Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

7 Agu 2022

Pantun Pesan Sehat dan Berkah

Pantun Pesan Sehat dan Berkah



Dahan beringin daunnya lebat
Dapat berteduh di siang hari
Bila ingin sehat didapat
Harus selalu menjaga hati

Berkilat cermin buat mainan
Bedak Melati letak di laci
Obat vitamin bukan jaminan
Bersihkan hati itulah kunci

Dari Makasar membawa mercun
Berlayar terus ke Pulau Pandan
Ucapan kasar adalah racun
Penyubur virus sakitnya badan

Buah metoa masak di dahan
Manis isinya kulit dibuang
Orang tua usah dilawan
Membuat jiwa tak bisa tenang

Tuangkan tinta kertasnya basah
Dilipat dua supaya rapi
Uang dan harta pastilah berkah
Sedekah utama ikhlas memberi

1 Mei 2022

Pantun Idl Fitri, Berharap Akhir nan Suci

Pantun Idl Fitri, Berharap Akhir nan Suci


MARI menyambut Idul Fitri 1443 ini dengan beberapa untai pantun. Hampir sebulan kita menunggu datangnya hari suci. Wajib puasa dan berbagai ibadah pun sudah kita lalui. Keikhlasan dan kesabaran dalam iman akan menentukan nilai puasa kita di hadapan Tuhan. Sepenuhnya kita berserah kepada-Nya karena balasan puasa langsung dari-Nya.

Beberapa bait pantun ini digubah dalam rangka menyambut dan merayakan Idul Fitri tiba. Rasa gembira kita semata ingin tetap bersama dengan saudara-saudara kita dimana jua berada. Terlebih-lebih bentuk hormat dan santun kita kepada orang tua. Selamat membaca. 

Langkah berderap memukul genta

Dua putri duduk bersama

Kita berharap kita meminta

Si Idul Fitri itulah nama


Cantik paruh burung punai

Burung merebah hinggap berdua

Sebulan penuh puasa ditunai

Kinilah tiba menjelang raya


Bunga melati lambang kesucian

Daunnya rendah usah patahkan

Di Idul Fitri bermaaf-maafan

Silap dan salah mari lupakan


Tambatkan rusa makan berpindah

Rusa betina ikut dibawa

Di bulan puasa banyak ibadah

Di hari raya bersuka-ria


Jika perintah tolong hormati

Imannya kuat pada yang satu

Ayah dan bunda kita hormati

Bermohon maaf ridho dituju

Tbk, 01052022 (29 Ramadan 1443)

Begitu saja pantun kita. Semoga ada manfaatnya.***

18 Apr 2022

Pantun Ramadhan, Ikhlas Tegakkan

Pantun Ramadhan, Ikhlas Tegakkan


Pohon embacang tidak berduri

Harum baunya makan bersama

Selamat datang bulan nan suci

Bulan Ramadhan dia bernama


 Buah rambutan rasa markisa

Di Brastagi banyak tumbuhnya

Bulan Ramadhan umat puasa

Buktikan diri taat pada-Nya


Jika letakkan makan beralas

Adat majukan  halus dirasa

Jika tegakkan Ramadhan ikhlas

Dapat ampunan segala dosa


Bila didandan pakailah pita

Terlihat lawa semuanya padan

Puasa Ramadhan membimbing kita

Predikat takwa Allah berikan


Segar terasa air selasih

Memakai galah memetik buah

Orang puasa hatinya bersih

Kepada Allah tempat berserah

Tbk, 16042022

15 Nov 2021

Puisi HARGAI PAHLAWAN

Puisi HARGAI PAHLAWAN


Hargai Pahlawan 

Oleh : Wahyu Nurhalim S.Pd.I M.Pd 

Dulu... 

Setetes darah, dan tanah diperjuangkan 

Demi gemetarnya meriam yang sangat buat nyaman 

Setelah merdeka harusnya muda mudi 

Menghargai para pahlawannya kini 

Bukan hanya baik budi 

Namun belajar dengan matang di setiap lini 

Hargai pahlawanku 

Hargai negeriku 

Hapuskan kesedihan 

Raih gemerlap dan torehkan 

Salam doaku untukmu pahlawanku 

Salam keringat suksesku 

Dan bakti terhadap riauku 

 

Riau, Minggu 14 November 2021

2 Okt 2021

Pantun Pahlawan Revolusi

Pantun Pahlawan Revolusi


MASIH tema pahlawan revolusi bicara kita. Hari ini masih tanggal 2 Oktober. Tanggal hari ini pada tahun 1965 itu masih kacau-balau dan simpang-siur berita kematian tujuh jenderal TNI yang belakangan diketahui dihabisi oleh orang-orang PKI. Ya, orang suruhan PKI jika dia bukan PKI. Maka bicara hari ini kita tidak berlebihan jika masih bicara jasa pahlawan revolusi. Bagi kita, negara ini sudah selesai dan kita wajib mempertahankannya dengan mempertahankan Pancasila. Kita jaga agar kita tetap sedasar dalam bersatu di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Saya gubah beberapa bait pantun dengan tema Pahlawan Revolusi. Silakan kita baca.

Pantun Pahlawan Revolusi

Ingin bersinar mata boneka
Lampu halaman tolong hidupkan
Kalau benar cinta Negara
Jasa pahlawan jangan lupakan

Riak haruwan di Pantai Nongsa
Ikan tenggiri tiga sekawan
Banyak pahlawan pembela Bangsa
Pahlawan Revolusi lupakan jangan

Daun bidara tidak berbau
Dipakai mantra hilangkan rasa
Cinta Negara raihlah ilmu
Itulah cara menanam jasa

Bacalah takbir sambil mengaji
Kalau mengaji dapat pahala
September Oktober bulannya sakti
Yang lebih sakti ya Pancasila

Harum gaharu dekat cendana
Jangan dibuat pembakar api
Rakyat bersatu kuat Negara
Jauhkan sifat hasad dan dengki
Tbk, 02/10/2021

Demikianlah pantun kita di ujung pekan, awal Oktober ini.***

4 Sep 2021

Literasi Pantun untuk Mengangkat Budaya Dunia

Literasi Pantun untuk Mengangkat Budaya Dunia


SUDAH kita ketahui bersama kalau pantun sudah menjadi milik dunia. Tidak lagi sebagai hasil sastra dan budaya dari satu bangsa atau satu bahasa tetentu saja. Dulu, pantun itu identik dengan bahasa Melayu. Pantun lebih dikenal dan berkembang di Negara dengan bahasa Melayu atau bahasa yang berakar Bahasa Melayu seperti Bahasa Indonesia.

Terhitung sejak akhir tahun 2020 pantun sudah menjadi milik dunia. Berarti sekaligus menjadi budaya dunia. UNESCO atau Badan PBB untuk Pendidikan, Sains dan Kebudayaan sejak 17 Desember 2020 telah menetapkan pantun sebagai warisan budaya dunia tak benda. Sejak itu artinya pantun sudah menjadi warisan dunia. Harus dijaga dan dipelihara juga oleh dunia.

Sebagaimana dirilis oleh banyak media bahwa penetapan pantun menjadi warisan dunia tak benda merupakan penetapan ke-11 bagi Indonesia yang diakui UNESCO. Sebelumnya, beberapa tradisi Tanah Air, semisal pencak silat, seni rakit perahu pinisi, tari saman, dan batik sudah ditetapkan badan PBB yang berkantor pusat di Paris, Prancis, itu. (https://mediaindonesia.com) Jadi, pantun sudah menjadi warisan dunia. Tidak lagi warisan negara atau bangsa tertentu saja.

Tentang pantun dengan segala imbasnya memang selalu enak dibicarakan. Enak juga membaca setelah tuntas menggubahnya. Sebagai Warisan Dunia Tak Benda yang berasal dari khazanah Melayu, Indonesia (salah satunya) tentu saja menjadi kebanggaan kita Bangsa Indonesia membicarakan pantun. Sepantasnya pula kita akan senantiasa menggubah dan membacanya.

Kali ini saya menggubah beberapa bait pantun untuk ajang silaturrahim kita. Seperti lazimnya kita akan saling bersilaturrahim di akhir pekan ini dengan tulisan-tulisan ringan. Salah satunya adalah menulis pantun. Dan pantun hari ini saya beri tema ‘ibu’ karena tiba-tiba saja saya mengenang ibu saya yang sudah tiada sejak lama. Selamat menikmatinya.

 

PANTUN IBU

I

Air di laut berwarna biru

Indah dilihat mata memandang

Ayo diikut perintah Ibu

Usah dibuat bak Malinkundang

 II

Pasang teraju si layang-layang

Benang ditambah sampai angkasa

Ibu menyuruh anak sembahyang

Jangan dibantah nanti durhaka

III

Manisnya tebu tumbuh di taman

Pupuk melukut subur daunnya

Ridhonya Ibu ridhonya Tuhan

Bila diikut mendapat syurga

IV

Ditanam kacang tumbuhnya labu

Benihnya dua putik menguncup

Jikalau sayang kepada Ibu

Jauhkan dia sengsara hidup

V

Batang bambu dibelah dua

Mari diikat membuat bangku

Bila Ibu sudah tiada

Doa  dihajat sepanjang waktu

Demikianlah silaturrahim kita untuk literasi kali ini. Semoga ibu kita dan seluruh keluarga kita senantiasa dalam keadaan sehat senantiasa.***

13 Jun 2021

Pantun Silaturrahim di Akhir Pekan

Pantun Silaturrahim di Akhir Pekan


AHAD di akhir pekan (sejatinya di awal pekan) ini saya menyuguhkan beberapa bait pantun. Pantun ditulis semata untuk menjalin silaturrahim di antara kita. Sebagai penyuka literasi, banyak karya tulis yang dapat kita buat. Tapi karya tulis berupa pantun yang notabene adalah budaya bangsa hendaklah kita hasilkan pula.

Lebih dari itu, pantun pun sudah menjadi warisan dunia tak benda yang berasal dari Negara kita. Dengan Bahasa Melayu (Indonesia) yang halus dan indah, pantun akan menyampaikan pesan-pesan yang indah juga. Inilah pantun kita pada hari ini.

Kalau bulan tak bercahaya
Hujan kan turun membasuh bumi
Kalau Tuan sudi membaca
Inilah pantun penyejuk hati

Anyamlah tikar dari pandan
Pandan dipotong tidak bergetah
Kita berpencar tak berdekatan
Silaturahim terjalin di dunia maya 

Memukul pandan pakailah batu
Batu berlapis usah lepaskan
Di akhir pekan banyaklah waktu
Waktu menulis jangan lalaikan

Dipukul sakit bawa tengadah
Cobalah lihat ke matahari
Covid menghimpit membuat gundah
Tetap semangat kuatkan hati

Kuntum merekah harum baunya
Ikatkan kokoh dekat jendela
Berpantun kita cukuplah sudah
Pertemanan kokoh terus dijaga
Tbk, 13062021

Begitu sajalah pantun kita pada hari Ahad ini. Semoga ada manfaatnya.

 

27 Mar 2021

Pantun Silaturrahmi untuk Literasi

Pantun Silaturrahmi untuk Literasi



KALI ini saya menyapa teman-teman, sahabat semua yang berkenan membaca. Untuk terus mengembangkan dan memajukan budaya bangsa, khsusunya pantun yang sudah menjadi 'warisan dunia tak benda' yang diajukan Indonesia dan Malayisa sejatinya kita terus berkarya pantun. Ada banyak karya puisi yang diciptakan manusia, namun pantun telah menjadi karya puisi istimewa.
Izinkan saya menyampaikan 5 (lima) bait pantun berikut,

Petik sekuntum mewangi bunga
Bunga cempaka dalam jambangan
Salam santun untuk semua
Hati berduka sekali jangan

Andai kan bulan tak bercahaya
Mungkin gerimis di tengah hari
Andai kan Tuan merasa duka
Bawa menulis menghibur hati

Menebang tebu tolong tuakan
Gulanya manis masak sendiri
Terbitkan buku jadi harapan
Wajib menulis setiap hari

Tebunya manis tanam sendiri
Dijual tidak tumbuh di halaman
Guru penulis jadi isnpirasi
Teladan anak dicontoh teman

Kain katun berwarna-warni
Membuat baju tolong jahitkan
Berbalas pantun sampai di sini
Di lain waktu kita lanjutkan
Tbk,27032021

Demikianlah, semoga ada manfaatnya.

30 Des 2020

Puisi Wahyu Nurhalim

Puisi Wahyu Nurhalim


PENGANTIN BARU
SELAMAT KEPADA: IKA MARWAH

Dulu!
Kamu gadis alangkah pilu dan terus meminta jodoh..

Dulu!
Kamu dianggap bocah lugu yang penuh drama cinta yang semu

Kini!
Engkau temukan tulang rusukmu yang akan menopang kehidupanmu

Hidup bersama dan menemani membersamai dan penuh keberkahan

Kini!
Rasa syukur harus selalu diucapkan agar kelak jadi saksi janji suci yang diikrarkan suamimu

Kelak!
Memiliki anak hasil bercumbu dan buaian kasihan sayang

Kelak!
Anakmu menjadi penulis, dan keluarga besar sebuah competer yang tak pernah berhenti menulis


Riau, 26 Desember 2020

18 Des 2020

Puisi: Monolog Jumat Pagi

Puisi: Monolog Jumat Pagi





Jika ada yang terlanjur dan tidak bisa ditarik lagi
semoga itu adalah hasil karya yang berguna bagi diri
dan juga bagi orang lain di kanan-kiri.
Betapa tidak terbayangkan
jika yang terlanjur keluar itu adalah kata-kata yang menyakitkan
yang mengukir dosa entah tersebab siapa.
Mungkin akan sulit meminta dimaafkan
khususnya oleh orang yang merasa disakitkan

Inilah monolog di pagi Jumat penuh berkah
akankah Allah tutupkan kekeliruan diri dari perbuatan yang menyakiti
menyakiti sahabat di kanan dan di kiri
dapatkah dosa-dosa ini Dia ampuni karena berbuat dosa tak jua berhenti 

Karya-karya apapun
semoga menjadi manfaat untuk semua umat
atau untuk sebagian yang manfaat
keluhan ini adalah penyesalan yang kesekian kali
semoga untuk yang terakhir sekali
sebelum nyawa ini ditarik kembali

Maafkan diri ini, ya Robbi atas apapun kesalahan selama ini.

Tbk, 18122020

5 Nov 2020

Puisi Wahyu Nurhalim

Puisi Wahyu Nurhalim


TENTANG KITA DAN ALAM

Selalu ada cara,
Untuk kita bersyukur
Pada semesta nikmat tiada tara,  yang maha luas terhampar
Tumbuh suburkan pohon iman di taman jiwa gersang..

Selalu ada alasan,
Untuk kita memperbaiki diri
Tak perlu mengelak,
Walau tak bisa sempurna dalam proses yang panjang

Selalu ada kesempatan,
Selagi waktu masih bersahabat
Karena sudah pasti, ia tak datang untuk kedua kali
Biarkan saja lelah membayangi dirimu yang hilang ditelan ombak..

Selalu ada jalan, 
Untuk kita kembali
Menuju perjumpaan dengan perkampungan taubat
Sucikan jiwa-raga ini dari keangkuhan dan debu kealpaan diterpa karam..

Riau, 5 November 2020

26 Okt 2020

Puisi Wahyu Nurhalim S.Pd.I M.Pd

Puisi Wahyu Nurhalim S.Pd.I M.Pd


NGANTUK DISAMPING IBU

Mata ibu sepertinya mulai terasa kantuk 
setelah cukup lama asik sibuk menambal bantal dengan tangannya yang halus,  
saat melihat bantal dan kasur perlu ditambal
agar besok pagi saya dan seisi rumah
tetap bisa ia masukkan semua ke dalam pelukannya 
hingga ku dininabobokkan 
saat ku dalam kepenatan luar biasa

Indragiri Hulu, 25 Oktober 2020

23 Okt 2020

Puisi: Wahyu Nurhalim S.Pd.I M.Pd

Puisi: Wahyu Nurhalim S.Pd.I M.Pd


HENING DAN JERITAN AKAN BERAKHIR


Hening terhempas bagai padi angin terkekang oleh waktu..

Pada suatu hari akan sirna dalan jeritan doa dan pintaku padamu ya Rabb..

Geliat tangis ya ampun ya rabbi..
Atas manusia yang penuh dengki dan spritual yang tinggi.. 

Kemanakah?
Saat 1/3 malamku 
Akan kerendahan hati yang terpana oleh rayuanmu


Indragiri Hulu, 23 Oktober 2020

16 Sep 2020

Puisi-puisi Wahyu Nurhalim S.Pd.I M.Pd

Puisi-puisi Wahyu Nurhalim S.Pd.I M.Pd


MENANTI CINTA PANGERAN RIAU

Tiba-tiba engkau mendahului saat berpapasan acara
Aku hanya bisa memandang kepergianmu hingga sampai di titik lenyap dan dikuburkan
Kembali lagi menunggu, tapi tak mengapa
Karena aku telah sampai pada sebuah keyakinan, bahwa kelak kaki ini tetap sampai di titik tujuan yang pernah dikonsepkan

Tak mengapa pula bila kau menganggap ada yang cemburu
Bukankah cemburu itu pertanda cinta sayang dan mesra?
Sungguh, kesetiaan ini nyata adanya dan luar biasa adanya?

Yang pasti, 
apa yang kau kejar adalah fatamorgana
Tak ada sebentuk kemajuan sedikitpun darimu
Tetapi mengapa masih asyik dalam permainan dan bertepuk sebelah tangan dalam simphony cinta?

Jika saja mau sedikit merenung untuk tahu,
Ada hati yang setia menunggu di ujung sana
Walau masih tertutup kabut pegunungan everest?

Kau tak percaya atau aku yang percaya?
Kita buktikan saja
Kesabaran yang anggun akan selalu bersemi di relung jiwa yang terlalu sedih meratapi
Biarlah kelak, waktu yang menjelaskannya tanpa sebab aku mengartikan sikapmu

lndragiri Hulu,  Riau  15 September 2020


BUDAYA ORANG MANGONDOW

Jika anda sudah jadi Kinalang
 lindungi paloko agar hidup senang dan riang
 Jika anda jadi pemerintah maka jadilah pengayom rakyat dan bermartabat

Jika sedang mendapat amanah rezeki
 simpanlah sebagian untuk anakmu nanti dan nikmati
Jika kita dapat rejeki maka jangan lupa bersedekah dan berbagi
Jika melihat tamu datang bertandang
segeralah beri sirih pinang dan sambut dengan riang
 Jika ada tamu yg datang maka berilah penghormatan  dan sambutan
 Apabila kaki selalu basah
maka kerongkongan juga ikut basah dan minumlah
 Setiap orang rajin, pasti mendapat rejeki dibumi pertiwi

Jika ingin menginjak bumi Totabuan
jangan lupa adat bobahasaan yang tinggi
Jika datang di Bolaang Mongondow, maka ikutlah adat kebiasaan orang mongondow dan bersua
Kalau bogani sudah meringki
tandanya ada gangguan negeri ini
Jika pendekar sudah marah, berarti ada gangguan keamanan diganggu
Apabila kinalang sudah di singgasana
janganlah lupa paloko rakyat jelata dan petuah
Setiap pemimpin pilihan rakyat, jangan lupa bantulah rakyat yang mandat

Jika sudah makan sayur gedih
itu pertanda hidup di tanah kami dan bersyukur
 Jika datang ke negeri kami, pasti makan sayur gedih dan kemangi
Jika gamelan sudah berbunyi
tanda berduka di bumi kami yang usang dan tua
Jika gamelan sudah dibunyikan, segera berkemas melayat duka akan singgasana
Jika bogani negeri sedang pergi
tanda musuh sudah dikejari dan nikmati usulannya
jika pendekar menghilang, pasti sedang mengejar musuh dan malapetaka
Jika berkendara jalanlah pelan
agar engkau cepat sampai tujuan dan bangga
Berhati-hatilah berkendaraan agar tidak terjadi kecelakaan dimana ada bahaya
Jika sayur gedih sudah dimakan
pertanda pulang pasti sudah terlupakan dan amanahnya
 setiap tamu yg datang ke Mongondow bila sudah gemar makan sayur gedih, bisa saja jadi betah 

Riau, Indragiri Hulu 15 september 2020

13 Sep 2020

Puisi Wahyu Nurhalim S.Pd.I M.Pd

Puisi Wahyu Nurhalim S.Pd.I M.Pd


MELALUI LANGKAH SENDIRI


Terkunci pilihan-pilihan kata merayu yang menggombal

Aku memilih diam lalu pergi dari duniamu yang mengangguku
Aku menumpahkan air mata merana tanpamu
 Dan akhirnya gelisah tumpah ruah didalam pelukanmu

Rasa sakit  demi kesembuhan yang aku selipkan dalam doa
 kau lupa bahwa
Ada sebongkah hati yang setia padamu
Racun manis yang selalu kau sajikan dalam dirimu
Kutengguk mesra tanpa curiga dan mencurigai

Hingga buai asmaramu kian merajai jiwa yang terpatri dalam diri..
 
Terpasung aku dalam gelora cinta palsumu
Kini luka ini telah bernanah dan berdarah dalam hembusan angin sepoi sepoi
Namun candu dan madumu hingga cintamu terlanjur dan tak surut lalu mampu merusak sendi hidupku yang dulunya bahagia
 
Aku ter panah oleh racunmu hingga datang perpisahan kini kau luncurkan
Berdalih ego yang terselimuti hianat
Hingga gendang telingaku sobek tersayat silet
Oleh kata-kata sumpah yang terucap dari mulutmu
 
Aku memutuskan pergi takkan kembali
Semua harapanku telah sirna ditelan bumi
Memilih sendiri agar nafas terpingkal hilang
Dalam  berujung datang dan ini
Menjadi teman sejati dalam hidupku yang semakin baik
Pada tahun ini

Indragiri Hulu, Riau 12 September 2020

12 Sep 2020

Puisi Wahyu Nurhalim S.Pd.I M.Pd

Puisi Wahyu Nurhalim S.Pd.I M.Pd


SYAIR KESEDIHAN

Hari-hari telah kita lalui bersama
Menandai makna gugusan aksara dan realita yang ada?
di antara alif dan selepas iqro?
Menelusuri makna dalam kamus Kata KBBI
Menata kembali susunan sehingga rapi.

Tetapi belum semua yang tersusun itu selesai terurai
Masih banyak bait yang nanggung semua luka
Kalaulah memahaminya aku tak kan sanggup sudahkah kita menunaikannya dari yang wajib dan sunnah?

Tanda tanya akan keberhasilan?

Dan mengapa ujungnya jadi menyedihkan?

Semua terbinasa?

Apakah mesti semua itu karena dalam diri semua insan akan abadi dan takkan pernah hilang?
Di mana bisa kita cari akar masalahnya sedangkan masalah terus ada?

Apakah ini yang namanya himbauan?
Peringatan?
Ataukah ancaman?
Bisakah engkau menganggap bahwa dunia kita baik-baik saja?

Di ujung jembatan ini, 
Aku masih menanti Aji Saka untuk menjelaskan segala tanya.

Indragiri Hulu, Riau, 10-9-2020

11 Sep 2020

Puisi: Wahyu Nurhalim S.Pd.I M.Pd

Puisi: Wahyu Nurhalim S.Pd.I M.Pd


DZIKIR ANGIN 

Ayo dzikir yang menyeruak dalam ronamu
Menyelinap di antara susunan kelopak mata
Tersipu merayu bersama tarian kepala putik
Bersenyawa dengan aroma yang terbawa embusan kayu dan angin

Subhanallah
Walhamdulillah
Laa Ilaha Illa Allah
Allahu Akbar

Butir-butir istighfar tergubah sepanjang langkah ku
Atas debu kealpaan saat ku yang selalu menghampiri
Karena keakunghan yang mengungkung nurani manusia
Lelap jiwa dalam lalai dan lena dunia yang fana

Astaghfirullah hal 'adzhim
Astaghfirullah hal 'adzhim
Astaghfirullah hal 'adzhim
Astaghfirullah hal 'adzhim

Mengalirlah kau, wahai air mata keinsyafan
Hapuskan pahala segala gundah gulana yang menggila
Demi ridhoNya, merayu hamba  yang Riya

Riau Indragiri Hulu, 10-9-2020

9 Sep 2020

Puisi-puisi Wahyu Nurhalim S.Pd.I M.Pd

Puisi-puisi Wahyu Nurhalim S.Pd.I M.Pd



LUKISAN PULANG DI RIAU

Menuju pulang saat menjadi dewan juri,
Selalu saja ingin lewat di tempat ini dan merinding..
Seakan memasuki sebuah lorong harapan
Ya, bukankah ujung dari kepulangan itu simpul atas segala harapan hingga menusuk malam jumat kliwon?
 
Sudah teramat jauh kaki ini mengelana
Memahat jejak di setiap sudut waktu dan jauh atas semua mimpiku?
Mengikatnya dalam lembaran-lembaran putih kehidupan yang membuatku terkesan?

Jika engkau berada di sampingku, mungkin akan paham senyatanya
Bukankah kau ingin merasakan getarannya dan gelombang yang kelam?

Karena setiap kita pasti akan beranjak menuju pulang dan kedewasaan yang hakiki?
Entah suka ataupun tidak suka aku tetap pada setiaku?
Entah dengan sukarela ataupun terpaksa
Semoga di ujung sana, bisa kita temukan sebentuk senyuman dan tulus dan buatku terkenang hingga gelap menusukku sampai lupa peristiwa yang terjadi..

Indragiri Hulu Riau, 06 09 2020


PETUAH ANAK MUDA

Wahai anak muda, janganlah hempaskan diri dalam kebinasaan
Jangan sampai terperosok ke dalam lubang yang sama sampai dua kali
Lalai dalam lena hanya akan menuai malapetaka yang berimbas dengan makhluk lainnya

Hidup memang tak selalu lurus-lurus saja
Simalakama dalam dilema yang mendera disebuah retorika
Tak cukup sekadar mengaduh, menangis dan meratapi hati yang tersayat

Maka telah ada jaminan bahwa dibalik setiap kesulitan pasti ada kemudahan sesuai firmanNya?
Bukankah rahmat-Nya telah tersaji sedemikian luas dan ampunanNya?
Sungguh, memang itulah karakternya

Maka jangan pernah tertanggalkan baju kesabaran jika masih ada baju amarah yang tersimpan itu
Pantang berhenti membuat lapis-lapis  manfaat walau sesaat dan tergores nan indah
Karena setiap kebaikan pasti akan berbalas kebaikan pula dah baik juga untuknya

Tidak ada kah cinta yang tak ada makna kesedihan,
Kiranya kedamaian selalu bersemayam di relung jiwa jiwa yang terluka
Kiranya Yang Mahasegala setuju dengan semoga kita akan kekal di surgaNya

Indragiri Hulu, Riau 9 september 2020

6 Sep 2020

Puisi-puisi  Wahyu Nurhalim S.Pd.I M.Pd

Puisi-puisi Wahyu Nurhalim S.Pd.I M.Pd


TERNYATA PENILAIANMU SALAH


Ku..
Elakkan ala naluri dengan nilai 0 atas sikapmu
Namun ku harus bertanggung jawab atas nilai 100 atas prestasimu

Hari ini bukti bahwa aku akan melihat perjuangan dan harapan yang pasti
Dengan semua hegemoni juara dalam diri...

Indragiri Hulu, Riau 6 September 2020


LUKISAN PULANG DI RIAU

Menuju pulang saat menjadi dewan juri,
Selalu saja ingin lewat di tempat ini dan merinding..
Seakan memasuki sebuah lorong harapan
Ya, bukankah ujung dari kepulangan itu simpul atas segala harapan hingga menusuk malam jumat kliwon?
 
Sudah teramat jauh kaki ini mengelana
Memahat jejak di setiap sudut waktu dan jauh atas semua mimpiku?
Mengikatnya dalam lembaran-lembaran putih kehidupan yang membuatku terkesan?

Jika engkau berada di sampingku, mungkin akan paham senyatanya
Bukankah kau ingin merasakan getarannya dan gelombang yang kelam?

Karena setiap kita pasti akan beranjak menuju pulang dan kedewasaan yang hakiki?
Entah suka ataupun tidak suka aku tetap pada setiaku?
Entah dengan sukarela ataupun terpaksa
Semoga di ujung sana, bisa kita temukan sebentuk senyuman dan tulus dan buatku terkenang hingga gelap menusukku sampai lupa peristiwa yang terjadi..

Indragiri Hulu Riau, 06 09 2020

3 Sep 2020

Puisi-puisi Wahyu Nurhalim S.Pd.I M.Pd

Puisi-puisi Wahyu Nurhalim S.Pd.I M.Pd


KESABARAN HAKIKI 

Bersabarlah dengan kesabaran nan anggun
Dan segala sesuatunya tetap menjadi lebih baik atas semua keahlian

Menuruti ketergesaan hanya akan berujung pada penyesalan dan ungkapan dengan nada ynag amat tinggi
Bukankah keberhasilan itu milik orang yang tahu bagaimana cara menunggu? Sesabar itukah

Maka teruslah bersabar
Dan tingkatkan terus kualitas kesabaran itu
Tapi bukan berarti hanya dengan diam tanpa arti
Bertumbuhlah selalu dalam karya dan kreasi melalui tulisanku ini

Dan cobalah sejenak duduk bersama,
Mengurai gagasan yang menyembul di antara gelas-gelas kopi dan teh poci
Untuk kita mengerti lebih tajam bahasa
Memahami lebih dalam ke aras subtansi
Sungguh, unta pun tak akan terperosok dalam lubang yang sama sampai dua kali dalam setahun

Bila segala sesuatunya telah tertunai,
Hiasilah ia langkah ini dengan kuntum-kuntum do'a dan sholat yang khusyuk
Tawakal kita, adalah senyum bagi  semua umatnya nabi muhammad SAW

Indragiri Hulu, Riau 31/08/2020


DALAM SUNYI NAMAMU DAN NAMAKU

dalam putih sepi
kabut menembus awan namamu ada
hingga ke palung pekat lalu
tubuhku, merindu cahaya dari rekayasa asmara yang 
dijanjikan mulut di bawah auman singa si raja hutan pohon-pohon durian

di putih sunyi akan tenggelam
Para kutu berloncatan sambil menaridi selasar mata, duka berembun dan bersekutu dengan angin puncak hening
kita membicarakan masa lalu dan masa depan yang kembali
gembira menafsirkan dekapan dari sebuah buku dan foto udah kusuh dan lusuh

di meja perjamuan butiran-butiran embun memecah jadi bias di mata
suara radio tua yang hampir usang menumbuhkan kangen yang pelan-pelan melayari samudera cinta di pelupukmu

di putih sunyi
lautan maha cahya
daun terlepas

tahun-tahun sesudahnya
kita menjadi boneka di bilik atau manekin atau guling kapuk yang tiarap di palung dingin, malam. 

mendekap mimpi kemudian selepas musim-musim tua tanak di radio tua
pohon rambutan
selembar puisi
bunga pentas
sempurna jadi pikat detak tak berkarat
alasan melanjutkan nafas, derap jantung dan kuasa ilahi di wilayah paling rahasia

          yaitu renungan
          yaitu luka rindu
          bersekutu dengan doa malam doa fajar doa dini hari 
           kucoba lagi menerima kenyataan
           sekumpulan bunga layu
          mampir di mimpiku

di putih sunyi
butuh waktu melupakan hitam putih perjalanan kata-kata di bawah pohon rambutan
di kota dingin bagai bogor kedua
kini menyimpan gigil sesal dan kusedekahkan waktu
menulis sajak untukmu
cukup jadi nutrisi bahagia lahir dan batinmu serta tidak lupa selembar doa di manaqib tua kubisikkan ada bagian yang tertinggal doa muharram ku ditahun ini 1442 H

di putih sunyi 
bayangmu pelan singgah
harum menggoda aku terbang hingga kefantasi kelangit ketujuh

Indragiri Hulu, Riau 1 September 2020



DERASNYA


Saar deras aku melangkah
Menunggu kecupan saat aku terjebak dalam rayuanmu

Inikah?
Pertemanan atau sekedar rusukmu 
Ekploitasi dalam dangkalnya sanubarimu?


Riau, Indragiri Hulu 2 September 2020