Kita Berusaha dan Berdoa, Allah Menentukannya (Catatan dan Doa untuk Musibah Sriwijaya)


MESKIPUN umur kita, ajal kita, cara matinya kita, tempat matinya kita dan orang-orang yang akan menyaksikan kematian kita semuanya sudah ditentukan Allah dan sudah tertulis di lauhulmahfuzh kita tidak diperintahkan Allah untuk pasrah tanpa harapan. Seperti juga rezeki yang sudah ditentukan, datangnya dari mana, jumlahnya berapa tapi Allah tidak menyuruh manusia diam saja menunggu tanpa berusaha. Takdir yang Allah tentukan tidak mustahil seperti apa yang kita harapkan. Maka berharap, berdoa dan berusaha adalah dasar penentu. direzeki kita,

Begitu pula tentang ajal yang sudah ditentukan-Nya. Sebagaimana ditegaskan di dalam Alquran bahwa kematian itu jika sudah sampai waktunya maka tidak akan dapat digeser sedetik pun oleh kita. Itulah keyakinan kita (muslim) perihal kematian. Kemarin Jumat (08/01/2021) Allah kembali tunjukkan peristiwa yang memilukan hati kita, jatuhnya pesawat Sriwijaya siang itu. Di satu sisi, inilah kesediahan mendalam dari kita, terutama para keluarga yang ditinggalkan. Tapi itulah bukti kuasa-Nya menetapkan dan membuktikan kematian manusia.

Tentu terbayang oleh kita bagaimana prosesi kematian itu sejak awal hingga tereburnya pesawat ke laut. Sebelum terbang tentu saja satu demi satu penumpang mendekat ke pintu keberangkatan di Bandara Soekarno Hatta. Lalu petugas check in pun menyambut mereka dengan senyuman sumringah sebagai bagian prosedur pelayanan mereka. Tidak mustahil para penumpang pun bergembira, tanpa mengira, tanpa curiga bahwa ajal sedang menantinya. Jika pun tidak bisa bergembira karena memang mungkin penakut naik pesawat, tapi tetap yakin akan selamat sampai tujuan.

Sebanyak 56 orang penumpan pesawat dengan kode SJ182 itu, seperti kita baca di media ada yang masih muda, anak-anak, bayi, seorang ibu, seorang istri, suami, dan seorang ayah. Bahkan ada seorang istri dengan ke tiga anaknya. Siapa menyangka bahwa mereka benar-benar menuju ajalnya. Itulah penerbangan terakhir mereka. Mereka ditakdirkan berada dalam satu tujuan, satu tempat, satu waktu, tanpa dibedakan ajalnya. Demikian kalimat seorang yang menulis catatan dukanya di salah satu media online.

Tidak ada yang aneh dalam proses perjalanan mereka. Dari membeli tiket, check in, terbang, dan sampai akhir perjalanan sesungguhnya itu hanyalah sebuah cara oleh Allah. Begitulah proses perjalanan pulang menuju takdir yang sudah ditetapkan Allah. Masihkah kita meyakini dan mengingat catatan dan ketetapan lauhulmahfuzh itu? Semoga masih.

Bagi kita, sesungguhnya menunggu waktu saja. Benar pesan-pesan agama yang disampaikan para guru kita, hanya Allah semata yang tahu takdir kita. Tapi Allah sama sekali tidak menyuruh kita untuk menanti saja takdir-Nya. Terhadap kematian, terhadap rezeki atau apa jua yang kita ingin, kita tetap diwajibkan berusaha. Berusaha dan berdoa. Selebihnya Dialah yang memutuskan.

Kita turut berdukacita sedalam-dalamnya  atas musibah jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 rute Jakarta-Pontianak, seperti kita berduka atas kepergian mereka yang boleh jadi ada yang tidak atau belum mampu menerimanya. Kita berdoa, semoga semua yang menjadi korban, itu oleh Allah diberi ampunan dan mendapat tempat terbaik disisi-Nya, syurga. Keluarga tetaplah tabah karena itulah takdir-Nya.***


SHARE THIS

Author:

M. Rasyid Nur Pensiunan Guru PNS (2017) dan Tetap, Mengabdi di Pendidikan

Facebook Comment

0 Comments: