Penyimpangan Syi'ah Mengapa Terjadi?

Oleh Mochamad Nasrudin

Lahirnya Syi'ah itu setelah terjadinya perang Shiffin. Dulunya umat Islam bersatu di kepemimpinan rosululloh, abu bakar,umar, dan hingga menjelang akhir pemerintahan Ustman.

Ada satu tokoh yang dituduh di dalam sejarah Islam sebagai biang terjadinya fitnah dan perpecahan di kalangan umat Islam. Dialah Abdullah bin Saba.  Dia disebut sebagai agen Yahudi yang sengaja disisipkan untuk menghancurkan persatuan umat Islam

Abdullah bin Saba merupakan tokoh yang paling bertanggung jawab dalam terbunuhnya Kholifah Ustman yang dibunuh saat membaca Al Qur'an dan berpuasa. Dia berhasil memprovokasi penduduk pinggiran untuk melakukan mosi tidak percaya kepada Kholifah Utsman.

Abdullah bin Saba pula yang menjadi dalang terjadinya perang Jamal, antara pasukan Aisyah dan pasukan Khalifah Ali. Sehingga terbunuh 4000 umat Islam saat itu.

Dia juga yang melakukan adu domba antara Muawiyah dan Ali bin Abi Thalib sehingga terjadi perang Shiffin. Setelah terjadi perang Shiffin ini muncullah 3 kelompok aliran besar, yakni khowarij atau kelompok takfiri yang saat itu mengkafirkan semua yang tidak sepaham dengan mereka termasuk Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah yang  mereka kafirkan dan  lalu syi'ah yang setia kepada Ali bin Abi Thalib. Serta mu'tazilah, kaum rasionalis yang merespon kemunculan khowarij.

Lalu syi'ah ini berkembang terus paska pembunuhan dan penyiksaan yang dilakukan oleh Kholifah Yazid bin Muawiyah terhadap ahlul bait khususnya cucu nabi, Hasan dan Husein.

Syi'ah akhirnya berkembang terus dengan melakukan penyimpangan. Awalnya masalah politik, namun terus bergeser masalah akidah, dan amaliahnya.
Mereka menerapkan konsep imamah yang menganggap Ali dan keturunannyalah yang berhak atas Kholifah sepeninggal Rasulullah. Bagi mereka Abu Bakar, Umar, Ustman adalah pencuri dan perampas hak ahlul bait. Mereka sangat melaknat tiga Khulafaur Rasyidin sebelum Ali.

Dasar pemahaman imamah mereka ini bersumber dari peristiwa ghodir khum yang sangat terkenal di kalangan Syi'ah. Peristiwa ghodir khum ini terjadi setelah rosululloh pulang dari haji wada'. Beliau dan pengikutnya yang berjumlah 100 ribu jamaah tersebut istirahat  di sebuah telaga yang bernama ghodir. Lalu rosul berpidato, yang menurut kalangan Syi'ah, itu merupakan baiat penunjukan nabi kepada Ali untuk menjadi Khalifah sepeninggal Rasulullah nantinya.

Hadits ini memang mutawatir, banyak jalur perawi dalam kalangan sahabat yang kita jumpai dan hadist ini juga kita dapati dalam karya karya ulama Sunni. Hanya saja konteks hadist ini yang wajib kita pertanyakan jika hal tersebut disangkutpautkan dengan masalah kepemimpinan Kholifah sepeninggal nabi. Karena memang jika hal ini benar konteksnya terkait dengan Kholifah, kenapa pada peritiwa tsaqifah, di saat suksesi pemilihan Kholifah pengganti nabi, hadist ini tidak dimunculkan sehingga yang menjadi Kholifah bukan Ali namun Abu bakar berdasarkan konsensus bersama. Padahal peristiwa ghodir khum itu berjarak hanya 70 hari sebelum wafatnya Baginda Rasulullah. Tidak mungkin para sahabat lupa dengan hadist tersebut kalau hal itu terkait dengan kholifah. Inilah penyimpangan pertama kaum Syiah yang perlu dipertanyakan....

Yang harus kita ambil pelajaran di sini adalah bahwa umat Islam terbelah, saling bunuh akibat pengaruh fitnah provokator yang bernama Abdullah bin Saba itu. Kini, di zaman modern ini, fitnah semakin kuat, nyata dan massif. Jangan sampai kita menjadi bagian dari Abdullah bin Saba yang selalu berusaha memprovokasi, mengadu domba terjadinya perpecahan umat. Kita harus berhati-hati, menahan diri, kita tambah ilmu agar tidak terprovokasi oleh fitnah akhir zaman. Wassalamu'alaikum wr.wb.***

Monas Inspire
Mochamad Nasrudin
(Uts. Monas)

SHARE THIS

Author:

M. Rasyid Nur Pensiunan Guru PNS (2017) dan Tetap, Mengabdi di Pendidikan

Facebook Comment

0 Comments: