Sukses itu Boleh Atas Ukuran Sendiri


SUKSES bisa diartikan oleh siapapun dengan cara apapu dan dengan persepsi makna apapun. Jika 'sukses' diartikan 'beruntung' atau 'berhasil' seperti diartikan oleh KUBI (Kamus Umum Bahasa Indonesia) maka beruntung bisa saja tidak sama oleh setiap orang. Pedagng akan memaknai beruntung dengan makna yang tidak akan sama dengan seorang yang tidak jadi diamputasi kakinya karena bertemu jodoh obat penyakit gulanya.

Karena itu pula, boleh jadi seorang motivator, Eroc Thomas mengatakan, "Ketika kamu ingin sukses seburuk yang kamu inginkan, maka kamu akan sukses." Sukses itu jadinya tidak perlu menunggu penilaian yang sama oleh setiap orang, seandainya target dan tujuan seseorang melakukan satu tindakan memang tidak sama. 

Seorang guru seperti kita (saya, misalnya) kesuksesan yang selalu didambakan adalah keberhasilan saat membuat anak mampu menjadi seorang yang lebih baik dan lebih hebat dari pada dirinya. Berharap anak mampu mandiri, misalnya. Atau mampu melakukan perbuatan-perbuatan baik dan membantu sesama manusia, misalnya. Itulah beberapa sikap yang jika dapat dilakukan anak-didik kita atas didikan dan pengajaran kita, itulah salah satu rasa sukses yang kita rasakan.

Ketika dalam waktu yang sama, kita juga berusaha menjadi penulis, tapi karena kesibukan menjadi guru membuat kesibukan ingin menjadi penulis tidak mudah, apakah kita akan merasa tidak sukses saat karya kita belum menjadi populer di mata pembaca? Tentu saja tidak. Tidak perlu merasa tidak sukses kaerna kesuksesan itu bisa berbentuk apa saja, selain popularitas tulisan kita. 

Dalam posisi inilah, boleh jadi motivator bernama lengkap Eric D. Thomas, Ph.D. itu menyatakan pernyataannya. Sebagai seorang pembicara, penulis, dan juga sebagai tokoh tentu saja dia merasa berkewajiban untuk memberi semangat siapa saja. Dan merasa sukses adalah salah satu penyebab orang akan bersemangat, maka makna sukses pun tidak harus dilihat dari satu titik saja. Dengan tingkat keberhasilan paling rendahpun menurut penilaian orang lain, tapi dapat kita nilai sebagai sebuah keberhasilan dalam ukuran kita, maka itulah kesuksesan sebenarnya. Bahkan jika hanya mampu memotong seekor lembu di tengah masyarakat yang tidak berani memotong lembu, itu juga sebuah kesuksesan. Silakan diukur sendiri, kesuksesan kita.***

SHARE THIS

Author:

M. Rasyid Nur Pensiunan Guru PNS (2017) dan Tetap, Mengabdi di Pendidikan

Facebook Comment

0 Comments: