yang dialami. Doa itu adalah, Bismillaah (Dengan Nama Allah) dibaca tiga kali; A‘udzu billahi wa qudratihi min syarri ma ajidu wa uhadziru (Aku berlindung kepada Allah dan kuasa-Nya dari keburukan apa yang kurasakan dan kukhawatirkan) dibaca 7 kali.
 
Mengutip tulisan yang sama dikatakan bahwa doa ini dijelaskan oleh Imam An Nawawi dalam Kitab Al-Adzkar An-Nawawiyah, begini, “Diriwayatkan kepada kami dalam Shahih Muslim rahimahullah, dari Utsman bin Abil ‘Ash RA bahwa ia mengadu kepada Rasulullah SAW perihal penyakit yang ia rasakan pada tubuhnya.

Rasulullah Saw lalu mengatakan kepadanya, ‘Letakkan tanganmu pada bagian tubuhmu yang dirasa sakit. Bacalah tiga kali Bismillāh. Lalu bacalah tujuh kali, ‘A‘udzu billahi wa qudratihi min syarri ma ajidu wa uhadziru.’” (HR. Imam Muslim). Insyaallah doa ini bisa menjadi alternatif sebagai terapi untuk diri sendiri saat merasakan nyeri di bagian tertentu.

Dalam riwayat Imam Tirdmidzi itu dikatakan, sahabat Abu Said al-Khudri dan Abu Hurairah mendengar pesan Rasulullah bahwa bacaan zikir atau doa yang apabila dibaca saat sakit, kemudian orang yang sakit itu meninggal, maka ia tidak akan terkena api neraka.

Meskipun semua orang akan mengalami sakit dan meninggal dunia, namun Allah dan Rasulullah memerintahkan kita, umatnya untuk selalu berusaha agar sembuh dan sehat. Dengan keadaan kita yang sehat kita bisa terus beraktifitas, beribadah dan mensyukuri nikmat Allah secara nyata.


Mas Ruhi juga menyitir dan menjelaskan keterangan Ustadz Adi Hidayat (UAH) tentang doa dan zikir lain yang bagus juga dibaca sebagai iktiar menyembuhkan penyakit. Kata UAH, lakukan dzikir Nabi Ayub As. Katanya, dengan mengamalkan dzikir Nabi Ayub, ada beberapa manfaat yang akan diperoleh orang yang sakit, yakni ketengan jiwa dan sembuh dari sakit.

Adapun doa dan zikir Nabi Ayub As itu adalah, Allahumma anni massani yadhdhurru wa anta arhamurrohimin. (Ya Allah penyakit ini sudah menggangguk, melukaiku sedangkan Engkau yang paling sayang kepadaku. Kalu yang paling sayang saja tidak memnyembuhkan Aku, kepada siapa lagi mesti meminta.) Bagaimanapun, tentu saja semua sangat ditentukan oleh Allah Swt dan keikhlasan kita dalam berdoa. Harapan kita, semoga setiap doa yang kita sampaikan, diijabah oleh Allah Swt.***
*Postingan yang sama juga di mrasyidnur.gurusiana.id

11 Agu 2022

Penting untuk Tetap Membaca agar Merugi Tidak Menimpa

Penting untuk Tetap Membaca agar Merugi Tidak Menimpa


KECENDERUNGAN orang, khususnya anak-didik kita di sekolah untuk lebih suka mendengar berbanding membaca sudah diketahui bersama. Orang lebih suka mendengar saja dari pada membaca untuk mengetahui sesuatu, misalnya.  begitulah adanya. Hasil penelitian para pakar juga menyimpulkan begitu. Secara umum bangsa kita adalah bangsa yang lebih suka mendengar atau menyimak dari pada membaca atau meneliti untuk mendapatkan informasi.

Seperti dilansir beberapa media, dikatakan kalau bangsa kita memang lebih suka mendengar dari pada membaca. Mari coba kita ambil beberapa diantara informasi itu. Simak, misalnya tulisan berjudul 'Orang Indonesia Lebih Suka Mendengar dan Ngobrol daripada Membaca' (republika.id, 2015) atau tulisan lainnya, 'Masyarakat Lebih Suka Nonton daripada Baca Buku, Apa Sebabnya' (jurnalkampus.ulm.ac.id, 2021), menunjukkan kepada kecenderuangan orang kita untuk lebih suka mendengar dari pada membaca.

Jika pernyataan itu ingin dibuktikan sendiri, coba saja ditanya kelompok kita. Katakanlah kita mempunyai kelompok atau grup, misalnya. Jika disuruh memilih, lebih suka yang mana, 1) sebuah informasi dibacakan; atau 2) sebuah informasi dibaca sendiri-sendiri. Jawabannya sudah dapat diduga, orang ramai yang kita tanya akan menjawab, bacakan saja. Apapun alasannya. Kalau ada yang ingin membaca sendiri, dpaat juga diduga jumlahnya tidak akan lebih banyak dari pada yang ingin dibacakan saja.

Kalau begitu masihkah perlu membaca? Masihkah perlu diajarkan membaca? Justeru perlu. Kita harus tetap membaca. Harus tetap belajar membaca. Harus tetap diajarkan membaca. Apapun caranya. Jika kita bukan guru yang bisa mengajarkan membaca, maka kita akan meminta bantu kepada guru untuk anak-anak kita yang belum bisa membaca. Jika kita adalah guru, boleh jadi kita akan mengajarkan membaca kepada anak-anak kita selain mengajar anak-anak orang lain yang menjadi siswa kita.

Memang tidak ringan menjadi guru. Tidak mudah menjadi guru. Apalagi jika dikaitkan dengan tanggung jawab guru untuk membudayakan kebiasaan membaca. Ini sangatlah berat. Mengapa? Karena membudayakan membaca kepada orang lain otomatis akan berimplikasi kepada kebiasaan guru itu sendiri terkait membaca. Apakah kita sebagai guru sudah memiliki budaya baca yang mumpuni?  Atau masih belum? Inilah masalahnya.

Kita tahu betul bahwa membina minta baca itu memang tidak ringan. Memahaminya saja tidak mudah. Dalam buku Pedoman Pembinaan Minat Baca Perpustakaan Nasional RI tahun 2002, misalnya dijelaskan, bahwa pembinaan minat baca itu adalah usaha yang dilakukan untuk meningkatkan minat dan kebiasaan membaca masyarakat dengan cara memperbanyak dan menyebarluaskan secara merata jenis-jenis koleksi yang dipandang dapat meningkatkan minat baca. Cukup rumit. Memahaminya saja lumayan berkedut kening. Untuk melaksanakannya perlu kerja keras dan strategi, tentunya.

Kebiasaan kita yang selalu kita praktikkan di sekolah, antara lain, di satu sisi, di sekolah dibiasakan membaca setiap pagi (sebelum mulai pelajaran) atau dalam pelajaran tertentu di luar pelajaran Bahasa dan Sastra. Dalam kegiatan Pembinaan Akhlak, misalnya yang dilaksanakan 5-10 menit setiap pagi, bisa diisi dengan pembinaan membaca sekaligus. Bisa juga dalam kegiatan lainnya. Dan sisi lain perpusatakaan hendaklah selalu pula memperbaharui koleksi buku-buku yang ada di perpusatakaan. Apapun caranya. Apakah dengan menganggarkannya dalam RKAS sekolah untuk membeli buku-buku baru, atau bisa juga dengan membuka kesempatan guru atau siswa menyumbangkan buku-buku baru. Apa saja bisa.

Kesepakatan kita adalah bahwa membaca itu memang penting. Tidak boleh ada alasan untuk membuat kita tidak mau membaca. Seribu-satu cara dapat dilakukan dalam ikhtiar agar kita membaca. Satu pesan guru-guru kita adalah, jangan sampai waktu berjalan percuma karena itu dapat merugikan kita. Jangan sampai merugi menimpa kita kaena akan membuat diri celaka. Nauzubillah.***

28 Jun 2022

Mengenal Siti Nurbaya AZ, Penulis Buku 'Menjadi Guru Bukan (Tak) Mudah'

Mengenal Siti Nurbaya AZ, Penulis Buku 'Menjadi Guru Bukan (Tak) Mudah'




DIPANGGIL Nyak Baye. Terkadang, Ibu Nur atau Ibu Siti. Begitulah sapaan oleh murid-murdinya atau oleh teman-temannya sesama guru. Nama lengkapnya Hj. Siti Nurbaya AZ, SE. Seorang (PNS) guru SMA di Kabupaten Karimun. Persisnya di SMA Negeri 2 Karimun. Bertitel Sarjana Ekonomi (SE) tapi berkarier sebagai guru atau pendidik yang lazimnya dari keguruan atau sarjana pendidikan. Sarjana Ekonomi jebolan STIE Kerjasama, Jogyakarta (1997), ini ternyata lebih menyukai guru dari pada pekerjaan lainnya yang berkait langsung dengan kesarjanaannya.  

Sejak menjadi tenaga honorer (1998) hingga menjadi seorang PNS (Pegawai Negeri Sipil) dia berada dan mengabdi di SMA Negeri 2 Karimun yang beralamat di Jalan Raja Usman, Tanjungbalai Karimun. "Sudah banyak Kepala Sekolah yang saya alami selama di sini," katanya suatu hari mengingat awal-awal menjadi guru, 24 tahun yang lalu. Katanya, dia juga menghonor sebagai tenaga guru pembimbing di Bimbel (Bimbingan Belajar) Primagama, waktu itu. Untuk resmi menjadi guru dia juga menyempatkan belajar tambahan untuk mendapatkan akta karena akta mengajar adalah syarat untuk mendapatkan predikat guru resmi dari Pemerintah. Berbekal sertifikat itulah dia diangkat menjadi PNS sebagai tenaga guru (pendidik).

Belakangan, setelah cukup lama menjadi guru dan menikah (2011) dengan seorang guru yang suka menulis, Nyak Baye pun terbawa suka menulis. Salah satu tulisannya yang dibukukannya ternyata berawal dari hobinya mengintip suaminya menulis. Buku yang dia beri judul Menanam di Blog Menuai di Buku yang diterbitkan Media Guru (2019), itu adalah bukti dia suka menulis dan itu berawal dari kesukaannya melihat suaminya menulis. Begitu pengakuannya kepada teman-temannya yang bertanya perihal hobi menulisnya saat ini.

Kurang lebih empat-lima tahun menyukai dan menggeluti literasi Nyak Baye pun sudah menghasilkan beberapa buku ber-ISBN. Ada empat judul buku solo, yaitu,
1. Menjadi Guru Bukan (Tak) Mudah, Memori dalam Cita-cita; Penerbit Cipta Media Guru (2018);
2. Menanam di Blog, Memetik di Buku, Dari Kegiatan Hobi Mengintip; Penerbit Pustaka Media Guru (2019);
3. Aku adalah Pohon, Mengenang Hari Guru; Penerbit Pustaka Media Guru (2020);
4. Mengenal Bank Indonesia dan Belajar Akuntansi dengan Pantun; Penerbit Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (2021).
 
Keempat judul buku itu adalah buku solo atau buku yang ditulis sendiri. Sementara ada juga ternyata dia menulis dan menerbitkan buku dalam bentuk antologi (buku bersama). Sampai hari ini sudah ada lima judul buku yang dihasilkannya bersama para penulis lainnya. Buku-buku itu adalah,
1. Semangat Menulis Bersama Bu Kanjeng (42 penulis); Penerbit Oase Pustaka (2020);
2. Bom Corona (44 penulis); Penerbit Milas Grafika (2021;
3. Guru Indonesia Merdeka Berkarya (150 penulis); Penerbit Pustaka Media Guru (2021);
4. Suara-suara Kami, Antologi Pentigraf (210 penulis); Penerbit Cipta Media Edukasi (2021).
5. Doa untuk Bangsa, Antologi Puisi Asean (564 penulis); Penerbit Perkumpulan Rumah Seni Asnur (2021).

Buku MENJADI GURU BUKAN (TAK) MUDAH buku pembuka jalan literasi Nyak Baye



Buku berjudul Menjadi Guru Bukan (Tak) Mudah, Memori dalam Cita-cita, ini adalah buku pertamanya setelah mengikuti pelatihan menulis buku bersama Media Guru pada tahun 2018. Itu pengakuan Nyak Baye. Konon, dia tidak menyangka akan bisa membuat buku ber-ISBN seperti itu jika mengingat pengalaman kepenulisannya di masa-masa sebelum buku itu. Tidak terbayangkan sebelum-sebelumnya, ternyata akhirnya bisa juga membuat buku. Pelatihan menulis buku, Sagu Sabu (Satu Guru Satu Buku) yang ditaja oleh Media Guru, itu telah membuka langkahnya untuk memiliki buku pribadi. Dan langkah itu pun ia teruskan hingga kini. 

Sebenarnya Nyak Baye tidak yakin akan bisa membuat buku sendiri. Jika memikirkan menulis dan menerbitkan buku, yang terbayang adalah kesulitan. Katanya, "Yang saya tahu membuat buku yang diterbitkan resmi itu hanya bisa dilakukan oleh penulis. Saya bukanlah penulis," katanya saat itu. Tapi kini, secara tidak langsung dia sebenanrnya sudah menjadi penulis. Ada namanya di judul buku yang dia tulis. Dia sudah punya mahkota penulis, yaitu buku yang diterbitkan oleh sebuah penerbit resmi.

Buku berwarna hijau kebiruan dengan ilustrasi gambar Nyak Baye bersama siswa-siswinya, itu berisi pengalaman hidupnya, khususnya bagaimana akhirnya dia menjadi guru. Dengan ijazah S1 konsentrasi di bidang ekonomi (dasar) tentu saja tidak mungkin menjadi guru. Itu pandangan umum waktu itu. Namun inilah keistimewaan jalan hidupnya. Dari seorang sarjana ekonomi yang pada awalnya juga bekerja di luar guru, kini dia mantap menjadi guru. Dia menikmati profesi sebagai pendidik itu. Karena itu pula dia menulis memori yang bertema suka-duka sebagai guru.

Buku setebal 94+ vi halaman, itu terdiri dari 5 (lima) bagian. Bagian I dengan judul 'Bercita-citalah Kita akan Berusaha' berisi kisah penulisnya saat awal memiliki cita-cita. Dengan tiga sub judul di bagian ini dia menjelaskan detail awal dia sekolah dan memiliki harapan-harapan. Bagian II dengan judul 'Suka Duka Bersama Jogya' penulisnya mengisahkan masa-masa dia berada di perantauan untuk menimba ilmu pengetahuan. Dengan tiga sub judul juga di bagian ini pembaca dapat memahami bagaimana dia di Kota Pelajar itu. Tidak lupa penulisnya mengisahkan memori cintanya. Hingga bagian kelima, semuanya memiliki masing-masing tiga sub judul. 

Sebagai sebuah kisah hidup (memori) buku ini menggambarkan kehidupan pribadi penulisnya sejak awal. Tentu saja lebih banyak berkaitan dengan statusnya sebagai seorang guru dengan latar belakang pendidikan yang bukan guru. Di satu sisi mungkin dikatakan menjadi guru itu sulit, namun di sisi lain harapan dan keadaan ternyata bisa mengantarkan seseorang menjadi guru. Tidak mustahil pula perasaan sulit menjelma menjadi mudah atau paling tidak menyenangkan. Itulah inti kisah memori seorang guru yang terekam dalam buku ini.

Jika pembaca catatan ini berminat dan ingin memiliki buku karya Nyak Baye ini, katanya bisa langsung menghubungi penulisnya di nomor HP/ WA 081364749085. Katanya, untuk saling berbagi pengalaman, dia menjual bukunya ini untuk sekadar biaya cetak dan ongkos kirim. Saat ini harga buku Menjadi Guru Bukan (Tak) Mudah, itu hanya Rp 65.000 (enam puluh lima ribu rupiah) belum termasuk ongkos kirimnya.***

23 Jun 2022

Bertahan dalam Kesulitan

Bertahan dalam Kesulitan


MENGATAKANNYA mungkin mudah. Ya, semudah mengucapkan kalimat-kalimat lainnya juga. 'Bertahan dalam kesulitan,' misalnya. Kalimatnya singkat tapi pesannya bisa panjang dan luas. Intinya, bagaimana kita bisa bertahan, tidak putus asa pada saat 'kesulitan' menimpa hidup kita. Kalimat sesingkat itu tentu saja mudah mengucapkannya.
 
Mudahnya mengucapkan ternyata tidak selalu linier dengan merasakan dan melaksanakannya. Artinya saat merasakan dan melaksanakan kesulitan, itu tidak selalu mampu oleh kita. Setidak-tidaknya tidak selalu mudah untuk membuktikannya. 

Kesulitan pada hakikatnya adalah salah satu ujian dari banyak ujian dalam kehidupan. Seperti juga kesenangan, pada hakikatnya keduanya adalah ujian. Jika pada kesenangan dengan mudah bisa menerima, mudah merasakan dan melaksanakannya, tapi tidak dengan ujian kesulitan. Kesulitan hidup, misalnya selalu terasa berat. Terkadang bisa gagal menjalankannya dengan wajar.
 
Tidak jarang seseorang gelap pandang bermula dan tersebab oleh mendapatkan ujian kesulitan. Pada saat kehilangan pekerjaan yang menyebabkan ekonomi keluarga atau ekonomi pribadi terganggu tidak selalu mudah menerima itu. Ada diantara kita yang salah langkah dan salah tindakan dalam menerimanya. Ini terjadi dan ada banyak faktanya.
 
Contoh-contoh berikut, misalnya, mencuri, merampok, bunuh diri atau sekadar mengasingkan diri adalah beberapa kejadian yang bermula dari perasaan kesulitan yang tidak mampu terkendali. Inilah sesungguhnya inti hidup yang diamanahkan. Artinya, setiap kita yang Tuhan berikan kehidupan sebagai sebuah kepercayaan (amanah) sejatinya tetap mampu mengendalikan sesuai aturan. Baik dalam posisi sulit atau posisi senang.
 
Kita bisa kekurangan biaya untuk berbagai kebutuhan; bisa juga kekurangan tenaga untuk banyak keperluan; intinya membuat banyak kesulitan. Di sinilah perlu keteguhan pendirian. Tidak ada masalah yang tidak akan terselesaikan. Tidak ada kesulitan yang akan menimpa kita di luar kemampuan kita untuk menyelesaikannya. Pasti ada penyelesaiannya. Inilah yang perlu dikuatkan. Komitmen untuk tidak menyalahkan pihak lain, pun akan membantu kita dalam menyelesaikan persoalan. Mari kita yakini, hidup itu tidak sendiri. Tidak pula sepenuhnya atas kemauan sendiri.***

20 Jun 2022

Kombes the Best, Mengenang 70 Tahun Pak TeDe

Kombes the Best, Mengenang 70 Tahun Pak TeDe


Catatan M. Rasyid Nur
SEPULUH tahunan lalu. Itu, awal saya ikut menulis di blog keroyokan kompasiana.com yang dikelola dan dikembangkan Kompas Cyber Media. Dari sekian puluh bahkan sekian ratus member (baca: kompasianer), saya mengenal satu nama, Thamrin Dahlan. Foto akunnya yang saya hafal waktu itu adalah foto seorang lelaki tengah tersenyum dengan jacket hitam berlatar belakang beberapa orang lainnya sama-sama duduk di ruang yang sama.

Awalnya nama itu tidak ada yang istimewa bagi saya. Sama seperti nama-nama teman lainnya sesama penulis di blog kompasiana. Saling mengenal nama karena saling membaca tulisan dan memberikan komentar di setiap tulisan. Hanya sampai di situ. Jika ada yang memberi kesan, itulah karena tulisan orang yang bernama Thamrin Dahlan yang selalu saya baca waktu itu. Goresan tangannya enak dibaca. Renyah. Saya menduga dia seorang wartawan. Itu saja. Ternyata bukan. Dia, rupanya seorang purnawirawan polisi dengan pangkat terakhir Komisaris Besar (Kombes).

Belakangan nama itu serasa bertambah akrab karena ternyata tulisan dia dan tulisan saya sama-sama terpilih untuk terbit menjadi buku berjudul Jokowi Bukan untuk Presiden, Kata Warga Net tentang DKI-1 yang diterbitkan oleh PT. Elex Media Komputindo (2013). Antologi itu berisi berbagai tulisan dengan tema tentang Gubernur DKI dengan 42 orang kompasianer terpilih. Kami berada diantara 42 orang itu. Itu kebanggaan tersendiri bagi saya. Setidak-tidaknya pertama kali saya merasakan memiliki buku ber-ISBN tanpa harus mengeluarkan biaya sendiri seperti beberapa buku saya sebelumnya. 
 
Lika-liku pertemanan tanpa pertemuan (bersemuka), itu berjalan sebagaimana adanya. Saya dan Pak Thamrin Dahlan tidak pernah berhubungan secara khusus meskipun kami terus bersama di komunitas kompasiana. Sampai suatu waktu, tiga tahun lalu, saat Pak Thamrin Dahlan yang kini semakin populer dengan panggilan Pak TeDe mendirikan sebuah yayasan. Itulah Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (YPTD) dengan misi menerbitkan buku dengan mudah. 

Meskipun tujuan awalnya lebih kepada tujuan untuk menerbitkan buku sendiri secara mandiri, kini YPTD menjadi salah satu penerbit umum yang produktif menerbitkan buku. Dalam usia singkatnya yang baru dua tahunan YPTD sudah akan melangkah ke angka 400-an judul buku yang diterbitkan. Salah satu buku saya, Semangat Literasi untuk Berbagi Inspirasi (2021) juga terbit di Penerbit YPTD ini. Kini, YPTD juga sudah resmi menajdi anggota IKAPI, Ikatan Penerbit Indonesia bersama sekian puluh penerbit lainnya. Dia sudah sejajar dengan penerbit-penerbit mayor yang sudah lama hidupnya. 
 
Pak TeDe yang bernama lengkap H. Thamrin Dahlan, SKM MSi dengan pangkat Kombes (Purnawirawan Polisi) saya rasakan sudah menjadi bagian dari keberadaan saya sebagai seorang yang suka literasi. Belyau lahir di Tempino, 7 Juli 1952 dan sudah mengabdi sebagai seorang polisi selama 30 tahun (1980-2010) sebelum malang-melintang di dunia literasi. Jabatan terakhirnya di institusi Polri adalah Direktur Pasca Rehabilitasi BNN. 
 
Pak Haji TeDe yang menikah dengan Ibu Enida Busri pada tahun 1983 dikaruniai empat orang anak, tiga putra dan satu orang putri. Dari anak-anaknya itu dia sudah dikaruniai pula tiga orang cucu. Sangat berbahagianya dia dengan putra-putri dan cucu-cucu yang menemani kesibukannya dalam menggeluti literasi. Karya-karya literasinya berupa buku-buku yang sudah terbit dan beredar di tengah-tengah masyarakat sudah begitu banyak. Pak TeDe sudah menerbitkan buku sebanyak 50 judul dengan 21 judul buku sudah dia hasilkan sebelum lahirnya YPTD. Satu jumlah yang tidak akan mudah dicapai oleh orang tanpa komitmen dan kerja keras di ranah literasi. Layak kita berdecak kagum atas capaian produktivitas ini.

Pak TeDe semakin berkibar namanya setelah mendirikan YPTD dan membuktikan dirinya adalah penggiat literasi nasional yang tidak saja memajukan diri dan keluarga sebagai penggiat literasi, tapi juga sudah menajdi inspirasi bagi siapa saja yang menyukai literasi. Pak TeDe dengan pangkat tiga melati, itu memang pantas diberi predikat The Best untuk aktivitas dan prestasinya di ranah literasi selain pengabdiannya selama hampir sepertiga abad di kepolisian RI. Dengan sudah menulis 50 judul buku dalam usia sepuh seperti itu, sangatlah layak Pak TeDe mendapat tempat terbaik di hati kita sebagai penyuka dan praktisi literasi. 
 
Catatan singkat ini sepenuhnya saya dedikasikan untuk Pak TeDe, sahabat akrab yang justeru sampai tulisan ini dibuat kami belum pernah bersemuka. Tentu saya sangat berharap, dengan usia yang sudah sama-sama tidak muda, ini suatu saat nanti Allah akan pertemukan kami secara langsung. Keakraban yang terjalin melalui media sosial dan pertemuan langsung dalam video call atau zoom tentu saja belum memuaskan hati jika pertemuan yang sesungguhnya belum terjadi. Bahwa kami merasa sudah sering berbicara langsung, tapi itu baru sebatas melalui tulisan dan vedio melalui zoom ketika mengikuti seminar-seminar yang dilaksanakan oleh YPTD, itu benar adanya. Sekali lagi, hasrat ingin bertemu langsung tetaplah ada di hati.

Hal penting lainnya yang harus saya gaungkan di sini adalah bahwa motivasi dan inspirasi yang diberikan oleh Pak TeDe akan terus pula memupuk dan memperkuat motivasi dan inspirasi literasi yang sesungguhnya sudah kita miliki pada diri kita masing-masing. Motivasi, komitmen dan kerja keras yang ditunjukkan oleh Pak TeDe semoga menjadikan motivasi, komitmen dan kerja keras kita juga ikut bertmbah dan eksis. Pak TeDe memang seorang Kombes yang The Best. Selamat memasuki usia ke-70 tahun, Pak TeDe. Teruslah menjadi inspirasi dan motivasi bagi kami, bagi kita semua.***
 
Tanjungbalai Karimun, 20 Juni 2022
M. Rasyid Nur, penyuka, praktisi dan penggiat literasi

8 Mei 2022

Rumah Berjauhan, Rasa dan Jiwa Tetap Berdekatan

Rumah Berjauhan, Rasa dan Jiwa Tetap Berdekatan



Catatan M. Rasyid Nur              

UNTUK melaksanakan silaturrahim lazimnya orang mesti saling bertemu. Dengan pertemuan itu terjalin silaturrahim. Sayangnya tidak selalu mudah untuk bertemu. Jarak rumah dan tempat tinggal yang berjauhan akan menjadi salah satu kendala untuk itu. Haruskah silaturrahim menjadi korban? Tentu tidak harus begitu.

Melalui komunikasi jarak jauh segala sesuatunya dapat ditempuh. Melalui tulisan, misalnya orang juga bisa serasa bersalaman. Itulah  beda orang-orang yang menggunakan talenta berkarya (tulis) dengan orang-orang yang tidak menggunakannya. Boleh jadi semua orang memiliki talenta yang sama, tapi mungkin tidak semua orang menggunakannya. Bagi yang menggunakannya, sekurang-kurangnya dia akan terhubung dengan pembaca tulisannya. Maka terjalinlah hubungan jiwa dan rasa. Hubungan pertemanan dan keakraban diantara keduanya.

Hubungan pertemanan dan keakraban, kini tidak selalu harus dikarenakan secara pisik orang berdekatan. Tidak juga karena harus bersemuka setiap kesempatan. Tapi dapat dihubungkan oleh tulisan. Saling menyampaikan pesan, harapan dan keluhan. Apapun bisa tersampaikan lewat tulisan. Alat-alat penghubung (IT) telah membuka kesempatan untuk berhubungan diantara orang yang tidak berdekatan.

Dengan sebuah HP pintar (android) yang dimiliki, misalnya hubungan melalui dunia maya yang tersedia telah menyebabkan jarak sangat jauh tidak terasa jauhnya. Semua orang yang terhubung oleh jaringan internet melalui alat canggih seperti HP atau laptop, itu serasa tetap berada di tempat yang sama pada saat terhubung. Tulisan, gambar dan suara juga ada pada layar yang ada di hadapan kita.

Ketika Idul Fitri seperti saat ini kita memang ingin tetap bersilaturrahim meskipun jarak diantara satu dengan lainnya berjauhan. Dan harapan itu terbukti tidak sulit dilakukan. Dengan tulisan bahkan gambar yang terkirim kita sudah merasa sudah bersama, berbicara bersama, tersenyum bersama dan seterusnya bersama. Maka silaturrahim itu terus ada bersama kita.

Jadi, rumah dengan alamat yang nun jauhnya entah di mana di antara satu dengan lainnya, alhamdulillah tidak menjadi masalah. Kita tetap bisa menyatu dalam rasa dan jiwa kita. Penentu utamanya adalah harapan dan kemauan untuk tetap menjaga komunikasi di antara kita.***

Juga di mrasyidnur.gurusiana.id

12 Jan 2022

Kehidupan itu Apa Adanya (Jauhi Sombong)

Kehidupan itu Apa Adanya (Jauhi Sombong)


BEBERAPA pernyataan Bob Sadino sering menjadi rujukan orang dalam memotivasi diri dalam menjalani hidup dan kehidupan. Sebagai seorang pengusaha sukses, yang perjalanan hidupnya penuh kesederhanaan, Bob Sadino memang layak dicontoh. Dengan itu pula pernyataan-pernyataannya selalu didengar atau dibaca.

Di salah satu media, pernyataan Bob Sadino dikutip menyatakan begini, "Jika Anda bilang Anda susah, banyak orang yang lebih susah dari pada Anda. Jika Anda bilang Anda kaya, banyak orang yang lebih kaya dari pada Anda."Dia ingin menegaskan bahwa kesusahan atau kesulitan yang dihadapi tidak perlu disesali karena ternyata masih ada orang lain yang lebih sulit dari pada diri kita sendiri.

Sebaliknya jika kita merasa kaya tidak perlu itu menjadi kebanggaan yang menajdikan kita sombong atau angkuh. Mengapa? Karena masih ada orang yang lebih kaya dari pada diri kita. Lalu untuk apa menyombongkan diri atas kekayaan yang dimiliki? Begitulah kira-kira yang ingin ditegaskannya. Kekayaan yang pada hakikatnya juga bersifat relatif tidak dapat dibandingkan antara satu orang dengan orang lainnya.

Pernyataan itu kurang-lebih satu semangat dengan pernyataan Bob Sadino lainnya yang berbunyi begini, "Di atas langit, masih ada langit. Suami, isteri, anak, jabatan, harta hanyalah titipan sementara.” Begitu dia menegaskan pada pernyataan lainnya. Dan kalimat terakhir ini juga banyak dikutip oleh media. Saya sendiri mengutip kalimat-kalimat Bob ini dari kiriman teman di media sosial juga. Dan setelah dibaca-baca di media online lainnya juga ditemukan sama. Maka muncullah pada jalaman ini sebagai pemotivasi diri dan siapa saja yang berkenan membaca dan memahami.

Satu hal penting sebagai penguat, sesungguhnya dalam agama (Islam) yang kita pahami juga ditegaskan begitu adanya. Di kitab suci (alquran) atau pada buku-buku hadits kita akan mudah menemukan pernyataan berkaitan dengan larangan sombong atau lalai disebabkan oleh kekayaan atau harta. Anak-isteri dan keluarga juga diingatkan agama, jangan sampai membuat lalai mengingat Tuhan. Itu akan sangat merugikan.

Semoga catatan singkat ini sedikit-banyak mengingatkan kembali, baik kepada diri sendiri (penulisnya) mamupun kepada orang lain atau pembaca catatan ini. Jika ada manfaatnya, kiranya manfaat itu adalah untuk kemanfaatan bersama. Semoga!***

23 Des 2021

Literasi untuk Membangun Diri (Antara Teori dan Praktik)

Literasi untuk Membangun Diri (Antara Teori dan Praktik)


LITERASI itu bisa dilihat dari dua sisi, teori dan praktik. Mengapa bisa? Bukan harus? Karena terbukti dalam kenyataannya kita terkadang hanya melihat dan ikut di salah satunya saja. Idealnya memang harus di kedua sisinya. Seperti mata uang yang memiliki dua sisi yang membuat uang itu bernilai dan berlaku harganya. 

Kita yang ikut teori saja, kebanyakan karena keperluan akademik (di sekolah) begitu mahir pemahaman literasinya. Secara teori sangat mengerti, apa itu lietrasi. Misalnya, dalam satu buku dikatakan, 'kata literasi diambil dari bahasa Latin, literatus. Maknanya orang yang belajar. Secara umum istilah literasi merujuk pada kemampuan dan keterampilan seseorang dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung, juga memecahkan masalah di dalam kehidupan sehari-hari. 

Nah, itulah teori. Boleh jadi kita sangat mahir dan hafal banyak pendapat pakar perihal literasi. Kita akan mengatakan lietrasi itu bagian dari membaca, menulis, memahami bacaan, memecahkan masalah atau memberi solusi terhadap satu masalah yang kita temukan dalam bacaan. Dikatakan, literasi tidak bisa dilepaskan dari kemampuan seseorang dalam berbahasa. Itu semua tentu saja masih dalam tataran teori.

Secara teori juga kita dapat memahami tujuan literasi karena ada referensi yang bisa dibaca.  Apa tujuan literasi? Pemerintah menetapkan tujuan literasi antara lain,
1) Menciptakan dan mengembangkan budi pekerti yang baik.
2) Menciptakan budaya membaca dan menulis di sekolah dan masyarakat.
3) Meningkatkan pengetahuan dengan membaca berbagai macam informasi bermanfaat.
4) Meningkatkan kepahaman seseorang terhadap suatu bacaan.
5) Membuat seseorang bisa berpikir kritis.
6) Memperkuat nilai kepribadian.

Dengan target seperti di atas, manfaat literasi yang dapat dipetik, antara lain, 
1) Meningkatkan pengetahuan akan kosa kata.
2) Membuat otak bisa bekerja optimal.
3) Menambah wawasan.
4) Mempertajam diri dalam menangkap suatu informasi dari sebuah bacaan.
5) Mengembangkan kemampuan verbal.
6) Melatih kemampuan berpikir dan menganalisa.
7) Melatih fokus dan konsentrasi.
8) Melatih diri untuk bisa menulis dan merangkai kata dengan baik.

Akhirnya --secara teori-- target yang ingin dicapai dengan literasi adalah  meningkatnya pemahaman kita dalam mengambil kesimpulan dari informasi yang diterima atau yang dibaca. Dengan itu diharapkan akan membantu kita berpikir kritis dengan tidak mudah bereaksi terlalu cepat. Di sisi lain akan membantu kita meningkatkan pengetahuan. Sungguh baik harapan ini. 

Tentu saja tidak cukup di batas teori. Literasi sejatinya harus masuk ke prkatiknya. Bagaimana, di mana dan apa yang dibaca atau yang didengar, inilah pertanyaan yang akan menggiring kita untuk berpraktik dalam literasi. Harus jelas bagaimana kita melakukan kegiatan membaca, di mana tempatnya dan bahan bacaan apa yang kita jadikan sebagai bahan bacaan.

Karena literasi tidak akan terlepas dari kreativitas membaca dan menulis selain menyimak dan beberapa keterampilan berbahasa lainnya, maka sederhananya kita bisa memulai praktik literasi kita dengan menggiatkan kreativitas membaca dan menulis. Hendaklah setiap saat atau setiap hari kita membaca. Dan dari bacaan yang sudah terolah dalam pikiran dan perasaan, lanjutkan dengan mereproduksinya kembali dalam bentuk tulisan. Artinya, kita harus menulis setiap. Silakan dibuat moto atau jargon pribadi untuk memotivasi menulis. Misalnya, 'menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi'; atau jargon lainnya, 'cintaku literasi, kumenulis setiap hari.'*** (M. Rasyid Nur)

Tambahan:
- Landasan GLS: Permendikbud No 23 ganti No 21 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti;
- Silakan Lanjutkan di: Pedoman Pelaksanaan Gerakan Nasional Literasi Bangsa (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemdikbud, 2016;

22 Des 2021

Mengenang Hari Ibu Sebagai Motivasi dan Inspirasi Bersama

Mengenang Hari Ibu Sebagai Motivasi dan Inspirasi Bersama


MESKIPUN penetapan Hari Ibu 22 Desember secara resmi dilakukan melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 dengan tanggal surat 16 Desember 1959 tepat pada HUT (Hari Ulang Tahun) ke-25 Kongres Perempuan Indonesia sesungguhnya gaung aktivitas perempuan Indonesia itu sudah sejak jauh hari adanya. Jika tahun 1959 sudah merupakan HUT ke-25 artinya sudah lebih dari seperempat abad tahun sebelumnya terhitung sejak Kongres Perempuan I itu.

Sudah sama-sama kita ketahui bahwa tanggal tersebut dipilih untuk merayakan semangat wanita Indonesia dan untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara khususnya di kalangan wanita Indonesia. Ibu-ibu yang dikatakan tertinggal jauh dari semua aspek berbanding kaum laki-laki perlu semangat. Dan semangat itu selalu dikaitkan dengan moment tertentu. Itulah Kongres Perempuan Indonesia sebagai penyemangat tersebut.

Sejarah mencatat bahwa setelah Kongres Perempuan I tahun 1928 sebagai bukti bangkitnya perempuan Indonesia untuk ikut berjuang terwujudnya kemerdekaan dan Kongres Perempuan II pada tahun 1935 yang lebih menyatukan seluruh potensi yang dimiliki peermpuan Indonesia. Dan apda Kongres Perempuan III tahun 1938 mereka bersepakat menetapkan Hari Ibu yang diperingati setiap 22 Desember. Sejarah lahirnya Hari Ibu benar tidak terlepas dari Kongres Perempuan Indonesia III yang digelardi Bandung pada tanggal 22 Desember 1938 itu. 

Target mulia yang menjadi pemicu penetapan itu adalah agar perjuangan para perempuan Indonesia itu akan selalu dikenang dan dihargai atas jasa-jasanya dalam membantu meraih kemerdekaan RI. Artinya setiap tahun akan ada momen untuk mengingat bagaimana suka-duka perjuangan perempuan Indonesia bersama pejuang lain dalam usaha meraih kemerdekaan.

Hari ini kita mengenang kembali perjuangan itu. Baik perjuangan ibu-ibu secara nasional amupu perjuangan ibu kita dalam keluarga kita sendiri, adalah hal penting bagi kita untuk memperingatinya. Kita tidak akan mampu menghitung jasa para ibu, baik ibu sebagai penopang Ibu Pertiwi, Bangsa Indonesia maupun ibu sebagai orang tua kita sendiri. Adalah kewajiban kita untuk mengenang jasa mereka sekaligus menjadi pemacu semangat kita untuk bersama berjuang demi bangsa kita. Selamat Hari Ibu, semoga para ibu selalu menajdi motivasi dan inspirasi kita semua.***

15 Des 2021

Ibu, Dialah Segala-galanya Bagi Kita

Ibu, Dialah Segala-galanya Bagi Kita


KITA tidak mungkin membantah, ibu adalah sosok terbaik dalam hidup kita. Siapapun kita. Tanpa mengabaikan, apalagi merendahkan ayah, ibu adalah sosok yang paling dekat dengan kita. Sejak kita masih bayi, anak-anak hingga kita dewasa. Jangan ditanya ketika kita dalam kandungan ibunda kita. Ibu kita adalah kita. Nyawa dan makan kita adalah nyawa dan makan ibu kita. Menyatu. Dua dalam satu.

Ibu merupakan sosok yang sangat spesial bagi siapapun. Ibu, dialah orang yang tahu betul bagaimana kita, apa yang kita mau dan dialah orang yang sangat peka saat kita bahagia maupun kecewa. Melansir laman yourtango.com, sebagai sosok yang sangat spesial dan istimewa, ibu juga sebagai sahabat terbaik buat anak-anaknya. Tanpa ingin membandingkan ayah dan ibu, tapi ketika bicara tentang ibu, maka dialah segala-galanya bagi kita. Bagi siapa saja.

Rasa sayang dan kasih-sayang ibu tidak ada setitik zarrah pun yang membuat ragu. Jika pun ibu memarahi anak-anaknya, itu pun bagian rasa sayang yang sudah menyatu dengan kasih-sayang itu sendiri. Ibu cerewet kepada kita, misalnya, pun bagian dari kasih-sayangnya kepada anak-anaknya. Sesungguhnya cerewet dan terus memurainya ibu kepada kita adalah sebagai pendorong kita untuk berbuat lebih baik dari pada yang dilihatnya. 

Cerewet bukanlah marah. Sementara marahpun adalah tanda dia sayang dan cinta. Kita percaya, ibu marah adalah atas kesalahan atau kekeliruan kita. Tidak perlu kita bertanya mengapa ibu marah sementara kita sudah tahu kesalahan dan kekeliruan kita. Jika begitu, mengapa cerewt ibu harus membuat hati ngilu. Tidak perlu.

Ada beberapa predikat yang kita lekatkan kepada ibu kita yang menjadikan kita tegar dan akan tahan cabaran. Sebutlah ibu sebagai sahabat, ibu sebagai pendengar setia anak-anaknya, ibu sebagai penasihat, ibu sebagai tumpuan gundah dan sedih serta banyak lagi. Sebagai orang yang memberikan segala-galanya dalam posisi sebagai perawat dan penjaga kita, ibu tidak sedikitpun yang dapat kita jadikan sebagai sosok yang harus disalahkan. Tidak ada noktah kesalahan yang pantas kita tempelkan ke ibu. Tetaplah Ibu segala-galanya bagi kita.

Jika ibu adalah sosok istimewa dan segala-galanya bagi kita, tidak berlebihan kita bertanya kepada diri kita sendiri tentang ibu kita. Sikap seperti apa yang sudah atau sedang kita lakukan untuk membuat ibu kita berbahagia. Tindak-tanduk dan sikap kita hingga ke sapaan yang kita berikan kepada ibu, sudahkah membuat ibu kita berbahagia? Kita sadari betul, tidak akan pernah terbalaskan oleh kita apa yang sudah diberikan ibu kepada kita. Darah dan air ketuban yang mengalir mengiringi kelahiran kita, air mata yang juga terkadang mengalir saat memelihara dan mengurus kita pasti tidak akan pernah terbalas hingga kita berpisah oleh kematian.

Semua yang kita coba dan usahakan untuk memberikan apa saja untuk ibu, tidak akan mampu mengganti itu. Rasa senang, bahagia dan kenyamanan hidup, itulah yang sedikit akan mengurangi rasa bersalah kita kepada ibu. Dan jika ibu sudah tiada, hanya doa tuluslah yang bisa kita kirimkan untuknya.***

11 Okt 2021

Literasi, Strategi Memperkaya Inspirasi

Literasi, Strategi Memperkaya Inspirasi


INSPIRASI tidak melulu sebagai satu ilham yang datang tiba-tiba untuk membantu manusia berbuat dan melakukan tindakan tertentu. Benar, kalau KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) mengartikan inspirasi sebagai sebuah ilham. Ilham yang datang pada pikiran manusia dan akhirnya melekat pada jiwa atau hati manusia itu. Namun inspirasi biasanya justru datang ketika ada rangsangan dari luar diri manusia itu sendiri. 

Kalau begitu inspirasi kepada kita tidak muncul sebagaimana munculnya wahyu kepada para Nabi. Wahyu bisa datang tiba-tiba kepada Rasul Tuhan, itu baik melalui perantara Malaikat maupun langsung dari Tuhan. Tidak perlu ada rangsangan dari luar diri. Sementara inspirasi memerlukan tindakan lain yang datang dari luar untuk memberikan rangsangan kepada manusia untuk berbuat dan atau melakukan satu tindakan. Intinya selalu ada rangsangan. 

Jadi, inspirasi diartikan sebagai satu hal yang muncul dari pikiran manusia atau berupa rangsangan dari luar manusia untuk merangsang manusia melakukan perbuatan tertentu. Adanya inspirasi memberi manfaat bagi manusia sehingga membuka pikiran dalam bentuk ide atau gagasan yang baru. Maka inspirasi dikatakan sebagai suatu proses yang mendorong manusia atau merangsang pikiran manusia untuk melakukan suatu tindakan, terutama untuk melakukan tindakan yang berhubungan dengan proses dan tindakan kreatif.


Bagi seorang penulis ada istilah yang dikenal dengan proses kreatif sebagai jalan lahirnya sebuah tulisan. Proses kreatif seorang penulis, itulah yang salah satu fasenya adalah melewati adanya inspirasi. Dengan munculnya inspirasi akan terjdilah proses kreatif untuk berjalannya kreativits tulis-menulis. Ketika inspirasi muncul biasanya kita akan langsung menuliskannya, di kertas atau dengan menggunakan HP atau laptop/ komputer pribadi kita. Pastinya saat itu juga kita akan tuliskan karena khawatir lupa.

Seringkali saat kita sedang kesulitan dalam menemukan ide, tiba-tiba muncul inspirasi sehingga kita mendapat ide atau gagasan yang baru kembali. Inspirasi bisa muncul secara tiba-tiba atau dengan cara berpikir dengan lebih dalam dan lebih serius. Bisa juga membaca atau menyaksikan satu lukisan yang akhirnya pikiran kita akan bekerja. Berpikir ini juga dipengaruhi oleh keadaan yang ada. Keadaan inilah yang kita sebut sebagai pengaruh dari luar diri kita. Misalnya, saat melihat suami-isteri bertengkar di depan umum, tiba-tiba muncul inspirasi untuk menulis perihal rumah tangga atau hal-hal yang berkaitan dengan rumah tangga. Itulah inspirasi.

Inspirasi berbeda dengan motivasi. Motivasi merupakan proses yang mendorong dan mempengaruhi seseorang untuk mencapai apa yang diinginkannya. Sedangkan inspirasi merupakan ide-de kreatif yang muncul dari dalam diri setelah ada rangsangan dari luar. Inspirasi dapat dijadikan motivasi bagi seseorang untuk mencapai tujuannya. Inspirasi datang, motivasipun hadir untuk menyemangati kita melakukan proses kreatif kita. Proses kreatif di ranah tulis-menulis.

Oleh karena itu tidak keliru jika dikatakan kalau literasi akan menambah daya inspirasi seseorang.  Maksud saya akan memperkaya inspirasi kita. Literasi yang pasti akan melibatkan pikiran dan perasaan ketika membaca atau menyaksikan sesuatu agar diperoleh pemahaman dari apa yang dilihat atau dibaca bermakna literasi akan memperkaya inspirasi kita. Ayo, mari terus berdampingan dan bersama dengan litaerasi.***