Monolog Seorang Blogger: Mengajak itu Adalah Utang


Oleh M. Rasyid Nur
APAKAH Anda seorang yang suka menulis? Menulis di media cetak atau media online? Boleh jadi juga punya blog yang dikelola sendiri? Ah, tererah saja. Sebagai seorang yang suka menulis, apalagi sampai bertekad dan bersumpah untuk terus-menerus menulis kapan dan dimanapun, maka menulis itu akan terasa sebagai utang tersendiri bagi kita. Sebagai utang, bisa saja perasaan berutang ini menjadi serasa utang berat atau utang yang banyak buat kita. 

Jika begitu, utang terberat itu ternyata tidak selalu karena utang uang. Utang janji dan utang niat untuk memotivasi diri juga bisa menjadi utang pemberat diri. Uatng janji dan memotivasi justeru bisa kita rasakan jauh lebih besar dan lebih berat bebannya dari pada utang uang itu sendiri. Seumpama utang menulis itu tadi. Itu bukan utang uang. Tapi perasaannya bisa sama saja yang dapat membuat perasaan tidak tenang.

Seperti yang pernah saya rasakan, misalnya. Belakangan ini bahkan sejak sudah lama sekali, saya merasakan ada beban utang yang tidak atau belum terbayarkan. Tapi utang ini bukanlah karena utang uang yang jatuh tempo dan tidak terbayar. Saya ingat saya memang ada utang uang di salah satu bank, dulu. Itupun dulu sekali, ketika saya masih Pegawai Negeri yang disebabkan karena pinjaman untuk membangun rumah pribadi. Dan utang itu secara rutin setiap bulan dapat saya bayar karena memang langsung dipotong dari gaji saya setiap bulannya oleh bendaharawan sekolah. Jadi, utang itu tidaklah menjadi beban pikiran saya.

Utang yang saya maksud pada catatan ini adalah utang pada diri sendiri dan sekaligus kepada para pembaca blog atau FB atau tulisan-tulisan saya selama ini di media, misalnya. Harus saya akui, entah di media online atau mungkin di media cetak saya membuat tulisan, dengan sedikit pesan mengajak dan memberi motivasi siapa saja untuk memupuk dan mengembangkan kreativitas tulis-menulis. Terutama kepada para anak-didik di sekolah, di SMA Negeri 3 Karimun (tempat saya bertugas sebagai guru) itu, misalnya sering saya mengajak untuk terus menulis. Ajakan dan motivasi untuk menulis terlalu sering saya sampaikan.

Ketika ajakan dan motivasi sepeti itu kita sampaikan, adalah menjadi utang dan tanggung jawab bagi kita untuk membuktikan bahwa kita mau dan mau menulis terlebih dahulu. Boleh jadi saya belum mampu menulis sebagaimana para penulis tenar itu. Tapi tetap saja harus membuktikan bahwa saya terus menulis sebagai bukti mengajak orang lain menulis. Nah, tekad untuk terus menulis (entah di blog atau di FB, dll) inilah yang saya maksud utang berat itu.

Mengapa menjadi utang yang dianggap berat? Karena ternyata tidak mudah untuk terus menulis dengan konsisten dalam waktu yang sudah ditekadkan, setiap hari misalnya. Dengan jargon, 'Cintaku Literasi, Kumenulis Setiap Hari' yang selalu saya katakan, itu tidaklah mudah. Selama ini, sesuai tekad saya bahwa saya akan menulis sekurang-kurangntya satu catatan/ artikel dalam satu hari. Jika tidak satu artikel, mungkin hanya satu kalimat atau satu alinea saja. Artinya, setiap 24 jam saya wajib membuat satu tulisan. Bahkan sebait puisi saja bisanya, saya anggap utang tekad itu sudah terbayar.

Namun hampir pasti tidak akan mudah melakukannya. Boleh jadi, disebabkan kesibukan yang begitu padat dan ditambah banyak hal yang tidak dapat dielakkan, seperti misalnya lelet dan atau macetnya koneksi internet, atau karena ada kewajiban lain yang menyita waktu kita, di rumah atau dimana saja, atau boleh jadi kaena keadaan pisik kita yang drop alias sakit yang membuat kekuatan dan kesempatan menulis itu menajdi macet, maka otomatis utang ini serasa tidak bisa terbayarkan. Itulah yang saya maksud utang yang terasa berat itu.

Maka hari-hari yang ada ini, mari kita menulis, menulis apa saja. Dan catatan ini meskipun sekadar menyapa rekan-rekan yang selama ini sempat juga mengunjungi blog atau FB saya, pun sudah dapat dianggap sebagai usaha membayar utang tersebut.  Saya pikir, menyapa dengan cara begini juga bisa sebagai bahan tulisan yang sekaligus untuk pembayar utang-utang itu. Sudahkah Anda menulis, hari ini?.***

SHARE THIS

Author:

M. Rasyid Nur Pensiunan Guru PNS (2017) dan Tetap, Mengabdi di Pendidikan

Facebook Comment

0 Comments: