Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan
Mengenang Tragedi G30S untuk Kewaspadaan Keutuhan Pancasila

Mengenang Tragedi G30S untuk Kewaspadaan Keutuhan Pancasila



KITA setuju bahwa kita tidak boleh melupakan kekejaman PKI yang puncaknya terjadi pada 30 September 1965. Bahwa kekejaman demi kekejaman PKI yang sudah berulang dilakukan di Tanah Air sejak sebelum kasus G.30 S PKI 1965 membuat rakyat, terutama umat Islam sangat marah; tentu itu menjadi konsekuensi dari kekejaman itu. Dan ikutan balas dendam pasca tragedi G.30 S PKI itu pula yang menimbulkan banyak korban, itu juga menajdi catatan sejarah kelam bangsa kita. 

Seperti diingatkan kembali oleh Asyari Usman melalui tulisannya berjudul Kekejaman PKI Harus Terus Diingat yang diposting oleh Mas Ruhi pada hari Senin (27/09/2021) lalu di laman hajinews.id menjelaskan bahwa banyak pihak saat ini yang berusaha untuk menghapuskan ingatan publik, khususnya umat Islam, tentang kekajaman Partai Komunis Indonesia atau PKI. Katanya, berkali-kali melakukan tindakan biadab dengan membunuh para ulama, kiyai, santri, dan para ustadz itulah bukti kekejaman PKI.

Sebagaimana sudah kita baca dalam sejarah, puncak kekejaman PKI adalah pada tragedi pembunuhan tujuh jenderal TNI pada tengah malam 30 September 1965 yang lalu itu. Pembunuhan ini dilakukan secara sadis. Para jenderal ditembak dan mayat-mayat mereka masih disiksa. Setelah itu mereka lemparkan ke Lubang Buaya. Itulah kekejaman PKI. Kita kenang semata untuk kewaspadaan dan pengamanan Pancasila.

Satu hal yang diingatkan oleh Asyari Usman adalah kalau perubahan zaman telah ikut mengubah gerakan komunis di seluruh dunia dewasa ini. Meskipun di China dikatakan komunis sudah tidak berdaya, tapi perinsip komunis yang 'anti Tuhan' tetap mereka pertahankan. Artinya komunis tetap saja akan memusuhi agama kapanpun dan dimanapun. Indonesia sebagai neagra Ketuhanan yang berarti adalah negara dengan perinsip agama sebagai dasar bernegara tentu saja tetap akan menganggap komunis sebagai satu ideololgi yang wajib diwaspadai. 

Sudah tepat kita berperinsip untuk tidak akan pernah melupakan kekejaman komunis. Asyari Usman juga menegaskan bahwa kemenangan kapitalisme yang merambah sampai ke RRC sebagai salah satu pusat paham komunis terkuat di dunia, memang mengubah cara mereka berekonomi dan berbisnis. Tetapi, tidak mengubah doktrin anti-agama dan anti-Tuhan yang menjadi pilar utama paham komunis itu. Makanya, jika harus mengenang kekejaman komunis itu semata untuk kewaspadaan demi keutuhan dasar negara kita, Pancasila.

Meskipun elit komunis China sejak era Deng Xiao Ping mampu membangun kemakmuran dengan menggunakan aplikasi kapitalisme untuk urusan ekonomi dan bisnis, ternyata mereka tetap memakai ajaran komunis untuk urusan sosial-kebudayaan dan keagamaan. Sudah tepat juga bangsa Indonesia mengingat bahwa PKI adalah blok komunis yang berkiblat ke China. Para aktivis dan simpatisan mereka di negeri ini yang diyakini masih bercita-cita untuk membangkitkan paham komunis, juga melakukan perubahan yang sama dengan panutan mereka di Beijing. Ini pendapat yang dikemukakan Asyari Usman dalam tulisannya. Bagi kita, tanpa disebut oleh siapapun perihal kekejaman komunis, kita dapat membaca sejarah, bagaimana komunis pernah ada di Indonesia. Sungguh akan menimbulkan penyesalan jika komunis diberi kesempatan hidup. Nauzubillah.***
Catatan Kelam Tak Boleh Dibuat Diam

Catatan Kelam Tak Boleh Dibuat Diam


HARI Kamis (30/09/2021) ini kembali kita mengingat kejadian buruk 56 tahun lalu itu. Tidak sekadar buruk. Tepatnya kejadian keji dari anak-anak bangsa sendiri yang emosinya tidak terkendali. Di buku kita baca istilah Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh) untuk peristiwa memilukan itu. 

Meskipun saya waktu itu masih kecil sekali --seumuran anak kelas satu SD-- tapi bahang peristiwa Jakarta waktu itu seolah terasa juga di kampung saya. Saya hidup di Kampung Kabun Desa Airtiris (kini bernama Desa Limau Manis, Kecamatan Kampar) Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Satu hal yang saya saksikan sendiri dan masih ingajit sekaligus aneh menurut saya, adanya lubang besar di bawah rumah saya waktu itu.

Sebagai rumah panggung, di bawah lantai rumah orang tua saya ada lubang persegi empat yang cukup dalam dan besar ukurannya. Saya tidak pernah bertanya, siapa yang membuatnya. Dan rumah-rumah di kampung waktu itu sudah ada lubang yang konon disuruh buat oleh Pemerintah Kampung.

Saya tidak tahu waktu itu tahun berapa. Tapi catatan sejarah belakangan menjelaskan kejadian-kejadian sekitaran tahun 1965 itu adalah peristiwa pembunuhan para jenderal TNI Angkatan Darat yang keesokan hari dari peristiwa 30 September 1965 ditemukan mayatnya di lokasi Lubang Buaya, Jakarta. Itulah yang kita baca dalam buku-buku sejarah. 

Di kamus Wikipedia catatan tentang peristiwa ditulis begini, "Gerakan 30 September (dalam dokumen pemerintah tertulis Gerakan 30 September/PKI, sering disingkat G30S/PKI), Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh), atau juga Gestok (Gerakan Satu Oktober) adalah sebuah peristiwa yang terjadi selewat malam pada tanggal 30 September sampai awal bulan selanjutnya (1 Oktober) tahun 1965 ketika tujuh perwira tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang yang lain dibunuh dalam suatu usaha kudeta (https://id.wikipedia.org/). Catatan itu tidak ada yang membantahnya. Tentu saja penulisnya memiliki dokumen yang dapat dipertanggungjawabkan.

Bagi kita, terlepas dari pro kontra belakangan --pasca tumbangnya rezim orde baru-- ini, kita tidak ingin catatan kelam itu terulang lagi. Selain pasti merugikan bangsa sendiri oleh anak bangsa sendiri juga akan menggoyahkan bangsa sendiri. Di sisi lain, peristiwa kelam itu pun tidak boleh juga didiamkan, seolah-olah tidak pernah terjadi.

Tidak berlebihan untuk mengenang terbunuhnya para perwira kesuma bangsa, itu kita juga mengibarkan bendera kebangsaan dalam posisi setengah tiang. Itu pertanda kita berduka atas tewasnya mereka. Apapaun alasan politik di balik kejadiannya, akhirnya Pancasila yang sudah disepakati untuk menjadi penyatu anak bangsa yang beraneka suku, agama, selera, daerah ini menjadi satu kesatuan bangsa Indonesia. Mari kita kenang agar sejarah tidak melayang.***
Salam Merdeka, Bekerja untuk Bangsa

Salam Merdeka, Bekerja untuk Bangsa


BANGUN pagi ini, tentu sama dengan bangun pagi-pagi yang lalu. Waktunya, kurang-lebih di jam-jam itu. Aktivitas juga tidak akan jauh-jauh dari situ. Tapi, bangun pagi di tanggal HUT RI, ini sekurang-kurangnya ada rasa berbeda. Bagaikan bangun di pagi raya, Idul Fitri atau Idul Adha (bagi muslim), misalnya rasanya terasa beda rasa.

Sejak awal bulan, kita bangsa Indonesia sudah merasakan bahang merdeka. Setahun lalu, gegap-gempita tahun ke-75 kita merdeka begitu terasa harunya kita karena memperingati HUT Kemerdekaan bersamaan menyebarnya covid-19. Tapi kita tetap melaungkan pekik 'Indonesia Merdeka' sebagai bukti kita selamanya cinta Indonesia.

Tahun ini, covid belum punah. Malah jumlah serangannya lebih masif dari tahun lalu. Tapi kita tidak akan mengalah dengan virus itu dalam usaha kita memperingati Indonesia Merdeka. Kita akan selalu membayangkan bagaimana para pahlawan bangsa berjuang. Korban harta dan nyawa adalah hal biasa mereka lakukan untuk dapat merebut merdeka. Tidak akan mampu kita menghitung, berapa banyak pengorbanan pahlawan kita dalam berjuang untuk merdeka. Tentu doa-doa kita akan terus kita sampaikan buat mereka semua.

Pagi ini kita bangun dari tidur memang sama seperti pagi kemarin-kemarin itu. Tapi kita tidak mau merasa sama saja. Di tanggal hari ini, 76 tahun lalu kita merdeka. Sukarno-Hatta, atas nama seluruh rakyat Indonesia menyampaikan ucapan 'merdeka' sekitar pukul 10.00 pagi di Jakarta. Pasti tidak disukai oleh penjajah, tapi kita harus merdeka. Perjuangan panjang oleh para pejuang, pagi itu berkesempatan dipungkas oleh pemimpin bangsa dengan memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia ke seluruh dunia.

Sejak saat itu, secara sah kita sudah melepaskan diri dari cengkraman penjajah meskipun secara fakta tidak diakui langsung oleh bangsa-bangsa di dunia, terutama oleh bangsa-bangsa yang pikirannya sejalan dengan penjajah. Syukurnya beberapa negara sahabat secepat kilat mengakui kemerdekaan kita. Dan perjuangan ternyata tidak selesai di batas pekik proklamasi pagi itu. Lama dan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun ke depannya pengakuan merdeka itu baru didapatkan dari negara-negara di dunia.

Pagi ini kita akan merenung dan mengheningkan cipta dan perasaan kita sambil berdoa. Mengenang detik-detik kemerdekaan yang dikumandangkan Sukarno-Hatta 76 tahun yang lalu itu. Sebagai guru, sebagai penyuka dan penggiat literasi juga dan sebagai rakyat bangsa Indonesia tercinta pada umumnya, kita akan memperingati perjuangan itu. Selebihnya kita akan terus bekerja dan bekerja sebagai usaha mengisi kemerdekaan bangsa. Dirgahayu RI, maju dan tumbuh dengan tangguh.***

Juga di www.mrasyidnur.gurusiana.id

Tak Berangkat untuk Selamat dari Maut (Lolos dari Maut Sriwijaya)

Tak Berangkat untuk Selamat dari Maut (Lolos dari Maut Sriwijaya)


Catatan M. Rasyid Nur
INI kisah nyata yang dialami oleh Bang Asrizal Nur yang lebih dikenal dengan Asnur. Pimpinan Perruas (Perkumpulan Rumah Seni Asnur), itu mengisahkan ini di salah satu grup WA, Grup Lolos Pantun Budaya. Catatan yang ditulis langsung oleh Bang ASnur itu dikirim lagi seorang teman, Nensyi dan saya membacanya. Sungguh ini sebuah keajaiban dan perlindungan langsung dari Allah.

Di saat semua keluarga penumpang Sriwijaya dengan nomor penerbangan 182 berduka karena keluarga mereka mengalami kecelakaan pesawat udara Sabtu (09/01/2021) kemarin, ada satu kisah nyata yang membuat kita haru, syahdu meskipun tetap ikut sedih atas musibah itu. Keluarga itu bersyukur karena sejatinya dia ikut bersama pesawat itu pada penerbangan yang sama. Pertolongan Tuhanlah yang mengelakkan keluarga ini dari kecelakaan tersebut.

Seperti ditulis langsung oleh Bang Asnur, dia membuka kalimat catatannya dengan, "Alhamdulilah akhirnya Allah menolong sekeluarga, kalau tidak tentu kita tidak bertemu lagi," tulisanya di WA Grup yang kami peserta penulis Pantun Mutiara Budaya Indonesia ada di dalamnya. Saya ingin meneruskan catatan ini kepada kita, kepada siapa saja yang mudah-mudahan bisa menajdi iktibar. Selengkapnya, catatan Bang Asnur begini:

Tgl 7 Januari kami berniat sekeluarga ke Pontianak, Kalimantan Barat, berencana bertemu anak paling besar kami yang beberapa tahun di Pontianak. Di samping itu untuk menghadiri undangan dari para guru sebagai narasumber.

Tiket pesawat sudah dibeli, kami berempat, istri, saya dan 2 anak gadis kami yang cantik pun mengurus Rapid Tes dan antigen, mengatakan kepada Klinik bahwa kami akan ke Pontianak. Tidak ada keterangan apa pun dari klinik sehingga kami merasa  rapid tes dan antigen sudah cukup.

Setelah kami dapatkan Rapit tes dan antigen itu dg biaya hampir 300.000 per orang kami pun ke bandara dengan  rasa bahagia akan bertemu anak dan keluarga di Pontianak.

Sesampai di airport di saat masuk kami diperiksa, ternyata Rapit tes dan antigen itu tidak lengkap harus urus yg namanya Swap PCR , kami disuruh komunikasikan di maskapai. Hampir 1 jam mengurus di maskapai kami pun tetap tidak dizinkan masuk pesawat, hampir puluhan orang bernasib sama,  di antaranya para ibu yg tak cukup uang untuk mengurus SWAB PCR itu.

Pesawat pun sudah terbang, kami gagal hari itu ke Pontianak, Putri Thania anak saya sempat marah2.. "Inilah terakhir kali kita naik LION AIR tidak profesional, nanti kita naik SRIWIJAYA saja." katanya

Lalu kami pun mengurus SWab PCr  , ternyata mahal sekali, bila 24 jam maka biayabya bisa sejuta perorang bila 2x24 Jam Rp.800.000

Kamipun berunding , Putri mengusulkan kita ambil yg 2x 24 jam saja , berangkat *tgl 9 Januari naik SRIWIJAYA, karena SWab PCr itu selesai pukul 11.00 atau 12.00WIB kita naik pesawat yg pukul 13.00 WIb*

Saya langsung mengiyakan, tapi istri saya sudah tidak semangat, tapi anak perempuan bernama hoki tetap ingin ke Pontianak.

Setelah berpikir sejenak, lalu saya memutuskan, "Sudahlah, kita batalkan saja ke Pontianak, pertama biayanya mahal karena kita harus tidur di hotel sekitar, hotel biaya lagi, bagaimana kalau hasilnya tak sesuai di harapkan. Pasti ada hikmah dari ini semua. Misal kalau paksakan berangkat juga, akan terjadi sesuatu yg  tak baik bagi kita." sekeluarga .

Akhirnya setelah terdampar 4 jam di bandara kami pun pulang. Dan hari ini kami dengar kabar, pesawat SRIWIJAYA yang hendak kami tumpangi mengalami musibah, hilang tak ditemukan. Sujud syukur kepadaMu ya Allah yang telah menyelamatkan kami, aamin.

Saya menyalin (copas) semua catatannya itu agar tidak dianggap itu catatan saya dengan judul baru dari saya sendiri. Saya, sekali lagi hanya ingin kiranya kejadian seperti ini menajdi iktibar dan pelajaran kita. Kita akan semakin kuat meyakini bahwa hidup kita ini memang ada yang ementukannya. Jika Sang Penentu sudah menentukan, maka kita akan mengikuti saja ketentuan itu. Semoga kita semakin kuat dalam keyakinan kita.***
Rencana Tatap Muka Sekolah Januari 2021 itu Batal

Rencana Tatap Muka Sekolah Januari 2021 itu Batal


TANAIKARIMUN.COM - KARIMUN, SEHARUSNYA mulai hari Senin (04/01/2021) ini sekolah-sekolah sudah membuka pembelajaran secara tatap muka bagi siswanya. Itu sesuai dengan yang pernah disampaikan oleh Mendikbud RI, Nadiem Makarim beberapa waktu lalu. Katanya, waktu itu, sudah ditandatangani keputusan bersama oleh beberapa menteri terkait. Selain Kemdikbud, juga Kemdagri dan Kemenkes ikut menandatangani surat itu. Sekolah boleh dibuka jika Pemda dan orang tua mengizinkannya. Itulah perinsipnya izin Pemerintah Pusat itu.

Namun, tersebab masih maraknya corona ternyata hampir semua Pemda di Indonesia belum memberikan izin untuk mengganti PJJ dengan pembelajaran tatap muka. Meskipun beberapa Pemda Tingkat Dua (Kabupaten/ Kota) ada yang mulai mengizinkannya. Dan orang tua pun setali tiga uang, menyetujui keputusan Pemda untuk tidak membuka dulu sekolah awal tahun ini.

Kemendikbud sendiri, seperti sudah dibaca di beberapa media mengumumkan bahwa rencana sekolah tatap muka di bulan Januari 2021 batal diselenggarakan. Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim, ada kekhawatiran jika sekolah tatap muka kembali dibuka. Hal ini lantaran kasus Covid-19 di beberapa daerah di Indonesia justeru mengalami peningkatan sebagaimana banyak diberitakan oleh media.

Masih menurut pemberitaan, misalnya hajinews.id, 03/01/21 memberitakan bahwa beberapa pakar dan ahli epidemiologi turut mendukung langkah pembatalan sekolah tatap muka di bulan Januari 2021 ini. Mengutip situs haji ini, epidemiolog Griffith University, Dicky Budiman, mengatakan bahwa pembukaan kembali sekolah tatap muka sangat berisiko. Artinya belum tepat saat ini.

Fakta di negara kita, di bulan Desember ini bangsa kita memang masih menghadapi masalah covid-19 yang menakutkan dengan beberapa kejadian yang terburuk. Ada berita penambahan kasus positf covid-19 dan ada juga berita kematian oleh virus ini. Yang jelas, secara teoritis praktis pengalaman berbagai kegiatan seperti Pilkada, Pemilu, ataupun keramaian yang sudah kita lakukan akan berpotensi memperburuk keadaan ke depan. Ditambah lagi adanya potensi libur panjang akhir tahun atau awal tahun yang baru saja kita jalani mungkin saja penyebaran corona sedang berlangsung di antara kita. 

Oleh karena itu, para pakar menyarankan agar pemerintah sebaiknya membuka sekolah pada akhir Februari 2021 nanti. Hal ini disebabkan, angka positivity rate di rata-rata daerah di Indonesia belum ada yang mencapai 5-8 persen, sehingga membuat pandemi Covid-19 belum dapat dikendalikan.

Bahkan, berdasarkan anjuran Ikatan Dokter Anak Indonesi (IDAI), pembukaan kembali sekolah di masa pandemi belum bisa dilakukan. Apabila sekolah kembali dibuka, maka akan berpotensi meningkatkan penyebaran virus karena adanya mobilitas atau pergerakan masif.

Bagaimanapun, jika nanti Pemda dan orang tua memberi lampu hijau untuk belajar tatap muka, tentu saja pihak sekolah harus memenuhi syarat-syarat protokol kesehatan yang sudah ditetapkan. Sekolah pun harus benar-benar menyiapkan diri untuk ini. Beberapa hal perlu sekolah ketahui, misalnya,

1) Sekolah harus mengetahui atau mencari tahu tentang pemetaan positif covid per kelurahan;

2) Sekolah memastikan pula pemetaan lokasi sekolah kaitannya dengan guru atau siswa yang bertempat tinggal di zona seperti apa;

3) Perihal transportasi guru dan murid apakah lintas zona yang berbeda-beda itu.

4) Kontak guru atau murid dengan orang lain juga perlu menjadi perhatian;

5) Segala persyaratan protokoler kesehatan harus sudah disiapkan oleh sekolah sebaik mungkin.

Hari ini, harapan akan masuk kembali ke sekolah memang belum dikabulkan. Tapi boleh jadi beberapa waktu ke depan akan diizinkan juga. Maka kesiapan sekolah yang mungkin sebelum sudah dilakukan, harus dikuatkan lagi kesiapan itu. Memang sedih, tapi ini demi kesehatan yang lebih berarti. Kita berharap, semoga segera corona sirna dan sekolah kembali dapat memberikan pelayanan pendidikan kepada anak bangsa.*** (mrn)


DI Duga Perwira TNI Dibegal Saat Naik Sepeda

DI Duga Perwira TNI Dibegal Saat Naik Sepeda


Tanaikarimun.com, JAKARTA - Seorang Perwira TNI menjadi korban penjambteran saat sedang bersepeda di jalan Medan Merdeka Barat Jakarta Pusat, Senin 26 Oktober 2020, sekira pukul 06.45 WIB di seberang Gedung Kementrian Pertahanan RI.


Pejambretan yang dialami oleh Pangestu Widiatmoko itu ramai di perbincangkan di media sosial.

Dalam video yang beredar di media sosial itu, terlihat korban terdduduk di jalan dan mengalami luka di bagian kepala akibat peristiwa itu.

Dalam beberpa pekan terakhir kasus penjambretan yang menyasar pesepeda khususnya di jalan - jalan protokol marak terjadi. Polres Metro Jakarta Pusat berkomitmen membentuk personel pengamanan yang bertugas untuk menjaga jalur - jalur yang di lalui pesepeda agar terhindar dari peristiwa serupa 


"Kita sebar di beberapa titik anggota di jalan - jalan protokol, di Sudirman dan MH THAMRIN Kira kira jumlahnya 20 orang yang masuk dalam tim khusus anti jambret itu," ujar Wakapolres Metro Jakarta Pusat AKBP H eri Ompusunggu saat ditemui di Polres Metro Jakart Pusat, Jumat, 23 Oktober.
( ahz) 




Mencuri HP untuk Anak Belajar Daring

Mencuri HP untuk Anak Belajar Daring

Tanaikarimun.com - Karimun, BERITA salah satu televisi swasta Kamis (06/08/2020) malam mengejutkan sekaligus menyedihkan. Diberitakan, seorang ayah di Garut sana harus memberanikan diri mencuri HP untuk belajar daring anaknya. Ingat, untuk belajar daring (online) anaknya yang baru masuk sekolah di Tahun Pelajaran 2020/ 2021 ini. 

Bekerja serabutan, dengan tiga orang anak ternyata membuat bapak ini tidak kuat memikul beban ekonomi. Kata polisi di berita, itu anak tertuanya (laki-laki) sudah DO di tingkat SMP. Tentu karena tekanan ekonomi itu. Tahun ini anak perempuannya masuk SMP.  Untuk anak perempuannya yang baru masuk SMP dan sudah satu bulan ini tidak bisa belajar, itulah kata polisi yang membuatnya bermata gelap. Harus mencuri.

Di satu sisi mungkin dikatakan dia berniat baik. Sang ayah ingin memenuhi keperluan sekolah anaknya. Tapi di sisi lainnya dia melakukan perbuatan tidak baik dengan mencuri. Perang antara memenuhi kebutuhan sekolah anak-anak dengan ketidakmampuan ekonomi, itulah yang menyebabkan munculnya kasus ini. 

Kasus pencurian HP oleh seorang ayah, itu sampai juga ke polisi bahkan ke Kejaksaan Negeri beritanya. Haruskah bapak itu dihukum atau cukup menanggung malu? Inilah bagian yang menyedihkan. Termasuk menyedihkan bagi kita para pendidik. Sebagai guru, hati dan perasaan kita pasti akan terbawa juga.

Kata jaksa, sebagaimana kita dengar dan saksikan di berita televisi malam tadi, itu bahwa karena pencurian ini dengan kerugian di bawah Rp 2 jt maka tidak perlu dihukum pidana berat. Masalahnya kasus itu masuk berita dan diberitakan dengan begitu terang. Jutaan orang tentu sudah menyimak berita yang berawal dari berita yang viral di medsos sebelumnya itu. Dan sebagai guru, berita itu tidak mudah kita mencerna dan mendengar begitu saja. Rasa sedih dan perasaan pro kontra pasti ada di perasaan kita. Lalu bagaimana kita menyikapinya?

Secara hukum dan dari sisi manapun orang sepakat bahwa tindakan bapak itu adalah sebuah kesalahan. Namun, jika tindakan itu disebabkan oleh rasa sayang dan atas nama tanggung jawab dia melakukannya? Inilah peliknya perasaan kita. Jaksa dan polisi saja lebih mengedepankan kemanuisaannya dari pada hukumnya. Pasti kita juga merasakan perasaan kemanusiaan bapak itu.

Menurut berita lainnya di m.liputan6.com Kejari Garut lebih mengutamakan kemanusiaan. Pak Aj (sang pencuri HP) memang mengaku melakukan pencurian demi belajar anaknya. Bukan saja tidak dihukum, kejakasaan Garut bahkan membantu mencarikan HP untuk bapak itu. Sungguh persoalan pelik bagi kita. Pembelajaran daring yang tidak mudah bagi guru, juga begitu beratnya bagi orang tua.**
Kontributor: M. Rsyid Nur
Editor: M. Rasyid Nur
Panduan Awal TP Baru dalam Masa Pandemi Covid-19

Panduan Awal TP Baru dalam Masa Pandemi Covid-19

TANAIKARIMUN.COM, KARIMUN, MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan RI,  Nadiem Makarim mengumumkan ketentuan awal masuk sekolah untuk Tahun Pelajaran (TP)  2020/2021. Ketentuan itu disampaikan Pak Menteri melalui video telekonferensi, hari Senin (15/6/2020) sore, sepekan yang lalu. Dengan pengumuman itu sudah jelas bagi guru dan orang tua bahwa sekolah akan dibuka pada bulan Juli 2020. Wacana bahwa sekolah akan dibuka pada Januari 2021 dengan konsekuensi perubahan TP sudah tidak perlu membuat ragu bapak dan ibu orang tua siswa.

Kata Mendikbud, walaupun sudah dibolehkan masuk sekolah pada pertengahan Juli nanti, tidak semua sekolah akan dibuka. Apalagi dengan belajar tatap muka yang banyak diinginkan orang tua dan siswa sendiri. Kata orang nomor satu Kemdikbud, itu hanya sekolah-sekolah yang berada di zona hijau saja yang dibolehkan belajar dengan tatap muka. Itupun wajib menerapkan protokoler kesehatan.

Menteri dengan jargon ‘merdeka belajar’, itu menjelaskan bahwa penyelenggaraan pembelajaran dengan cara tatap muka bakal dilakukan secara bertahap juga. Ketentuan awalnya, untuk boleh membuka sekolah untuk belajar di sekolah hanya khusus bagi sekolah yang berada di wilayah zona hijau. Dan ingat, masih harus diatur secara ketat sesuai protokoler kesehatan. Lalu, ketentuan lainnya, tahap awal satuan pendidikan yang akan ke sekolah dimulai dari siswa SLTP ke atas.  Jenjang SD ke bawah belum bisa mengikuti pembelajaran tatap muka di sekolah meski berada di zona hijau.
Penegasan dan pengaturan pembelajaran yang diumumkan, itu dapat kita baca pada Pedoman Pelaksanaan Belajar dari Rumah Selama Darurat Bencana Covid-19 di Indonesia yang merupakan Surat Edaran Seketaris Jenderal Kemdikbud Nomor 15 Tahun 2020. Jadi, ada tiga tahap pembukaan sekolah dalam masa wabah covid-19 ini.     Tahap I, yang bisa mengikuti pembelajaran tatap muka ialah siswa jenjang SMA, SMK, MA, MAK, SMTK, SMAK, Paket C, SMP, MTs, paket B yang berada di zona hijau.
2.    Tahap II, adalah tahap akan diperbolehkannya masuk sekolah untuk tingkat SD dan sederajat. Pada tahap II ini akan dilaksanakan dua bulan setelah tahap I yakni bagi jenjang SD, MI, Paket A dan SLB. Selanjutnya  Tahap III, yang akan dilaksanakan dua bulan setelah tahap II berjalan, yakni bagi jenjang PAUD formal (TK, RA, TKLB) dan non formal. Jadi, anak-anak PAUD baru bisa masuk sekolah jika sudah lima bulan dari sekarang proses pembelajaran ini berjalan. Itu juga syaratnya harus berada di zona hijau yang ditetapkan oleh Pemerintah (Pusat/ Daerah).

Dengan ini artinya pilihan boleh tatap muka atau tetap belajar di rumah hanya untuk sekolah-sekolah yang berada di zona hijau. Sedangkan yang berada di zona kuning, oranye dan merah otomatis menggunakan BDR, Belajar di Rumah saja. Apalagi berzona hitam. Masih tetap kelam.

Sesungguhnya, satu hal yang membuat guru dan orang tua lega adalah kepastian bermulanya awal Tahun Pelajaran (TP) baru itu. Sebelum pengumuman ini, pro kontra masuk TP baru di bulan Juli atau Januari tahun depan masih hangat di masyarakat, terutama di media tentunya. Para guru dan orang tua jelas penuh ragu sambil menunggu.

Kini tidak perlu membuat ragu lagi karena di bulan Juli (2020) ini sekolah sudah akan melangkahkan kaki ke TP baru 2020/2021. Gerbang masuk ke TP baru sudah jelas. Meskipun nantinya masih ada sekolah yang tidak bisa langsung ke sekolah karena masih berada di zona kuning atau merah, yang pasti bahwa TP 2020/ 2021 sudah akan tetap dimulai pada pertengahan Juli itu. Solusinya tentu saja dengan belajar di rumah.

Selebihnya, kita akan memlototi saja nanti Panduan Pembelajaran yang dikeluarkan Pemerintah. Selamat bersiap, menatap bermulanya TP baru. Guru akan selalu siap untuk itu, insyaallah.***
  Juga di: https://mrasyidnur.gurusiana.id/article/2020/6/tp-baru-tak-lagi...
MGI Adakan Halal Bil Halal ON Line

MGI Adakan Halal Bil Halal ON Line


TANAIKARIMUN.COM, SURABAYA - HARI Sabtu (30/05/2020) lalu Media Guru Indonesia melaksanakan pertemuan online untuk para guru. Kegiatan dengan titel “Halal Bihalal Online MediaGuru” , ini memang terkait dengan Idul Fitri 1441 H (2020) yang kehadirannya berbarengan dengan hadirnya corona di hampir merata Indonesia. Karena corona pulalah Media Guru melaksanakan acara Halal Bihalal ini. Kegiatannya dilaksanakan hanya melalui daring (dalam jaringan alias online). 

Kegiatan HBH OL (Halal Bilhalal On Line) yang baru pertama kali dilaksanakan Media Guru diikuti oleh ribuan, bahkan boleh jadi puluhan ribu guru atau anggota Komunitas Media Guru se-Indonesia. Anggota Media Guru memang sangat banyak. Seperti terdata pada akun FB Media Guru Indonesia, sampai saat ini ada 71.711 (data 06.01.2020: 06.22) anggota penghuni FB Media Guru. Jika semua atau setengah saja yang ikut kegiatan ini, sungguh tidak terbayang jumlahnya.

Jalannya kegiatan HBH OL MGI diawali oleh Pak Ihsan selaku CEO Media Guru dengan menyampaikan pengantarnya. Dalam bagian ‘pengantar’ ini Pak CEO menyampaikan sejarah perjalanan Media Guru dari lahir hingga kini. Dia juga memberikan beberapa tip untuk sukses. Misalnya dia mengingatkan perlunya sikap membantu orang lain yang efeknya untuk kesuksesan kita sendiri. 

Harus diingat, katanya bahwa guru berkarya itu adalah guru VIP. Kita tahu, konotasi VIP itu adalah orang atau golongan orang yang disebut hebat. Tidak semua orang bisa masuk kelompok VIP. Dan di MGI V itu berarti vision, I itu berate initiative dan P itu maknanya persistent. Jadi, guru VIP di Media Guru itu adalah guru-guru yang telah membuktikan kehebatannya dengan bukti mereka mendapatkan penghargaan. Beberapa orang yang masuk kategori VIP itu dijelaskan pak Ihsan dengan segala prestasinya. “Jika mereka tidak menulis buku, pasti tidak akan mampu menjadi guru hebat di bidangnya masing-masing.” Katanya.

“Saya percaya, jika Anda mengikuti jalan mereka, guru VIP kami, insyaallah anda juga akan menjadi guru VIP kami berikutnya.” Lalu Pak Ihsan juga menjelaskan beberapa kelas menulis yang sudah diprogramkan Media Guru. Ada 6 yang sudah dilaksanakan, 1) Sagu Sabu, 2) Sasi Sabu, 3) Menulis Best Praktis, 4) Menyusun  PTK/ PTS, 5) Mengubah KTI menjadi Buku dan 6) Kelas Editor. Akan ada yang ke-7, Kelas Menulis Opini di Media. “Kita ingin memborbardir media cetak,” katanya. Lalu dia menjelaskan point setiap tulisan yang bisa naik di Koran atau majalah. Penutup pengantar dia menyampaikan permohonan maaf bersempena Idulfitri.

Setelah menyampaikan pengantar yang penuh pengetahuan bagi peserta, Pak Ihsan mempersilakan beberapa orang untuk memberikan pencerahannya. Pertama, dia mempersilakan Pak Erman, Kepala Kemenag Kab. Bintan. “Silakan, Pak Erman,” katanya. Lalu pak Erman tampil dengan baju batik dan topi hajinya.

Pertama tampil, dia langsung memberikan pujian kepada Pak Ihsan sebagai pimpinan MGI yang menaja banyak kegiatan di bidang literasi ini. Pak Erman mengatakan betapa hebatnya MGI di bawah Pak Ihsan. “Media Guru sangatlah hebat. Bisa menghubungkan para guru yang berdomisili di beberapa pulau yang terpisah-pisah. “Pak Ihsan bisa menghubungkan pulau-pulau di Tanah Air ini. Kami di kepri ini terdiri dari pulau-pulau. Dengan MGI ini bisa terhubung.

Lebih jauh Pak Erman memberikan penjelasan tentang perlunya kita ikut kegiatan ini. Jangan sebut kesibukan, katanya. Sesibuk apapun kita, sesungguhnya jika kita mau menyediakan waktu untuk menulis, pasti bisa. “Bukankah agama kita memerintahkan kita membaca terlebih dahulu? Maka ikutilah kegiatan ini. Pak Erman banyak memberikan motivasi kepada para peserta. Di bagian akhir, Pak Erman menyempatkan membaca sebuah puisi.

Tampil kedua, Pak Ihsan mempersilakan Pak Amin Hidayat, Kepala Dinas Pendidikan Grobokan. Dengan menggunakan sergam PGRI, pak amin menjelaskan bahwa pada saat yang bersamaan dia juga baru saja mengikuti vidcon Halal Bihalal PGRI. Setelah memperkenalkan dirinya, Pak Amin menjelaskan awal dia bersama literasi. “Saat itu, saya bertemu pak Setia Darma,” katanya. Saat itu dia amsih Kepala Sekolah. Lalu dia menjelaskan, bagaimana dia berkenalan dengan Pak Ihsan. Lalu dia semakin tertarik dengan kegiatan literasi. Pak Amin sempat mengutip kisah Jibril yang menyampaikan wahyu ke Nabi Muhammad. 

Pak Kadis ini menjelaskan salah satu program di Grobokan, Saka sabu (Satu Kepala Sekolah Satu Buku) yang Pak Bupatinya sangat mendorong. Pak Kadis juga mengatakan satu kalimat, “Jangan mati dulu sebelum menulis Buku.”

Selanjutnya, Pak CEO meminta beberapa alumni Sagu Sabu yang ada di daerah-daerah. Pak Ihsan mengingatkan pentingnya persatuan-persatuan penulis yang menjadi motovator di daerah. Lalu dia meminta dari GPPL (Guru Penulis Penggiat Literasi). Namun karena belum tampil, dia mempersilakan Bu Wiwik dari Medan. Dia adalah Ketua IPP (Ikatan Pendidik Penulis) Sumut. Satu ungakapan yang disampaikan Bu Wiwik adalah “Betapa berbahagianya ketika kita bisa mengajak orang lain ikut menulis.***
Laporan M. Rasyid Nur
KH. ALI MAKSUM MENANGIS SAAT KH. HAMID KAJORAN JELASKAN MAKNA PANCASILA

KH. ALI MAKSUM MENANGIS SAAT KH. HAMID KAJORAN JELASKAN MAKNA PANCASILA


Oleh: Zastrouw Al-Ngatawi
ADA proses dialog yang intens di kalangan ulama dan tokoh NU sebelum menerima Pancasila sebagai azas tunggal dalam berbangsa dan bernegara. Dialog tidak hanya dilakukan di forum-forum formal ilmiah akademik yang mengeksplorasi argumen dan gagasan rasional, tetapi juga di forum non formal seperti silaturrahim dan anjangsana serta forum mujahadah dan riyadloh yg mengeksplorasi aspek batiniah spiritual.

Salah satu forum tabayyun dan dialog informal mengenai kajian terhadap azas tunggal Pancasila penulis peroleh dari Gus Amin Hamid Kajoran, putra Kyai Hamid Kajoran (alm) yg menjadi saksi sejarah atas peristiwa yg monumental ini.

Diceritakan oleh Gus Amin, pada suatu hari ada beberapa kyai yg sowan menghadap Kyai Hamid Kajoran diantaranya Kyai Ali Maksum, Krapyak, Yogyakarta; Kyai Mujib Ridwan, Surabaya dan Kyai Imron Hamzah, Surabaya. Ada juga waktu itu Kyai Fauzi Bandung yg disopiri oleh Kyai Saeful Mujab, Yogyakarta. Kyai Ali Maksum adalah salah satu anggota tim bentukan PBNU yg ditugasi untuk melakukan kajian mengenai azas tunggal Pancasila. Tim ini diketuai KH. Ahmad Shiddiq dgn anggota Kyai Mahrus Aly Lirboyo, Kyai As’ad Syamsul Arifin Situbondo, Kyai Masykur Malang dan Kyai Ali Maksum Krapyak.

Para kyai ini menyampaikan kepada Kyai Hamid Kajoran bahwa ada upaya pemaksaan dari pemerintahan Soeharto untuk menerapkan Pancasila sebagai azas tunggal. Mendengar pernyataan ini Kyai Khamid langsung menjawab, “Lho, koq pemaksaan? Pancasila itu kan milik kita, hasil ijtihad-nya para ulama dan kyai kita, terutama Hadratusysyekh KH Hasyim Asy’ari. Lha, kalo sekarang mau dijadikan azas tunggal ya Alhamdulillah. Itu artinya dikembalikan ke kita, koq malah kita merasa dipaksa”.

Mendengar jawaban kyai Hamid ini semua tertegun. Kemudian Kyai Ali bertanya, “Ini tafsirnya bagaimana?”.

Atas pertanyaan ini kemudian Kyai Hamid menjelaskan soal sejarah dan tafsir Pancasila menurut ulama NU. Dijelaskan banwa Pancasila merupakan penjelmaan (sublimasi) ajaran Islam yg mentautkan syariah, aqidah dan tasawwuf.

“Oleh karenanya kita bisa menjalankan dua sila saja dari Pancasila secara konsisten dan benar Insya Allah kita bisa menjadi wali,” demikian Kyai Hamid menjelaskan Dua sila tersebut adalah sila Ketuhanan dan Kemanusiaan. Mengamalkan sila Ketuhanan artinya kita memahami dan mengerti Tuhan dgn segala kekuasaan-Nya, perintah dan laranganNya. Sedangkan mengamalkan sila kemanusiaan artinya kita harus “mengerti manusia”, “memanusiakan manusia” dan “merasa sebagai manusia”.

Kemudian Mbah Hamid menjelas tafsirnya secara detail dgn perspektif syariah dan tasawwuf . Ketika penafsiran sampai pada pengertian “merasa manusia”, Kyai Ali Maksum menangis.

Dari penggalan kisah ini dapat terlihat bahwa

Pertama, Pancasila merupakan produk pemikiran (ijtihad) dari para ulama Nusantara sebagai menivestasi atas ajaran dan nilai2 Islam.

Kedua, sikap NU menerima Pancasila sebagai azas bukan merupakan sikap keterpaksaan karena adanya tekanan politik, atau sekedar langkah taktis politik menghadapi tekanan, tetapi merupakan langkah ideologis.

Ketiga, sebagai bagian dari kelompok yg ikut merumuskan Pancasila, NU mengerti sejarah yg menjadi “asbabul wurud” dari Pancasila dengan segenap spirit dan nilai2 yg ada di dalamnya. Oleh karenanya NU memiliki tafsir terhadap sila2 Pancasila yg sesuai dgn syariat dan tasawwuf Islam.

Keempat, penerimaan Pancasila sebagai azas tunggal oleh NU dilakukan setelah melalui berbagai kajian dan upaya riyadloh lahir batin sebagaimana yang dilakukan para masayikh NU saat menerima Pancasila sebagai Dasar Negara. Jadi sama sekali bukan keterpaksaan.

Kelima, NU adalah ormas Islam pertama yang menerima azas tunggal Pancasila. Ini artinya NU menjadi pelopor penerimaan azas tunggal. Secara nalar sikap kepeloporan seperti tidak akan muncul karena terpaksa tapi karena kajian yang matang dan hujjah yang kuat. Dan para kyai yang ikhlas dan alim tak akan mungkin mau dipaksa menerima atau menolak sesuatu apalagi yang terkait dengan masalah agama.

Untuk memperkuat argumen ini bisa dilihat dalam risalah Kyai Ahmad Shiddiq setebal 34 halaman yg dipresentasikan di hadapan Munas Alim Ulama di Situbondo tahun 1983. Di sini disebutkan banwa Pancasila tidak bertentangan dengan Islam, secara substansial Pancasila sangat islami. Bahkan butir-butir dari Pancasila adalah wujud dari nilai-nilai Islam. Sila pertamanya mencerminkan tauhid, sedangkan sila-sila lainnya representasi dari syariat. Dalam naskah ini tak ada satupum argumen politis yang mencerminkan keterpaksaan NU menerima azas tunggal Pancasila.

Zastrouw Al-Ngatawi adalah
Budayawan dan Mantan Ketua Lesbumi PBNU

Dikirimkan oleh: H. Zubad Akhadi Muttaqien