Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Pantun Melayu

Pantun Melayu


Anak Cina mengail ruan

Apa umpan labah-labah

Orang buta jangan dilawan

Kita yang celek jadi meraba


Kayu mempoyan kulitnya manis

Patah galah di dalam paya

Ada perempuan mulutnya manis

Cakap sepatah jangan percaya


Kapal layar dipukul arus

Terus berlayar ikut pedoman

Pantun Melayu hidup terus

Tidak kalah dilambung zaman


Orang haji dari Jeddah

Buah kurma berlambak-lambak

Pekerjaan guru bukanlah mudah

Bagai kerja menolak ombak


Masa berjalan bawalah tongkat

Kalau boleh jenis semambu

Sama sekampung teguhkan pakat

Kalau tidak musuh berkubu

*Dari buku 'Pantun dan Pepatah Melayu' (T. Luckman Sinar)

Pantun Nasihat

Pantun Nasihat


HARI ini, hari libur ujung pekan. Mari kembali kita berpantun agar warisan budaya nenek-moyang kita ini terus ada di tengah-tengah kita. Semua kita, insyaallah mengerti dan bisa menulis pantun. Jika pantun klasik itu tidak kita ketahui penulisnya, hari ini sebaiknya kita menulis pantun dengan catatan nama kita di sampingnya.

Berikut saya menyampaikan lima bait pantun untuk sekadar saling mengingatkan di antara kita.

I

Batang gaharu kayu berseri

Bulan purnama berubah rupa

Ajaran guru hendak dicari

Mana yang dapat janganlah lupa

 

II

Daun ganja makan di hilir

Dibawa orang dari hulu

Barang kerja hendaklah dipikir

Supaya jangan mendapat malu


Tetakkan parang ke dahan sena

Belah buluh ambil sembilu

Barang kerja tak kan sempurna

Bila tidak mempunyai ilmu

 

III

Tanam balik buah peria

Tumbuh dekat batang berangan

berbuat baik berpada-pada

Berbuat jahat sekali jangan


IV

Pinang muda dibelah dua

Manik-manik mati dirembah

DAri muda sampai ke tua 

Pengajaran baik jangan diubah


V

Terang bulan di malam sepi

Cahaya memancar pokok kelapa

Hidup di dunia buatlah bakti

Kepada saudara Ibu dan Bapak


Begitulah lima bait pantun yang kita tampilkan pada hari ini.***

Literasi Pantun untuk Mengangkat Budaya Dunia

Literasi Pantun untuk Mengangkat Budaya Dunia


SUDAH kita ketahui bersama kalau pantun sudah menjadi milik dunia. Tidak lagi sebagai hasil sastra dan budaya dari satu bangsa atau satu bahasa tetentu saja. Dulu, pantun itu identik dengan bahasa Melayu. Pantun lebih dikenal dan berkembang di Negara dengan bahasa Melayu atau bahasa yang berakar Bahasa Melayu seperti Bahasa Indonesia.

Terhitung sejak akhir tahun 2020 pantun sudah menjadi milik dunia. Berarti sekaligus menjadi budaya dunia. UNESCO atau Badan PBB untuk Pendidikan, Sains dan Kebudayaan sejak 17 Desember 2020 telah menetapkan pantun sebagai warisan budaya dunia tak benda. Sejak itu artinya pantun sudah menjadi warisan dunia. Harus dijaga dan dipelihara juga oleh dunia.

Sebagaimana dirilis oleh banyak media bahwa penetapan pantun menjadi warisan dunia tak benda merupakan penetapan ke-11 bagi Indonesia yang diakui UNESCO. Sebelumnya, beberapa tradisi Tanah Air, semisal pencak silat, seni rakit perahu pinisi, tari saman, dan batik sudah ditetapkan badan PBB yang berkantor pusat di Paris, Prancis, itu. (https://mediaindonesia.com) Jadi, pantun sudah menjadi warisan dunia. Tidak lagi warisan negara atau bangsa tertentu saja.

Tentang pantun dengan segala imbasnya memang selalu enak dibicarakan. Enak juga membaca setelah tuntas menggubahnya. Sebagai Warisan Dunia Tak Benda yang berasal dari khazanah Melayu, Indonesia (salah satunya) tentu saja menjadi kebanggaan kita Bangsa Indonesia membicarakan pantun. Sepantasnya pula kita akan senantiasa menggubah dan membacanya.

Kali ini saya menggubah beberapa bait pantun untuk ajang silaturrahim kita. Seperti lazimnya kita akan saling bersilaturrahim di akhir pekan ini dengan tulisan-tulisan ringan. Salah satunya adalah menulis pantun. Dan pantun hari ini saya beri tema ‘ibu’ karena tiba-tiba saja saya mengenang ibu saya yang sudah tiada sejak lama. Selamat menikmatinya.

 

PANTUN IBU

I

Air di laut berwarna biru

Indah dilihat mata memandang

Ayo diikut perintah Ibu

Usah dibuat bak Malinkundang

 II

Pasang teraju si layang-layang

Benang ditambah sampai angkasa

Ibu menyuruh anak sembahyang

Jangan dibantah nanti durhaka

III

Manisnya tebu tumbuh di taman

Pupuk melukut subur daunnya

Ridhonya Ibu ridhonya Tuhan

Bila diikut mendapat syurga

IV

Ditanam kacang tumbuhnya labu

Benihnya dua putik menguncup

Jikalau sayang kepada Ibu

Jauhkan dia sengsara hidup

V

Batang bambu dibelah dua

Mari diikat membuat bangku

Bila Ibu sudah tiada

Doa  dihajat sepanjang waktu

Demikianlah silaturrahim kita untuk literasi kali ini. Semoga ibu kita dan seluruh keluarga kita senantiasa dalam keadaan sehat senantiasa.***

Pantun Silaturrahim di Akhir Pekan

Pantun Silaturrahim di Akhir Pekan


AHAD di akhir pekan (sejatinya di awal pekan) ini saya menyuguhkan beberapa bait pantun. Pantun ditulis semata untuk menjalin silaturrahim di antara kita. Sebagai penyuka literasi, banyak karya tulis yang dapat kita buat. Tapi karya tulis berupa pantun yang notabene adalah budaya bangsa hendaklah kita hasilkan pula.

Lebih dari itu, pantun pun sudah menjadi warisan dunia tak benda yang berasal dari Negara kita. Dengan Bahasa Melayu (Indonesia) yang halus dan indah, pantun akan menyampaikan pesan-pesan yang indah juga. Inilah pantun kita pada hari ini.

Kalau bulan tak bercahaya
Hujan kan turun membasuh bumi
Kalau Tuan sudi membaca
Inilah pantun penyejuk hati

Anyamlah tikar dari pandan
Pandan dipotong tidak bergetah
Kita berpencar tak berdekatan
Silaturahim terjalin di dunia maya 

Memukul pandan pakailah batu
Batu berlapis usah lepaskan
Di akhir pekan banyaklah waktu
Waktu menulis jangan lalaikan

Dipukul sakit bawa tengadah
Cobalah lihat ke matahari
Covid menghimpit membuat gundah
Tetap semangat kuatkan hati

Kuntum merekah harum baunya
Ikatkan kokoh dekat jendela
Berpantun kita cukuplah sudah
Pertemanan kokoh terus dijaga
Tbk, 13062021

Begitu sajalah pantun kita pada hari Ahad ini. Semoga ada manfaatnya.

 
Pantun Silaturrahmi untuk Literasi

Pantun Silaturrahmi untuk Literasi



KALI ini saya menyapa teman-teman, sahabat semua yang berkenan membaca. Untuk terus mengembangkan dan memajukan budaya bangsa, khsusunya pantun yang sudah menjadi 'warisan dunia tak benda' yang diajukan Indonesia dan Malayisa sejatinya kita terus berkarya pantun. Ada banyak karya puisi yang diciptakan manusia, namun pantun telah menjadi karya puisi istimewa.
Izinkan saya menyampaikan 5 (lima) bait pantun berikut,

Petik sekuntum mewangi bunga
Bunga cempaka dalam jambangan
Salam santun untuk semua
Hati berduka sekali jangan

Andai kan bulan tak bercahaya
Mungkin gerimis di tengah hari
Andai kan Tuan merasa duka
Bawa menulis menghibur hati

Menebang tebu tolong tuakan
Gulanya manis masak sendiri
Terbitkan buku jadi harapan
Wajib menulis setiap hari

Tebunya manis tanam sendiri
Dijual tidak tumbuh di halaman
Guru penulis jadi isnpirasi
Teladan anak dicontoh teman

Kain katun berwarna-warni
Membuat baju tolong jahitkan
Berbalas pantun sampai di sini
Di lain waktu kita lanjutkan
Tbk,27032021

Demikianlah, semoga ada manfaatnya.
Puisi Wahyu Nurhalim

Puisi Wahyu Nurhalim


PENGANTIN BARU
SELAMAT KEPADA: IKA MARWAH

Dulu!
Kamu gadis alangkah pilu dan terus meminta jodoh..

Dulu!
Kamu dianggap bocah lugu yang penuh drama cinta yang semu

Kini!
Engkau temukan tulang rusukmu yang akan menopang kehidupanmu

Hidup bersama dan menemani membersamai dan penuh keberkahan

Kini!
Rasa syukur harus selalu diucapkan agar kelak jadi saksi janji suci yang diikrarkan suamimu

Kelak!
Memiliki anak hasil bercumbu dan buaian kasihan sayang

Kelak!
Anakmu menjadi penulis, dan keluarga besar sebuah competer yang tak pernah berhenti menulis


Riau, 26 Desember 2020
Puisi Wahyu Nurhalim

Puisi Wahyu Nurhalim


TENTANG KITA DAN ALAM

Selalu ada cara,
Untuk kita bersyukur
Pada semesta nikmat tiada tara,  yang maha luas terhampar
Tumbuh suburkan pohon iman di taman jiwa gersang..

Selalu ada alasan,
Untuk kita memperbaiki diri
Tak perlu mengelak,
Walau tak bisa sempurna dalam proses yang panjang

Selalu ada kesempatan,
Selagi waktu masih bersahabat
Karena sudah pasti, ia tak datang untuk kedua kali
Biarkan saja lelah membayangi dirimu yang hilang ditelan ombak..

Selalu ada jalan, 
Untuk kita kembali
Menuju perjumpaan dengan perkampungan taubat
Sucikan jiwa-raga ini dari keangkuhan dan debu kealpaan diterpa karam..

Riau, 5 November 2020
Puisi Wahyu Nurhalim S.Pd.I M.Pd

Puisi Wahyu Nurhalim S.Pd.I M.Pd


NGANTUK DISAMPING IBU

Mata ibu sepertinya mulai terasa kantuk 
setelah cukup lama asik sibuk menambal bantal dengan tangannya yang halus,  
saat melihat bantal dan kasur perlu ditambal
agar besok pagi saya dan seisi rumah
tetap bisa ia masukkan semua ke dalam pelukannya 
hingga ku dininabobokkan 
saat ku dalam kepenatan luar biasa

Indragiri Hulu, 25 Oktober 2020
Puisi: Wahyu Nurhalim S.Pd.I M.Pd

Puisi: Wahyu Nurhalim S.Pd.I M.Pd


HENING DAN JERITAN AKAN BERAKHIR


Hening terhempas bagai padi angin terkekang oleh waktu..

Pada suatu hari akan sirna dalan jeritan doa dan pintaku padamu ya Rabb..

Geliat tangis ya ampun ya rabbi..
Atas manusia yang penuh dengki dan spritual yang tinggi.. 

Kemanakah?
Saat 1/3 malamku 
Akan kerendahan hati yang terpana oleh rayuanmu


Indragiri Hulu, 23 Oktober 2020
Puisi-puisi Wahyu Nurhalim S.Pd.I M.Pd

Puisi-puisi Wahyu Nurhalim S.Pd.I M.Pd


MENANTI CINTA PANGERAN RIAU

Tiba-tiba engkau mendahului saat berpapasan acara
Aku hanya bisa memandang kepergianmu hingga sampai di titik lenyap dan dikuburkan
Kembali lagi menunggu, tapi tak mengapa
Karena aku telah sampai pada sebuah keyakinan, bahwa kelak kaki ini tetap sampai di titik tujuan yang pernah dikonsepkan

Tak mengapa pula bila kau menganggap ada yang cemburu
Bukankah cemburu itu pertanda cinta sayang dan mesra?
Sungguh, kesetiaan ini nyata adanya dan luar biasa adanya?

Yang pasti, 
apa yang kau kejar adalah fatamorgana
Tak ada sebentuk kemajuan sedikitpun darimu
Tetapi mengapa masih asyik dalam permainan dan bertepuk sebelah tangan dalam simphony cinta?

Jika saja mau sedikit merenung untuk tahu,
Ada hati yang setia menunggu di ujung sana
Walau masih tertutup kabut pegunungan everest?

Kau tak percaya atau aku yang percaya?
Kita buktikan saja
Kesabaran yang anggun akan selalu bersemi di relung jiwa yang terlalu sedih meratapi
Biarlah kelak, waktu yang menjelaskannya tanpa sebab aku mengartikan sikapmu

lndragiri Hulu,  Riau  15 September 2020


BUDAYA ORANG MANGONDOW

Jika anda sudah jadi Kinalang
 lindungi paloko agar hidup senang dan riang
 Jika anda jadi pemerintah maka jadilah pengayom rakyat dan bermartabat

Jika sedang mendapat amanah rezeki
 simpanlah sebagian untuk anakmu nanti dan nikmati
Jika kita dapat rejeki maka jangan lupa bersedekah dan berbagi
Jika melihat tamu datang bertandang
segeralah beri sirih pinang dan sambut dengan riang
 Jika ada tamu yg datang maka berilah penghormatan  dan sambutan
 Apabila kaki selalu basah
maka kerongkongan juga ikut basah dan minumlah
 Setiap orang rajin, pasti mendapat rejeki dibumi pertiwi

Jika ingin menginjak bumi Totabuan
jangan lupa adat bobahasaan yang tinggi
Jika datang di Bolaang Mongondow, maka ikutlah adat kebiasaan orang mongondow dan bersua
Kalau bogani sudah meringki
tandanya ada gangguan negeri ini
Jika pendekar sudah marah, berarti ada gangguan keamanan diganggu
Apabila kinalang sudah di singgasana
janganlah lupa paloko rakyat jelata dan petuah
Setiap pemimpin pilihan rakyat, jangan lupa bantulah rakyat yang mandat

Jika sudah makan sayur gedih
itu pertanda hidup di tanah kami dan bersyukur
 Jika datang ke negeri kami, pasti makan sayur gedih dan kemangi
Jika gamelan sudah berbunyi
tanda berduka di bumi kami yang usang dan tua
Jika gamelan sudah dibunyikan, segera berkemas melayat duka akan singgasana
Jika bogani negeri sedang pergi
tanda musuh sudah dikejari dan nikmati usulannya
jika pendekar menghilang, pasti sedang mengejar musuh dan malapetaka
Jika berkendara jalanlah pelan
agar engkau cepat sampai tujuan dan bangga
Berhati-hatilah berkendaraan agar tidak terjadi kecelakaan dimana ada bahaya
Jika sayur gedih sudah dimakan
pertanda pulang pasti sudah terlupakan dan amanahnya
 setiap tamu yg datang ke Mongondow bila sudah gemar makan sayur gedih, bisa saja jadi betah 

Riau, Indragiri Hulu 15 september 2020
Puisi Wahyu Nurhalim S.Pd.I M.Pd

Puisi Wahyu Nurhalim S.Pd.I M.Pd


MELALUI LANGKAH SENDIRI


Terkunci pilihan-pilihan kata merayu yang menggombal

Aku memilih diam lalu pergi dari duniamu yang mengangguku
Aku menumpahkan air mata merana tanpamu
 Dan akhirnya gelisah tumpah ruah didalam pelukanmu

Rasa sakit  demi kesembuhan yang aku selipkan dalam doa
 kau lupa bahwa
Ada sebongkah hati yang setia padamu
Racun manis yang selalu kau sajikan dalam dirimu
Kutengguk mesra tanpa curiga dan mencurigai

Hingga buai asmaramu kian merajai jiwa yang terpatri dalam diri..
 
Terpasung aku dalam gelora cinta palsumu
Kini luka ini telah bernanah dan berdarah dalam hembusan angin sepoi sepoi
Namun candu dan madumu hingga cintamu terlanjur dan tak surut lalu mampu merusak sendi hidupku yang dulunya bahagia
 
Aku ter panah oleh racunmu hingga datang perpisahan kini kau luncurkan
Berdalih ego yang terselimuti hianat
Hingga gendang telingaku sobek tersayat silet
Oleh kata-kata sumpah yang terucap dari mulutmu
 
Aku memutuskan pergi takkan kembali
Semua harapanku telah sirna ditelan bumi
Memilih sendiri agar nafas terpingkal hilang
Dalam  berujung datang dan ini
Menjadi teman sejati dalam hidupku yang semakin baik
Pada tahun ini

Indragiri Hulu, Riau 12 September 2020
Puisi Wahyu Nurhalim S.Pd.I M.Pd

Puisi Wahyu Nurhalim S.Pd.I M.Pd


SYAIR KESEDIHAN

Hari-hari telah kita lalui bersama
Menandai makna gugusan aksara dan realita yang ada?
di antara alif dan selepas iqro?
Menelusuri makna dalam kamus Kata KBBI
Menata kembali susunan sehingga rapi.

Tetapi belum semua yang tersusun itu selesai terurai
Masih banyak bait yang nanggung semua luka
Kalaulah memahaminya aku tak kan sanggup sudahkah kita menunaikannya dari yang wajib dan sunnah?

Tanda tanya akan keberhasilan?

Dan mengapa ujungnya jadi menyedihkan?

Semua terbinasa?

Apakah mesti semua itu karena dalam diri semua insan akan abadi dan takkan pernah hilang?
Di mana bisa kita cari akar masalahnya sedangkan masalah terus ada?

Apakah ini yang namanya himbauan?
Peringatan?
Ataukah ancaman?
Bisakah engkau menganggap bahwa dunia kita baik-baik saja?

Di ujung jembatan ini, 
Aku masih menanti Aji Saka untuk menjelaskan segala tanya.

Indragiri Hulu, Riau, 10-9-2020
Puisi: Wahyu Nurhalim S.Pd.I M.Pd

Puisi: Wahyu Nurhalim S.Pd.I M.Pd


DZIKIR ANGIN 

Ayo dzikir yang menyeruak dalam ronamu
Menyelinap di antara susunan kelopak mata
Tersipu merayu bersama tarian kepala putik
Bersenyawa dengan aroma yang terbawa embusan kayu dan angin

Subhanallah
Walhamdulillah
Laa Ilaha Illa Allah
Allahu Akbar

Butir-butir istighfar tergubah sepanjang langkah ku
Atas debu kealpaan saat ku yang selalu menghampiri
Karena keakunghan yang mengungkung nurani manusia
Lelap jiwa dalam lalai dan lena dunia yang fana

Astaghfirullah hal 'adzhim
Astaghfirullah hal 'adzhim
Astaghfirullah hal 'adzhim
Astaghfirullah hal 'adzhim

Mengalirlah kau, wahai air mata keinsyafan
Hapuskan pahala segala gundah gulana yang menggila
Demi ridhoNya, merayu hamba  yang Riya

Riau Indragiri Hulu, 10-9-2020
Puisi-puisi Wahyu Nurhalim S.Pd.I M.Pd

Puisi-puisi Wahyu Nurhalim S.Pd.I M.Pd



LUKISAN PULANG DI RIAU

Menuju pulang saat menjadi dewan juri,
Selalu saja ingin lewat di tempat ini dan merinding..
Seakan memasuki sebuah lorong harapan
Ya, bukankah ujung dari kepulangan itu simpul atas segala harapan hingga menusuk malam jumat kliwon?
 
Sudah teramat jauh kaki ini mengelana
Memahat jejak di setiap sudut waktu dan jauh atas semua mimpiku?
Mengikatnya dalam lembaran-lembaran putih kehidupan yang membuatku terkesan?

Jika engkau berada di sampingku, mungkin akan paham senyatanya
Bukankah kau ingin merasakan getarannya dan gelombang yang kelam?

Karena setiap kita pasti akan beranjak menuju pulang dan kedewasaan yang hakiki?
Entah suka ataupun tidak suka aku tetap pada setiaku?
Entah dengan sukarela ataupun terpaksa
Semoga di ujung sana, bisa kita temukan sebentuk senyuman dan tulus dan buatku terkenang hingga gelap menusukku sampai lupa peristiwa yang terjadi..

Indragiri Hulu Riau, 06 09 2020


PETUAH ANAK MUDA

Wahai anak muda, janganlah hempaskan diri dalam kebinasaan
Jangan sampai terperosok ke dalam lubang yang sama sampai dua kali
Lalai dalam lena hanya akan menuai malapetaka yang berimbas dengan makhluk lainnya

Hidup memang tak selalu lurus-lurus saja
Simalakama dalam dilema yang mendera disebuah retorika
Tak cukup sekadar mengaduh, menangis dan meratapi hati yang tersayat

Maka telah ada jaminan bahwa dibalik setiap kesulitan pasti ada kemudahan sesuai firmanNya?
Bukankah rahmat-Nya telah tersaji sedemikian luas dan ampunanNya?
Sungguh, memang itulah karakternya

Maka jangan pernah tertanggalkan baju kesabaran jika masih ada baju amarah yang tersimpan itu
Pantang berhenti membuat lapis-lapis  manfaat walau sesaat dan tergores nan indah
Karena setiap kebaikan pasti akan berbalas kebaikan pula dah baik juga untuknya

Tidak ada kah cinta yang tak ada makna kesedihan,
Kiranya kedamaian selalu bersemayam di relung jiwa jiwa yang terluka
Kiranya Yang Mahasegala setuju dengan semoga kita akan kekal di surgaNya

Indragiri Hulu, Riau 9 september 2020
Puisi-puisi  Wahyu Nurhalim S.Pd.I M.Pd

Puisi-puisi Wahyu Nurhalim S.Pd.I M.Pd


TERNYATA PENILAIANMU SALAH


Ku..
Elakkan ala naluri dengan nilai 0 atas sikapmu
Namun ku harus bertanggung jawab atas nilai 100 atas prestasimu

Hari ini bukti bahwa aku akan melihat perjuangan dan harapan yang pasti
Dengan semua hegemoni juara dalam diri...

Indragiri Hulu, Riau 6 September 2020


LUKISAN PULANG DI RIAU

Menuju pulang saat menjadi dewan juri,
Selalu saja ingin lewat di tempat ini dan merinding..
Seakan memasuki sebuah lorong harapan
Ya, bukankah ujung dari kepulangan itu simpul atas segala harapan hingga menusuk malam jumat kliwon?
 
Sudah teramat jauh kaki ini mengelana
Memahat jejak di setiap sudut waktu dan jauh atas semua mimpiku?
Mengikatnya dalam lembaran-lembaran putih kehidupan yang membuatku terkesan?

Jika engkau berada di sampingku, mungkin akan paham senyatanya
Bukankah kau ingin merasakan getarannya dan gelombang yang kelam?

Karena setiap kita pasti akan beranjak menuju pulang dan kedewasaan yang hakiki?
Entah suka ataupun tidak suka aku tetap pada setiaku?
Entah dengan sukarela ataupun terpaksa
Semoga di ujung sana, bisa kita temukan sebentuk senyuman dan tulus dan buatku terkenang hingga gelap menusukku sampai lupa peristiwa yang terjadi..

Indragiri Hulu Riau, 06 09 2020
Puisi-puisi Wahyu Nurhalim S.Pd.I M.Pd

Puisi-puisi Wahyu Nurhalim S.Pd.I M.Pd


KESABARAN HAKIKI 

Bersabarlah dengan kesabaran nan anggun
Dan segala sesuatunya tetap menjadi lebih baik atas semua keahlian

Menuruti ketergesaan hanya akan berujung pada penyesalan dan ungkapan dengan nada ynag amat tinggi
Bukankah keberhasilan itu milik orang yang tahu bagaimana cara menunggu? Sesabar itukah

Maka teruslah bersabar
Dan tingkatkan terus kualitas kesabaran itu
Tapi bukan berarti hanya dengan diam tanpa arti
Bertumbuhlah selalu dalam karya dan kreasi melalui tulisanku ini

Dan cobalah sejenak duduk bersama,
Mengurai gagasan yang menyembul di antara gelas-gelas kopi dan teh poci
Untuk kita mengerti lebih tajam bahasa
Memahami lebih dalam ke aras subtansi
Sungguh, unta pun tak akan terperosok dalam lubang yang sama sampai dua kali dalam setahun

Bila segala sesuatunya telah tertunai,
Hiasilah ia langkah ini dengan kuntum-kuntum do'a dan sholat yang khusyuk
Tawakal kita, adalah senyum bagi  semua umatnya nabi muhammad SAW

Indragiri Hulu, Riau 31/08/2020


DALAM SUNYI NAMAMU DAN NAMAKU

dalam putih sepi
kabut menembus awan namamu ada
hingga ke palung pekat lalu
tubuhku, merindu cahaya dari rekayasa asmara yang 
dijanjikan mulut di bawah auman singa si raja hutan pohon-pohon durian

di putih sunyi akan tenggelam
Para kutu berloncatan sambil menaridi selasar mata, duka berembun dan bersekutu dengan angin puncak hening
kita membicarakan masa lalu dan masa depan yang kembali
gembira menafsirkan dekapan dari sebuah buku dan foto udah kusuh dan lusuh

di meja perjamuan butiran-butiran embun memecah jadi bias di mata
suara radio tua yang hampir usang menumbuhkan kangen yang pelan-pelan melayari samudera cinta di pelupukmu

di putih sunyi
lautan maha cahya
daun terlepas

tahun-tahun sesudahnya
kita menjadi boneka di bilik atau manekin atau guling kapuk yang tiarap di palung dingin, malam. 

mendekap mimpi kemudian selepas musim-musim tua tanak di radio tua
pohon rambutan
selembar puisi
bunga pentas
sempurna jadi pikat detak tak berkarat
alasan melanjutkan nafas, derap jantung dan kuasa ilahi di wilayah paling rahasia

          yaitu renungan
          yaitu luka rindu
          bersekutu dengan doa malam doa fajar doa dini hari 
           kucoba lagi menerima kenyataan
           sekumpulan bunga layu
          mampir di mimpiku

di putih sunyi
butuh waktu melupakan hitam putih perjalanan kata-kata di bawah pohon rambutan
di kota dingin bagai bogor kedua
kini menyimpan gigil sesal dan kusedekahkan waktu
menulis sajak untukmu
cukup jadi nutrisi bahagia lahir dan batinmu serta tidak lupa selembar doa di manaqib tua kubisikkan ada bagian yang tertinggal doa muharram ku ditahun ini 1442 H

di putih sunyi 
bayangmu pelan singgah
harum menggoda aku terbang hingga kefantasi kelangit ketujuh

Indragiri Hulu, Riau 1 September 2020



DERASNYA


Saar deras aku melangkah
Menunggu kecupan saat aku terjebak dalam rayuanmu

Inikah?
Pertemanan atau sekedar rusukmu 
Ekploitasi dalam dangkalnya sanubarimu?


Riau, Indragiri Hulu 2 September 2020
Puisi Wahyu Nurhalim S.Pd.I M.Pd

Puisi Wahyu Nurhalim S.Pd.I M.Pd


KURASAKAN DI MALAM HARI

Nikmati pahitmu, selagi engkau mampu menanggungnya beban hidup yang jemu
Karena bisa jadi itu yang lebih solutif dan menginspirasi
Karena tak selamanya kita akan bertemu dengan yang manis-manis dan pahit pahit
Tak selamanya pula kemanisan itu berbuah nikmat dan pahit derita
Biasakan saja hari harimu menjadi putih, suatu saat nanti akan kau temukan jawabannya dalam setiap perjalanan hidupmu

Nikmati saja kue  sudah menjadi basi
Jangan kau sesali apa yang telah terjadi dan pentingnya
Karena kesempurnaan manusia memang ada pada ketidaksempurnaannya dan terus ada kesempurnaan nya

Peras terus hati dan pikiranmu
Jangan berhenti sebelum ia kering dan lupakan semuanya
Sebelum kau dapatkan legitnya hikmat atas kebijaksanaan
Karena adamu adalah untuk menggubah kelegitan itu dan keberpihakan atas kamu diciptakan sebagai makhluk hidup

Tibalah kini kita duduk satu meja,
Untuk mengurai kekusutan suasana atas laku laku anmu
Maka biar saja pahit dan legit berkongsi,
Dengan itu kerumitan kita tuntas tersudahi dan merintih telah hilang

Riau, Indragiri Hulu 28 Agustus 2020
Puisi-puisi Wahyu Nurhalim, SPd I, MPd

Puisi-puisi Wahyu Nurhalim, SPd I, MPd


BINGKAI SENJA DI DESA TITIAN RESAK 

Sekuntum mawar merah di senja dalam bingkai selarak bambu
Tidakkah kau tahu apa yang terkandung didalamnya?
Ia yang menyimpan sejuta kenang atas kisah anak manusia baik laki namun bukan banci
Yang tengah belajar memaknai arti sebuah mimpi

Mimpi tentang hari esok
Tentang cinta dan pengorbanan
Tentang hangatnya persahabatan dan sulitnya memilih pasangan

Atau kisah tentang pecel lontong bunga kecombrang dan kembang kol
Begitu pula dengan oseng gendot  lauk belut goreng
Serta cerita tentang sepiring mendoan hangat bersanding lombok cengis yang pedas..

Mungkin engkau tak tahu,
Atau bahkan tak pelu tahu apa sih jatidiriku?

Tapi di kejauhan sana adalah lahan perburuan belut segar yang enak sekali ..
Atau arena adu lari di atas galengan
Juga tentang gropyokan tikus oleh anak-anak berseragam merah putih putih biru dan putih abu abu berjalan bersama saat berangkat dan pulang sekolah
Tentang kerbau pembajak sawah sebelum hadirnya kerbau bertanduk runcing

Hujan deras adalah payung kami agar aku tak kehujanan dan
Terik matahari adalah topi baja yang kukuh menjadikan rambut ini memerah dan menghitam
Aroma lumpur adalah parfum kejantanan yang tiada duanya dari parfum lain
Agar hasil panen bisa selalu sedia di atas meja makan yang terbuat dari kayu mahal dan diukir oleh tukang kayu yang ganteng

Oh tidak, aku tak menganggap diriku pahlawan pangan disiang hari
Dengan memandang bulir emas yang merunduk kaku, cukup untuk mengukir bahagiaku dan susahku saat kuliah s1 dan s2
Tugas kami sekadar mengabdi mengajar dan mengamalkan ilmu dari kuliah
Kiranya dikau sudi memahami arti dari hidup seorang pemuda pengabdian ini didesa titian resak

Riau, Indragiri Hulu, 23/08/2020


NYANYIAN SEPANJANG MALAM DI RENGAT

Hening  malam suara jangkrik.. ditambah goresan cakrawala
Rembulan senja mengulum sipu ditengah musim layang layang
Sudahi bait-bait waktu setahun berlalu dan sekarang masih aku tunggu

Satu era beranjak terjelang dan maju
Lembarannya masih kosong, tak ada goresan pesan di sana
Sedang perca kisah yang kemarin belum jua berpadu
Masih ada ikatan kata yang terputus
Resonansi yang kehilangan nada tinggi

Angan-angan liar menari
Embuskan kabut binal ke benak jiwa
Menutupi tunas asa yang terus menggeliat dan jauh

Kilas cahaya pecahkan gulita menuju remang
Tapak-tapak suci terus terpahat dalam sendat
Segenggam makna masih ia bawa dan disimpan dalam memorinya, entah sebentuk apa
Jalan di depannya masih terkabur oleh kabut misteri illahi

Jika esok masih kau dengar kicau burung kacer,
Bilakah aku titipkan salam padanya? Jawab.
Bilang saja bahwa di dadaku masih bersemayam cinta yang dimaknai di bukit cinta

Indragiri Hulu Riau, 25 Agustus 2020
Puisi-puisi Wahyu Nurhalim, S Pd I, M Pd

Puisi-puisi Wahyu Nurhalim, S Pd I, M Pd

PERGINYA PAHLAWAN

Sedih pahlawan Ir soekarni pergi dan Drs. Moh.Hatta
Aku hanya titipkan doa
Agar diampuni segala dosa
Dianugerahi pandai ibadah
Dan dalam alam barzakh
Mereka bahagia
Putra dan putri Indonesia
Selalu setia dan Cinta Negara

Indragiri Hulu, Riau 18 Agustus 2020


GOOD BYE INDONESIA AKU KECEWA

Rupanya engkau mengajak dipertengahan peta indonesai umpatanmu dan dalam koridor murahan
Mengetuk pintu ku saat ku beranjak kekamar.. saat kami pasukan perang.. Tanpa disadari memunculkan diri sebagai tanda kau berpacuan
Aneh datang pergi tanpa pamit dan salam sebagai adab muslim
Apakah layak sebagai imam dan makmumku?

Ya ya ya
Kau tak layak menjelma temanku sembari pilu di kaki gunung
Menjauh pula dari suara laut yang menggumam
Tak perlu berpijak diri di depan anggrek dan pohon randu
Jika kau datang mencuri bunganya saja dan kau hembus lalu mawar malah kau pilih
Untuk kepuasanmu semata demi hasratmu yang tinggi

Benar kata mereka 
Jangan hanya datang untuk menyolek dan menyobek
Karena sakitnya tanpa berdarah lebih sakit ditebas pedang samurai
Jika kau tau sebuah pist lebih berbahaya dari sebuah samurai

Indragiri Hulu,  Riau, 20 Agustus 2020


MUHARRAM 1442 H 

selamat tahun baru matahari, nyala apimu setia pada semesta yang sudah hampir tua ini 2020 M tepatnya

selamat tahun baru embun bening, kejernihan alam dalam bulirmu dan setiap nafas kita bertasbih

selamat tahun baru cericit burung, kucing, dan kuterima persembahan simfonimu

selamat tahun baru wajah di cermin yang baru, semeriah apakah sudah  mimpimu mimpi kita twrwujud malam kemarin tahun muharram kemarin?

selamat tahun baru puisi, gemerlap makna di tubuh penyair dan pembaca karya

selamat tahun baru santriku, masihkah semangat belajar belajar dalam menuntut ilmu?

Demak, 20 Agustus 2020


Puisi: Kita Ingin Dia Ada (Kepada Pemegang Amanah)

Puisi: Kita Ingin Dia Ada (Kepada Pemegang Amanah)

Karya M. Rasyid Nur

TANPA terasa kita ternyata sudah akan berada di Tahun Baru Hijriyah, 1442. Saat tulisan ini dibuat hanya tinggal beberapa jam saja lagi usia di tahun 1441. Kurang lebih enam jam saja lagi. Tepat mata hari terbenam sore (Rabu, 19/08/2020) nanti berarti sudah berakhir tahun ini. Kita memasuki tahun baru lagi.

Bagi kita tentu saja sebuah kebahagiaan, ketika usia kita bisa menyelesaikan masa di tahun ini. Dan berharap juga kita, Allah masih akan memberi masa buat kita untuk merasakan hidup di tahun baru itu nanti. Mari kita ucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1442, semoga senantiasa sehat bersama kita dan taat juga tetap bisa kita buktikan.

Saya ingin berbagi rasa dengan membaca seuntai puisi berjudul Kita Ingin Dia Ada yang baru beberapa jam yang lalu saya gubah.

Kita Ingin Dia Ada

Terbenam sudah matahari sore ini di penghujung sunyi terpatri satu empat empat satu
Berakhir sudah perjalanan waktu ini yang satu tahun silih berganti selalu ingin ditunggu-tunggu 
Satu tahun berlalu meskipun kita suka atau tidak begitu
Satu tahun sudah terkunci meskipun gembok itu tidak ada bersama kita
Tercatatlah dosa atau pahala entah sudah berapa laksa
Pernahkah kita menghitungnya

Sesungguhnya sederhana harapan-harapan kita
Apa-apa yang kita inginkan di titik ini
Catatan harian kita, ingin kita tingkatkan jumlahnya untuk pahala yang kita buat sudah 
Catatan dosa kita, ingin kita kurangkan atau hapuskan dari halaman hitam yang kita genggam
Persahabatan kita, ingin kita kuatkan ikatannya untuk menyatunya silaturrahim antara nafas dan darah kita 
Tanggung jawab kita, ingin kita pertahankan konsistensinya agar tidak menjadi debu ditiup angin sepenjuru 
Iman kita, ingin kita pelihara kemurniannya agar tidak tercampur antara hak dan batil
Ibadah kita, ingin kita pagut kuat agar tidak tergoyahkan oleh topan angkara fasiq durjana
Harapan kita istiqomah dengan inayah Penguasa Alam Pemberi amanah

Kita ingin Dia ada
Pada setiap tarikan nafas kita hingga ujungnya tiba
Kita ingin Dia ada pada setiap gerak-gerik kita hingga denyutnya menghentikan langkah
Kita ingin Dia ada pada setiap suara hingga sayup menutup sahut dan mata
Kita ingin Dia ada
Tbk, 19082020
(Memperingatai Hijriyah 1442)