Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Kita adalah Guru Sekaligus Murid

Kita adalah Guru Sekaligus Murid


Catatan Mohammad Nasruddin
GURU adalah profesi tertua di alam raya ini. Dulu Allah pun menjadi guru bagi adam. Nabi Khidir menjadi guru bagi Musa. Jibril menjadi guru bagi para nabi termasuk nabi Muhammad. Begitulah tuanya usia profesi guru.

Guru di negeri kita dikenal sebagai profesi tanpa tanda jasa. Maksudnya tiada di bajunya lambang atau simbol sebagai tanda jasanya dalam menjalankan tugas guru. Tanda jasa seorang guru dicatat di langit dan di hati murid muridnya yang pandai bersyukur.

Murid yang pandai bersyukur akan selalu berterima kasih atas jasa guru gurunya dengan selalu mengingatnya, mencarinya dan membalas jasa jasa gurunya dengan berbagai caranya. Sekali dia merasa itu adalah gurunya maka selamanya dia akan mengingat jasa gurunya. Itulah tanda murid pandai bersyukur dengan mengenang jasa para guru.

Lalu siapkah guru itu? Guru tidak hanya seseorang yang mengajarkan sesuatu (pelajaran) kepada kita di bangku sekolah formal. Semua yang mengajari kita kebaikan meskipun hanya huruf alif, dia adalah guru kita. Mereka wajib kita hormati dan anggap sebagai guru. 

Justru guru guru yang ikhlas, yang mengajarkan kebaikan tanpa pamrih bahkan kadang dibayar dengan tidk pantas saat di dunia, itulah guru yang seharusnya lebih kita hormati dan kita cari saat kita sukses.  Karena kesuksesan itu tidak terlepas dari peran dan jasa guru. Kalau bukan kita yang menghargai mereka, guru guru kita yang berjasa bagi hidup kita, lalu siapa lagi?

Semoga kita termasuk orang yang pandai bersyukur dengan menghormati mereka dan terus menjalin silaturahmi dengan mereka serta berusaha membalas jasa-jasa mereka. Jangan pernah ada rasa putus asa atau angkuh saat kita berusaha menjaga hubungan silaturrahmi dengan guru-guru kita.

Satu hal yang perlu juga kita pahami bahwa sesungguhnya setiap orang, setiap kita pasti menjadi guru sekaligus murid. Minimal guru bagi anak-anaknya dan murid bagi banyak guru kebaikan yang tak terhitung jumlahnya, baik dibayar maupun tidak dibayar di dunia. Insyaallah akan dibayar di akhirat.

Selamat hari guru yang kita peringati pada hari ini. Sebagai murid kita akan selalu menjaga silaturrahim dan hormat dengan guru. Sebagai guru kita akan terus melaksanakan fungsi guru kita dengan baik.  (Monas)
HUT PGRI untuk Semangat Guru Berkarya

HUT PGRI untuk Semangat Guru Berkarya


BESOK kembali kita akan memperingatai Hari Ulang Tahun (HUT) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan Hari Guru Nasional (HGN). Di setiap tanggal 25 November kita sebagai guru akan memperingati HGN. Selain HGN besok juga diperingati HUT PGRI. Seperti sudah kita ketahui pada tanggal tersebut, ditetapkan sebagai hari lahir organisasi guru, PGRI. Besok adalah HUT PGRI ke-76 dan HGN 2021.

Di setiap daerah biasanya diperingati hari bersejarah para pendidik Indonesia itu. Kabupaten Karimun, misalnya besok akan melaksanakan Apel Bendera HUT PGRI dan HGN tahun 2021. Akan dilaksanakan di halaman salah satu SLTP di kawasan pendidikan, Bati, Karimun. Informasi dari pengurus PGRI Kabupaten Karimun, selain melaksanakan upacara bendera juga akan ada pemberian piagam penghargaan bagi para guru.

"Ada beberapa kategori piagam penghargaan," kata salah seorang pengurus PGRI Kabupaten Karimun kepada penulis. "Salah satu penghargaan adalah piagam bagi para guru yang berhasil menerbitkan buku solonya pada tahun 2021," Seingat saya, program pemberian piagam bagi penulis buku ini sudah rutin dilaksanakan oleh pengurus PGRI Kabupaten Karimun. 

Kriteria pemberian piagam adalah, 1) Buku Solo; artinya para guru yang akan diberi piagam hanyalah yang memiliki hasil akrya sendiri. Bukan buku bersama alias Buku Antologi. 2) Terbitan Terbaru; artinya buku yang diterbitkan pada tahun 2021 ini. Buku-buku yang terbit tahun sebelumnya dianggap sudah diberi piagam.

Baguslah jika pemberian piagam penghargaan kepada para penulis buku ini terus dilanjutkan. Bagaimanapun itu akan memompa semangat para guru untuk terus berkarya. Selamat HUT PGRI dan HGN Tahun 2021. Sekali guru berkarya, selamanya berkarya.***


Bersumpah kepada Diri Sendiri

Bersumpah kepada Diri Sendiri


HARI Sumpah Pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober, seperti hari, ini merupakan hari yang penting bagi bangsa Indonesia. Tepat 93 tahun yang lalu, 28 Oktober 1928 para pemuda Indonesia bersumpah mengakui tumpah darah yang satu, bangsa yang satu, dan bahasa yang satu yaitu Indonesia. Tidak terbayangkan sebelumnya para pemuda yang terdiri dari banyak suku, bahasa (daerah) dan berasal dari banyak daerah pula, tapi hari itu menyatakan tekad bersatu yang dikenal dengan Sumpah Pemuda.

Dari kesepakatan itulah terbangunnya kebersamaan. Memperkuat persatuan di tengah jajahan oleh bangsa asing. Sebegitu lama bangsa Indonesia berhasil diadu-domba, dibuat saling benci dan saling serang tapi para pemuda berusaha mengubah itu. Dengan tekad untuk bersatu memperjuangkan kemerdekaan para pemuda mempelopori persatuan yang sebelumnya nyaris mustahil.

Kini memasuki tahun ke-93 catatan emas itu dilewati. Kemerdekaan yang sukses dikumandangkan pada 17 Agustus 1945 tidak terlepas dari suksesnya bangsa Indonesia merasa bersatu melalui tekad sumpah pemuda. Perjuangan bersama untuk meraih kemerdekaan dilakukan bersama tanpa lagi merasa berbeda antara satu suku dengan suku lainnya. Tidak lagi merasa berbeda meskipun menggunakan bahasa yang berbeda-beda sebelumnya. Rasa bersama itu benar-benar tumbuh dan berkembang sejak sumpah pemuda itu. 

Kita akan terus tentunya rasa bersatu yang terbukti mengantarkan bangsa kita ke pintu gerbang kemerdekaan. Dan telah pula kita isi kemerdekaan itu dengan segala alangan dan rintangan hingga tahun ini. Peringatan Sumpah Pemuda tahun ini pun kita tetap berkomimen untuk tetap merasa bersama dalam kesatuan Republik Indonesia. Kita baca dan kita dengar, dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-93 tahun ini, presiden menekankan pentingnya keberagaman dalam membangun Indonesia yang bersatu dan maju bersama dalam menghadapi era digital. 

Tekanan presiden tetap pada fakta keberagaman bangsa kita yang harus tetap bersama membangun bangsa. Kita memang tidak akan menghilangkan fakta keberagaman yang ada. Karena itu pula konsep bhinneka tunggal ika akan terus kita jaga dan pertahankan. Dan memasuki serta membersamai era digital saat ini, presiden mengingatkan agar bangsa kita tidak tertinggal oleh teknologi yang sudah ada sat ini.

Adalah penting bagi kita, anak bangsa yang begini besar dan begini beraneka ragam untuk bersumpah kepada diri sendiri untuk tetap menjaga dan memelihara persatuan dan kesatuan bangsa. Segala perbedaan yang ada, entah suku, agama, daerah, selera dan apa saja yang terlihat berbeda, janganlah itu menjadi penggoyah kebersamaan kita. Kita bersumpah kepada diri sendiri, aku adalah anak Indonesia yang akan mempertahankan Indonesia bersama semua anak bangsa yang berbeda-beda tapi akan tetap bersama dan bersatu. Selamat Hari Sumpah Pemuda ke-93.***

Praktik Pantun dan Belajar Ekonomi-Akuntansi

Praktik Pantun dan Belajar Ekonomi-Akuntansi


Sebagai guru Pelajaran Ekonomi di SMA Negeri 2 Karimun saya ingin sekali mengajar Ekonomi sebaik yang mampu saya lakukan. Itulah yang selama ini saya coba lakukan. Selain memahami kurikulum, silabus dan bahan-bahan ajar saya juga berusaha memahami dan mempelajari berbagai cara untuk mengajarkan pelajaran itu. Pengelolaan pembelajaran adalah satu hal penting bagi seorang guru. Saya pun berusaha dan belajar bagaimana mengelola kelas dengan baik.

Dulu, awal-awal saya mengajar sebagai tenaga honorer (1998-2005 ) saya bahkan tidak hanya mengajar Pelajaran Ekonomi sesuai ilmu saya di Perguruan Tinggi, STIEKER Yogjakarta. Saya memang bukan Sarjana Ekonomi spesial guru dengan sebutan Sarjana Pendidikan. Saya adalah sarjana ekonomi yang oleh peraturannya boleh memakai gelar SE (Sarjana Ekonomi). Bukan sarjana keguruan. Artinya memang bukan dasar guru awal pendidikan saya di Perguruan Tinggi. Tapi karena saya menyukai menjadi guru akhirnya saya menjadi guru setelah harus mendapatkan Akta-IV sebagai syarat menjadi guru. Itulah SIM (Sertifikat Izin Mengajar) saya sebagai guru. Seingat saya, kecintaan menjadi guru juga saya buktikan dengan ikut mengajar di lembaga bimbel (bimbingan belajar) seperti Primagama.

Setelah resmi menjadi guru di sekolah negeri dengan status PNS sejak puluhan tahun lalu (tepatnya mulai tahun 2006 ) saya semakin serius menjadi guru. Saya tidak ingin dikatakan guru setengah hati. Intinya saya ingin memahami dan mendalami seluk-beluk sebagai seorang guru. Guru tingkat SMA pula, tentu saya tidak mau setengah-setengah hati. Saya serius menjadi guru.

Belakangan saya juga belajar menulis karena seorang guru ternyata wajib mampu menulis. Sejak saya mencoba ikut belajar menulis dan prakatik menulis di berbagai kesempatan saya mencoba belajar membuat puisi dan pantun selain tulisan-tulisan prosa lainnya. Saya belajar membuat artikel opini. Saya mencoba menuliskan pengalaman hidup saya sebagai sebuah memori dalam bentuk buku. Alhamdulillah, sudah ada buku saya tentang memoar berjudul MENJADI GURU BUKAN (TAK) MUDAH yang isinya adalah pengalaman saya menjadi guru dan saat sebelum menjadi guru. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Media Guru. Tentang artikel opini serta puisi juga sudah saya bukukan.

Kini saya membuat pula sebuah buku yang berisi pantun. Yaitu pantun yang berisi tentang pelajaran yang saya ajar, yaitu Ekonomi dan Akuntansi. Sebagai salah satu budaya Indonesia yang saat ini sudah ditetapkan menjadi warisan dunia tak benda oleh Unesco maka saya juga ingin memiliki karya pantun tapi dengan isinya materi ekonomi yang saya ajarkan di sekolah. Kini, jadilah buku saya itu dan sudah terbit dengan judul MENGENAL BANK INDONESIA DAN BELAJAR AKUNTASI DENGAN PANTUN yang alhamdulillah sudah bisa saya pakai untuk belajar bersama ana-anak saya. Buku saya ini diterbitkan oleh Penerbit YPTD tahun 2021 ini. 
 
Ingin juga saya jelaskan bahwa dalam buku pantun ini juga ada sedikit panduan materi ekonomi dan akuntasi. Tidak pantun saja. Pembaca, khsusunya anak-anak sekolah sebaiknya membaca materi itu beriringan dengan pantun yang ada di dalamnya. Dan berikut saya kutipkan dua bait pantun yang terdapat dalam buku saya.  

Ini adalah Pantun Belajar Akuntansi:
Anak dara duduk bersembang
Mencuci daster serta kemeja
Akuntannsi bukan ilmu sembarang
Tunjuk ajar mengelola harta

Pantun Materi Sejarah Akuntansi:
Anngur kering disebut kismis
Enak dimakan buat patri
Sejarah akuntansi bermula di Inggeris
Dengan adanya Revolusi Industri

Bagaimanapun, inilah cara saya untuk berpraktik menulis pantun. Orang Indonesia tentu saja harus mengerti sedikit-banyak tentang pantun walaupun kita bukan guru Bahasa Indonesia atau Guru Sastra. Mengapa? Karena pantun adalah puisi lama yang nota bene berasal dari budaya nenek-moyang kita, orang Indonesia. Dan sebagai guru Ekonomi saya menulis pantun yang berisi pelajaran ekonomi dan akuntansi. Silakan, jika Anda berkenan membaca atau memiliki buku saya ini, saya siap untuk memngirimkannya. Tentu, alakadarnya sebagai biaya cetak mohon dibantu. Boleh, kan saya begitu?Silakan kontak saya di 081364749085. (AZ)
Memperingati HSN, "Santri Siaga Santri Bisa"

Memperingati HSN, "Santri Siaga Santri Bisa"


HARI Jumat (22/10/2021) ini kembali diperingati Hari Santri Nasional (HSN). Sebagaimana kita ketahui peringatan HSN tidak lepas dari seruan jihad yang dikenal dengan Resolusi Jihad yang diprakarsai ulama yang juga Pahlawan Nasional K.H. Hasyim Asy’ari. Seruan itu dikumandangkan pada 22 Oktober 1945 silam. Kita tahu waktu itu Indonesia sudah dan baru memproklamasikan kemerdekaan. Sejarah mencatat Belanda dan Sekutu datang lagi ke Indonesia karena ingin tetap menjajah. Maka ulama berseru kepada santri dan seluruh umat.

Tanggal seruan jihad itu dicatat dan dikenang oleh seluruh bangsa sebagai seruan demi bangsa dan Tanah Air, Indonesia. Lalu melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015, ditetapkan bahwa HSN jatuh pada tanggal 22 Oktober. Dan setiap tahunnya diperingati sebagai HSN. Keputusan yang ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo di Masjid Istiqlal Jakarta, itu menandai bermulanya peringatan HSN secara rutin setiap tahun. Artinya pada tahun 2021 ini sudah untuk yang ke-7 kali diperingati pasca Kepres itu.

Tema HSN biasanya selalu berbeda-beda setiap tahunnya. Untuk tahun ini, seperti dapat dilihat melalui situs kemenag.go.id disebutkan tema HSN adalah Santri Siaga Jiwa dan Raga. Logonya juga digambarkan sebagai orang yang siap-sedia dalam berkarya. Dan semangat itulah yang hari ini digaungkan di seluruh Indonesia dalam rangka memperingati HSN.

Kabupaten Karimun (Kepri) memperingati HSN dengan mengadakan Upacara Bendera di halaman Kantor Bupati, Karimun, Poros. Bertindak sebagai Inspektur (pembina) Upacara adalah Bupati Karimun, Dr. H. Aunur Rafiq. Dihadiri oleh pejabat utama seperti Forkopimda, Sekda, Kepala OPD dan pejabat dari Kementerian Agama Kabupaten Karimun. Selain para Kepala KUA se-Kabupaten Karimun, Kepala Sekolah di bawah Kemenag dan para guru hadir juga beberapa siswa MA yang ada di Pulau 

Bupati Karimun dalam amanatnya, selain membacakan sambutan Menteri Agama RI juga menyampaikan pesan-pesan khusus kepada para peserta upacara. Secara khusus bupati menyampaikan ucapan selamat Hari Santri Nasional kepada seluruh santri dan guru di Kabupaten Karimun berkaitan peringatan HSN hari ini. Juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh jajaran pesantren dan Kemenag Kabupaten Karimun yang telah bersama-sama dalam membangun kabupaten ini.

Tentang isi sambutan Menag RI yang dibacakan bupati dapat dipetik beberapa pesannya, antara lain,  tentang telah ditetapkannya tanggal 22 Oktober sebagai HSN oleh Pemerintah RI. Juga menjelaskan
tema HSN tahun 2021 yaitu Santri Siaga Jiwa Raga. Maksudnya para santri harus senantiasa siap lahir dan batin untuk bangsa. Itu bermakna bahwa santri Indonesia berkomitmen seumur hidup untuk istikomah akidah dan siap-sedia membela bangsa. 
 
Upacara bendera dari awal hingga akhir berjalan dengan baik dan lancar. Personel upacara adalah para siswa dan guru di lingkungan Kemenag Kabupaten Karimun. Dan satu hal yang khas pada upacara bendera tahun ini adalah semua peserta dan pelaksana upacara menggunakan kain sarung. Inilah pertama kali pelaksanaan upacara HSN di Kabupaten Karimun dengan peserta dan petugas memakai kain sarung.***

Suka-duka Menyelesaikan Skripsi untuk Menembus Sidang Skripsi

Suka-duka Menyelesaikan Skripsi untuk Menembus Sidang Skripsi

Foto setelah sidang skripsi 
20 agustus 2021 

Catatan Hariyanto, SAp
SETELAH selesai seminar proposal skripsi, alhamdulilah proposal saya di-acc. Lalu lanjut ke tahap berikutnya yaitu menyempurnakan skripsi dimana perlu kelapangan untuk mencari data maupun keperluan lainnya agar skripsi ini menjadi lengkap dan bagus.

Sebelum saya melakukan penelitian ke lapangan tepatnya setelah lebaran idul fitri (kalau tidak salah tanggal 3 juni 2021) saya bertemu lagi dengan pembimbing 1 dan 2 yang mana seharusnya apabila setelah selesai seminar proposal harus direvisi paling tidak 2 minggu tapi karena nanggung  karena berdempetan minggu depan mau lebaran jadi saya setelah lebaran saja bertemu pembimbing saya lagi

Pas bimbingan pertama skripsi setelah seminar proposal saya merasa agak santai selali bimbinganya gk seperti pas seminat proposal saya rada takut dan ragu ragu terus. Walaupun terlihat santai bimbingan skripsi pada saat itu bahkan banyak sekali rintangannya nanti bahkan pembimbing 2 saya mengatakan kalau nanti sudah selesai skripsi kamu akan terasa santai dan gk mikir lagi dari situlah saya pengen  cepet aja dan semangat dalam mengejarkannya dan juga kedua pembimbing saya memberitahu saya kalau bimbingan sekali lagi harus lengkapi bab 4 dan 5 juga revisi sedikit bab 1 hingga 3.

Setelah selesai bimbingan itu keesokkan hari saya langsung mempersiapkan penelitian di lapanngan cuma saya sebelum ke lapangan tentu saya harus terlebih dahulu untuk meminta surat izin penelitian dari kesbangpol awalnya pembimbing tidak menyuruh kesana tapi saya inisiatif saya langsung saja ke kantor itu berhubung saya bersama temen dari prodi awalnya gak tau sama siapa bahkan saya ragu ragu gitu  tapi pas ada temen saya berhubung dia mau ke kantor itu jadi saya bareng perginya lalu tibalah di kantor hingga bertanya tanya akhir harus ke lantai 3 untuk mengurus surat izin penelitian juga setelah sampai lantai 3 itu saya bersama temen mengisi berkas berkas agar segera diproses izin penelitian hingga selesai tapi menurut petugasnya bahwa surat itu besok baru siap atau dikabari dengan cepat hingga saya rasa tidak masalah yang penting saya bisa mendapat data itu ditempat penelitian saya.

Keesokkan harinya saya sambil berniaga lalu sambil makan pagi baru mau membuka mulut mau makan langsung hp saya berdering dari kesbangpol bahwa surat saya sudah siap hingga sayapun langsung mempersingkat makan pagi sambil saya wa temen saya itu saking lama responya berkali kali saya me wanya tak direspon tanpa mikir panjang saya sendiri ambil surat itu . Sampai kantor itu saya ambil surat ternyata banyak juga surat tebusan diantara harus antr surat ke kantor bupati, dinas pendidikan, camat , lurah, lalu pihak kampus. Saya awal gak pernah ke kantor instansi itu saya tau nya pas moment acara ucapara hari nasional saja untung saya bersama temen saya rajin bertanya dimana harus diletakan bahkan saya jumpa temen saya di dinas itu kebetulan temen sekolah dulu bahkan temen kuliah juga saat itu pas amtar surat ke dinas pendidikan seluruh pegawai istirahat jadi saya duduk bareng dengan temen saya sambil ngeteh dingin sambil menunggu jam 1.

Setelah selesai saya letak surat ke instansi terkait saya langsung mengerjarkan skripsi ini tanpa mikor panjang. Keesokannya saya ke kantor lurah dimana tempat saya teliti maaf saya tidak menyebutnya disitu saya langsung ketemu lurah berdiskusi panjang lebar hingga bimbingan sebagai mana baiknya setelah dari situ saya langsung mengerjakannya hingga begadang saya dari jam 07.00 hingga jam 01 malam.

Pada akhir pertangahan bulan 7 tahun 2021 saya mulai panik data apa lagi untuk bab 4 ini saking bergadang  beberapa kali saya ubah agar baik sampe saya cari soal-soalan wawancara penelitian ini kepada siapa saja bersedia. Dan pada akhirnya saya wawancara ditempat penelitian saya itu beruntung mereka terbuka sekali bahkan dengan senang hati. Setelah saya wawancara saya langsung bergegas mengerjarkanya kembali tahap demi tahap hingga bab 5 hingga selesai juga sambil mengerjarkan skripsi ini saya kok terbayang sekali mau menyerah karna sangat rumit dibanding saya menyusun proposal penelitian karna skripsi ini harus bener bener tidak boleh bercanda disitu saya mau menyerah bahkan airmatapun menetes tapi saya jadi ingat perjuangan orangtua saya membiayai saya kuliah karena mereka kepengen anaknya berpendidikan lebih tinggi lagi karna setahu saya orangtua saya maaf sekali hanya sampe SD.

Dari itu saya termotivasi untuk segera menyelesaikannya. Hingga besok setelah selesai membuat skripsi saya tentu bimbingan tidak salah awal agustus saking lama tidak bimbingan. Selama bimbingan hari demi hari masalah saya tidak terlalu jauh pas proposal yaitu penulisan seperti titik, koma, bahkan jaraknya. Pas ada pengumuman bahkan skripsi terakhir antara tanggal 24 -31 agustus 2021 saya langsung tancap gas lagi walau rada bosen sebenernya masalah gk jauh jauh dipenulisan padahal saya anggap ini sepele sekali tapi memang harus jangan anggap remeh bahkan saya sampe kepikiran kenapa  selalu revisi dibagian ini mungkin supaya skripsi saya enak dipandang barang kali begitu.

2 minggu jelang mau sidang saya masih bimbingan skripsi saya juga terkadang pada malam hari terbayang pengen cepat berakhir skripsi ini sambil merenung bahkan juga sambil mengerjakan sampe sebisa saya, sayapun bertekad ini pasti akan berakhir dengan baik.

Saya ingat sekali pas seminggu jelang mau ujian itu setelah selesai bimbingan sudah oke saya disuruh cek turnitin dalan arti kata supaya skripsi saya ini tidak meniru katakanlah begitu. Pada sore hari saya dapat pesan wa dari pembimbing 2 saya tidak pesan begini hariyanto kamu udah cek turnitin dan kalau bisa kamu ujian hari jumaat soalnya saya mau senin tidak ada dikampus saya ijin berangkat. Setelah mendapatkan pesan dari pembimbing 2 saya  merasa langsung berusaha mikir ditengah saya belanja lauk pauk untuk makan malam hingga saya bertanya dalam hati gimana ya cara bisa menurunkan persen skripsi pertama dikirim dengan 67%.

Sampe pulang kerumah saya langsung membuka laptop untuk mengubah kata demi kata dari kata umum supaya menjadi kata khusus supaya bisa menurunkan ke 60% setelah selesai saya kirim kembali di cek ternyata 62% setelah itu saya ngedrop banget jadi males mau melakukan lagi. Sekitar abis isya saya kekonter temen kebetulan dia ada jasa untuk ngeprint karena saya tidak mempunyai print sebelum saya udah kontak wa dia terlebih dahulu.pas pergi saya liat didaerah konter temen saya itu pas banget mati lampu jadi saya pasrah mau ngeprint karna besok harus dicek kembali.

Setiba dikonter itu baru mau buka tas langsung hidup lampunya sayapun dengan senang sekali mungkin karena saya sabar menjalaninya, pas saya buka wa ternyata temen saya ini udah wa saya gk salah bunyinya"oke silahkan tapi tempat kami mati lampu wak", cuma untungnya hidup pas moment saya print kebetulan temen saya ini temen SD dia sudah hampir 2 tahun buka konternya. Selama berada konter tersebut sambil menunggu print siap saya sempat berbicara tentang masa masa sd penuh kenangan bahkan sampe bercanda juga.

Pada pagi harinya saya memulai makan pagi setelah itu masih baring baring saja bahkan masih main hp sampe di wa pembimbing 1 saya gak salah bunyi gini "assamualaikum.. Gimana cerita? Saya ketik menjawab " Masih gitu aja bu gak turun turun saya udah gak semangat lagi" Lalu dia mengatakan lagi kesaya "kamu jumpa saya sekarang " Saya tentu membalas "siap bu". Saya langsung bergegas kemas kemas apa saja perlu lalu saya langsung pergi kekampus.

Setiba di kampus saya jumpa pembimbing 1  lalu mengecek saya punya skripsi saya juga disuruh sama pembimbing saya untuk daftar sidang skripsi. Untung juga saya bawa apa apa saja persyaratanya sambil saya mengurus persyaratanya saya dipanggil sama pembimbing saya bahwa saya sudah ikut ujian juga kebetulan saya dapat hari jumaat karena pembimbing saya ke 2 mau berangkat pada senin tentu saya kaget dan dag dig dug padahal hari kamis itu saya langsung kembali mengurus persyatan itu bahkan saya masih ragu bagaimana buat powerpointnya saya juga masih ragu waktu seminar saja powerpoint kurang menarik apa lagi pas sidang.

Setelah selesai saya langsung kembali kerumah tidur  sebentar sekitar jam 16.30. Pada jam 07 malam saya langsung membuka laptop untuk belajar skripsi saya agar sidang besok lancar dan mudah. Setelah itu saya tidur sampe bangun jam 06.30 pagi. Jam 07.00 pagi saya baru ingat saya belum membuat Powerpoint untuk sidang skripsi jam 1.00 siang bahkan saya kalang kabut bagaimana buat powerpoint yang pas bahkan jelas saya sambil kontak temen saya gimana caranya eh malah diread aja tanpa direspon. Saya diam sejenak beberapa saat.

Setelah diam sejenak saya mendapat ide sebelum mengerjakannya saya melihat youtube untuk mempelajarinya tapi alhamdulilah akhirnya saya bisa juga belajar lalu saya coba buat sampe selesai jam 11 siang bahkan saya gak nyangka bisa siap juga harus jauh jauh hari karena ini mepet saya gas saja untuk bagus apa tidaknya ya liat saja nanti.

Setelah selesai sholat jumaat saya bergegas pergi kebetulan hujan rintik rintik kecil saya berangkat dengan mobil kebetulan mobil itu temen bapak saya juga dia sudah 4 tahun mengantar saya kuliah.

Selama dalam perjalanan saya gak kepikiran takut atau dag dig dug saya cuma memikirkan apa kah saya bisa bahkan juga saya membaca surah surah pendek dan bershlawat.

Setibanya dikampus saya memulaikan sidang skripsi  dengan waktu ditentukan saya mempresentasikan penelitian saya dengan baik setelah itu tanya jawab saya bahkan tidak konsen pas tanya jawab entah kenapa bisa begitu sampai setelah selesai saya disuruh keluar oleh penguji selama 5 menit karena mereka sedang menentukan nasib saya , saya tentu keluar bahkan ada temen saya yang hadir saya pas keluar gak mikir kemana saya hanya memikirkan nasib saya. Setelah selesai saya dipanggil masuk nah disitu penguji memberikan penilaian nya seinget saya penguji bilang ke saya bahwa skripsi saya tidak layak dan harus mengulang saya juga sampe menetes air mata sebenernya saya gak mau tapi karena saya ingat perjuangan orangtua saya membiayai saya jadi menangis tanpa disadari bahwa saya itu sebenarnya diprank sama penguji namun ternyata saya lulus ujian ini dan ada revisi sedikit.

Saya sangat gembira sekali selesainya sidang skripsi. Saya sangat sangat bersyukur dan bangga. Ini waktu amat penting dan membuat saya bangga, 20 agustus 2021/ 13.30 wib.







Suka-duka Menyelesaikan Proposal Skripsi untuk Menembus Seminar proposal

Suka-duka Menyelesaikan Proposal Skripsi untuk Menembus Seminar proposal

Sidang seminar proposal skripsi

Catatan: Hariyanto, S Ap
PADA saat saya sudah menyelesaikan teori dan pratik (magang/PKL dan KKN) tentu terap berikutnya yaitu skripsi. Inilah tugas akhir yang sangat berat bagi mahasiswa semester akhir terutama saya pribadi. Waktu itu saya masih bingung karena masih belum menemukan masalah untuk penelitian skripsi butuh waktu 2 minggu bahkan hampir menangis,  bagaimana cara untuk mendapatkan masalah untuk penelitian. Pada akhirnya saya mendapatkan masalah untuk penelitian skripsi yaitu masalah pada pelayanan khususnya wilayah tingkat IV. 
Seiring waktu berjalan dalam penyusunan skripsi ini saya dibimbing oleh dua orang dosen hebat. Saya tentu sangat gembira mendapatkan dua orang dosen pembimbing yang sangat mumpuni dan berpengalaman. Namun ini sangatlah tidak mudah karena saya pada saat itu ada beberapa kali revisi terutama pada bagian bab I dan III.  Bahkan di setiap bimbingan pun masalahnya sama padahal harusnya diperbaiki tapi itulah masalahnya tetap sama. 

Saya pun sampai hampir menangis putus harapan karena revisi lagi pada bagian bab I dan bab III. Namun saya tidak putus asa dengan doa saya pada akhirnya mendapatkan ide untuk berubah total bab I sesuai dengan keinginan pembimbingan hingga bab III sehingga saya pun meminta tolong dengan teman teman saya memahami bab III ini. 

Pada saat seminggu sebelum sidang proposal skripsi pada saat itu bulan ramadhan saya terus merevisi penulisan agar terlihat rapi dan bagus dipandang. Namun saya hampir sangat berputus asa merasa tidak sanggup menjalaninya saya merasa takut sekali sidang proposal nanti. Tapi dengan sabar dan tulus saya harus siap menghadapinya walau itu sulit. 

Pada saat itu  sebelum sidang proposal skripsi saya mendaftar untuk sidang proposal hingga harus menlengkapi syrat-syarat harus dipenuhi bahkan saya bolak balik ke rumah, ke kampus bahkan terik matahari semakin panas dan merasakan haus dan lapar dimana saat itu bulan ramadhan dan perlu sabar. Namun saya alhamdulilah karena rajin bolak balik dalam mengurus persyaratan sidang proposal skripsi saya akhirnya bisa mengikuti sidang proposal skripsi.

Keesokan harinya, tepat setelah sholat dzuhur saya mulai sidang proposal skripsi saya awalnya takut dan ragu bagaimana cara menjawab yang pas dalam persidang itu saya hanya menjawab dengan sebisa saya bahkan saya dalam sidang itu saya tidak terfokus dalam sidang tersebut dan alhamdulilah pada akhirnya selesai juga sidang pertama hingga saya perlu merevisi untuk tahap selanjutnya. (bersambung)

Menjadikan Guru Sebagai Keluarga Besar Keluarga Literasi

Menjadikan Guru Sebagai Keluarga Besar Keluarga Literasi


JIKA dihitung jumlah guru di Indonesia ada sebanyak 4.107.465. Itu gabungan guru yang berada di bawah Kemdikbud dan Kemenag, baik PNS maupun honorer. (http://bangimam-berbagi.blogspot.com/). Sementara angka lain, 4.189.121 orang per Desember 2019, ini menurut data BPS.  Dua data itu tidak terlalu jauh selisihnya. Angka pastinya tentu saja tidak mudah karena perubahan itu bisa lebih cepat dari pada yang diperkirakan. 

Membaca data, itu ternyata jumlah guru lebih banyak dari pada jumlah pegawai instansi lainnya. Dari 4,3 juta PNS (ASN) guru berjumlah hampir 3 juta orang. Pesisnya ada sebanyak 2.920.672 orang guru (Data Semester Genap 2019/ 2020). Itu data 11 Mei 2020 untuk semua satuan pendidikan.
Setiap daerah, per provinsi, misalnya tentu saja angkanya berbeda-beda. Kalau melihat data di Kepri 29 ribu, Karimun 4 ribu  maka dapat dibayangkan betapa banyaknya PNS, khususnya guru.

Tulisan ini tidak bermaksud membahas jumlah PNS aatau jumlah guru secara angka-angka. Saya ingin mengajak kita melihat jumlah guru yang begitu besar dikaitkan dengan usaha meningkatkan melek literasi bangsa, khususnya di daerah kita. Dan lebih terkhusus literasi dalam keluarga. Mengapa guru dan keluarga? Karena guru, itu di satu sisi adalah sebuah bagian dari keluarga dan di sisi lain sebagai guru dia juga mempunyai massa, yaitu siswa dan teman-teman guru itu sendiri.

Dengan jumlah guru yang begitu banyak jika semuanya adalah praktisi literasi bayangkan betapa besar pengaruhnya kepada literasi itu sendiri. Dari sisi guru, keluarga guru dan siswa-siswi guru tentu saja akan terpengaruh langsung. Dari sisi siswa (peserta didik) sendiri sudah pasti akan terbawa arus secara langsung. Dan jangan lupa, masyarakat di sekitar guru juga akan saling mempengaruhi.

Oleh karena itu, usaha meningkatkan dan mengembangkan literasi bangsa mulailah dengan literasi keluarga. Lalu menjadikan guru sebagai keluarga besar literasi dalam keluarga besar guru di Tanah Air. Andai saja keluarga besar literasi itu adalah keluarga besar ASN, sungguh lebih dahsyat lagi jumlah literat bangsa kita. Saat itu, tidak mungkin tingkat literasi bangsa tetap saja di bawah bangsa-bangsa lainnya. Semoga tercapai suatu saat nanti.***
Catatan Singkat Mengenang Lahirnya Gerakan Pramuka

Catatan Singkat Mengenang Lahirnya Gerakan Pramuka


GERAKAN pramuka atau dulunya dikenal sebagai Gerakan Kepanduan setiap tahun selalu diperingati. Kita, bangsa Indonesia memperingatinya setiap tanggal 14 Agustus seperti hari ini. Seperti sudah kita tahu gerakan seperti ini juga terdapat di berbagai negara di dunia dan tentu saja memiliki sejarah panjangnya masing-masing. 

Untuk sebutan gerakan pramuka Internasional dikenal  istilah scouting atau scout movement. Sebagaimana kita sudah ketahui dan dapat pula dibaca diberbagai sumber bahwa gerakan ini dicetuskan oleh Robert Baden-Powell, seorang anggota Angkatan Darat Inggris. Mengutip kabar24.bisnis.com  disebutkan bahwa antara tahun 1906-1907, ia menulis buku Scouting for Boys. Buku ini pada intinya merupakan panduan bagi remaja untuk melatih keterampilan dan ketangkasan, cara bertahan hidup, hingga pengembangan dasar-dasar moral.

Cikal-bakal gerakan pramukan yang dicetuskan Robert Baden-Powell inilah kemudian menyebar ke seluruh dunia dan menjadi gerakan kepanduan. Di Indonesia sendiri sebagaimana sudah sama-sama kita maklumi disebut dengan Gerakan Pramuka. Sekadar informasi kita kembali, hari lahir Robert Baden-Powell --22 Februari-- disepakati dunia untuk diperingati sebagai Hari Pramuka Internasional. Baden Powell lahir di London pada 22 Februari 1857.


Masih menurut kabar 24.bisnis.com bahwa anggota kepanduan di seluruh dunia lebih dari 50 juta orang yang tersebar di 200-an negara dunia. Indonesia mempunyai anggota pramuka terbesar di dunia ini. Anggota pramuka Indonesia sendiri saat ini berjumlah 25 juta orang di antara 54 juta anggota pramuka dunia. Itu menurut data yang disiarkan oleh situs rmolsulses.id  hari Sabtu (15/08/2020) setahun yang lalu. 

Sejarah Pramuka di Indonesia memang bermula dari Gerakan Kepanduan Indonesia yang sudah ada sejak zaman kolonial Hindia Belanda. Tahun 1916, Mangkunegara VII di Surakarta memprakarsai berdirinya Javaansche Padvinders Organisatie. Setelah itu, bermunculan gerakan-gerakan sejenis yang dikelola oleh organisasi-organisasi pergerakan, sebut saja Hizbul Wathan (Muhammadiyah), Nationale Padvinderij (Boedi Oetomo, Sarekat Islam Afdeling Padvinderij (Sarekat Islam), Nationale Islamietische Padvinderij (Jong Islamieten Bond), dan lain-lain. 

Menurut Panduan Museum Sumpah Pemuda (2009), Gerakan Kepanduan di tanah air yang berlingkup nasional dimulai pada 1923 dengan berdirinya Nationale Padvinderij Organisatie (NPO) di Bandung dan Jong Indonesische Padvinderij Organisatie (JIPO) di Batavia, lalu dilebur menjadi Indonesische Nationale Padvinderij Organisatie (INPO) pada 1926.

Istilah Pramuka (Praja Muda Karana) resmi digunakan untuk menyebut Gerakan Kepanduan Nasional baru terjadi cukup lama setelah Indonesia merdeka. Tepatnya pada 14 Agustus 1961. Menurut beberapa sumber idenya bermula dari gagasan Presiden Sukarno yang ingin menyatukan seluruh gerakan Kepanduan di Indonesia. Akhirnya setiap tanggal 14 Agustus diperingati sebagai Hari Pramuka. 

Misi utama gerakan Pramuka adalah untuk mendidik pemuda dan pemudi Indonesia, dari usia anak-anak, demi meningkatkan rasa cinta tanah air dan bela negara. Istilah Pramuka dicetuskan oleh Sri Sultan Hamengkubuwana IX, terinspirasi dari kata Poromuko yang berarti pasukan terdepan dalam perang. Namun, kata Pramuka diejawantahkan menjadi Praja Muda Karana yang berarti “Jiwa Muda yang Gemar Berkarya”.

Sultan HB IX menjabat sebagai Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka pertama dan terpilih kembali sampai 4 periode selanjutnya hingga tahun 1974. Ia berjasa melambungkan Pramuka Indonesia hingga ke luar negeri. Maka, gelar Bapak Pramuka Indonesia kemudian disematkan kepada Raja Yogyakarta ini. Beberapa Ketua Kwarnas lainnya antara lain, Sarbini, Mashudi, Hemawan Sutanto, Rivai Harahap, Azrul Azwar, Adyaksa Dault dan saat ini adalah Budi Waseso.

Bersamaan hadirnya 14 Agustus hari ini, kembali kita ucapkan Selamat HUT Gerakan Pramuka ke-60 tahun 2021. Salam Pramuka, mari kita bertekad bahwa kedisiplinan, kepedulian, dan rasa tak gentar menghadapi rintangan yang merupakan jiwa dari Pramuka kiranya tetap kita jaga di jiwa dan tidanakan kita.
Covid Membuat Sakit atau Kreatif

Covid Membuat Sakit atau Kreatif


SEBAGIAN orang menyebut era pandemi covid membuat orang semakin kreatif. Tadinya tidak bisa  mengoperasikan laptop, kini bisa karena wajib. Tadinya tidak bisa belajar sistem daring (online) kini harus bisa karena tidak boleh bersemuka. Tadinya belum familiar dengan video call, zoom meeting, dan banyak lagi kini justeru menajdi keseharian. 

Di sebelahnya ada pula yang menyatakan, covid menciptakan banyak penyakit. Multi penyakit. Covid sebagai virus yang membawa penyakit sesak nafas, hilang indra penciuman, sakit persendian, sakit kepala dan banyak sakit lainnya. Selain itu konon pula menciptakan penyakit yang bertali-temali dengan pikiran dan perasaan. Tersebab covid datang penyakit risau, takut, khawatir, pemarah dan entah apa lagi. 

Bagaimana dengan pendidikan kita? Apakah juga berpengaruh baik atau sebaliknya? Yang pasti, kebiasaan belajar tatap muka tidak mudah mengubahnya menjadi belajar jarak jauh. Kini justeru dikatakan, kita akan kehilangan anak-anak hebat karena guru tidak mampu membuatnya hebat. Kesimpulan ini juga datang dari yang memandang covid sebagai penyakit atau mendatangkan penyakit.

Sementara yang memandang covid biasa-biasa saja, justeru guru katanya kian kreatif. Doses juga dan guru besar juga sama. Para guru, konon tidak risau belajar dengan daring. Toh suara bisa didengar peserta didik dengan menggunakan video call atau zoom meeting. Menjelaskan materi pelajaran pun lebih mudah. Selain waktunya fleksibel juga bisa di tempat manapun. Wow benarkah?

Bincang-bincang dengan beberapa guru justeru kebanyakannya berharap segera covid berlalu agar belajar tatap muka segera dapat kembali dilaksanakan. "Sangat, sangat tidak efektif belajar daring dalam kondisi dan fasilitas saat ini," kata beberapa guru yang kebetulan ngobrol dengan saya. "Omong kosong jika guru dikatakan suka belajar daring, jika bermaksud mengajar dan mendidik dengan baik dan benar." Itu penegasan rekan-rekan guru yang semakin risau dengan lamanya covid di negeri ini.

Kalau menyimak harapan orang tua, juga setali tiga uang dengan harapan guru yang menginginkan segera anak-anak kita kembali ke bangku sekolah. Baik yang disampaikan langsung ke sekolah melalui komite sekolah atau menghubungi para guru, maupun yang terbaca di medsos, begitu banyaknya orang tua yang menginginkan anaknya kembali ke sekolah.Segera belajar tatap muka dilaksanakan.

Kalau begitu, sesungguhnya sebagian (besar) orang tua dan guru lebih menyukai proses pembelajaran itu dilaksanakan seperti dulu kembali. Seperti saat covid belum ada. Setelah dua tahun bersama pandemi covid ternyata lebih banyak kesulitannya dari pada kemudahannya. Jikapun ada sebagian (kecil) guru yang menganggap covid tidaklah menjadi masalah, itu juga fakta sebagian dari kita. Jadi, apakah covid membuat dan mendatangkan penyakit atau membuat kreatif sepenuhnya tergantung kepada masing-masing orang juga.***
Hari Kartini Diperingati, Sudahkah Kita Melakukannya?

Hari Kartini Diperingati, Sudahkah Kita Melakukannya?


BARU saja kita memperingati Hari Kartini, Rabu (21/04/2021) kemarin. Hari Kartini kita peringati sebagai wujud mengenang jasa Ibu Kartini yang lahir pada 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah. Dalam usianya yang singkat --meninggal dalam usia 25 tahun-- jasanya begitu besar khususnya dalam perjuangan emansipasi wanita.

Untuk mengabadikan jasa belyau itulah Presiden Sukarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964 yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.

Sudah sama-sama kita baca dalam buku sejarah bahwa R. A. Kartini merupakan sosok wanita tangguh yang mendasari adanya emansipasi wanita di Indonesia. Kartini yang dari kecil merasa tidak bebas untuk menentukan pilihannya dan juga merasa diperlakukan berbeda dengan saudara maupun teman-teman prianya, serta merasa kurang adil dengan kebebasan teman-teman wanitanya yang berada di luar negeri khususnya dengan para wanita Belanda maka Kartini merasa dia harus berjuang untuk masalah itu.

Hal tersebut menumbuhkan keinginan dan tekad di dalam hatinya untuk menjadikan para wanita di Indonesia juga mempunyai persamaan derajat yang sama dengan laki-laki. Menurut pemikirannya setiap wanita juga mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan. Dan untuk mewujudkan keinginannya itu, Kartini mendirikan sekolah gratis untuk anak gadis di Jepara dan Rembang.

Di sekolah inilah diajarkan pelajaran menjahit, menyulam, memasak, dan sebagainya. Sekolah gratis yang didirikan oleh Kartini, itu kemudian diikuti oleh wanita-wanita lainnya dengan mendirikan ‘Sekolah Kartini’ di berbagai tempat lain, seperti di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, dan Cirebon. Perjuangan dan tekad Kartini untuk menyamakan derajat kaum wanita dengan kaum pria telah membuahkan hasil, yaitu dibuktikan dengan berkembangnya sekolah-sekolah untuk wanita.

Menjadi beban dan tanggung jawab sendiri bagi kita saat ini, tidak hanya wanita, bagi pria juga menajdi tanggung jawab bersama untuk terus berlanjutnya usaha perjuangan persamaan hak bagi semua orang. Dengan semuanya diperlakukan sama, maka semuanya akan merasa bertanggung jawab dalam memajukan bangsa dan Negara. Sudahkah kita melakukannya?***
Dari Berbagai Sumber  

Positif Covid Muncul Lagi, Sekolah Tetap Dibuka

Positif Covid Muncul Lagi, Sekolah Tetap Dibuka


ITULAH judul salah satu berita di media online hari ini di daerah saya, Kabupaten Karimun. Tentu saja itu bukan berita gembira. Tidak diharapkan. Sama sekali tidak diinginkan. Namun informasi yang ditulis radioazam.id dan beberapa media lain, itu adalah fakta. Membuat gundah pastinya. "Kasus Positif Covid-19 Terbaru Jadi 7 Orang, Disdik Karimun Tetap Perbolehkan Sekolah Tatap Muka," begitu bunyi lengkapnya judul berita tersebut.

Berita baiknya, Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Karimun tetap masih memberikan izin kepada semua sekolah untuk belajar tatap muka di dalam kelas. Artinya, meski kasus positif covid-19 di Kabupaten Karimun masih ada dan malah belakangan bertambah dari semula beritanya dua orang, kini sudah tujuh orang, Pemda Kabupaten melalui Disdik belum mencabut izin belajar tatap muka. Kiranya tetap diizinkan dan pasien covid segera sembuh dan tidak bertambah.

Tentang izin belajar tatap muka dalam situasi terkini, itu dikatakan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Karimun, Fajar Horison langsung. Katanya belum ada instruksi untuk menutup sekolah di wilayah Pulau Karimun, yang merupakan kawasan positif covid-19 saat ini. Maksudnya tentu perintah bupati.

“Kasus positif covid-19 yang terjadi saat ini, hanyalah transmisi lokal. Sehingga belum ada kebijakan dan belum ada instruksi untuk menutup sekolah,” begitu dia menjelaskan sebagaimana dikutip oleh beberapa media berita di sini hari Senin (29/3/2021) kemarin. Nyatanya, hingga hari Rabu (31/03/2021) ini semua sekolah di Kabupaten Berazam tetap buka sebagaimana sebelumnya. Protokoler kesehatan tetap juga diterapkan.

Lebih jauh Pak Fajar mengatakan bahwa kasus yang terjadi saat ini merupakan klaster dari perjalanan luar kota. Sehingga jika terjadi penyebaran atau transmisi lokal, barulah Pemerintah mengambil tindakan, apakah akan ditutup sementara semua sekolah atau ada kebijakan lain. Begitu dia menjelaskan perihal munculnya pasien covid-19 beberapa hari ini setelah sebelumnya dinyatakan sudah nol.

Untuk itu dia menegaskan sekaligus mengingatkan kepada semua sekolah, agar disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan saat melaksanakan proses belajar mengajar di kelas. Ketentuan yang saat ini diberlakukan seperti mengurangi jumlah muatan ruang kelas, mengurangi lamanya jam belajar dan penerapan protokoler kesehatan lainnya wajib terus dilaksanakan.

Di pihak lain, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Karimun, Pak Rahmadi menjelaskan, data terbaru saat ini terjadi penambahan dua kasus positif covid-19, dari sebelumnya ada lima kasus. Makanya saat ini menjadi tujuah orang. “Jadi total saat ini ada tujuh kasus positif covid-19 yang kesemuanya merupakan warga di Pulau Karimun.” Jika orang tua ditanya, tetap ingin anak-anaknya berada di sekolah pada jam-jam sekolah.*** (mrasyidnur)

Pentingnya Pendampingan Konsultan untuk Kemajuan Pendidikan

Pentingnya Pendampingan Konsultan untuk Kemajuan Pendidikan


Catatan M. Rasyid Nur

SEJAK lebih dari satu tahun lalu YDM (Yayasan Darul Mukmin) Kabupaten Karimun mengundang KPI (Kualita Pendidikan Indonesia) yang berpusat di Surabaya untuk datang ke Karimun. Pembina YDM (kita sebut Darul Mukmin saja), Dr. Muhammad Hasbi menginginkan Darul Mukmin melalui sekolah Darul Mukmin bisa lebih baik lagi. Dia berharap KPI ikut langsung melihat dan memlototi sekolah-sekolah yang ada di bawah Darul Mukmin untuk diawasi langsung. Tentu saja setelah disepakati dan ditandatangi kesepakatan kerja sama antara Daul Mukmin dengan lembaga konsultan pendidikan ini.

Ada tiga sekolah (formal) di bawah Kemdikbud (TK, SD dan SMP IT) dan satu sekolah di bawah Kemenag (MDA/ TPQ) yang dikelola Darul Mukmin. Yayasan ingin sekolah-sekolah itu dapat memberikan pelayanan pendidikan terbaik bagi masyarakat Kabupaten Karimun khususnya atau masyarakat Indonesia pada umumnya jika ingin menyekolahkan anaknya di DArul Mukmin. Orang tua yang ingin anaknya didik di sekolah terbaik dengan budaya alquran dapat merasa puas ketika anak-anak mereka disekolahkan di Darul Mukmin. Itulah maksud pendampingan yang dilakukan oleh KPI.

Tentu saja Darul Mukmin harus merogoh ‘saku keuangan’ agak lebih dalam. Dengan durasi kontrak kerja sama paling sedikit satu tahun (12 bulan) untuk setiap sesi pendampingan, dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Darul Mukmin wajib membayar iuran bulanan selama satu tahun dan membiayai setiap tim KPI datang langsung ke Darul Mukmin melaksanakan sesi pendampingannya. Sekurang-kurangnya dua orang setiap kali datang ke Karimun wajib ditanggung ongkos transportnya (Surabaya-Batam, pesawat dan Batam-Karimun, kapal laut) oleh Darul Mukmin. Termasuk menanggung biaya akomodasi (hotel) dan tansportasi selama di Karimun serta makan-minumnya. Biasanya 2-3 hari untuk setiap kali datang. Sementara dalam satu tahun biasanya sampai enam kali pertemuan tatap muka.

Pendampingan untuk tahap pertama yang dimulai tahun 2019/ 2020 lalu telah dilaksanakan untuk SD IT Darul Mukmin. Sebagai konsultan KPI membedah sekolah ini dari hulu ke hilir. Dari perencanaan hingga pelaksanaan dan penilaian (evaluasi) KPI mendampingi para guru dan Kepala Sekolah. Seperti apa seharusnya sekolah ini berjalan sesuai SNP (Standar Nasional Pendidikan) plus Standar JSIT dan KPI, itulah yang dilakukan selama pendampingan. Alhamdulillah, sekolah ini mendapatkan pengetahuan dan pengalaman sangat penting dalam usaha pengelolaan sekolah dengan baik. Selama satu tahun Tim KPI melaksanakan program pendampingannya terasa sekali perubahan signifikan oleh warga sekolah berbanding sebelum pendamping.

Tahun berikutnya pendampingan dilaksanakan untuk pengurus yayasan. Dan yang saat ini berjalan adalah pendampingan untuk manajemen yayasan. Pertmuan dua hari (Kamis-Jumat, 4-5/ 3/ 2021) ini adalah pertemuan kedua secara ‘tatap muka’ setelah pertemuan sebelumnya dua bulan yang lalu. Pertemuan-pertemuan online juga dilaksanakan. Tugas-tugas yang diberikan pada pertemuan pertama, direvew pada pertemuan ini. Mulai penyusunan AD/ ART Yayasan sampai kepada penyusunan Renstra dan Program sekolah. itulah yang dilaksanbakan dalam dua hari ini.

Akan ada empat petemuan tatap muka lagi dalam durasi 12 bulan dan beberapa kali pertemuan online (daring) antara KPI dengan manajemen yayasan serta pimpinan unit (sekolah) yang ada di bawah Darul Mukmin. Sebagai salah satu pengurus di YDM saya ikut langsung membersamai kegiatan ini dengan para pengurus (manajemen) Darul Mukmin dan para Kepala Sekolah serta guru-guru yang dilibatkan oleh Kepala Sekolah.

Dari beberapa kali pendampingan untuk unit (SD IT Darul Mukmin) dan setelah dua kali kegiatan pendampingan untuk yayasan dapat saya simpulkan bahwa kegiatan pendampingan ini memang sangat penting untuk kemajuan pendidikan, khususnya di Darul Mukmin. Bahkan boleh jadi akan berimbas positif juga bagi sekolah-sekolah lain yang berdekatan dengan sekolah Darul Mukmin. Diharapkan keluarga besar Darul Mukmin, khususnya orang tua siswa di sekolah-sekolah Darul Mukmin mendukung penuh program pendampingan ini. Semoga!***

Ketika Masyarakat Menanti Hujan Turun dan Sekolah Dibuka

Ketika Masyarakat Menanti Hujan Turun dan Sekolah Dibuka


SAAT ini masyarakat Kabupaten Karimun tengah menanti hujan turun. Sudah lebih dua bulan panas matahari membakar bumi Negeri Berazam. Teriknya matahari saat ini begitu terasa menusuk. Walaupun kabupaten yang terdiri dari beberapa pulau ini dikatakan tidak mempunyai musim –hujan atau panas—tapi nyatanya saat ini masayarakat merasakan bagaikan musim kemarau panjang. “Sudah dua bulan lebih hujan tak turun,” kata Mas Sasnto tetangga saya mengomentari hujan yang belum juga turun.

Salah satu media online, RADIOAZAM.ID juga menurunkan berita perihal panasnya Kabupaten Karimun saat ini. Mengutip berita situs itu, katanya musim kemarau yang melanda Kabupaten Karimun dan sekitarnya saat ini diprediksi baru akan mulai berkurang pada April mendatang. Saat itu akan terjadi curah hujan meski dalam intensitas sedang.

Mengutip Kepala Stasiun Meteorologi Raja Haji Abdullah, Raden Eko Sarjono berita Radioazam.Id mengatakan cuaca panas baru akan berkurang pada bulan April mendatang. Itu jika dibandingkan dengan bulan Januari hingga Maret ini maka bulan April nanti akan lebih sejuk. Lebih jauh Pak Eko menjelaskan bahwa Kabupaten Karimun termasuk salah satu wilayah yang intensitas curah hujannya dalam kategori rendah. Prakiraan cuaca memprediksi pada April nanti akan terjadi hujan, setidaknya lebih baik jika dibanding saat ini. Maksudnya berbanding Januari, Februari dan Maret ini.

Kabupaten Karimun dan masyarakatnya, selain tengah berharap dan menanti turunnya hujan, saat ini juga tengah menanti kebijakan Pemerintah Daerah untuk dibukanya kembali sekolah. Sejak corona ada dan Pemerintah menutup sementara sekolah dalam rentang waktu yang sudah hampir satu tahun, kini masyarakat sudah sangat berharap sekolah kembali dibuka. Berkurangnya jumlah pasien covid-19 di Kabupaten Karimun diharapkan mengubah kebijakan Pemda Karimun dari menutup sekolah kepada membuka kembali.

Secara terbatas, di beberapa kecamatan sebenarnya sudah mulai dibuka untuk pembelajaran tatap muka sejak satu bulan terakhir. Sudah ada tujuh kecamatan dari 12 kecamatan yang dibuka sekolah-sekolahnya. Sisanya itu yang kini berharap agar dibuka juga. Menanti datangnya hujan agar kebakaran lahan tidak terus terjadi sama harapannya seperti menanti dibukanya sekolah agar kejenuhan orang tua dan siswa tidak semakin tinggi dan semakin lama lagi. Guru-guru juga sudah sangat rindu kepada anak-anaknya di sekolah.

Jika Kabupaten Karimun dikatakan oleh Kepala Stasiun Meteorologi bahwa sejatinya merupakan wilayah non musim atau tidak memiliki musim namun tetap serasa musim kemarau, begitun juga di sekolah. Sesungguhnya selama covid menutup sekolah bukanlah musim (masa) libur sekolah. Tapi anak-anak atau orang tua boleh jadi menganggap sekolah tengah libur karena anak-anak tetap saja di rumah.

Jadi, inilah saatnya Pemerintah segera mengubah kebijakannya mengingat keadaan covid-19 yang sudah jauh berkurang saat ini. Kabarnya sudah tinggal beberapa orang saja pasien yang masih dirawat. Jika sekolah diizinkan dibuka dengan tetap memakai protokoler kesehatan, tentu saja masyarakat sangat senang.***

 

Memaksakan Keteladanan (Berharap Tokoh Memberi Contoh)

Memaksakan Keteladanan (Berharap Tokoh Memberi Contoh)


M. Rasyid Nur

MENURUT satu pendapat dari banyak pendapat yang bersiliweran di media masa (koran, majalah, televisi, dll) tentang mengapa begitu susahnya menjalankan ketentuan dan peraturan oleh masyarakat kita di negerinya sendiri, bisa disebabkan oleh minusnya keteladanan dari para tokoh (pemimpin) dalam menjalankan ketentuan dan peraturan itu sendiri. Berbagai pelanggaran yang setiap saat dapat disaksikan, itu bisa dikarenakan tidak adanya contoh kepatuhan pada peraturan oleh orang-orang yang seharusnya mencontohkannya. Esensinya tiada keteladanan dalam penerapan peraturan menyebabkan orang tidak mematuhi peraturan. Satu kesimpulan, jika dirumuskan. 

Dari pelanggaran yang paling kecil –seumpama membuang sampah sembarangan– hingga pelanggaran super besar –seumpama korupsi, menilep uang rakyat hingga miliaran bahkan triliunan rupiah– terus saja dapat dilihat atau didengar beritanya di media-media kita. Menurut pendapat ini, pelanggaran itu disebabkan karena tidak adanya orang-orang yang pantas untuk dicontoh dalam penerapan peraturan dan ketentuan yang seharusnya dilaksanakan. Sekurang-kiurangnya teramat sulit mencari tokoh teladan dalam mematuhi peraturan. Jakapun ada, sangatlah sedikit sehingga seperti tak ada. Tidak dominan.

Sesungguhnya mereka yang dipandang sebagai tokoh sejatinmya menunjukkan dan meneladankan kepatuhan terhadap peraturan dalam kehidupan sepanjang waktu dan sepanjang hari. Namun apa boleh buat, mereka tidak atau belum mencontohkan bagaimana mematuhi perturan dalam kenyataan sehari-hari. Masyarakat awam yang harusnya mematuhi segala ketentuan yang berlaku dalam kehidupan, bingung atau enggan melakukannya karena tak adanya keteladanan. Maka jadilah begitu sulitnya menerapkan peraturan di tengah-tengah masyarkat sendiri.

Memang harus diakui, sejak bangsa ini berpemimpin sendiri (baca: merdeka) lebih dari 70-an tahun silam, belum juga bangsa ini menjadikan kebiasaan (karakter) ‘patuh pada peraturan’ sebagai tradisi hidup sehari-hari. Belum juga timbul tradisi merasa wajib mematuhi segala peraturan. Justeru yang terdengar di dalam masyarakat adalah pameo, ‘peraturan dibuat untuk dilanggar’ yang mencerminkan betapa bangsa ini lebih cenderung melanggar peraturan dari pada mematuhinya. Disadari atau tidak, karakter yang terbangun justeru karakter melawan ketentuan.

Pameo itu tidaklah isapan jempol saja. Di hampir semua tempat dan semua tingkatan –institusi, komunitas, kelompok, dst—dengan sangat mudah terjadi dan ditemukan pelanggaran peraturan walaupun seharusnya tidak perlu terjadi pelanggaran. Melawan kebenaran dan ketentuan seolah sama enaknya dengan mendapatkan keberuntungan. Pokoknya di hampir semua tempat selalu ditemukan drama pelanggaran peraturan.

Di beberapa institusi sudah tidak asing lagi orang berbicara perihal banyaknya terjadi pelanggaran hukum. Entah menteri, pejabat tinggi dan banyak lagi. Geli, memang jika direnung-renungkan episode pejabat yang melibatkan beberapa pejabat juga dalam pelanggaran hukum. Dulu, ada kisah Gayus, Urip dan beberapa kasus yang melibatkan isntitusi hukum sendiri. Mereka merusak institusi mereka. Belakangan dan sampai hari ini, kita masih terus membaca berita pelanggaran hukum yang melibatkan pejabat yang nota bene mengerti hukum.

Cerita bersambung ala ‘cinta fitri’ tentang mafia hukum di institusi hukum lain juga sering kita baca beritanya. Kisah-kisah oknum jaksa, polisi, menteri dan pejabat lainnya masih juga menghiasi informasi kita. Ini tidak harus terus terjadi jika peraturan dan ketentuan ingin dipatuhi. Harus dimulai dari para tokoh dan pejabat ini. Jika dilaksanakan oleh orang atas maka dengan mudah dilaksanakan di bawah karena adanya teladan.

Tentang adanya pelanggaran oleh para pemegang dan pejabat di beberapa institusi, itu tidak dapat ditutup-tutupi. Di institusi keuangan, milsanya juga ada. Entah pajak yang digelapkan, penyaluran dana yang diselewengkan dan lain sebagainya. Dulu, seorang ekonomom (almarhum) terkenal pernah menyatakan bahwa keuangan Negara ini ditilep penyelenggaran Negara lebih dari 30 %, itu ternyata tidak omongan kosong saja. Pelanggaran juga di terjadi di lapangan hijau alias di bidang olahraga, misalnya.

Di sekolah? Pun tidak kurang pelanggaran hukumnya. Mulai dari guru yang terlambat mengajar, siswa yang tak hendak menghiraukan tata tertib sampai kepada pencurangan ujian, termasuk Ujian Nasional yang nota bene dirancang dan dilaksanakan oleh Pemerintah dengan begitu. Asyiknya, sekolah-sekolah yang berhasil dengan baik mencurangi ujian asalkan tingkat kelulusannya tinggi dan kecurangannya tidak diketahui, maka sekolah itu dianggap baik oleh masyarakat. Ini sebagiannya tentu saja catatan masa lalu. Saat UN masih didewakan. Syukurlah dengan beberapa perubahan Kemdikbud dalam pelaksanaan ujian yang tidak terlalu mendewakan UN itu.

Untuk dan atas segala pelanggaran itu selalu ada alasan pembelaan. Pembelaan yang selalu dikemukakan tentu saja bahwa pelanggaran itu tidaklah dilakukan oleh lembaganya. Itu hanya oleh oknum-oknum saja. Inilah yang selama ini dijadikan alasan betapa susahnya memberantas pelanggaran di sebuah lembaga. Lagi-lagi keteladanan tidak dikedepankan.

Di sinilah perlunya keteladanan. Harus ada yang mencontohkan bahwa peraturan itu memang harus dipatuhi. Jangan lagi dilanggar. Bahwa keteladanan itu berat, memang berat. Tapi kapan bisa maju jika peraturan belum juga bisa dilaksanakan dengan baik. 

Jika bangsa ini tidak bisa mencontoh Jepang atau Jerman yang kesadaran ketaatan akan peraturannya sudah sangat tinggi, kita bisa saja mencontoh Singapura yang untuk mencontohkan keteladanan harus dipaksakan. Jika di Jepang atau Jerman rakyatanya sudah secara naluri (tanpa pakjsa) mematuhi peraturan sementara Singapura kita kenal kepemimpinannya yang keras (boleh disebut diktator) namun untuk kepentingan bersama, kita bisa saja mengadoposinya.

Syukurlah, jika satu-dua tahun belakangan ini sudah ada gebrakan dari beberapa lembaga, seperti KPK untuk memberikan hukuman sekaligus keteladanan dalam penerapan peraturan. Para pegawai KPK menunjukkan bahwa mereka mereka terlebih dahulu mematuhi peraturan. Dan beberapa orang (masih sedikit) yang berani lantang menyebut perlunya penerapan hukum yang benar, semoga suara-suara itu semakin banyak berbunyi. Kelak, keteladanan itu benar-benar mendominasi para pejabat dan tokoh bangsa.***

Rahasia Best Seller Buku Indie (Catatan dari Webinar TNGP 2020)

Rahasia Best Seller Buku Indie (Catatan dari Webinar TNGP 2020)


HARI Ahad (22/11/2020) itu cuaca di Karimun, setidak-tidaknya di sekitar kampung saya, sedikit mendung. Tapi bagi saya dan semua anggota Media Guru Indonesia (MGI) yang sudah bersiap untuk ikut Webinar TNGP (Temu Nasional Guru Penulis) hari ini pasti tidak merasa mendung hatinya. Webinar hari ini adalah Webinar kedua dari rencana lima Webinar TNGP MGI, setelah kemarin Sabtu (21/11/2020) dilaksanakan Webinar pertama. Insyaallah masih ada tiga kali webinar lagi, 25, 28 dan 29 bulan ini. Tema Webinar kedua hari ini adalah “Rahasia Best Seller Buku Indi’.

Tepat pukul 09.00 WIB acara dimulai. Berakhir pada pukul 11.35 sebagaimana saya lihat di jam dinding di kamar saya. Tapi saya tidak masuk ruangan (zoom) karena mengikuti kegiatan ini sambil juga ada kegiatan lain. Yang penting dapat menyimak dengan utuh. Dengan dipandu oleh Ibu Pipit Pudji Astutik, M Pd, MM, seorang Instruktur Nasional Media Guru dan didampingi Mas Syaiful Rahman acara yang sudah ditunggu-tunggu oleh keluarga besar Media Guru berlangsung meriah, riah-riah.

Sebagai Keynote speaker, hari ini tetap Pak CEO MGI, Mohammad Ihsan. dalam sambutannya mengatakan pentingnya guru, selain menulis dan menerbitkan buku, juga harus mampu memasarkannya. Jadikan buku itu menjadi uang yang merupakan hasil investasi ilmu kita. Untuk itu hargai buku teman-teman kita dengan membelinya.

Pak CEO mengatakan begini, “Hargai buku karya guru dengan cara membeli. Jangan punya mental gratisan”. Kita setuju, kita tidak hanya mau dapat buku gratisan. Kita hargai dengan membeli karya teman-teman kita. Tentu saja dengan guru membayar sesama guru, akan muncul saling mengapresiasi produk dan karya intelektual kita. Selain itu akan menjadi kekuatan dan motivasi untuk semakin produktif. Itu sedikit catatan saya tentang sambutan Pak CEO yang sangat memotivasi kita. Dan masih sangat banyak hal yang disampaikannya kepada kita. Silakan ulang simak di chanel YouTobe Media Guru.

Webinar kali ini seperti sudah kita simak di info-info sebelumnya, ini menghadirkan empat orang narasumber yang bukunya bisa menjadi best seller. Mereka sudah pasti mempunyai kiat-kiat atau jurus tersendiri bagaimana bukunya bisa laku dan menghasilkan fulus. Keempat narsum hari ini adalah, 1) Ibu Yunita Kwartarani, M.Pd Guru SDI Al Ikhlas Jakarta Selatan; 2) Ibu Lilik Fatkhu Diniyah, Guru MI Al Iman Kota Magelang; 3) Drs. Seh Muli Pinem, M.Pd. Kasi Kurikulum SMP Dinas Pendidikan Kab. Deli Serdang; 4) Suhud Rois, Guru Sekolah Peradaban Insan Mulia, Cimahi. Kita akan ulang catat paparan mereka berikut.

Narsum pertama, Ibu Yunita Kwartarani, M.Pd Guru SDI Al Ikhlas Jakarta Selatan. Dalam paparannya, Bu Yunita menjelaskan bahwa bukunya menjadi best seller, itu bermula dari pengalaman kesehariannya dari curhatan-curhatan dengan teman-teman dan siswa-siswinya. Para teman dan anak-didik inilah yang banyak membaca bukunya. Itu salah satunya.

Kiat lain, kata Bu Yunita, kita harus menulis cerita yang bisa membuat orang bangkit dari keterpurukannya, misalnya. Mataeri-materi yang diperlukan orang, pasti saja akan dicari oleh orang. Dan buku kita akan laku keras, katanya. Dan kiat lain yang juga disampaikan Bu Yunita adalah dengan  mempromosikan melalui media sosial. Di Media Guru juga ada medsos kita (FB MGI) yang anggotanya hampir 80 ribu. Itu pasar potensial, tentunya.

Narsum kedua adalah Ibu Lilik Fatkhu Diniyah yang sehari-hari sebagai Guru MI Al Iman Kota Magelang. Menurut Bu Lilik, untuk penulis pemula hendaknya luruskan niat terlebih dulu. Katanya, "Niatkan menulis dengan tulus untuk berbagi, Kalau kita niat tulus ihlas insyaallah akan memberikan jalan kemudahan bagi kita." Bu Lilik juga mengatakan bahwa isi buku itu hendaklah yang menginspirasi. Dan yang paling tepat untuk pemula yaitu menulis memoar. Mengapa kok memoar?. Karena orang akan lebih tertarik dan penasaran. Memoar juga tidak selalu membutuhkan referensi, sebagaimana buku ilmiah lainnya. Begitu katanya.

Ada beberapa pesan Bu Lilik yang perlu kita contoh, antara lain, 1). Berbagi buku dengan public figure seperti misalnya, Menteri, Gubernur, Bupati, Kakankemenag,  Kemdikbud, Kadis dall. Tentu saja berfoto dengan public figure saat menyerahkan buku akan menjadi satu promosi tersendiri. 2). Menjalin komunikasi yang baik dengan siapapun. Berbagi ilmu dan pengalaman secara ihlas sehingga bisa diundang sebagai nara sumber di mana-mana. 3). Menggunakan buku sebagai bahan pelatihan dan bahan diskusi dimana-mana. Dan amsih banyak yang disampaikan Bu Lilik. Pastinya ada di chanel YouTobe kita, Media Guru.

Nara sumber ketiga adalah Drs. Seh Muli Pinem, M.Pd. Jabatan sehari-harinya adalah Kasi Kurikulum SMP Dinas Pendidikan Kab. Deli Serdang. Buku yang menjadi best seller belyau berjudul MeSRA di Sekolah, yang dia tulis berdasarkan pengalaman yang diterapkan sehari-hari di sekolah. Menurutnya buku ini menjadi best seller bermula dengan disampaikan dari mulut ke mulut, misalnya saat rapat K3S (Kelompok Kerja Kepala Sekolah), MGMP, dalam rapat organisasi atau komunitas tertentu. Singkatnya agar buku bisa best seller menurut melakukan komunikasi terutama di komunitas kita terlabih dahulu.

Seperti narsum sebelumnya, Pak Seh Muli juga mengontak dan menjalin komunikasi dengan orang-orang hebat, orarng-oang yang sudah punya nama. Lalu dia juga berkoordinasi dengan orang-orang yang akan dapat membantunya. Dengan membuat caover yang berukuran besar, dia memperkenalkan bukunya kepada siapa saja. Dan dengan itulah, bukunya alhamdulillah laku keras.

Nara sumber terakhir yang tampil adalah Suhud Rois, Guru Sekolah Peradaban Insan Mulia, Cimahi. Menurut Suhud Rois --dengan mengutip pendapat seseorang-- menulis itu adalah transfer perasaan, karena itu itu tulislah buku yang bergizi. Lantas bagaimana agar buku bisa menjadi best seller? Kunci awalnya, katanya harus diapstikan bahwa isi buku kita adalah hal penting. Itu adalah perasaan sebenarnya. 

Untuk langkah-langkah lain yang dia lakukan antara lain, 1). Membagikan buku secara gratis kepada teman-teman atau komunitas, bahkan kepada orang yang tak kenal. Ini juga dilakukan narsum sebelumnya.  2). Menjadikan buku sebagai hadiah. 3. Ikut terlibat dalam even-even seumpama ikut pameran buku, dst 4. Memposting testimony dari berbagai kalangan. Dan tentu saja masih banyak langkah lainnya. Initinya, bagaimana buku bisa dinikmati oleh orang lain. Pembaca itu bukan mencari tampilan buku, tapi isi buku. Jadi, benar pernyataan Pak Suhud bahwa isi buku lebih penting. Buatlah buku yang bergizi, menginspirasi. Pasti dicari. Begitulah dia menutup paparannya.

Sesungguhnya, jika kandungan Webinar ini kita catat lebih jlimet tentu saja sangat panjang catatan ini. Namun, dengan sesederhana ini saja sudah begitu banyak yang dapat kita ingat dan kita serap materinya. Maka, jika ingin lebih lengkap, sekali lagi saya mengajak, mari kita ulang tonton chanel YouTobe Media Guru tentang TNGP 2020 ini.

Catatan Webinar TNGP 2020 (Perlunya Membumikan Literasi)

Catatan Webinar TNGP 2020 (Perlunya Membumikan Literasi)


SABTU (21/11/20200 pagi. Persisnya pagi menjelang siang. Sekitar pukul 09.00 WIB saat pintu ruang maya zoom Media Guru Indonesia (MGI) mulai dibuka dan dimasuki para anggota. Itulah waktu digelarnya Temu Nasional Guru Penulis (TNGP) MGI Tahun 2020. Pertemuan Akbar Tahunan yang pada tahun lalu dipusatkan di Ibu Kota Negara, Jakarta tahu ini harus mau menerima fakta, virtual saja. Covid menjadi penentu keputusan ini.

Tapi tidak masalah. Virtual atau bukan tetaplah ini pertemuan istimewa bagi seluruh warga MGI. Sedikit pun tidak melunturkan khidmat dan semangat pertemuan ini. Sejak diumumkan oleh CEO Media Guru, Pak Muhammad Ihsan beberapa waktu lalu, rencana pertemuan ini sudah membuat keluarga besar MGI seperti tidak sabar menunggu. Respon di FB MGI dan di blog keroyokan Gurusiana.Id membuktikan itu. 

Sabtu pagi itu berkumpullah penuh sesak sebanyak 300 orang anggota MGI dalam satu ruang zoom. Itu jumlah maksimal yang dapat diisi. Sementara dalam jumlah yang jauh lebih banyak harus mengikuti pertemuan melalui live streming MGI. Itulah fakta antusiasme anggota MGI.

Tema webinar TNGP tahun ini adalah 'Strategi Membumikan Literasi'. Satu tema yang akan mengobarkan bara api semangat guru yang sudah terbukti setahun ini. Atau sejak TNGP 2019 lalu. Bagaimana para guru, anggota MGI mengisi hari-hari dengan literasi. Tiada hari tanpa literasi. Bagi yang ikut tantangan sudah pasti akan berkarya setiap hari.

Webinar ini meramng terasa istimewa. Tujuh orang penggiat literasi dari beberapa daerah, dipercaya Pak CEO untuk memberi motivasi kepada seluruh warga MGI di bumi Indonesia. Tema 'membumikan liteasi' itu tentu saja dengan maksud agar kegiatan literasi ini menjangkau lebih banyak lagi para guru atau siapa saja di seluruh bumi Indonesia. Mereka ini, juga adalah para pengurus komunitas literasi di daerah masing-masing.

Dengan host sekaligus moderator Mas Febry Suprapto yang merupakan Instruktur Nasional MGI tampil tujuh orang penggiat literasi seperti, 1). Dra. Yasmi, M.Pd. (Ketua Umum IGPPL Sumatera Barat); 2). M. Maghfur Qumaidi, S.Sos., S.Pd., M.Si. (Ketua Umum IPP Jawa Timur); 3). Agusrida, M.Pd.(Ketua Umum KPPL Kemenag Sumatera Barat); 4). Alphian Sahruddin, S.Pd., M.Pd. (Ketua Umum Penggiat Literasi Anging Mamiri Sulawesi Selatan); 5). Titiek Soertirahaajoe, S.Pd. (Ketua AGPG Grobogan Jawa Tengah); 6). Prawiro Sudirjo (Wakil Ketua IP3L Jawa Barat); dan 7). Dewi Sri Indriati Kusuma, S.Pd., M.Pd. (Bendahara Umum IPPSU Sumatera Utara).

Ketujuh pendekar literasi ini, meskipun oleh host hanya diberi waktu sangat singkat untuk berbagi pengalaman literasi, ternyata itu sudah cukup membuat suasana hangat dan semangat webinarnya. Buktinya, diskusi yang terjadi dari beberapa pertanyaan peserta membuat suasana di ruang zoom begitu meraih dan hidup.

Kita menjadi saksi, betapa banyak hal yang dikupas. Mulai dari suka duka dalam merintis agar literasi dapat mengakar di lingkungan pendidikan terutama para guru, hingga trik atau kiat sukses dalam menerapkan penggalakan literasi di tempat masing-masing. Tidak kalah penting, dibicarakan juga imbas dari pelaksanaan program 'membumikan literasi' tersebut di setiap daerah.

Tidak saya ulas lagi apa saja yang dibicarakan para narasumber. Yang pasti, jika ingin mengulang mendengarkan diskusi dan tanya jawab dalam webinar, silakan disimak kembali dengan membukan YouTobe Media Guru. Rakaman webinar ada di situ.

Catatan dari Lomba Cipta Baca Puisi YDM, "Mereka Pencipta dan Pembaca"

Catatan dari Lomba Cipta Baca Puisi YDM, "Mereka Pencipta dan Pembaca"


YAYASAN Darul Mukmin (YDM) Karimun, baru-bari ini mengadakan Lomba Cipta Baca Puisi. Pesertanya umum dengan batasan usia. Ada kategori A dengan batasan usia antara 6-12 tahun dan ada kategori B dengan batasan usia 12-18 tahun. Artinya dalam usia sekolah. Namun jika ada yang menjelang 18 tahun sudah tamat sekolah, juga dibolehkan ikut serta dalam lomba ini.
Lombanya sendiri berupa menciptakan (mengarang) satu puisi dan dibacakan. Lalu direkam ke dalam video untuk dikirimkan kepada panitia, YDM Karimun. Panitilah yang akan mempostingnya di YouTobe chanel YDM untuk selanjutnya ditonton masyrakat. Sekaligus juri memberikan penilaian kepada setiap peserta. Tiga kriteria yang dijadikan penilaian adalah ekpresi, intonasi dan penampilan peserta. 

Tiga orang juri dipilih ditetap panitia karena dinilai mengusai cara penilaian lomba ini. Selain M. Rasyid Nur dan Noorfamayani (keduanya dari YDM) juga ditunjuk Ketua Dewan Kesenian Karimun, Mas Aji yang juga pernah menjadi juri puisi berskala Nasional sebagai dewan jurinya. Diharapkan ketiganya menilai secara objektif untuk mendapatkan pemenangnya.

Setelah kurang lebih satu bulan disiarkan dan file videonya juga diberikan kepada juri, akhirnya sebanyak enam orang berhasil menjadi juara terbaik dalam Lomba Cipta Karya Baca Puisi yang digelar YDM ini. Keenam orang itu adalah juara i, 2 dan 3 untuk masing-masing kategori. Keenamnya sudah mendaptkan hadiah diserahkan Senin pagi (9/12020) di Gaha Azam YDM.

Adapun keenam peserta terbaik adalah,  1) untuk kategori usia 6 sampai 12 tahun, juara I diraih Winroland Gempita Alam dari SDN 013 Karimun, juara II diarih Fairuz Fatihah Sari dari SDIT Cendikia, juara III diraih Ghaitsa Salma Khairania dari SDN 001 Karimun, dan juara favorit diraih oleh Raditya PRatama Putra dari SDIT Cendikia.

Sementara untuk pemenang kategori usia 12 sampai 18 tahujn, juara I diraih oleh Amanda Gita Safitri dari SMPN 2 Tebing, juara II diraih oleh Astuti dari Kampus UMRAH asal Kecamatan Moro, juara III diraih oleh Berlin Ramadha Pratama dari SMPN 2 Tebing, dan juara favorit diraih oleh Sharafina Mardhotillah Parciagla dari SMPN 1 Tebing. Demikian diumumkan oleh Ketua Panitia, Egy.

Manager SDM, Pendidikan dan Pengembangan Al-Quran Yayasan Darul Mukmin, Noorfamayani mengatakan, para dewan juri yang terdiri dari pihak Yayasan Darul Mukmin, serta dari Sanggar Kibar Budaya dalam hal ini dihadiri oleh Adjie yang adalah Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Karimun sempat dibuat kebingungan dalam menentukan juara, namun berdasarkan penilaian secara objektif dan sesuai dengan karya puisi dari masing-masing peserta, akhirnya diputuskan para juara atau peserta terbaik yang dinilai layak sebagaimana diumumkan panitia.

Komentar Bu Fama lagi, “Alhamdulillah kami baru saja menyerahkan hadiah untuk para juara, insyaallah Lomba Cipta Karya Baca Puisi sempena HUT Kabupaten Karimun ini, akan kami laksanakan secara rutin tiap tahunnya. Baik itu secara online ataupun secara tatap muka jika kondisi pandemi Covid-19 sudah kembali normal,” sebagaimana dikutip dari website Radioazam.Id (10/10/2020).

Ada pesan tentunya yang ingin disampaikan oleh kegiatan Lomba Cipta Karya Baca Puisi ini. Yaitu, bagaimana memahami dengan baik Kabupaten Karimun yang kita tempati ini. Kabupaten yang baru saja berulang tahun untuk ke-21 tahun, hendaklah menjadi perhatian, kata panitia. Itu sebabnya lomba ini dihelat tepat di Hari Ualng Tahun (HUT) Kabupaten Bumi Berazam tahun ini. Diharapkan juga agar mampu memahami budaya-budaya yang ada di Kabupaten Karimun. Dengan begitu mereka, para peserta khususnya dan kita semua pada umumnya bisa menuangkan didalam bentuk puisi. Menjadi sebuah karya yang indah dan enak didengar masyarakat di Kabupaten Karimun. Untuk saat ini prioritas mengarang puisi hanya untuk peserta.

Bagi YDM, yang saat ini seluruh unit pendidikan dibawah naungan Yayasan Darul Mukmin tengah melaksanakan Pendaftara Peserta Didik Baru (PPDB), maka kegiatan ini sekalian diharapkan menjadi promosi kepada orang tua yang akan menyekolahkan anaknya di YDM. Semoga kegiatan ini menjadi salah satu nilai atau daya tarik untuk masyarakat.

Kata Bu Fama lagi, "Agar ada gaungnya dan ada sesuatu yang dilakukan pada momen HUT Kabupaten Karimun. Apa lagi masih pandemi Covid-19 ini, kami ingin membangkitkan semangat para anak-anak kita, untuk tetap berkreasi melalui kegiatan yang digelar oleh Yayasan Darul Mukmin bersempena hari jadi bumi berazam."

Mewakili pengurus YDM, dia juga mengucapkan terimakasih kepada para peserta yang sangat antusias, sehingga terdapat 42 peserta yang mengikuti lomba tersebut dengan mengirimkan video pembacaan pusi karaya mereka sendiri. Namun hanya enam peserta terbaik yang terpilih, termasuk satu peserta favodit untuk setiap kategori. Kelak, semoga tetap ada kegiatan yang dapat menyemangat anak-anak dalam berkreasi di bidang literasi.***