Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan

1 Okt 2022

Catatan-catatan yang Tak Boleh Dilupakan

Catatan-catatan yang Tak Boleh Dilupakan


SETELAH beberapa kali tulisan ini bolak-balik saya temukan di beberapa grup WA yang saya ada di dalamnya, saya merasa catatan ini memang perlu terus dibaca. Itulah sebabnya, saya tidak pernah merasa kesal jika sebentar-sebentar ada yang memposting di medsos, khsusunya di WA. Saya baca dan akan baca lagi. Materinya sejarah. Kata orang tua-tua kita, jangan pernah melupakan sejarah. 

Dan berbarengan peringatan G30S/PKI tahun 2022 ini catatan ini muncul lagi. Dulu-dulunya saya tidak pernah bertanya siapa yang memposting pada awalnya. Bahkan yang memposting terakhir pun saya tidak merasa penting mengetahuinya. Tapi kali ini saya harus menyebut namanya, karena saya akan memposting ulang tulisan ini di sini. Terima kasih, temanku, Syahril Manaf yang memposting ulang di WA Grup PGA-77. Syahril adalah teman saya ketika tahun 1976-1977 kami bersama-sama belajar di PGA Negeri Pekanbaru. Inilah lanjutan postingannya, 

SEJARAH YANG TIDAK BOLEH DILUPAKAN OLEH KITA SEMUA

Tgl 31 Oktober 1948 :
Muso dieksekusi di Desa Niten Kecamatan Sumoroto Kabupaten Ponorogo. Sedang MH. Lukman dan Nyoto pergi ke Pengasingan di Republik Rakyat China (RRC).

Akhir November 1948 :
Seluruh Pimpinan PKI Muso berhasil dibunuh atau ditangkap, dan Seluruh Daerah yang semula dikuasai PKI berhasil direbut, antara lain : 
1. Ponorogo, 
2. Magetan, 
3. Pacitan, 
4. Purwodadi, 
5. Cepu, 
6. Blora, 
7. Pati, 
8. Kudus, dan lainnya.

Tgl 19 Desember 1948
Agresi Militer Belanda kedua ke Yogyakarta.

Tahun 1949
PKI tetap Tidak Dilarang, sehingga tahun 1949 dilakukan Rekontruksi PKI dan tetap tumbuh berkembang hingga tahun 1965.

Awal Januari 1950 :
Pemerintah RI dengan disaksikan puluhan ribu masyarakat yang datang dari berbagai daerah seperti Magetan, Madiun, Ngawi, Ponorogo dan Trenggalek, melakukan Pembongkaran 7 (Tujuh) Sumur Neraka PKI dan mengidentifikasi Para Korban. Di Sumur Neraka Soco I ditemukan 108 Kerangka Mayat yg 68 dikenali dan 40 tidak dikenali, sedang di Sumur Neraka Soco II ditemukan 21 Kerangka Mayat yang semuanya berhasil diidentifikasi. Para Korban berasal dari berbagai Kalangan Ulama dan Umara serta Tokoh Masyarakat.

Tahun 1950
PKI memulai kembali kegiatan penerbitan Harian Rakyat dan Bintang Merah.

Tgl 6 Agustus 1951 :
Gerombolan Eteh dari PKI menyerbu Asrama Brimob di Tanjung Priok dan merampas semua Senjata Api yang ada.

Tahun 1951 :
Dipa Nusantara Aidit memimpin PKI sebagai Partai Nasionalis yang sepenuhnya mendukung Presiden Soekarno sehingga disukai Soekarno, lalu Lukman dan Nyoto pun kembali dari pengasingan untuk membantu DN Aidit membangun kembali PKI.

Tahun 1955
PKI ikut Pemilu Pertama di Indonesia dan berhasil masuk empat Besar setelah MASYUMI, PNI dan NU.

Tgl 8-11 September 1957 : 
Kongres Alim Ulama Seluruh Indonesia di Palembang–Sumatera Selatan Mengharamkan Ideologi Komunis dan mendesak Presiden Soekarno untuk mengeluarkan Dekrit Pelarangan PKI dan semua Mantel organisasinya, tapi ditolak oleh Soekarno.

Tahun 1958 :
Kedekatan Soekarno dengan PKI mendorong Kelompok Anti PKI di Sumatera dan Sulawesi melakukan koreksi hingga melakukan Pemberontakan terhadap Soekarno. Saat itu MASYUMI dituduh terlibat, karena Masyumi merupakan MUSUH BESAR PKI.

Tgl 15 Februari 1958 :
Para pemberontak di Sumatera dan Sulawesi Mendeklarasikan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), namun Pemberontakan ini berhasil dikalahkan dan dipadamkan.

Tanggal 11 Juli 1958 :
DN Aidit dan Rewang mewakili PKI ikut Kongres Partai Persatuan Sosialis Jerman di Berlin.

Bulan Agustus 1959 :
TNI berusaha menggagalkan Kongres PKI, namun Kongres tersebut tetap berjalan karena ditangani sendiri oleh Presiden Soekarno.

Tahun 1960
Soekarno meluncurkan Slogan NASAKOM (Nasional, Agama dan Komunis) yang didukung penuh oleh PNI, NU dan PKI. Dengan demikian PKI kembali terlembagakan sebagai bagian dari Pemerintahan RI.

Tgl 17 Agustus 1960 :
Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.200 Th.1960 tertanggal 17 Agustus 1960 tentang "PEMBUBARAN MASYUMI (Majelis Syura Muslimin Indonesia)" dengan dalih tuduhan keterlibatan Masyumi dalam Pemberotakan PRRI, padahal hanya karena ANTI NASAKOM.

Medio Tahun 1960
Departemen Luar Negeri AS melaporkan bahwa PKI semakin kuat dengan keanggotaan mencapai 2 Juta orang.

Bulan Maret 1962
PKI resmi masuk dalam Pemerintahan Soekarno, DN Aidit dan Nyoto diangkat oleh Soekarno sebagai Menteri Penasehat.

Bulan April 1962 :
Kongres PKI.

Tahun 1963 :
PKI Memprovokasi Presiden Soekarno untuk Konfrontasi dengan Malaysia, dan mengusulkan dibentuknya Angkatan Kelima yang terdiri dari BURUH dan TANI untuk dipersenjatai dengan dalih ”Mempersenjatai Rakyat untuk Bela Negara” melawan Malaysia.

Tgl 10 Juli 1963
Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.139 th.1963 tertanggal 10 Juli 1963 tentang PEMBUBARAN GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia), lagi-lagi hanya karena ANTI NASAKOM.

Tahun 1963
Atas desakan dan tekanan PKI terjadi penangkapan Tokoh-Tokoh Masyumi dan GPII serta Ulama Anti PKI, antara lain : 
1. KH. Buya Hamka, 
2. KH. Yunan Helmi Nasution, 
3. KH. Isa Anshari,
4. KH. Mukhtar Ghazali, 
5. KH. EZ. Muttaqien, 
6. KH. Soleh Iskandar, 
7. KH. Ghazali Sahlan dan
8. KH. Dalari Umar.

Bulan Desember 1964 :
Chaerul Saleh Pimpinan Partai MURBA (Musyawarah Rakyat Banyak) yang didirikan oleh mantan Pimpinan PKI, Tan Malaka, menyatakan bahwa PKI sedang menyiapkan KUDETA.

Tgl 6 Januari 1965 :
Atas Desakan dan Tekanan PKI terbit Surat Keputusan Presiden RI No.1/KOTI/1965 tertanggal 6 Januari 1965 tentang PEMBEKUAN PARTAI MURBA, dengan dalih telah Memfitnah PKI.

Tgl 13 Januari 1965
Dua Sayap PKI yaitu PR (Pemuda Rakyat) dan BTI (Barisan Tani Indonesia) Menyerang dan Menyiksa Peserta Training PII (Pelajar Islam Indonesia) di Desa Kanigoro Kecamatan Kras Kabupaten Kediri, sekaligus melecehkan Pelajar Wanitanya, dan juga merampas sejumlah Mushaf Al-Qur’an dan merobek serta menginjak-injaknya.

Awal Tahun 1965 :
PKI dengan 3 Juta Anggota menjadi Partai Komunis terkuat di luar Uni Soviet dan RRT. PKI memiliki banyak Ormas, antara lain : SOBSI (Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), Pemuda Rakjat, Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) BTI (Barisan Tani Indonesia), LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakjat) dan HSI (Himpunan Sardjana Indonesia).

Tgl 14 Mei 1965
Tiga Sayap Organisasi PKI yaitu PR, BTI dan GERWANI merebut Perkebunan Negara di Bandar Betsi, Pematang Siantar, Sumatera Utara, dgn Menangkap dan Menyiksa serta Membunuh Pelda Soedjono penjaga PPN (Perusahaan Perkebunan Negara) Karet IX Bandar Betsi.

Bulan Juli 1965
PKI menggelar Pelatihan Militer untuk 2000 anggota'y di Pangkalan Udara Halim dengan dalih ”Mempersenjatai Rakyat untuk Bela Negara”.

Tgl 21 September 1965:
Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.291 th.1965 tertanggal 21 September 1965 tentang PEMBUBARAN PARTAI MURBA, karena sangat memusuhi PKI.

Tgl 30 September 1965 Pagi
Ormas PKI Pemuda Rakyat dan Gerwani menggelar Demo Besar di Jakarta.

Tgl 30 September 1965 Malam
Terjadi Gerakan G30S/PKI atau disebut  GESTAPU (Gerakan September Tiga Puluh) : PKI Menculik dan Membunuh 6 (enam) Jenderal Senior TNI AD di Jakarta dan membuang mayatnya ke dalam sumur di LUBANG BUAYA Halim, mereka adalah : 
1. Jenderal Ahmad Yani,
2. Letjen R.Suprapto, 
3. Letjen MT.Haryono, 
4. Letjen S.Parman, 
5. Mayjen Panjaitan dan
6. Mayjen Sutoyo Siswomiharjo. 
PKI juga menculik dan membunuh Kapten Pierre Tendean karena dikira Jenderal Abdul Haris Nasution. PKI pun membunuh Aiptu Karel Satsuitubun seorang Ajun Inspektur Polisi yang sedang bertugas menjaga Rumah Kediaman Wakil PM Dr. J. Leimena yang bersebelahan dengan Rumah Jenderal AH. Nasution. 
PKI juga menembak Putri Bungsu Jenderal AH. Nasution yang baru berusia 5 (lima) tahun, Ade Irma Suryani Nasution, yang berusaha menjadi Perisai Ayahandanya dari tembakan PKI, kemudian ia terluka tembak dan akhirnya wafat pada tanggal 6 Oktober 1965.
G30S/PKI dipimpin oleh Letnan Kolonel Untung yang membentuk tiga kelompok gugus tugas penculikan, yaitu : 
1. Pasukan Pasopati dipimpin Lettu Dul Arief, dan
2. Pasukan Pringgondani dipimpin Mayor Udara Sujono, serta 
3. Pasukan Bima Sakti dipimpin Kapten Suradi.
Selain Letkol Untung dan kawan-kawan, PKI didukung oleh sejumlah Perwira ABRI (TNI/Polri) dari berbagai Angkatan, antara lain :
Angkatan Darat :
1. Mayjen TNI Pranoto Reksosamudro, 
2. Brigjen TNI Soepardjo dan
3. Kolonel Infantri A. Latief.
Angkatan Laut :
1. Mayor KKO Pramuko Sudarno, 
2. Letkol Laut Ranu Sunardi dan 
3. Komodor Laut Soenardi.
Angkatan Udara :
1. Men/Pangau Laksda Udara Omar Dhani, 
2. Letkol Udara Heru Atmodjo dan 
3. Mayor Udara Sujono.
Kepolisian : 
1. Brigjen Pol. Soetarto,
2. Kombes Pol. Imam Supoyo dan 
3. AKBP Anwas Tanuamidjaja.

Tgl 1 Oktober 1965 :
PKI di Yogyakarta juga Membunuh :
1. Brigjen Katamso Darmokusumo dan 
2. Kolonel Sugiono. 
Lalu di Jakarta PKI mengumumkan terbentuknya DEWAN REVOLUSI baru yang telah mengambil Alih Kekuasaan.

Tgl 2 Oktober 1965 :
Letjen TNI Soeharto mengambil alih Kepemimpinan TNI dan menyatakan Kudeta PKI gagal dan mengirim TNI AD menyerbu dan merebut Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma dari PKI.

Tgl 6 Oktober 1965 :
Soekarno menggelar Pertemuan Kabinet dan Menteri PKI ikut hadir serta berusaha Melegalkan G30S, tapi ditolak, bahkan Terbit Resolusi Kecaman terhadap G30S, lalu usai rapat Nyoto pun langsung ditangkap.

Tgl 13 Oktober 1965 :
Ormas Anshor NU gelar Aksi unjuk rasa Anti PKI di Seluruh Jawa.

Tgl 18 Oktober 1965 :
PKI menyamar sebagai Anshor Desa Karangasem (kini Desa Yosomulyo) Kecamatan Gambiran, lalu mengundang Anshor Kecamatan Muncar untuk Pengajian. Saat Pemuda Anshor Muncar datang, mereka disambut oleh Gerwani yang menyamar sebagai Fatayat NU, lalu mereka diracuni, setelah Keracunan mereka di Bantai oleh PKI dan Jenazahnya dibuang ke Lubang Buaya di Dusun Cemetuk Desa/Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi. Sebanyak 62 (enam puluh dua) orang Pemuda Anshor yang dibantai, dan ada beberapa pemuda yang selamat dan melarikan diri, sehingga menjadi Saksi Mata peristiwa. Peristiwa Tragis itu disebut Tragedi Cemetuk, dan kini oleh masyarakat secara swadaya dibangun Monumen Pancasila Jaya.

Tgl 19 Oktober 1965
Anshor NU dan PKI mulai bentrok di berbagai daerah di Jawa.

Tgl 11 November 1965
PNI dan PKI bentrok di Bali.
Tgl 22 November 1965 : DN Aidit ditangkap dan diadili serta di Hukum Mati.

Bulan Desember 1965 :
Aceh dinyatakan telah bersih dari PKI.

Tgl 11 Maret 1966 :
Terbit Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) dari Presiden Soekarno yang memberi wewenang penuh kepada Letjen TNI Soeharto untuk mengambil langkah Pengamanan Negara RI.

Tgl 12 Maret 1966 :
Soeharto melarang secara resmi PKI. 

Bulan April 1966 :
Soeharto melarang Serikat Buruh Pro PKI yaitu SOBSI.

Tgl 13 Februari 1966 :
Bung Karno masih tetap membela PKI, bahkan secara terbuka di dalam pidatonya di muka Front Nasional di Senayan mengatakan : 
”Di Indonesia ini tidak ada partai yang Pengorbanannya terhadap Nusa dan Bangsa sebesar Partai Komunis Indonesia…”

Tgl 5 Juli 1966
Terbit TAP MPRS No.XXV Tahun 1966 yang ditanda-tangani Ketua MPRS–RI Jenderal TNI AH. Nasution tentang Pembubaran PKI dan Pelarangan penyebaran Paham Komunisme, Marxisme dan Leninisme.

Bulan Desember 1966 :
Sudisman mencoba menggantikan Aidit dan Nyoto untuk membangun kembali PKI, tapi ditangkap dan dijatuhi Hukuman Mati pada tahun 1967.

Tahun 1967 :
Sejumlah Kader PKI seperti Rewang, Oloan Hutapea dan Ruslan Widjajasastra, bersembunyi di wilayah terpencil di Blitar Selatan bersama Kaum Tani PKI.

Bulan Maret 1968 :
Kaum Tani PKI di Blitar Selatan menyerang para Pemimpin dan Kader NU, sehingga 60 (enam puluh) Orang NU tewas dibunuh.

Pertengahan 1968 :
TNI menyerang Blitar Selatan dan menghancurkan persembunyian terakhir PKI.

Dari tahun 1968 s/d 1998
Sepanjang Orde Baru secara resmi PKI dan seluruh mantel organisasiya dilarang di Seluruh Indonesia dengan dasar TAP MPRS No.XXV Tahun 1966. Dari tahun 1998 s/d 2015

Pasca Reformasi 1998
Pimpinan dan Anggota PKI yang dibebaskan dari Penjara, beserta keluarga dan simpatisanya yang masih mengusung IDEOLOGI KOMUNIS, justru menjadi pihak paling diuntungkan, sehingga kini mereka meraja-lela melakukan aneka gerakan pemutar balikkan Fakta Sejarah dan memposisikan PKI sebagai PAHLAWAN Pejuang Kemerdekaan RI. Sejarah Kekejaman PKI yang sangat panjang, dan jangan biarkan mereka menambah lagi daftar kekejamanya di negeri tercinta ini.

Semoga Tuhan YME senantiasa melindungi kita semua..... 
BAGIKAN SEJARAH INI. 
JADIKAN PELAJARAN
BUAT GENERASI YANG AKAN DATANG

Begitulah catatan postingan dari teman saya yang sebenarnya postingan ini sudah pernah juga saya baca di waktu-waktu sebelumnya. Kali ini, tahun ini, bersempena berakhirnya September dan akan beralih ke Oktober, salah satu catatan yang pernah terjadi di waktu ini, maka postingan ini mari kita ulang baca.***

11 Mei 2022

Prasista Tangguh Sungguh

Prasista Tangguh Sungguh


SEMULA saya tidak terlalu antusias menyaksikan laga antara Tim Piala Uber Indonesia yang akan melawan Tim Jepang pada hari Rabu (11/05/2022) ini. Selain karena tim Merah-Putih sudah memastikan akan maju ke babak 8 besar alias perempat final karena sudah sukses melibas lawan-lawannya di babak penyisihan grup, kebetulan pula ada beberapa pekerjaan lain yang mesti diselesaikan. Intinya, Merah-Putih sudah pasti berjaya hingga hari ini dan akan melanjutkan nanti di babak berikutnya maka perasaan kita pun sudah tenang di satu babak. 

Jepang sendiri juga sudah lolos ke babak yang sama bersama Indonesia karena juga mengalahkan lawan yang sama di babak sebelumnya. Kedua negara sudah akan bersama dengan enam tim dunia lainnya yaitu China, Thailan, Taiwan, Denmark, Korea Selatan dan India di perempat final nanti. Kalau begitu, kita menyaksikan di sana saja. Itulah sikap awal saya. Berita dan jadwal piala uber dan thomas memang senantiasa diikuti melalui berita.

Lalu iseng saja menyaksikan laga Uber Jepang menantang Indonesia. Kita tahu Jepang saat ini memiliki pemain-pemain hebat dalam rangking dunia. Dan tentu saja partai pertama akan menurunkan para pemain hebat itu. Dan benar, Jepang menurunkan Akane Yamaguchi yang dihadapi pemain belia kita, Bilqis Prasista. Inilah punca semangat dan antusias itu muncul. Prasista bermain begitu gigih. Dalam usia muda dia melawan pemain hebat dunia, tentu saja membuat penonton kegum dan bangga. Sampai reporter mengatakan bermainnya ala Ii Sumirat, pemain legenda Indonesia itu. Begitu hebat dan tangguh, Prasista menekuk pemain anadaln Jepang itu dua set langsung. Alhamdulillah. Merah-Putih berjaya.

Saya melanjutkan menyaksikan laga partai kedua. Mama-Nadia, regu Indonesia menghadapi tim tangguh Jepang. Meskipun saya tidak menyaksikan laga kedua ini hingga tuntas, namun saya baca infonya di media, kesudahan ganda putri ini direbut oleh Jepang. Kedudukan pun menjadi 1-1 antara Tim Uber Indonesia dan Jepang. Siapa yang akan menjadi juara grup, kita tunggu di partai selanjutnya.***

2 Jan 2022

Kalah Terhormat saat Garuda Menggeliat

Kalah Terhormat saat Garuda Menggeliat


FINAL leg kedua Piala Suzuki AFF antara Indonesia melawan Thailan malam ini (Sabtu, 01/01/20222) berjalan lebih seru. Berbanding di leg pertama, laga malam ini lebih membuat jantung berdebar dan haru. Bertindak sebagai tuan rumah adalah kesebelasan Gajah Putih sementara pasukan Garuda bertindak sebagai tamu. Sejak kick off hingga pluit terakhir dibunyikan pertandingan berjalan dengan tempo cepat dan menguras tenaga para pemain. 
 
Debaran jantung pertama terjadi pada menit ketujuh. Serangan Indonesia membuahkan hasil setelah Ricky Kambuaya menceploskan si bundar ke gawang Thailand, 0-1 untuk Merah-Putih. Kronologi gol cepat ini, melewati kemelut di dalam garis pinalti Gajah-Putih, bola disodorkan ke Kambuaya yang berdiri di luar kotak pinalti. Tendangan kencang Kambuaya melewati selangkangan kaki lini pertahanan Thailand. Terus menghadapi penjaga gawang Thailand yang berusaha menangkapnya. Bola liar dan terlepas dari tangan kiper untuk masuk di arah kiri penjaga gawang pengganti Thailand itu.

Gol ini memantik semangat pemaian 'merah-putih' dengan meneruskan serangan bertubi-tubi. Sebaliknya pemain Thailand belum kelihatan permainannya seperti ketika mereka tampil di leg pertama melawan garuda. Sebagai orang Indonesia berharap trend serangan ini terus berjalan seperti itu. Gembira dan haru, itulah perasaan membuncah di dada walaupun menyaksikannya hanya lewat layar kaca. 

Sepertinya Indonesia akan menambah golnya dalam waktu yang mungkin tidak lama lagi. Saat ini bahkan posisi penguasaan bola sedikit lebih tinggi persentasenya oleh kesebelasan Garuda. Perasaan itu sekaligus menjadi doa setiap orang Indonesia yang menyaksikan pertandingan penting ini. Bagi kesebelasan Indonesia, harapan menjadi juara sudah begitu lama ditunggu mengingat lawan di final piala Negara-negara Asean ini selalu Thailan. Dan selalu pula Thailan yang menghalangi keinginan untuk mengangkat tropi juara itu.

Permainan terus berjalan dengan pola yang tetap hati kita berdebar. Serangan demi serangan oleh kedua kesebelasan silih berganti. Thailan mulai meningkatkan tensi permainannya. Hingga babak pertama usai skor bertahan untuk kemenangan negara kita. Tapi, setelah istirahat sebentar, di babak kedua Thailan mengubah pola permainannya dari tadinya kelihatan agak bertahan. Dengan dua orang penggantian pemain, Thailan mulai menguasai bola lebih banyak

Pada menit ke-54 alias 10-an menit babak kedua berjalan, Thailan membalas lewat Adisak Kraisorn, 1-1 skor kini. Dan dua menit berikutnya kembali Thailan membobol gawang Garuda lewat satu lagi pemainnya, Sarach Yooyen. Skor 2-1 untuk Thailand membuat pemain Gajah-Putih tetap menekan Garuda. Indonesia sendiri tidak juga menunjukkan sikap prustasi. Pemain-pemain garuda, seperti di babak-babak awal terus menggeliat. Pontang-panting mengejar dan menggiring bola terus dilakukan para pejuanag merah-putih. Tidak ada tanda-tanda mereka sudah 'mengalah'. Kita yang menyaksikannya juga terus berdoa agar pemain kita tetap bersemangat.

Pada menit-menit akhir menjelang babak kedua akan usai, Egy Maulana Vikri kembali memberi api semangat kepada kita yang menonton mereka dari layar kaca. Para penonton di stadion kita saksikan lewat layar kaca juga begitu antusias memberi semangat. Semangat itu terasa bertambah ketika pada menit ke-80 pemain yang bermain di Luar Negeri sebagai pemain profesional, itu mengoyak gawang Gajah-Putih. Skor 2-2 kembali membuat sorak-sorai di stadion dan tentu saja juga di mana-mana ada nobar pertandingan ini. Meskipun piala tetap digondol Thailand dengan agreegate 6-2 untuk Thailan, kita tetap bangga. Mereka adalah panhlawan Negara yang berjuang demi bendera kita.***

1 Okt 2021

Mengenang Tragedi G30S untuk Kewaspadaan Keutuhan Pancasila

Mengenang Tragedi G30S untuk Kewaspadaan Keutuhan Pancasila



KITA setuju bahwa kita tidak boleh melupakan kekejaman PKI yang puncaknya terjadi pada 30 September 1965. Bahwa kekejaman demi kekejaman PKI yang sudah berulang dilakukan di Tanah Air sejak sebelum kasus G.30 S PKI 1965 membuat rakyat, terutama umat Islam sangat marah; tentu itu menjadi konsekuensi dari kekejaman itu. Dan ikutan balas dendam pasca tragedi G.30 S PKI itu pula yang menimbulkan banyak korban, itu juga menajdi catatan sejarah kelam bangsa kita. 

Seperti diingatkan kembali oleh Asyari Usman melalui tulisannya berjudul Kekejaman PKI Harus Terus Diingat yang diposting oleh Mas Ruhi pada hari Senin (27/09/2021) lalu di laman hajinews.id menjelaskan bahwa banyak pihak saat ini yang berusaha untuk menghapuskan ingatan publik, khususnya umat Islam, tentang kekajaman Partai Komunis Indonesia atau PKI. Katanya, berkali-kali melakukan tindakan biadab dengan membunuh para ulama, kiyai, santri, dan para ustadz itulah bukti kekejaman PKI.

Sebagaimana sudah kita baca dalam sejarah, puncak kekejaman PKI adalah pada tragedi pembunuhan tujuh jenderal TNI pada tengah malam 30 September 1965 yang lalu itu. Pembunuhan ini dilakukan secara sadis. Para jenderal ditembak dan mayat-mayat mereka masih disiksa. Setelah itu mereka lemparkan ke Lubang Buaya. Itulah kekejaman PKI. Kita kenang semata untuk kewaspadaan dan pengamanan Pancasila.

Satu hal yang diingatkan oleh Asyari Usman adalah kalau perubahan zaman telah ikut mengubah gerakan komunis di seluruh dunia dewasa ini. Meskipun di China dikatakan komunis sudah tidak berdaya, tapi perinsip komunis yang 'anti Tuhan' tetap mereka pertahankan. Artinya komunis tetap saja akan memusuhi agama kapanpun dan dimanapun. Indonesia sebagai neagra Ketuhanan yang berarti adalah negara dengan perinsip agama sebagai dasar bernegara tentu saja tetap akan menganggap komunis sebagai satu ideololgi yang wajib diwaspadai. 

Sudah tepat kita berperinsip untuk tidak akan pernah melupakan kekejaman komunis. Asyari Usman juga menegaskan bahwa kemenangan kapitalisme yang merambah sampai ke RRC sebagai salah satu pusat paham komunis terkuat di dunia, memang mengubah cara mereka berekonomi dan berbisnis. Tetapi, tidak mengubah doktrin anti-agama dan anti-Tuhan yang menjadi pilar utama paham komunis itu. Makanya, jika harus mengenang kekejaman komunis itu semata untuk kewaspadaan demi keutuhan dasar negara kita, Pancasila.

Meskipun elit komunis China sejak era Deng Xiao Ping mampu membangun kemakmuran dengan menggunakan aplikasi kapitalisme untuk urusan ekonomi dan bisnis, ternyata mereka tetap memakai ajaran komunis untuk urusan sosial-kebudayaan dan keagamaan. Sudah tepat juga bangsa Indonesia mengingat bahwa PKI adalah blok komunis yang berkiblat ke China. Para aktivis dan simpatisan mereka di negeri ini yang diyakini masih bercita-cita untuk membangkitkan paham komunis, juga melakukan perubahan yang sama dengan panutan mereka di Beijing. Ini pendapat yang dikemukakan Asyari Usman dalam tulisannya. Bagi kita, tanpa disebut oleh siapapun perihal kekejaman komunis, kita dapat membaca sejarah, bagaimana komunis pernah ada di Indonesia. Sungguh akan menimbulkan penyesalan jika komunis diberi kesempatan hidup. Nauzubillah.***

30 Sep 2021

Catatan Kelam Tak Boleh Dibuat Diam

Catatan Kelam Tak Boleh Dibuat Diam


HARI Kamis (30/09/2021) ini kembali kita mengingat kejadian buruk 56 tahun lalu itu. Tidak sekadar buruk. Tepatnya kejadian keji dari anak-anak bangsa sendiri yang emosinya tidak terkendali. Di buku kita baca istilah Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh) untuk peristiwa memilukan itu. 

Meskipun saya waktu itu masih kecil sekali --seumuran anak kelas satu SD-- tapi bahang peristiwa Jakarta waktu itu seolah terasa juga di kampung saya. Saya hidup di Kampung Kabun Desa Airtiris (kini bernama Desa Limau Manis, Kecamatan Kampar) Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Satu hal yang saya saksikan sendiri dan masih ingajit sekaligus aneh menurut saya, adanya lubang besar di bawah rumah saya waktu itu.

Sebagai rumah panggung, di bawah lantai rumah orang tua saya ada lubang persegi empat yang cukup dalam dan besar ukurannya. Saya tidak pernah bertanya, siapa yang membuatnya. Dan rumah-rumah di kampung waktu itu sudah ada lubang yang konon disuruh buat oleh Pemerintah Kampung.

Saya tidak tahu waktu itu tahun berapa. Tapi catatan sejarah belakangan menjelaskan kejadian-kejadian sekitaran tahun 1965 itu adalah peristiwa pembunuhan para jenderal TNI Angkatan Darat yang keesokan hari dari peristiwa 30 September 1965 ditemukan mayatnya di lokasi Lubang Buaya, Jakarta. Itulah yang kita baca dalam buku-buku sejarah. 

Di kamus Wikipedia catatan tentang peristiwa ditulis begini, "Gerakan 30 September (dalam dokumen pemerintah tertulis Gerakan 30 September/PKI, sering disingkat G30S/PKI), Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh), atau juga Gestok (Gerakan Satu Oktober) adalah sebuah peristiwa yang terjadi selewat malam pada tanggal 30 September sampai awal bulan selanjutnya (1 Oktober) tahun 1965 ketika tujuh perwira tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang yang lain dibunuh dalam suatu usaha kudeta (https://id.wikipedia.org/). Catatan itu tidak ada yang membantahnya. Tentu saja penulisnya memiliki dokumen yang dapat dipertanggungjawabkan.

Bagi kita, terlepas dari pro kontra belakangan --pasca tumbangnya rezim orde baru-- ini, kita tidak ingin catatan kelam itu terulang lagi. Selain pasti merugikan bangsa sendiri oleh anak bangsa sendiri juga akan menggoyahkan bangsa sendiri. Di sisi lain, peristiwa kelam itu pun tidak boleh juga didiamkan, seolah-olah tidak pernah terjadi.

Tidak berlebihan untuk mengenang terbunuhnya para perwira kesuma bangsa, itu kita juga mengibarkan bendera kebangsaan dalam posisi setengah tiang. Itu pertanda kita berduka atas tewasnya mereka. Apapaun alasan politik di balik kejadiannya, akhirnya Pancasila yang sudah disepakati untuk menjadi penyatu anak bangsa yang beraneka suku, agama, selera, daerah ini menjadi satu kesatuan bangsa Indonesia. Mari kita kenang agar sejarah tidak melayang.***

17 Agu 2021

Salam Merdeka, Bekerja untuk Bangsa

Salam Merdeka, Bekerja untuk Bangsa


BANGUN pagi ini, tentu sama dengan bangun pagi-pagi yang lalu. Waktunya, kurang-lebih di jam-jam itu. Aktivitas juga tidak akan jauh-jauh dari situ. Tapi, bangun pagi di tanggal HUT RI, ini sekurang-kurangnya ada rasa berbeda. Bagaikan bangun di pagi raya, Idul Fitri atau Idul Adha (bagi muslim), misalnya rasanya terasa beda rasa.

Sejak awal bulan, kita bangsa Indonesia sudah merasakan bahang merdeka. Setahun lalu, gegap-gempita tahun ke-75 kita merdeka begitu terasa harunya kita karena memperingati HUT Kemerdekaan bersamaan menyebarnya covid-19. Tapi kita tetap melaungkan pekik 'Indonesia Merdeka' sebagai bukti kita selamanya cinta Indonesia.

Tahun ini, covid belum punah. Malah jumlah serangannya lebih masif dari tahun lalu. Tapi kita tidak akan mengalah dengan virus itu dalam usaha kita memperingati Indonesia Merdeka. Kita akan selalu membayangkan bagaimana para pahlawan bangsa berjuang. Korban harta dan nyawa adalah hal biasa mereka lakukan untuk dapat merebut merdeka. Tidak akan mampu kita menghitung, berapa banyak pengorbanan pahlawan kita dalam berjuang untuk merdeka. Tentu doa-doa kita akan terus kita sampaikan buat mereka semua.

Pagi ini kita bangun dari tidur memang sama seperti pagi kemarin-kemarin itu. Tapi kita tidak mau merasa sama saja. Di tanggal hari ini, 76 tahun lalu kita merdeka. Sukarno-Hatta, atas nama seluruh rakyat Indonesia menyampaikan ucapan 'merdeka' sekitar pukul 10.00 pagi di Jakarta. Pasti tidak disukai oleh penjajah, tapi kita harus merdeka. Perjuangan panjang oleh para pejuang, pagi itu berkesempatan dipungkas oleh pemimpin bangsa dengan memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia ke seluruh dunia.

Sejak saat itu, secara sah kita sudah melepaskan diri dari cengkraman penjajah meskipun secara fakta tidak diakui langsung oleh bangsa-bangsa di dunia, terutama oleh bangsa-bangsa yang pikirannya sejalan dengan penjajah. Syukurnya beberapa negara sahabat secepat kilat mengakui kemerdekaan kita. Dan perjuangan ternyata tidak selesai di batas pekik proklamasi pagi itu. Lama dan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun ke depannya pengakuan merdeka itu baru didapatkan dari negara-negara di dunia.

Pagi ini kita akan merenung dan mengheningkan cipta dan perasaan kita sambil berdoa. Mengenang detik-detik kemerdekaan yang dikumandangkan Sukarno-Hatta 76 tahun yang lalu itu. Sebagai guru, sebagai penyuka dan penggiat literasi juga dan sebagai rakyat bangsa Indonesia tercinta pada umumnya, kita akan memperingati perjuangan itu. Selebihnya kita akan terus bekerja dan bekerja sebagai usaha mengisi kemerdekaan bangsa. Dirgahayu RI, maju dan tumbuh dengan tangguh.***

Juga di www.mrasyidnur.gurusiana.id

10 Jan 2021

Tak Berangkat untuk Selamat dari Maut (Lolos dari Maut Sriwijaya)

Tak Berangkat untuk Selamat dari Maut (Lolos dari Maut Sriwijaya)


Catatan M. Rasyid Nur
INI kisah nyata yang dialami oleh Bang Asrizal Nur yang lebih dikenal dengan Asnur. Pimpinan Perruas (Perkumpulan Rumah Seni Asnur), itu mengisahkan ini di salah satu grup WA, Grup Lolos Pantun Budaya. Catatan yang ditulis langsung oleh Bang ASnur itu dikirim lagi seorang teman, Nensyi dan saya membacanya. Sungguh ini sebuah keajaiban dan perlindungan langsung dari Allah.

Di saat semua keluarga penumpang Sriwijaya dengan nomor penerbangan 182 berduka karena keluarga mereka mengalami kecelakaan pesawat udara Sabtu (09/01/2021) kemarin, ada satu kisah nyata yang membuat kita haru, syahdu meskipun tetap ikut sedih atas musibah itu. Keluarga itu bersyukur karena sejatinya dia ikut bersama pesawat itu pada penerbangan yang sama. Pertolongan Tuhanlah yang mengelakkan keluarga ini dari kecelakaan tersebut.

Seperti ditulis langsung oleh Bang Asnur, dia membuka kalimat catatannya dengan, "Alhamdulilah akhirnya Allah menolong sekeluarga, kalau tidak tentu kita tidak bertemu lagi," tulisanya di WA Grup yang kami peserta penulis Pantun Mutiara Budaya Indonesia ada di dalamnya. Saya ingin meneruskan catatan ini kepada kita, kepada siapa saja yang mudah-mudahan bisa menajdi iktibar. Selengkapnya, catatan Bang Asnur begini:

Tgl 7 Januari kami berniat sekeluarga ke Pontianak, Kalimantan Barat, berencana bertemu anak paling besar kami yang beberapa tahun di Pontianak. Di samping itu untuk menghadiri undangan dari para guru sebagai narasumber.

Tiket pesawat sudah dibeli, kami berempat, istri, saya dan 2 anak gadis kami yang cantik pun mengurus Rapid Tes dan antigen, mengatakan kepada Klinik bahwa kami akan ke Pontianak. Tidak ada keterangan apa pun dari klinik sehingga kami merasa  rapid tes dan antigen sudah cukup.

Setelah kami dapatkan Rapit tes dan antigen itu dg biaya hampir 300.000 per orang kami pun ke bandara dengan  rasa bahagia akan bertemu anak dan keluarga di Pontianak.

Sesampai di airport di saat masuk kami diperiksa, ternyata Rapit tes dan antigen itu tidak lengkap harus urus yg namanya Swap PCR , kami disuruh komunikasikan di maskapai. Hampir 1 jam mengurus di maskapai kami pun tetap tidak dizinkan masuk pesawat, hampir puluhan orang bernasib sama,  di antaranya para ibu yg tak cukup uang untuk mengurus SWAB PCR itu.

Pesawat pun sudah terbang, kami gagal hari itu ke Pontianak, Putri Thania anak saya sempat marah2.. "Inilah terakhir kali kita naik LION AIR tidak profesional, nanti kita naik SRIWIJAYA saja." katanya

Lalu kami pun mengurus SWab PCr  , ternyata mahal sekali, bila 24 jam maka biayabya bisa sejuta perorang bila 2x24 Jam Rp.800.000

Kamipun berunding , Putri mengusulkan kita ambil yg 2x 24 jam saja , berangkat *tgl 9 Januari naik SRIWIJAYA, karena SWab PCr itu selesai pukul 11.00 atau 12.00WIB kita naik pesawat yg pukul 13.00 WIb*

Saya langsung mengiyakan, tapi istri saya sudah tidak semangat, tapi anak perempuan bernama hoki tetap ingin ke Pontianak.

Setelah berpikir sejenak, lalu saya memutuskan, "Sudahlah, kita batalkan saja ke Pontianak, pertama biayanya mahal karena kita harus tidur di hotel sekitar, hotel biaya lagi, bagaimana kalau hasilnya tak sesuai di harapkan. Pasti ada hikmah dari ini semua. Misal kalau paksakan berangkat juga, akan terjadi sesuatu yg  tak baik bagi kita." sekeluarga .

Akhirnya setelah terdampar 4 jam di bandara kami pun pulang. Dan hari ini kami dengar kabar, pesawat SRIWIJAYA yang hendak kami tumpangi mengalami musibah, hilang tak ditemukan. Sujud syukur kepadaMu ya Allah yang telah menyelamatkan kami, aamin.

Saya menyalin (copas) semua catatannya itu agar tidak dianggap itu catatan saya dengan judul baru dari saya sendiri. Saya, sekali lagi hanya ingin kiranya kejadian seperti ini menajdi iktibar dan pelajaran kita. Kita akan semakin kuat meyakini bahwa hidup kita ini memang ada yang ementukannya. Jika Sang Penentu sudah menentukan, maka kita akan mengikuti saja ketentuan itu. Semoga kita semakin kuat dalam keyakinan kita.***

4 Jan 2021

Rencana Tatap Muka Sekolah Januari 2021 itu Batal

Rencana Tatap Muka Sekolah Januari 2021 itu Batal


TANAIKARIMUN.COM - KARIMUN, SEHARUSNYA mulai hari Senin (04/01/2021) ini sekolah-sekolah sudah membuka pembelajaran secara tatap muka bagi siswanya. Itu sesuai dengan yang pernah disampaikan oleh Mendikbud RI, Nadiem Makarim beberapa waktu lalu. Katanya, waktu itu, sudah ditandatangani keputusan bersama oleh beberapa menteri terkait. Selain Kemdikbud, juga Kemdagri dan Kemenkes ikut menandatangani surat itu. Sekolah boleh dibuka jika Pemda dan orang tua mengizinkannya. Itulah perinsipnya izin Pemerintah Pusat itu.

Namun, tersebab masih maraknya corona ternyata hampir semua Pemda di Indonesia belum memberikan izin untuk mengganti PJJ dengan pembelajaran tatap muka. Meskipun beberapa Pemda Tingkat Dua (Kabupaten/ Kota) ada yang mulai mengizinkannya. Dan orang tua pun setali tiga uang, menyetujui keputusan Pemda untuk tidak membuka dulu sekolah awal tahun ini.

Kemendikbud sendiri, seperti sudah dibaca di beberapa media mengumumkan bahwa rencana sekolah tatap muka di bulan Januari 2021 batal diselenggarakan. Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim, ada kekhawatiran jika sekolah tatap muka kembali dibuka. Hal ini lantaran kasus Covid-19 di beberapa daerah di Indonesia justeru mengalami peningkatan sebagaimana banyak diberitakan oleh media.

Masih menurut pemberitaan, misalnya hajinews.id, 03/01/21 memberitakan bahwa beberapa pakar dan ahli epidemiologi turut mendukung langkah pembatalan sekolah tatap muka di bulan Januari 2021 ini. Mengutip situs haji ini, epidemiolog Griffith University, Dicky Budiman, mengatakan bahwa pembukaan kembali sekolah tatap muka sangat berisiko. Artinya belum tepat saat ini.

Fakta di negara kita, di bulan Desember ini bangsa kita memang masih menghadapi masalah covid-19 yang menakutkan dengan beberapa kejadian yang terburuk. Ada berita penambahan kasus positf covid-19 dan ada juga berita kematian oleh virus ini. Yang jelas, secara teoritis praktis pengalaman berbagai kegiatan seperti Pilkada, Pemilu, ataupun keramaian yang sudah kita lakukan akan berpotensi memperburuk keadaan ke depan. Ditambah lagi adanya potensi libur panjang akhir tahun atau awal tahun yang baru saja kita jalani mungkin saja penyebaran corona sedang berlangsung di antara kita. 

Oleh karena itu, para pakar menyarankan agar pemerintah sebaiknya membuka sekolah pada akhir Februari 2021 nanti. Hal ini disebabkan, angka positivity rate di rata-rata daerah di Indonesia belum ada yang mencapai 5-8 persen, sehingga membuat pandemi Covid-19 belum dapat dikendalikan.

Bahkan, berdasarkan anjuran Ikatan Dokter Anak Indonesi (IDAI), pembukaan kembali sekolah di masa pandemi belum bisa dilakukan. Apabila sekolah kembali dibuka, maka akan berpotensi meningkatkan penyebaran virus karena adanya mobilitas atau pergerakan masif.

Bagaimanapun, jika nanti Pemda dan orang tua memberi lampu hijau untuk belajar tatap muka, tentu saja pihak sekolah harus memenuhi syarat-syarat protokol kesehatan yang sudah ditetapkan. Sekolah pun harus benar-benar menyiapkan diri untuk ini. Beberapa hal perlu sekolah ketahui, misalnya,

1) Sekolah harus mengetahui atau mencari tahu tentang pemetaan positif covid per kelurahan;

2) Sekolah memastikan pula pemetaan lokasi sekolah kaitannya dengan guru atau siswa yang bertempat tinggal di zona seperti apa;

3) Perihal transportasi guru dan murid apakah lintas zona yang berbeda-beda itu.

4) Kontak guru atau murid dengan orang lain juga perlu menjadi perhatian;

5) Segala persyaratan protokoler kesehatan harus sudah disiapkan oleh sekolah sebaik mungkin.

Hari ini, harapan akan masuk kembali ke sekolah memang belum dikabulkan. Tapi boleh jadi beberapa waktu ke depan akan diizinkan juga. Maka kesiapan sekolah yang mungkin sebelum sudah dilakukan, harus dikuatkan lagi kesiapan itu. Memang sedih, tapi ini demi kesehatan yang lebih berarti. Kita berharap, semoga segera corona sirna dan sekolah kembali dapat memberikan pelayanan pendidikan kepada anak bangsa.*** (mrn)


27 Okt 2020

DI Duga Perwira TNI Dibegal Saat Naik Sepeda

DI Duga Perwira TNI Dibegal Saat Naik Sepeda


Tanaikarimun.com, JAKARTA - Seorang Perwira TNI menjadi korban penjambteran saat sedang bersepeda di jalan Medan Merdeka Barat Jakarta Pusat, Senin 26 Oktober 2020, sekira pukul 06.45 WIB di seberang Gedung Kementrian Pertahanan RI.


Pejambretan yang dialami oleh Pangestu Widiatmoko itu ramai di perbincangkan di media sosial.

Dalam video yang beredar di media sosial itu, terlihat korban terdduduk di jalan dan mengalami luka di bagian kepala akibat peristiwa itu.

Dalam beberpa pekan terakhir kasus penjambretan yang menyasar pesepeda khususnya di jalan - jalan protokol marak terjadi. Polres Metro Jakarta Pusat berkomitmen membentuk personel pengamanan yang bertugas untuk menjaga jalur - jalur yang di lalui pesepeda agar terhindar dari peristiwa serupa 


"Kita sebar di beberapa titik anggota di jalan - jalan protokol, di Sudirman dan MH THAMRIN Kira kira jumlahnya 20 orang yang masuk dalam tim khusus anti jambret itu," ujar Wakapolres Metro Jakarta Pusat AKBP H eri Ompusunggu saat ditemui di Polres Metro Jakart Pusat, Jumat, 23 Oktober.
( ahz) 




7 Agu 2020

Mencuri HP untuk Anak Belajar Daring

Mencuri HP untuk Anak Belajar Daring

Tanaikarimun.com - Karimun, BERITA salah satu televisi swasta Kamis (06/08/2020) malam mengejutkan sekaligus menyedihkan. Diberitakan, seorang ayah di Garut sana harus memberanikan diri mencuri HP untuk belajar daring anaknya. Ingat, untuk belajar daring (online) anaknya yang baru masuk sekolah di Tahun Pelajaran 2020/ 2021 ini. 

Bekerja serabutan, dengan tiga orang anak ternyata membuat bapak ini tidak kuat memikul beban ekonomi. Kata polisi di berita, itu anak tertuanya (laki-laki) sudah DO di tingkat SMP. Tentu karena tekanan ekonomi itu. Tahun ini anak perempuannya masuk SMP.  Untuk anak perempuannya yang baru masuk SMP dan sudah satu bulan ini tidak bisa belajar, itulah kata polisi yang membuatnya bermata gelap. Harus mencuri.

Di satu sisi mungkin dikatakan dia berniat baik. Sang ayah ingin memenuhi keperluan sekolah anaknya. Tapi di sisi lainnya dia melakukan perbuatan tidak baik dengan mencuri. Perang antara memenuhi kebutuhan sekolah anak-anak dengan ketidakmampuan ekonomi, itulah yang menyebabkan munculnya kasus ini. 

Kasus pencurian HP oleh seorang ayah, itu sampai juga ke polisi bahkan ke Kejaksaan Negeri beritanya. Haruskah bapak itu dihukum atau cukup menanggung malu? Inilah bagian yang menyedihkan. Termasuk menyedihkan bagi kita para pendidik. Sebagai guru, hati dan perasaan kita pasti akan terbawa juga.

Kata jaksa, sebagaimana kita dengar dan saksikan di berita televisi malam tadi, itu bahwa karena pencurian ini dengan kerugian di bawah Rp 2 jt maka tidak perlu dihukum pidana berat. Masalahnya kasus itu masuk berita dan diberitakan dengan begitu terang. Jutaan orang tentu sudah menyimak berita yang berawal dari berita yang viral di medsos sebelumnya itu. Dan sebagai guru, berita itu tidak mudah kita mencerna dan mendengar begitu saja. Rasa sedih dan perasaan pro kontra pasti ada di perasaan kita. Lalu bagaimana kita menyikapinya?

Secara hukum dan dari sisi manapun orang sepakat bahwa tindakan bapak itu adalah sebuah kesalahan. Namun, jika tindakan itu disebabkan oleh rasa sayang dan atas nama tanggung jawab dia melakukannya? Inilah peliknya perasaan kita. Jaksa dan polisi saja lebih mengedepankan kemanuisaannya dari pada hukumnya. Pasti kita juga merasakan perasaan kemanusiaan bapak itu.

Menurut berita lainnya di m.liputan6.com Kejari Garut lebih mengutamakan kemanusiaan. Pak Aj (sang pencuri HP) memang mengaku melakukan pencurian demi belajar anaknya. Bukan saja tidak dihukum, kejakasaan Garut bahkan membantu mencarikan HP untuk bapak itu. Sungguh persoalan pelik bagi kita. Pembelajaran daring yang tidak mudah bagi guru, juga begitu beratnya bagi orang tua.**
Kontributor: M. Rsyid Nur
Editor: M. Rasyid Nur

22 Jun 2020

Panduan Awal TP Baru dalam Masa Pandemi Covid-19

Panduan Awal TP Baru dalam Masa Pandemi Covid-19

TANAIKARIMUN.COM, KARIMUN, MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan RI,  Nadiem Makarim mengumumkan ketentuan awal masuk sekolah untuk Tahun Pelajaran (TP)  2020/2021. Ketentuan itu disampaikan Pak Menteri melalui video telekonferensi, hari Senin (15/6/2020) sore, sepekan yang lalu. Dengan pengumuman itu sudah jelas bagi guru dan orang tua bahwa sekolah akan dibuka pada bulan Juli 2020. Wacana bahwa sekolah akan dibuka pada Januari 2021 dengan konsekuensi perubahan TP sudah tidak perlu membuat ragu bapak dan ibu orang tua siswa.

Kata Mendikbud, walaupun sudah dibolehkan masuk sekolah pada pertengahan Juli nanti, tidak semua sekolah akan dibuka. Apalagi dengan belajar tatap muka yang banyak diinginkan orang tua dan siswa sendiri. Kata orang nomor satu Kemdikbud, itu hanya sekolah-sekolah yang berada di zona hijau saja yang dibolehkan belajar dengan tatap muka. Itupun wajib menerapkan protokoler kesehatan.

Menteri dengan jargon ‘merdeka belajar’, itu menjelaskan bahwa penyelenggaraan pembelajaran dengan cara tatap muka bakal dilakukan secara bertahap juga. Ketentuan awalnya, untuk boleh membuka sekolah untuk belajar di sekolah hanya khusus bagi sekolah yang berada di wilayah zona hijau. Dan ingat, masih harus diatur secara ketat sesuai protokoler kesehatan. Lalu, ketentuan lainnya, tahap awal satuan pendidikan yang akan ke sekolah dimulai dari siswa SLTP ke atas.  Jenjang SD ke bawah belum bisa mengikuti pembelajaran tatap muka di sekolah meski berada di zona hijau.
Penegasan dan pengaturan pembelajaran yang diumumkan, itu dapat kita baca pada Pedoman Pelaksanaan Belajar dari Rumah Selama Darurat Bencana Covid-19 di Indonesia yang merupakan Surat Edaran Seketaris Jenderal Kemdikbud Nomor 15 Tahun 2020. Jadi, ada tiga tahap pembukaan sekolah dalam masa wabah covid-19 ini.     Tahap I, yang bisa mengikuti pembelajaran tatap muka ialah siswa jenjang SMA, SMK, MA, MAK, SMTK, SMAK, Paket C, SMP, MTs, paket B yang berada di zona hijau.
2.    Tahap II, adalah tahap akan diperbolehkannya masuk sekolah untuk tingkat SD dan sederajat. Pada tahap II ini akan dilaksanakan dua bulan setelah tahap I yakni bagi jenjang SD, MI, Paket A dan SLB. Selanjutnya  Tahap III, yang akan dilaksanakan dua bulan setelah tahap II berjalan, yakni bagi jenjang PAUD formal (TK, RA, TKLB) dan non formal. Jadi, anak-anak PAUD baru bisa masuk sekolah jika sudah lima bulan dari sekarang proses pembelajaran ini berjalan. Itu juga syaratnya harus berada di zona hijau yang ditetapkan oleh Pemerintah (Pusat/ Daerah).

Dengan ini artinya pilihan boleh tatap muka atau tetap belajar di rumah hanya untuk sekolah-sekolah yang berada di zona hijau. Sedangkan yang berada di zona kuning, oranye dan merah otomatis menggunakan BDR, Belajar di Rumah saja. Apalagi berzona hitam. Masih tetap kelam.

Sesungguhnya, satu hal yang membuat guru dan orang tua lega adalah kepastian bermulanya awal Tahun Pelajaran (TP) baru itu. Sebelum pengumuman ini, pro kontra masuk TP baru di bulan Juli atau Januari tahun depan masih hangat di masyarakat, terutama di media tentunya. Para guru dan orang tua jelas penuh ragu sambil menunggu.

Kini tidak perlu membuat ragu lagi karena di bulan Juli (2020) ini sekolah sudah akan melangkahkan kaki ke TP baru 2020/2021. Gerbang masuk ke TP baru sudah jelas. Meskipun nantinya masih ada sekolah yang tidak bisa langsung ke sekolah karena masih berada di zona kuning atau merah, yang pasti bahwa TP 2020/ 2021 sudah akan tetap dimulai pada pertengahan Juli itu. Solusinya tentu saja dengan belajar di rumah.

Selebihnya, kita akan memlototi saja nanti Panduan Pembelajaran yang dikeluarkan Pemerintah. Selamat bersiap, menatap bermulanya TP baru. Guru akan selalu siap untuk itu, insyaallah.***
  Juga di: https://mrasyidnur.gurusiana.id/article/2020/6/tp-baru-tak-lagi...

1 Jun 2020

MGI Adakan Halal Bil Halal ON Line

MGI Adakan Halal Bil Halal ON Line


TANAIKARIMUN.COM, SURABAYA - HARI Sabtu (30/05/2020) lalu Media Guru Indonesia melaksanakan pertemuan online untuk para guru. Kegiatan dengan titel “Halal Bihalal Online MediaGuru” , ini memang terkait dengan Idul Fitri 1441 H (2020) yang kehadirannya berbarengan dengan hadirnya corona di hampir merata Indonesia. Karena corona pulalah Media Guru melaksanakan acara Halal Bihalal ini. Kegiatannya dilaksanakan hanya melalui daring (dalam jaringan alias online). 

Kegiatan HBH OL (Halal Bilhalal On Line) yang baru pertama kali dilaksanakan Media Guru diikuti oleh ribuan, bahkan boleh jadi puluhan ribu guru atau anggota Komunitas Media Guru se-Indonesia. Anggota Media Guru memang sangat banyak. Seperti terdata pada akun FB Media Guru Indonesia, sampai saat ini ada 71.711 (data 06.01.2020: 06.22) anggota penghuni FB Media Guru. Jika semua atau setengah saja yang ikut kegiatan ini, sungguh tidak terbayang jumlahnya.

Jalannya kegiatan HBH OL MGI diawali oleh Pak Ihsan selaku CEO Media Guru dengan menyampaikan pengantarnya. Dalam bagian ‘pengantar’ ini Pak CEO menyampaikan sejarah perjalanan Media Guru dari lahir hingga kini. Dia juga memberikan beberapa tip untuk sukses. Misalnya dia mengingatkan perlunya sikap membantu orang lain yang efeknya untuk kesuksesan kita sendiri. 

Harus diingat, katanya bahwa guru berkarya itu adalah guru VIP. Kita tahu, konotasi VIP itu adalah orang atau golongan orang yang disebut hebat. Tidak semua orang bisa masuk kelompok VIP. Dan di MGI V itu berarti vision, I itu berate initiative dan P itu maknanya persistent. Jadi, guru VIP di Media Guru itu adalah guru-guru yang telah membuktikan kehebatannya dengan bukti mereka mendapatkan penghargaan. Beberapa orang yang masuk kategori VIP itu dijelaskan pak Ihsan dengan segala prestasinya. “Jika mereka tidak menulis buku, pasti tidak akan mampu menjadi guru hebat di bidangnya masing-masing.” Katanya.

“Saya percaya, jika Anda mengikuti jalan mereka, guru VIP kami, insyaallah anda juga akan menjadi guru VIP kami berikutnya.” Lalu Pak Ihsan juga menjelaskan beberapa kelas menulis yang sudah diprogramkan Media Guru. Ada 6 yang sudah dilaksanakan, 1) Sagu Sabu, 2) Sasi Sabu, 3) Menulis Best Praktis, 4) Menyusun  PTK/ PTS, 5) Mengubah KTI menjadi Buku dan 6) Kelas Editor. Akan ada yang ke-7, Kelas Menulis Opini di Media. “Kita ingin memborbardir media cetak,” katanya. Lalu dia menjelaskan point setiap tulisan yang bisa naik di Koran atau majalah. Penutup pengantar dia menyampaikan permohonan maaf bersempena Idulfitri.

Setelah menyampaikan pengantar yang penuh pengetahuan bagi peserta, Pak Ihsan mempersilakan beberapa orang untuk memberikan pencerahannya. Pertama, dia mempersilakan Pak Erman, Kepala Kemenag Kab. Bintan. “Silakan, Pak Erman,” katanya. Lalu pak Erman tampil dengan baju batik dan topi hajinya.

Pertama tampil, dia langsung memberikan pujian kepada Pak Ihsan sebagai pimpinan MGI yang menaja banyak kegiatan di bidang literasi ini. Pak Erman mengatakan betapa hebatnya MGI di bawah Pak Ihsan. “Media Guru sangatlah hebat. Bisa menghubungkan para guru yang berdomisili di beberapa pulau yang terpisah-pisah. “Pak Ihsan bisa menghubungkan pulau-pulau di Tanah Air ini. Kami di kepri ini terdiri dari pulau-pulau. Dengan MGI ini bisa terhubung.

Lebih jauh Pak Erman memberikan penjelasan tentang perlunya kita ikut kegiatan ini. Jangan sebut kesibukan, katanya. Sesibuk apapun kita, sesungguhnya jika kita mau menyediakan waktu untuk menulis, pasti bisa. “Bukankah agama kita memerintahkan kita membaca terlebih dahulu? Maka ikutilah kegiatan ini. Pak Erman banyak memberikan motivasi kepada para peserta. Di bagian akhir, Pak Erman menyempatkan membaca sebuah puisi.

Tampil kedua, Pak Ihsan mempersilakan Pak Amin Hidayat, Kepala Dinas Pendidikan Grobokan. Dengan menggunakan sergam PGRI, pak amin menjelaskan bahwa pada saat yang bersamaan dia juga baru saja mengikuti vidcon Halal Bihalal PGRI. Setelah memperkenalkan dirinya, Pak Amin menjelaskan awal dia bersama literasi. “Saat itu, saya bertemu pak Setia Darma,” katanya. Saat itu dia amsih Kepala Sekolah. Lalu dia menjelaskan, bagaimana dia berkenalan dengan Pak Ihsan. Lalu dia semakin tertarik dengan kegiatan literasi. Pak Amin sempat mengutip kisah Jibril yang menyampaikan wahyu ke Nabi Muhammad. 

Pak Kadis ini menjelaskan salah satu program di Grobokan, Saka sabu (Satu Kepala Sekolah Satu Buku) yang Pak Bupatinya sangat mendorong. Pak Kadis juga mengatakan satu kalimat, “Jangan mati dulu sebelum menulis Buku.”

Selanjutnya, Pak CEO meminta beberapa alumni Sagu Sabu yang ada di daerah-daerah. Pak Ihsan mengingatkan pentingnya persatuan-persatuan penulis yang menjadi motovator di daerah. Lalu dia meminta dari GPPL (Guru Penulis Penggiat Literasi). Namun karena belum tampil, dia mempersilakan Bu Wiwik dari Medan. Dia adalah Ketua IPP (Ikatan Pendidik Penulis) Sumut. Satu ungakapan yang disampaikan Bu Wiwik adalah “Betapa berbahagianya ketika kita bisa mengajak orang lain ikut menulis.***
Laporan M. Rasyid Nur